stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-08
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 8: Dasar Perilaku Kelompok
RPS minggu 8 · 2x50 menit

Dasar Perilaku Kelompok

Tahap Perkembangan Kelompok, Norma, Groupthink, Groupshift

Magister Manajemen · FEB UNDIP · Perilaku Organisasi — Pertemuan 8

Peta Pertemuan Hari Ini

Bagian 1 · Pembentukan
  • Definisi kelompok: formal vs informal, command vs task vs interest vs friendship
  • Tahap perkembangan Tuckman: forming-storming-norming-performing-adjourning
  • Norma kelompok: fungsi, pembentukan, konformitas
Bagian 2 · Jebakan
  • Groupthink (Janis): 8 gejala, kondisi pemicu
  • Groupshift: konservatif vs risky shift
  • Mitigasi: structured dissent, devil's advocacy, dialectical inquiry

Jenis Kelompok di Organisasi

Robbins & Judge membedakan kelompok berdasarkan struktur dan tujuan. Jenis berbeda punya dinamika dan tantangan manajerial berbeda.

Formal
Didesain oleh organisasi: command group (hierarki), task group (proyek lintas-fungsi). Struktur eksplisit.
Informal
Muncul spontan: interest group (isu bersama), friendship group (ikatan sosial). Struktur implisit tetapi kuat.
Virtual
Kelompok lintas-lokasi-waktu: butuh ritus koordinasi eksplisit, norms digital yang kuat.

Tahap Perkembangan Kelompok (Tuckman, 1965; 1977)

Tuckman mengajukan kelima tahap perkembangan kelompok. Bukan linear rigid — kelompok bisa regress saat ada anggota baru atau krisis.

FormingOrientationundefined roleStormingconflictpowerNormingagreementnormsPerforminghigh outputtrusting
Adjourning (tahap 5, ditambahkan 1977): pembubaran kelompok sementara (proyek). Penting untuk ritus penutup + pembelajaran.

Norma Kelompok: Fungsi dan Pembentukan

Norma adalah aturan implisit tentang perilaku yang dapat diterima. Norma bisa memungkinkan performa tinggi atau, sebaliknya, mengunci performa rendah.

AspekDefinisiImplikasi Manajerial
FungsiNorma atur interaksi, prediktabilitas, identitas kelompokNorma sehat → performa; norma toxic → sabotase diam-diam
PembentukanCritical events, primacy (perilaku awal), carry-over (kelompok lama)Perilaku pertama yang dibiarkan = norma. Tolak perilaku toxic sangat awal
KonformitasTekanan sosial ke perilaku sesuai normaAsch (1951): 75% orang konform ke jawaban kelompok yang jelas salah
DeviancePelanggaran norma → sanksi sosial atau eksklusiSanksi bisa functional (pertahankan norma sehat) atau toxic (tekan dissent)
Bagian 2 · 1/2
Groupthink: Konsensus Semu yang Membahayakan
Diskusi kelas: satu keputusan kelompok besar dalam 12 bulan terakhir yang, secara jujur, menurut Anda terjebak groupthink?

Delapan Gejala Groupthink (Janis)

Groupthink muncul ketika kohesi tinggi + structural faults (insularity, directive leadership, lack of method). Kenali delapan gejala pada tim Anda.

TipeGejalaManifestasi di Rapat
OverestimateIlusi invulnerabilitasKeyakinan kelompok tak bisa salah, mengabaikan risiko
OverestimateKeyakinan inherent moralitasAsumsi kelompok pasti benar moral
Closed-mindedRasionalisasi kolektifInfo yang menyangkal dirasionalisasi
Closed-mindedStereotip out-groupLawan dianggap lemah/bodoh/jahat
PressureTekanan langsung konformitasDissent di-label tidak setia
PressureSelf-censorshipAnggota tidak bicara keraguan
UniformityIlusi unanimitasDiam dianggap setuju
UniformityMindguardAnggota 'lindungi' kelompok dari info negatif

Groupshift: Konservatif vs Risky Shift

Kelompok cenderung menggeser keputusan individu ke arah ekstrem — bisa konservatif atau berisiko. Arah shift tergantung kondisi awal dominan.

Mekanisme
  • Risky shift: kelompok menerima risiko lebih besar dari individu (dominan saat anggota cenderung moderat-risiko awalnya)
  • Cautious shift: kelompok lebih konservatif dari individu (dominan saat anggota moderat-konservatif awalnya)
  • Polarization: posisi awal diperkuat, bukan dirata-rata
  • Diffusion of responsibility: konsekuensi dibagi, terasa kurang berat
Implikasi Manajerial
  • Keputusan investasi kelompok → bisa risky shift terutama bila anggota awal cenderung risk-taker
  • Keputusan strategi kelompok → bisa cautious shift terutama bila anggota sudah berpengalaman / konservatif
  • Audit: apakah keputusan kelompok lebih ekstrem dari average preferensi anggota awal?
  • Mitigasi: weighted independent voting, second-meeting rule (keputusan besar divalidasi hari berbeda)

Hitung dari Nol: Audit Groupthink Risk

Skor risiko groupthink tim keputusan Anda dengan checklist berikut. Total ≥5 sinyal = risiko tinggi; ≥8 = risiko sangat tinggi.

Kondisi PemicuYa/TidakSkor 1 bila Ya
Pemimpin punya preferensi kuat & sampaikan awal?1 bila yaPemimpin menahan opini → 0; sampaikan awal → 1
Kohesi kelompok tinggi + insular (tidak ada outsider)?1 bila yaSenior team tanpa fresh perspective → 1
Ada tekanan situasional (deadline, krisis)?1 bila yaKeputusan di bawah tekanan → 1
Tidak ada prosedur formal (pre-mortem, devil's advocate)?1 bila yaMeeting tanpa struktur challenge → 1
History groupthink keputusan lampau di tim ini?1 bila yaPola rekam jejak → 1
Diagnosa
Skor 0-5
Skor ≥3 = pasang prosedur mitigasi formal. Skor ≥5 = tunda keputusan, kumpulkan data lebih, masukkan outsider
Bagian 2 · 2/2
Sintesis: Mengelola Dinamika Kelompok Sehat
Diskusi kelas: bila Anda harus memasang satu prosedur permanen untuk semua tim keputusan di divisi Anda, apa itu?

Tiga Pilar Kelompok Sehat

Kelompok sehat tidak terjadi otomatis; ia didesain dengan tiga pilar yang saling memperkuat.

Struktur
Prosedur keputusan formal: pre-mortem, devil's advocate, second-meeting rule. Mitigasi groupthink sistematis.
Norma
Norma psychological safety (admit mistake OK, dissent welcome). Edmondson: safety + accountability = learning zone.
Komposisi
Komposisi heterogen (fungsi, gender, senioritas) menekan groupthink. Tapi heterogenitas butuh fasilitasi.

Mini-Kasus: Restrukturisasi BUMN yang Tergesa

Ilustrasi komposit pola umum restrukturisasi BUMN Indonesia — bukan satu perusahaan spesifik, melainkan tipikal yang sering muncul.

KrisistekananeksternalKohesidireksirapat tertutupGroupthinkilusiunanimityEskalasikeputusanradikal

Latihan Kelas: Diagnosis Tim Lintas-Fungsi

Instruksi (12 menit, individu lalu berpasangan):
  1. Pilih satu tim lintas-fungsi yang Anda ikuti (proyek, komite, rapat direksi)
  2. Identifikasi tahap Tuckman: forming/storming/norming/performing?
  3. Audit groupthink: 5 kondisi pemicu — berapa yang aktif?
  4. Identifikasi 1-2 norma informal dominan (sehat atau toxic?)
  5. Rumuskan 1 intervensi 90 hari berdasarkan temuan

Tujuan: melatih kebiasaan diagnostik level kelompok. Gejala organisasi sering bersumber di dinamika kelompok, bukan karakter individu.

Sintesis: Manajer sebagai Fasilitator Dinamika Kelompok

Manajer senior tidak hanya mengelola individu; ia adalah fasilitator dinamika kelompok. Peran ini berbeda dari pengawas individual.

Diagnosa
Baca tahap Tuckman tim Anda. Tim baru butuh struktur; tim matang butuh otonomi. Salah resep = sabotate.
Lindungi
Lindungi tim dari groupthink. Pemimpin bicara terakhir; tunjuk devil's advocate; undang outsider.
Fasilitasi
Fasilitasi storming yang konstruktif. Konflik yang dijinakkan terlalu cepat menghasilkan pseudo-norming.

Social Loafing: Free Rider Problem

Ringelmann effect: individu effort menurun saat bekerja dalam kelompok. Bukan karena malas — karena accountability diffused + effort tidak terlihat.

PenyebabMekanismeMitigasi
Accountability diffusedTanggung jawab dibagi → individu merasa kurang accountableIndividual contribution measurement + peer review
Effort tidak terlihatKontribusi individu sulit dipisahkan dari kelompokIndividual milestone + sub-deliverable
Sucker aversionTidak mau bekerja keras jika lainya free-rideNorma tim sehat: semua contribute
Coordination lossSinkronisasi kelompok tidak optimalProses koordinasi eksplisit

Cohesiveness: Dose-Dependent

Kohesi tim bukan always-good. Kohesi rendah → koordinasi buruk. Kohesi tinggi → groupthink. Optimal di middle-high dengan psychological safety.

Level KohesiDampak PositifDampak Negatif
Rendah(minim) — koordinasi burukConflict, free-riding, turnover
MediumTrust building, normingBisa progress ke performing atau stuck
Tinggi (sehat)Performing, psychological safety, OCBBisa progress ke groupthink bila tidak ada challenge norm
Tinggi (toksik)(minim)Groupthink, konformitas, isolation dari outside info

Tuckman dalam Konteks Tim Virtual

Tim virtual melewati tahap Tuckman yang sama tetapi dengan timeline berbeda + tantangan unik.

FormingVirtuallebih lambatStormingtidak langsungsehatNormingeksplisitnorms digitalPerformingritus sinkronkunci
Virtual team: forming lebih lambat (relationship building tanpa interaction fisik); storming bisa tertekan (norma konflik-avoidant); norming butuh norms digital eksplisit; performing butuh ritus sinkron konsisten.

Tiga Peran Manajer dalam Dinamika Kelompok

Manajer senior memainkan tiga peran berbeda dalam mengelola dinamika kelompok. Salah peran = intervensi tidak tepat.

Diagnosa
Baca tahap Tuckman + pola norma + gejala groupthink. Diagnosa sebelum intervensi.
Fasilitasi
Fasilitasi storming konstruktif (jangan jinakkan terlalu cepat). Norms sehat emerge dari konflik yang dimediasi.
Lindungi
Lindungi tim dari groupthink (pemimpin bicara terakhir, devil's advocate, outsider). Struktur keputusan formal.

Sintesis: Kelompok vs Tim — Pilihan Disain

Tidak semua kolaborasi harus 'tim sejati'. Pilihan kelompok vs tim adalah keputusan desain yang harus fit dengan tujuan.

Prinsip Hackman: pakai tim hanya bila ada interdependensi nyata (output A butuh input B) dan tujuan kolektif lebih besar dari jumlah individual. Bila tidak, kelompok kerja paralel dengan koordinasi tipis lebih efisien.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 9

Rangkuman Hari Ini
  • Jenis kelompok: formal vs informal, virtual. Struktur informal sering dominan penggerak perubahan.
  • Tahap Tuckman: forming-storming-norming-performing-adjourning. Storming perlu dilewati, bukan dihindari.
  • Norma kelompok: leverage paling kuat-invisible. Asch: 75% konform ke kelompok yang salah.
  • Groupthink (Janis): 8 gejala. Mitigasi: pemimpin bicara terakhir, devil's advocate, outsider.
  • Groupshift: kelompok geser keputusan ke ekstrem. Mitigasi: independent voting, second-meeting rule.
Pertemuan 9
  • Memahami tim kerja: jenis tim, karakteristik tim efektif
  • Self-managed team, cross-functional team, virtual team
  • Bawa satu tim kerja di organisasi Anda — kita audit efektivitasnya