stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-06
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 6: Konsep Motivasi Kerja
RPS minggu 6 · 2x50 menit

Konsep Motivasi Kerja

Teori Kebutuhan, Self-Determination, Goal-Setting, Keadilan Organisasional

Magister Manajemen · FEB UNDIP · Perilaku Organisasi — Pertemuan 6

Peta Pertemuan Hari Ini

Bagian 1 · Teori Kebutuhan
  • Maslow: hierarki 5 level kebutuhan
  • ERG (Alderfer): eksistensi-relatedness-growth, bisa regress
  • McClelland: tiga need — achievement, affiliation, power
Bagian 2 · Teori Proses
  • Self-determination (Deci & Ryan): otonomi, kompetensi, relatedness
  • Goal-setting (Locke & Latham): tujuan spesifik-menantang
  • Keadilan organisasional: distributive, procedural, interactional

Hierarki Kebutuhan Maslow (1943)

Maslow mengajukan lima level kebutuhan berhirarki: kebutuhan lower harus relatif terpenuhi sebelum higher menjadi motivator dominan. Catat: ini model intuitif, bukan rigid staircase.

Self-Actualizationaktualisasi diriEsteempenghargaan|statusBelongingnesssosial|kelompokSafetykeamanan|stabilitasPhysiologicalfisiologis|dasar

Maslow vs ERG (Alderfer) vs McClelland

Tiga teori kebutuhan menjelaskan fenomena berbeda. Alderfer mengompres Maslow jadi tiga level dan mengizinkan regression; McClelland fokus pada kebutuhan yang dipelajari (learned needs).

TeoriKomponenImplikasi Praktis
Maslow5 level hirarkis: physiological → self-actualizationDi tempat kerja modern, lower level sering sudah terpenuhi; motivator dominan di higher level
ERG (Alderfer)Existence, Relatedness, Growth + regressionBila growth tertekan, karyawan regress ke relatedness — menjelaskan 'mengapa banyak yang keluar ke startup kawah')
McClellandNeed for Achievement, Affiliation, PowerProfil dominan memprediksi peran ideal: nAch = entrepreneur, nAff = HR/service, nPow = leadership politis
SintesisTiga komplementer, bukan saling menggantikanDiagnosis: karyawan stagnan — apakah existence tertekan, relatedness busuk, atau growth tertutup?
Bagian 1 · 2/3
Self-Determination Theory: Otonomi Sebagai Nutrisi Psikologis
Diskusi kelas: kapan terakhir Anda memberi bawahan otonomi asli, dan apa yang terjadi pada motivasinya?

Tiga Kebutuhan Psikologis Dasar (Deci & Ryan)

SDT: ketika autonomy, competence, relatedness terpenuhi, motivasi tumbuh intrinsik. Ketika salah satu tertekan, motivasi geser ke extrinsik (rentan jebol saat insentif hilang).

SDTmotivasi|intrinsikAutonomypilihan|otonomiCompetencetumbuh|mampuRelatednessterhubung|kelompok
Overjustification: imbalan finansial untuk perilaku yang sudah dimotivasi intrinsik (misalnya kerja creative) justru menurunkan motivasi intrinsik — riset Deci klasik dan replikasi modern konsisten.

Self-Determination & Praktik Manajerial

Tiga kebutuhan psikologis tidak otomatis terpenuhi; manajer harus sengaja mendesain lingkungan kerja yang memenuhinya.

KebutuhanPraktik Manajerial yang MendukungPraktik yang Merusak
AutonomyDelegasi tujuan + resource + kepercayaan prosesMicro-management, approval berlapis, tracking berlebihan
CompetenceStretch assignment, training, umpan balik konstruktifTugas berulang stagnan, kritik tanpa pengembangan
RelatednessTim kohesif, ritus sosial, kolaborasi lintas fungsiKomitmen persaingan internal, evaluasi pakai ranking forced
SintesisKetiganya saling memperkuat bila didesain harmonisTrade-off: otonomi ekstrim tanpa kompetensi = kegagalan
Bagian 2 · 3/3
Goal-Setting & Keadilan Organisasional
Diskusi kelas: tujuan yang Anda tetapkan untuk tim Anda tahun ini — apakah spesifik-menantang, atau vague-safe? Dan apakah proses alokasi reward Anda dianggap adil?

Locke & Latham: Anatomi Tujuan Efektif

Goal-setting theory (400+ studi, lintas industri): tujuan memprediksi performa bila memenuhi lima karakteristik berikut.

KarakteristikDefinisiContoh Kontras
SpesifikTujuan terukur jelas, bukan vague'Tingkatkan retensi pelanggan 15%' bukan 'perbaiki layanan'
MenantangRealistis tetapi stretch (90th percentile)Bukan 'do your best' (tidak terukur), bukan target 0% (tidak realistis)
CommitmentKaryawan menerima tujuan sebagai miliknyaParticipative goal-setting > assigned, terutama untuk pekerjaan kompleks
FeedbackUmpan balik berkala atas progressTanpa feedback, tujuan menantang justru demotivasi (gap terasa permanent)
Task complexityTujuan kompleks dipecah + learning goalPekerjaan kompleks: shift dari outcome goal ke learning goal dulu

Hitung dari Nol: Diagnosa Keadilan Organisasional

Colquitt (2001): keadilan organisasional punya empat dimensi. Diagnosis satu kebijakan reward di divisi Anda — apakah keempatnya terpenuhi?

DimensiPertanyaan DiagnostikBila Rendah → Dampak
DistributiveApakah outcome (gaji, bonus, promosi) proporsional dengan input?Perceived inequity → reduction effort, sabotage, turnover (Adams 1965)
ProceduralApakah proses keputusan konsisten, akurat, bias-free, korektibel?Procedure violations lebih merusak trust dibanding outcome buruk
InterpersonalApakah treatment pribadi penuh hormat dan dignity?Bahkan outcome adil, treatment kasar menggagalkan penerimaan
InformationalApakah penjelasan tentang 'mengapa' transparan dan memadai?Ketidakjelasan why → spekulasi negatif, gossip
Sintesis
4 dimensi
Keadilan bukan tunggal — keempat dimensi harus dijaga. Bila satu tertinggal, perceived injustice menyebar ke seluruh sistem

Mini-Kasus: Insentif Sales di Perbankan Indonesia

Ilustrasi komposit pola umum di industri perbankan Indonesia — bukan satu bank spesifik, melainkan tipikal industri.

Skenario
  • Bank menetapkan target funding tinggi dengan bonus progresif linier
  • Beberapa RM (relationship manager) capai target dengan praktik agresif: push produk tanpa kebutuhan nasabah
  • Kuartal berikutnya: miss-selling meningkat, komplain nasabah naik, OJK warning
  • Manajemen terkejut — mengapa insentif tinggi tidak menghasilkan outcome diinginkan?
Diagnosis dengan Teori
  • Distributive: bonus linier capai target → reward behavior apa pun yang capai, termasuk agresif
  • Procedural: tidak ada quality gate (net promoter score, retention) → proses tidak bias-free
  • Goal-setting: tujuan spesifik (target funding) tetapi learning goal (kontrol kualitas) tertekan
  • SDT: relatedness (relasi dengan nasabah) dikorbankan untuk competence (target) — tidak seimbang

Latihan Kelas: Diagnosis Karyawan yang Sulit Dimotivasi

Instruksi (12 menit, individu lalu berpasangan):
  1. Pilih satu karyawan di tim Anda yang kesulitan dimotivasi (anonim, nama samaran)
  2. Diagnosis dengan enam teori: Maslow/ERG, McClelland, SDT, goal-setting, keadilan
  3. Teori mana yang paling menjelaskan akar masalahnya? (tidak harus semua — biasanya 1-2 dominan)
  4. Rumuskan satu intervensi spesifik berdasarkan teori dominan
  5. Diskusi berpasangan — minta challenge: apakah intervensi mengatasi akar atau hanya gejala?

Tujuan: melatih kebiasaan diagnostik multi-teori. Manajer amatir pakai satu teori favorit; manajer mature memilih teori sesuai konteks.

Sintesis: Manajer sebagai Arsitek Motivasi

Motivasi bukan 'diberikan' kepada karyawan; ia muncul dari desain lingkungan kerja. Manajer adalah arsitek kondisi yang memungkinkan motivasi intrinsik tumbuh.

Diagnosis
Setiap karyawan punya profil motivasi unik — diagnosis dengan multi-teori sebelum intervensi.
Desain
Desain pekerjaan, sistem reward, dan kebijakan dengan mempertimbangkan 6 teori sekaligus, bukan satu favorit.
Iterasi
Motivasi dinamis; audit berkala dengan 6 teori, sesuaikan intervensi sesuai perubahan konteks.

Vroom Expectancy Theory: E × I × V

Vroom (1964): motivasi = expectancy × instrumentality × valence. Tiga komponen harus semua tinggi; bila satu nol, motivasi kolaps.

KomponenDefinisiDiagnosis
ExpectancyKeyakinan effort → performance ('saya mampu')Rendah bila lack skill atau tugas impossible
InstrumentalityKeyakinan performance → outcome ('saya akan di-reward')Rendah bila sistem reward opaque/tidak konsisten
ValenceNilai outcome bagi individu ('reward penting bagi saya')Rendah bila reward tidak sesuai kebutuhan individu
SintesisE × I × V (perkalian, bukan penjumlahan)Salah satu nol → motivasi nol

Adams Equity Theory: Perceived Fairness

Adams (1965): karyawan bandingkan input/output ratio mereka vs referent others. Bila tidak adil, motivasi turun via 6 mekanisme.

Mekanisme Restore EquityDefinisiManifestasi
Reduce inputKurangi effort sebagai responQuiet quitting, withdraw behavior
Increase outputMinta raise atau curi (dalam ekstrem)Demand renegotiation; dalam ekstrem fraud
Distort selfRasionalisasi ratio sebenarnya adilSelf-deception untuk reduce dissonance
Distort otherRasionalisasi referent sebenarnya input lebihExplain away why other deserves lebih
Change referentBandingkan dengan referent lebih menguntungkanShift comparison group
ExitKeluar organisasiTurnover — exit voice loyalty (Hirschman)

Herzberg Two-Factor: Hygiene vs Motivator

Herzberg (1959) menemukan paradox: faktor yang menyebabkan dissatisfaction berbeda dari faktor yang menyebabkan satisfaction. Hygiene mencegah dissatisfaction; motivator menghasilkan satisfaction.

HygieneMotivatorGajiprevent|dissatKondisiprevent|dissatSupervisiprevent|dissatAchievementcreate|satRecognitioncreate|satGrowthcreate|sat
Herzberg: gaji/good conditions tidak menciptakan motivasi — mereka hanya mencegah dissatisfaction. Motivasi sejati datang dari achievement, recognition, responsibility, growth.

Sintesis: Empat Kerangka Proses Motivasi

Empat teori proses (self-determination, goal-setting, keadilan, expectancy-equity) saling melengkapi. Manajer mature memilih sesuai konteks diagnosis.

SDT
Autonomy + competence + relatedness sebagai nutrisi psikologis. Cocok untuk pekerjaan kreatif-kompleks.
Goal-Setting
5 karakteristik tujuan efektif. Cocok untuk pekerjaan terstruktur dengan target jelas.
Keadilan
4 dimensi distributive/procedural/interpersonal/informational. Cocok untuk konteks reward decision.
Expectancy
E × I × V. Cocok untuk diagnosis individu (karyawan spesifik stagnan).

Hitung dari Nol: Diagnosa Motivasi Multi-Teori

Diagnosa satu karyawan stagnan dengan empat teori proses. Tujuan: identifikasi teori yang paling menjelaskan akar masalah.

TeoriPertanyaanSinyal Dominan
SDTApakah otonomi/kompetensi/relatedness tertekan?Bila ya: fokus desain pekerjaan
Goal-SettingApakah tujuan vague / no feedback?Bila ya: set clear goals + feedback ritus
KeadilanApakah perceived injustice (any dimension)?Bila ya: address procedural/transparency
ExpectancyApakah E/I/V salah satu rendah?Bila ya: address komponen terendah
Diagnosa
1-2 teori
Mayoritas kasus didominasi 1-2 teori. Intervensi fokus pada teori dominan, bukan semua sekaligus.

Kapan Insentif Finansial Bukan Jawaban

Insentif finansial efektif untuk pekerjaan rutin-terukur tetapi kontra-produktif untuk pekerjaan kreatif-kompleks. Kunci: match tipe insentif dengan jenis pekerjaan.

Riset Deci (1971), replications: imbalan finansial untuk perilaku yang sudah dimotivasi intrinsik menurunkan motivasi intrinsik. Untuk pekerjaan kreatif, fokus pada SDT (autonomy, mastery, purpose). Untuk pekerjaan rutin, financial incentive aligned dengan metric tepat.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 7

Rangkuman Hari Ini
  • Teori kebutuhan (Maslow/ERG/McClelland) menjawab 'apa yang mendorong'
  • Self-determination: autonomy, competence, relatedness sebagai nutrisi psikologis
  • Goal-setting Locke-Latham: 5 karakteristik (spesifik, menantang, commitment, feedback, task complexity)
  • Keadilan: 4 dimensi (distributive, procedural, interpersonal, informational)
  • Manajer = arsitek motivasi, bukan sumber motivasi; diagnosis multi-teori kunci
Pertemuan 7
  • Penerapan motivasi: desain pekerjaan, employee engagement, sistem imbalan
  • Job characteristics model (Hackman-Oldham): skill variety, task identity, significance, autonomy, feedback
  • Bawa satu peran pekerjaan di tim Anda — kita audit karakteristik motivasinya