‹ Daftar slidePertemuan 3: Emosi dan Suasana Hati di Tempat Kerja
RPS minggu 3 · 2x50 menit
Emosi dan Suasana Hati di Tempat Kerja
Sumber, Dampak terhadap Kinerja dan Pengambilan Keputusan
Magister Manajemen · FEB UNDIP · Perilaku Organisasi — Pertemuan 3
Peta Pembelajaran Hari Ini
Bagian 1 · Anatomi
Mood vs emosi: durasi dan pemicu berbeda
Affective Events Theory (Weiss & Cropanzano)
Emotional contagion: emosi menular di tim
Bagian 2 · Aplikasi
Pengaruh emosi pada keputusan manajerial
Emotional labor dan kelelahan frontline
Goleman EQ: lima domain kecerdasan emosional
Mengapa Manajer Tidak Bisa Mengabaikan Emosi
Riset behavioral finance dan decision research konsisten: keputusan keuangan, hiring, dan negosiasi dipengaruhi suasana hati pengambil keputusan — bahkan bila mereka meyakini diri sepenuhnya rasional.
Keputusan
Manajer marah cenderung menerima risiko lebih tinggi; yang cemas terlalu konservatif (Loewenstein 2001, affect heuristic).
Negosiator marah memberi konsesi lebih sedikit tapi kontrak lebih buruk; yang senang terlalu kompromistis.
Bagian 1 · 1/3
Affective Events Theory: Emosi Sebagai Variabel Terukur
Diskusi kelas: peristiwa kerja harian apa yang paling kuat memicu emosi (positif atau negatif) di tim Anda, dan apakah Anda bisa memprediksinya?
Affective Events Theory (Weiss & Cropanzano)
AET (1996): peristiwa kerja (work events) memicu reaksi emosional yang kemudian mempengaruhi sikap kerja dan perilaku — bukan langsung dari kepuasan global.
Emotional Contagion: Emosi Menular
Barsade (2002): emosi satu anggota tim menyebar ke anggota lain dalam hitungan menit — terutama dari pemimpin ke pengikut. Pemimpin adalah pengatur suasana hati tim yang terkuat.
Mekanisme
Bagaimana Kerja
Implikasi Manajerial
Mimicry
Meniru ekspresi wajah dan vokal tanpa sadar
Wajah marah manajer = tim tegang sebelum kata diucapkan
Satu karyawan panik saat krisis = panik menyebar; ketenangan pemimpin menstabilkan tim
Praktis: pemimpin tidak punya pilihan untuk tidak beremosi — setiap interaksi sudah menyampaikan sinyal emosional. Pertanyaannya: sinyal apa yang ingin Anda kirim, terutama saat krisis.
Mood vs Emosi: Perbedaan Penting
Mood (suasana hati) dan emosi sering dianggap sinonim, padahal keduanya berbeda dalam durasi, intensitas, dan pemicu — implikasi manajerialnya berbeda.
Mood
Berlangsung jam-hari, intensitas lebih rendah
Sering tanpa pemicu spesifik yang disadari
Mempengaruhi latar belakang semua keputusan
Sulit diatur; muncul dari tidur, cuaca, ritme sirkadian
Emosi
Berlangsung detik-menit, intensitas lebih tinggi
Pemicu spesifik: peristiwa, kata, interaksi
Lebih mudah dikenali dan diatur
Lebih kuat mengganggu konsentrasi jangka pendek
Implikasi: keputusan strategis besar yang membutuhkan jam-jam analisis lebih rentan mood; keputusan reaktif harian lebih rentan emosi. Keduanya butuh protokol mitigasi berbeda.
Hitung dari Nol: Mapping Work Events di Tim
Skenario: Tim engineer 8 orang mengalami penurunan engagement 3,8 ke 3,1 dalam 6 bulan. Anda diminta memetakan work events dominant di 6 bulan terakhir sebagai input diagnosis.
Peristiwa
Frekuensi
Dampak Emosional
Reorganisasi tanpa komunikasi jelas
2x dalam 6 bln
Kecemasan, ketidakpastian → mood negatif kronis
Release produk tertunda 3 minggu
1x
Frustrasi, kelelahan → emosi negatif akut
Pujian publik dari CTO
1x
Senang, bangga (singkat) → tidak cukup menahan kumulatif negatif
Promosi 1 anggota, 3 lainnya ditolak
1x
Cemburu, kekecewaan untuk yang ditolak
Diagnosa AET
Akumulasi negatif
Peristiwa negatif lebih banyak & lebih lama dampaknya; pujian positif terlalu jarang & singkat untuk menetralkan. Intervensi: struktur komunikasi reorganisasi + ritual pengakuan mingguan
Bagian 2 · 2/3
Emosi dan Keputusan Manajerial
Diskusi kelas: keputusan eksekutif besar mana dalam 12 bulan terakhir yang menurut Anda kini, secara jujur, dipengaruhi suasana hati saat itu?
Affect Heuristic: Perasaan Mendahului Analisis
Slovic et al.: ketika dihadapkan keputusan kompleks, otak membentuk perasaan tentang opsi (affect) dalam milidetik — sebelum analisis rasional dimulai. Affect ini kemudian mempengaruhi interpretasi data.
Mood Positif
Estimasi probabilitas sukses lebih tinggi dari baseline
Lebih kreatif, asosiatif, penerima terhadap informasi baru
Risiko: terlalu optimis, mengabaikan sinyal bahaya
Mood Negatif
Estimasi risiko lebih tinggi, lebih konservatif
Lebih analitis, sistematis, teliti terhadap detail
Risiko: terlalu hati-hati, salah evaluasi opsi netral sebagai ancaman
Emotional Labor: Biaya Tersembunyi Frontline
Hochschild (1983): frontline (CS, perawat, pramugari) melakukan emotional labor — mengelola ekspresi emosi sesuai aturan organisasi. Ini pekerjaan kognitif nyata yang dapat menyebabkan kelelahan dan burnout.
Strategi
Mekanisme
Konsekuensi
Surface acting
Menyembunyikan emosi asli, memalsukan ekspresi
Burnout tinggi, depersonalisasi, turnover
Deep acting
Mengubah emosi internal sesungguhnya (empati sungguhan)
Lebih sehat, otentik; butuh latihan dan dukungan
Genuine emotion
Emosi spontan sudah selaras aturan
Optimal; butuh budaya yang mengizinkan
Mitos pelanggan selalu benar memaksa surface acting berlebihan — biaya mental ditanggung karyawan, bukan perusahaan. Perusahaan dengan frontline turnover tinggi sering mengabaikan biaya ini.
Goleman EQ: Lima Domain Kecerdasan Emosional
Goleman (1995, 1998): kecerdasan emosional bukan menjadi orang baik, melainkan kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri dan orang lain — prediktor kinerja kepemimpinan yang lebih kuat dari IQ untuk peran eksekutif.
Self-awareness
Mengenali emosi dan pemicunya sendiri secara real-time. Fondasi semua domain lain.
Self-regulation
Mengelola dorongan, menunda reaksi, memilih respons yang sesuai konteks.
Motivasi
Penggerak intrinsik, ketahanan terhadap rintangan, orientasi prestasi.
Empati
Membaca emosi orang lain, mendengarkan tingkat emosi yang tidak diucapkan.
Social skill
Membangun jaringan, mempengaruhi, mengelola konflik kolaboratif.
Catatan
EQ dapat dikembangkan sepanjang hidup — bukan trait tetap seperti IQ.
Hitung dari Nol: Audit EQ Tim Kepemimpinan
Skenario: Direksi startup fintech 5 orang. Hasil EQ-i 2.0 (skor 70-130, mean 100): CEO self-awareness 88, self-regulation 72; CFO empati 75; CMO motivasi 92, social skill 130; CTO self-regulation 68; COO seimbang 95-105 semua domain.
Domain Lemah
Siapa
Risiko Perilaku
Self-regulation (72, 68)
CEO, CTO
Reaktif, eksplosif saat stress → emotional contagion negatif ke seluruh org
Empati (75)
CFO
Keputusan cut cost tanpa mempertimbangkan beban emosional tim → resistensi & turnover
Self-awareness (88)
CEO
Tidak sadar dampak mood pada tim → blind spot kepemimpinan
Intervensi Prioritas
Self-regulation
CEO + CTO: coaching 1:1 + mindfulness-based training 12 minggu; dampak menyebar ke seluruh org via emotional contagion positif
Bagian 3 · 3/3
Sintesis: Emosi sebagai Data, Bukan Gangguan
Diskusi kelas: protokol formal apa yang bisa Anda terapkan untuk mencegah keputusan penting diambil dalam mood ekstrem?
Mini-Kasus: Krisis Gojek 2015 dan Ketenangan Pemimpin
Konteks (ilustrasi publik): Gojek menghadapi tekanan dari taksi konvensional dan demonstrasi 2015. Komunikasi internal & eksternal pemimpin menjadi penentu apakah karyawan tetap fokus atau ikut panik.
Pemimpin harus memancarkan ketenangan tanpa mengabaikan risiko nyata
Komunikasi publik vs internal harus konsisten
Pelajaran Emotional Leadership
Pemimpin adalah mood barometer tim
Transparansi kondisi nyata + keyakinan strategi → ketenangan otentik
Ketenangan tidak sama dengan menyangkal masalah
Teknik Regulasi Emosi yang Terbukti
Gross (1998, 2014): model proses regulasi emosi mengidentifikasi lima titik intervensi sebelum emosi meledak menjadi tindakan.
Pra-Emosi (Pencegahan)
Selection situasi: hindari meeting bermasalah saat lelah
Modification situasi: ubah format meeting dari langsung ke async
Attention deployment: alihkan fokus dari pemicu ke tujuan
Pasca-Pemicu (Penanganan)
Cognitive change: reframing (bukan marah, ini peluang)
Response modulation: jeda 6 detik, napas dalam, tunda respons
Teknik 6-detik: waktu minimum amigdala untuk tenang sebelum respons
Burnout: Akumulasi Emosi yang Tak Dikelola
Maslach (1981): burnout adalah sindrom tiga dimensi — kelelahan emosional, depersonalisasi, dan pencapaian personal yang menurun. Bukan sekalah lelah, tapi kerusakan kognitif yang serius.
Emotional Exhaustion
Sumber daya emosional habis; tidak ada lagi kapasitas menghadapi tuntutan.
Depersonalization
Sikap sinis dan jarak emosional terhadap klien/rekan; mekanisme pertahanan.
Reduced Efficacy
Perasaan tidak kompeten meski performa objektif mungkin baik; erosi makna.
Burnout bukan kelemahan individu — indikator masalah sistem: beban kerja kronis, kontrol rendah, imbalan tidak adil, komunitas rusak, nilai misalignment. Tanggung jawab manajerial, bukan terapi individu.
Mengukur Emosi di Tempat Kerja
Pengukuran emosi organisasi bukan soal survei perasaan global, melainkan instrumen tervalidasi yang menangkap dinamika afektif dari waktu ke waktu.
Instrumen
Yang Diukur
Penggunaan Praktis
PANAS (Watson & Clark)
Positive & Negative Affect Schedule
Snapshot mingguan mood tim; trend peringatan dini
Maslach Burnout Inventory
3 dimensi burnout
Diagnosis tingkat keparahan & area intervensi
Gallup Q12
Engagement (12 item perilaku)
Benchmarking & pelacakan tahunan
EQ-i 2.0 / ESCI
EQ individual & 360
Untuk coaching eksekutif & pengembangan
Jangan tergoda survei DIY. Instrumen tervalidasi memberi benchmark industri & dapat dibandingkan antar-unit; survei ad-hoc menyesatkan.
Latihan Kelas: Audit Emosi Tim
Instruksi (10 menit, berpasangan):
Pilih satu keputusan kepemimpinan terakhir yang Anda ambil dalam kondisi emosi kuat (marah, cemas, terlalu gembira).
Identifikasi work events yang memicu emosi itu, dan emosi spesifik yang Anda rasakan.
Reframe: protokol apa yang bisa Anda terapkan ex-ante (Pra-emosi) untuk mencegah keputusan dipengaruhi emosi ekstrem?
Siap dipanggil untuk presentasi singkat 1 menit: situasi, emosi, dampak, dan protokol baru.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Rangkuman Hari Ini
AET: peristiwa kerja harian → emosi → sikap; intervensi pada peristiwa lebih efektif
Emotional contagion: pemimpin adalah pengatur mood tim terkuat
Affect heuristic: mood warnai analisis; delay keputusan saat mood ekstrem
Emotional labor = biaya frontline; surface acting menyebabkan burnout
EQ 5 domain dapat dikembangkan; self-regulation & empati paling sering lemah di senior
Burnout adalah masalah sistem, bukan kelemahan individu
Pertemuan 4
Kepribadian dan nilai: Big Five, person-job fit, person-organization fit
Bawa hasil tes Big Five Anda (online NEO-PI sample atau IPIP) untuk dianalisis