‹ Daftar slidePertemuan 1: Pengantar Perilaku Organisasi: definisi, tiga level analisis (individu, interpersonal, kolektif), keterkaitan OB dengan keberhasilan manajerial
RPS minggu 1 · 2x50 menit
Pengantar Perilaku Organisasi
Definisi, Tiga Level Analisis, dan Keterkaitannya dengan Keberhasilan Manajerial
Magister Manajemen · FEB UNDIP · Perilaku Organisasi — Pertemuan 1
Peta Pertemuan Hari Ini
Bagian 1 · Fondasi
Definisi OB sebagai bidang keputusan manajerial, bukan sekadar psikologi terapan
Tiga level analisis: individu → interpersonal → kolektif
Mengapa level analisis menentukan diagnosis masalah yang berbeda
Bagian 2 · Aplikasi
OB sebagai kontributor kinerja organisasi (bukti empiris)
Mini-kasus: keputusan manajerial di organisasi Indonesia
Kerangka diagnosis 3-level untuk kasus Anda sendiri
OB Bukan Sekadar "Ilmu Tentang Orang"
Bagi manajer S2, OB adalah disiplin keputusan: menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol perilaku dalam organisasi untuk mencapai efektivitas (Robbins & Judge).
Menjelaskan
Mengapa turnover di divisi sales Anda 3x lipat dari divisi finance — bukan kebetulan, ada pola sistematis.
Memprediksi
Tim dengan psychological safety rendah cenderung menutupi kesalahan sebelum berdampak besar (Edmondson, 1999).
Mengontrol
Desain insentif, struktur tim, dan gaya kepemimpinan adalah variabel yang bisa Anda ubah sebagai manajer.
Tiga Level Analisis: Kerangka Inti Semester Ini
Diagnosis manajerial yang keliru sering terjadi karena mencampur level: masalah individu diobati dengan intervensi budaya, atau sebaliknya.
Bagian 1 · Fondasi
Level Individu: Titik Awal Analisis Perilaku
Diskusi kelas: Ketika seorang karyawan berprestasi tiba-tiba menurun kinerjanya, apakah ini murni masalah individu, atau gejala dari level yang lebih tinggi?
Level Individu: Variabel Kunci untuk Manajer
Perbedaan Individual
Kepribadian (Big Five) memprediksi kecocokan peran, bukan sekadar "karakter baik-buruk"
Nilai kerja (values) menentukan keselarasan person-organization fit
Kemampuan kognitif & emosional membentuk kapasitas pengambilan keputusan
Proses Kognitif-Afektif
Persepsi selektif membentuk bagaimana bawahan menafsirkan instruksi Anda
Bias pengambilan keputusan (anchoring, overconfidence) beroperasi tanpa disadari
Motivasi bukan variabel tunggal — kombinasi kebutuhan, ekspektansi, dan keadilan
Implikasi manajerial: rekrutmen, penempatan, dan penilaian kinerja yang efektif dimulai dari pemahaman level individu yang akurat — bukan generalisasi.
Kerangka Atribusi: Individu vs. Sistem
Langkah
Pertanyaan Diagnostik
Indikasi Level
1. Konsistensi
Apakah karyawan ini berperilaku sama di situasi lain?
Tinggi → individu; Rendah → situasional
2. Distinctiveness
Apakah perilaku ini khas untuk tugas ini saja?
Tinggi → tugas/tim; Rendah → individu
3. Konsensus
Apakah rekan kerja lain juga berperilaku serupa dalam kondisi sama?
Tinggi → kolektif/sistem; Rendah → individu
4. Sintesis
Gabungkan tiga indikator untuk menentukan level intervensi
Individu, interpersonal, atau kolektif
Kesimpulan Kerangka
3 Sinyal
Konsistensi, distinctiveness, konsensus (Kelley, 1967) — hindari fundamental attribution error saat menilai bawahan
Bagian 1 · Fondasi
Level Interpersonal: Ketika Dua Orang atau Lebih Berinteraksi
Diskusi kelas: Mengapa tim dengan individu-individu berkompeten tinggi bisa tetap berkinerja buruk secara kolektif?
Level Interpersonal: Dari Individu ke Interaksi
Fenomena Kunci
Process loss: kinerja tim < jumlah kinerja individu akibat koordinasi buruk (Steiner, 1972)
Groupthink: konsensus semu menekan dissent yang justru krusial
Komunikasi lintas fungsi sering terdistorsi oleh hierarki dan silo
Implikasi Manajerial
Desain tim bukan sekadar kumpulkan talenta terbaik, tapi rancang proses interaksi
Peran pemimpin sebagai fasilitator dissent yang konstruktif
Investasi pada psychological safety berdampak langsung pada kualitas keputusan tim
Level ini menjembatani individu dan kolektif — di sinilah sebagian besar kegagalan eksekusi strategi sesungguhnya terjadi.
Level Kolektif: Organisasi sebagai Sistem
Level kolektif menjelaskan mengapa dua organisasi dengan strategi identik bisa memberi hasil sangat berbeda: budaya "memakan" strategi untuk sarapan (Drucker).
Latihan Kelas: Memetakan Kasus Anda ke Tiga Level
Instruksi (10 menit, berpasangan):
Pilih satu isu perilaku nyata dari organisasi Anda (turnover, konflik tim, resistensi perubahan, dsb.)
Tentukan level analisis dominan menggunakan kerangka atribusi (konsistensi, distinctiveness, konsensus)
Rumuskan satu implikasi keputusan manajerial berdasarkan level tersebut
Siap dipanggil untuk presentasi singkat 1 menit ke kelas
Tujuan: melatih kebiasaan diagnostik sebelum masuk ke teori spesifik tiap level pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Bagian 2 · Aplikasi
OB dan Kinerja Organisasi: Bukti, Bukan Asumsi
Diskusi kelas: Jika direksi Anda bertanya "apa ROI dari investasi pada perilaku organisasi", bukti apa yang akan Anda sampaikan?
OB = pengungkit kinerja terukur, bukan "soft matter"
Kesimpulan Praktis
~21%
Selisih profitabilitas unit berengagement tinggi vs. rendah (Gallup meta-analysis) — angka indikatif lintas studi
Mini-Kasus: Restrukturisasi Tim di Perusahaan Fintech Indonesia
Konteks (ilustrasi): Sebuah perusahaan fintech pembayaran skala menengah di Jakarta mengalami penurunan kecepatan rilis fitur sebesar ~40% dalam dua kuartal setelah tim engineering bertumbuh dari 15 menjadi 45 orang.
Gejala yang Teramati
Rapat koordinasi bertambah dari 3 menjadi 12 jam/minggu
Beberapa engineer senior mengajukan resign
Manajemen awalnya menyalahkan "kualitas talenta baru"
Reframing dengan 3 Level
Individu: kompetensi rekrutan baru relatif setara — bukan akar masalah
Interpersonal: koordinasi lintas sub-tim tidak terstruktur (process loss)
Kolektif: struktur organisasi belum menyesuaikan skala tim
Mengapa OB Krusial bagi Manajer S2 — Bukan Sekadar HR
Strategi
Implementasi strategi bergantung pada perilaku manusia yang mengeksekusinya, bukan dokumen strategi itu sendiri.
Perubahan
~70% inisiatif transformasi gagal karena resistensi perilaku, bukan kesalahan desain teknis (Kotter, hedge ~).
Keputusan
Bias kognitif manajer sendiri (Anda) adalah sumber risiko keputusan yang sering luput dari audit internal.
OB relevan untuk fungsi apa pun yang Anda pimpin — operasi, keuangan, pemasaran — karena semua fungsi dieksekusi oleh manusia dalam struktur sosial.
Penutup
Dari Kerangka ke Praktik Sepanjang Semester
Diskusi kelas: Level analisis mana yang paling sering Anda ABAIKAN saat mendiagnosis masalah di tempat kerja — dan mengapa?
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Rangkuman Hari Ini
OB = disiplin keputusan: menjelaskan, memprediksi, mengontrol perilaku organisasi
Tiga level analisis (individu, interpersonal, kolektif) mencegah kesalahan diagnosis
Kerangka atribusi (konsistensi, distinctiveness, konsensus) sebagai alat praktis
Bukti empiris kuat: OB berdampak langsung pada kinerja finansial organisasi
Pertemuan 2
Keragaman & sikap kerja dalam organisasi
Emosi dan suasana hati sebagai variabel keputusan manajerial
Bawa satu contoh kebijakan keragaman dari organisasi Anda