‹ Daftar slidePertemuan 9: Zero-Based Budgeting dan Activity-Based Budgeting
RPS minggu 9 · 2x50 menit
Zero-Based Budgeting dan Activity-Based Budgeting
Perencanaan Bisnis dan Penganggaran Perusahaan — Magister Manajemen FEB UNDIP
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 9: membandingkan model penganggaran tradisional dengan pendekatan modern.
Jam ke-1 (50 menit)
Incremental vs zero-based budgeting
ZBB: proses 4 langkah Pyhrr
Decision package & ranking
Jam ke-2 (50 menit)
Activity-Based Budgeting (ABB)
Kapan ZBB vs ABB cocok
Implementasi & kegagalan; persiapan P10
Posisi dalam alur: pendekatan anggaran adalah pilihan metodologi yang menentukan akurasi, biaya, dan perilaku sistem.
Mengapa Incremental Budgeting Dikritik
Incremental budgeting (tahun lalu + % adjustment) dikenal since 1920-an tetapi dikritik karena perpetuate inefficiency.
Masalah Incremental
"Sunken"
Mewarisi inefisiensi masa lalu tanpa pertanyaan
Solusi Alternatif
ZBB + ABB
Mulai dari nol / dari aktivitas, bukan history
Pertanyaan pemantik: di perusahaan Anda, kapan terakhir kali sebuah pos anggaran ditanyakan "apakah masih perlu?" vs. hanya diadjust +%?
Bagian 1 · 1/4
Zero-Based Budgeting (Pyhrr 1973)
Diskusi kelas: di perusahaan Anda, pernahkah ZBB diterapkan? Apa hasilnya?
ZBB: Definisi & 4 Langkah Pyhrr
ZBB memulai setiap siklus anggaran dari nol — setiap aktivitas harus dijustifikasi ulang, bukan diadjust dari tahun lalu. (Pyhrr, 1973, Zero-Base Budgeting).
Empat Langkah
1. Identifikasi decision units (fungsi/aktivitas)
2. Buat decision packages (alternatif level)
3. Evaluasi & ranking packages
4. Allocate resources berdasarkan ranking
Decision Package
Level minimum (must-have)
Level baseline (current)
Level enhancement (improvement)
Dokumen: tujuan, biaya, konsekuensi tidak
Hitung dari Nol: Decision Package Ranking
Skenario: Departemen SDH punya budget historis Rp 5 M. ZBB menghasilkan 4 decision packages lintas aktivitas.
Package
Aktivitas
Biaya (Rp M)
Score
Rank
P1-min
Payroll & administrasi dasar
2,5
9,5
1
P2-min
Training wajib (K3, compliance)
0,8
9,0
2
P3-base
Recruitment karyawan baru
1,2
7,5
3
P4-enh
Leadership development
1,5
6,0
4
P5-enh
Annual party
0,5
3,0
5
Bila budget dipotong ke Rp 4,5 M: P1+P2+P3 funded (Rp 4,5 M); P4+P5 tidak (Rp 2 M cut). Incremental akan potong proporsional: setiap aktivitas turun ~40%.
Bagian 2 · 2/4
Kelebihan & Kelemahan ZBB
Diskusi kelas: jika ZBB begitu bagus, mengapa tidak semua perusahaan pakai?
Trade-off ZBB
Kelebihan
Eliminasi inefisiensi lama
Alignment strategi-anggaran kuat
Prioritization eksplisit
Cocok untuk discretionary spending
Kelemahan
Biaya & waktu sangat tinggi
Beban administratif besar
Bisa demotivasi (uncertainty)
Sulit untuk cost committed (kontrak)
Praktik terbaik: ZBB rotasi 3-5 tahun, atau ZBB hanya pada discretionary spending, bukan full-ZBB setiap tahun.
Kapan ZBB Cocok vs Tidak
Situasi
Cocok ZBB?
Cost base membengkak selama tahun
✓ Sangat cocok (turnaround)
Discretionary spending besar (training, R&D)
✓ Cocok
Strategi baru — perlu realignment
✓ Cocok
Stable operations, cost committed dominan
✗ Tidak cocok (mahal, sedikit manfaat)
Perusahaan kecil dengan sedikit aktivitas
✗ Tidak perlu (overkill)
Bagian 3 · 3/4
Activity-Based Budgeting (ABB)
Diskusi kelas: bagaimana ABB berbeda dari ZBB? Kapan lebih cocok?
ABB: Konsep Dasar
ABB menyusun anggaran dari aktivitas dan cost driver-nya. Setiap aktivitas punya driver (mis. jumlah invoice, jumlah setup) dan rate biaya per driver. (Kaplan-Cooper, Cost & Effect, 1998).
Bila perlu potong Rp 200 M: kurangi call volume via self-service (−13.300 call), jangan potong rate (kualitas turun)
Bagian 4 · 4/4
Implementasi & Pelajaran
Diskusi kelas: mengapa banyak implementasi ZBB/ABB di Indonesia gagal atau tidak berkelanjutan?
Faktor Keberhasilan Implementasi
1. Leadership
Dukungan CEO & CFO eksplisit
Komunikasi vision ke seluruh org
2. Sistem & Data
IT system untuk track aktivitas
Data driver historis akurat
3. Budaya
Transparansi cost
Continuous improvement mindset
Bila salah satu faktor lemah, implementasi ZBB/ABB menjadi ritus tanpa substansi.
Hybrid Approach: Incremental + ZBB Selettif
Banyak perusahaan Indonesia mengadopsi hybrid: incremental untuk biaya rutin (gaji, utilitas) + ZBB selektif untuk discretionary (training, R&D, marketing).
Biaya Rutin (Incremental)
Gaji, utilitas, sewa
Amandemen ±5% dari tahun lalu
Tidak feasible ZBB (cost fixed)
Discretionary (ZBB/ABB)
Training, R&D, marketing
Justifikasi per aktivitas
Potensi penghematan 15-25% (dihedge)
Hybrid adalah pendekatan realistis Indonesia — fokus upaya ZBB pada area dengan potensi saving material.
Ringkasan Kunci Pertemuan 9
Incremental Default
Murah tetapi perpetuate inefficiency
ZBB Pyhrr
Mulai dari nol; decision packages
ABB Kaplan-Cooper
Anggarkan per aktivitas & driver
Pilihan pendekatan harus kontekstual — tidak ada "terbaik" universal.
Persiapan P10: kita akan mendalami perencanaan kebutuhan modal kerja dengan CCC sebagai metrik inti.