stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Analisis Lingkungan Bisnis untuk Perencanaan
RPS minggu 2 · 2x50 menit

Analisis Lingkungan Bisnis untuk Perencanaan

Perencanaan Bisnis dan Penganggaran Perusahaan — Magister Manajemen FEB UNDIP

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 2: menyusun analisis lingkungan bisnis sebagai basis perencanaan. Empat kerangka yang harus Anda kuasai sebagai perangkat analisis praktisi.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Lingkungan makro: PESTEL (6 dimensi)
  • Lingkungan industri: Porter Five Forces (1979/2008)
  • Kapasitas internal: Barney VRIO (1991)
Jam ke-2 (50 menit)
  • Integrasi: Weihrich TOWS (1982)
  • Dari analisis ke asumsi anggaran
  • Studi kasus Telkom + persiapan P3 proyeksi penjualan
Posisi dalam alur: analisis lingkungan menjadi basis asumsi yang akan dipakai di P3 proyeksi penjualan, P4 anggaran operasional, hingga P14 studi kasus.

Mengapa Rencana Tanpa Analisis Lingkungan Gagal

McKinsey (dihedge) menemukan bahwa ~70% rencana strategis yang gagal tidak pernah memvalidasi asumsi lingkungan secara sistematis.

Kegagalan Validasi Asumsi
~70%
Estimasi McKinsey (dihedge karena rentang studi)
Lensa Analisis
4 Kerangka
PESTEL · Five Forces · VRIO · TOWS
Pertanyaan pemantik: di perusahaan Anda, asumsi makro anggaran (inflasi, bunga, kurs) berasal dari mana? Sumber formal atau intuisi?
Bagian 1 · 1/4
Lingkungan Makro: PESTEL
Diskusi kelas: sebutkan satu isu PESTEL yang paling berpengaruh ke industri tempat Anda bekerja dalam 12 bulan terakhir.

PESTEL — Enam Dimensi Lingkungan Makro

PESTEL adalah kerangka memetakan enam dimensi lingkungan makro yang memengaruhi perusahaan tetapi tidak dapat dikontrol: Political, Economic, Social, Technological, Environmental, Legal. (Aguilar, 1967, Scanning the Business Environment).
P & E
  • Political — kebijakan, stabilitas, pajak
  • Economic — GDP, inflasi, bunga, kurs
S & T
  • Social — demografi, gaya hidup, budaya
  • Technological — disruptor, otomasi, digital
E & L
  • Environmental — iklim, bencana, ESG
  • Legal — UU tenaga kerja, konsumen, persaingan
Jangan hanya daftar — setiap dimensi harus diterjemahkan menjadi asumsi kuantitatif (mis. inflasi 3,5%, bunga 6%).

PESTEL → Asumsi Anggaran

Setiap dimensi PESTEL diterjemahkan menjadi asumsi kuantitatif yang masuk ke model anggaran.

DimensiIsuAsumsi Anggaran
EconomicInflasi BI 2025 ~3–4%Biaya tenaga kerja +4%, harga jual +3,5%
EconomicBI7DRR ~6%Biaya bunga utang mengambang +0,5pp
LegalUU Cipta KerjaBiaya pesangon turun (dihedge)
TechnologicalDisrupsi e-commerceBauran channel belanja digital +20% (dihedge)
EnvironmentalTren ESGCAPEX efisiensi energi +Rp 5 M

Hitung dari Nol: Sensitivitas Asumsi PESTEL ke Laba

Skenario: Perusahaan fiktif dengan revenue Rp 100 M, biaya variabel Rp 60 M, biaya tetap Rp 25 M. Hitung dampak dua shock lingkungan: (a) inflasi biaya 4% yang tidak bisa diteruskan ke harga, (b) pelemahan rupiah 10% yang menaikkan biaya impor 6 M.
LangkahPerhitunganNilai
1. Laba basis100 − 60 − 25Rp 15 M
2. Dampak inflasi 4% pada VC4% × 60 M−Rp 2,4 M
3. Dampak pelemahan rupiah10% × 6 M−Rp 0,6 M
4. Laba setelah shock15 − 2,4 − 0,6Rp 12.000.000.000
5. Penurunan laba(15 − 12) ÷ 15−20%
Kesimpulan
−20%
Shock lingkungan makro yang "tampaknya kecil" menggerus 20% laba — inilah mengapa analisis lingkungan penting
Bagian 2 · 2/4
Lingkungan Industri: Porter Five Forces
Diskusi kelas: di industri perbankan Indonesia, gaya tarikan mana yang paling kuat? Mengapa ROA bank Indonesia (~2–3%, dihedge) lebih rendah dari rata-rata global?

Porter Five Forces (1979/2008)

Lima gaya yang menentukan profitabilitas industri rata-rata — semakin kuat total gaya, semakin rendah ROIC industri.

PersainganExistingAncaman PendatangBaruAncamanSubstitusiDaya TawarPemasokDaya TawarPembeli5 Gaya → Profitabilitas industri rata-rata

Kasus: Five Forces Industri Telekomunikasi RI

Industri telekomunikasi Indonesia (Telkom, Indosat, XL, Tri) — laboratorium Five Forces.

GayaPenilaianImplikasi Strategi & Anggaran
Persaingan existingTinggi (oligopoli 4 pemain)Anggaran promosi & retensi besar
Pendatang baruRendah (spektrum & CAPEX barrier)Stabil, tapi waspada OTT
SubstitusiSangat tinggi (WhatsApp, OTT)Diversifikasi ke data & digital
Daya tawar pemasokSedang (vendor infra)Anggaran negosiasi spektrum
Daya tawar pembeliTinggi (switching mudah)Anggaran loyalty & bundle
Pelajaran: Telkom memilih diferensiasi (fixed-mobile convergence, MyTelkom) untuk mengurangi daya tawar pembeli — anggaran digitalnya konsisten dengan strategi ini.
Bagian 3 · 3/4
Kapasitas Internal: VRIO
Diskusi kelas: sebutkan satu sumber daya di perusahaan Anda yang lolos uji VRIO (Value, Rarity, Imitability, Organization).

Barney VRIO (1991)

VRIO adalah kerangka mengaudit apakah sumber daya perusahaan memberikan keunggulan kompetitif berkelanjutan: Value (bernilai), Rarity (langka), Inimitability (sulit ditiru), Organization (terorganisir untuk mengeksploitasi). (Barney, 1991, Firm Resources and Sustained Competitive Advantage, JOM).
KriteriaPertanyaanImplikasi
ValueApakah menambah nilai pelanggan?Tidak lolos = disadvantage
RarityApakah dimiliki sedikit pesaing?Tidak lolos = parity
InimitabilityApakah sulit ditiru?Tidak lolos = temporer
OrganizationApakah org siap mengeksploitasi?Tidak lolos = unrealized
Lolos keempatnya = sustained competitive advantage — basis anggaran strategis 3–5 tahun.

Hitung dari Nol: VRIO Jaringan Dealer Astra

Skenario audit: Jaringan dealer Astra (~400 dealer, fiktif untuk ilustrasi) diaudit VRIO untuk menilai apakah layak mendapat investasi Rp 50 M dalam 3 tahun.
KriteriaPenilaian AstraLolos?
ValueAkses ke 90%+ konsumen mobil baru
RarityHanya Astra punya skala nasional sedalam itu
InimitabilityHubungan 50+ tahun, tanah strategis sulit ditiru
OrganizationSistem training & kontrol mutu terstruktur
Hasil Audit
Sustained CA
Investasi Rp 50 M dapat dipertahankan sebagai investasi strategis — bukan biaya operasional
Bagian 4 · 4/4
Integrasi: Weihrich TOWS (1982)
Diskusi kelas: dari analisis PESTEL + Five Forces + VRIO perusahaan Anda, formulasikan satu strategi SO (Strength-Opportunity).

Weihrich TOWS Matrix (1982)

Empat kombinasi strategi dari pertemuan Strength-Weakness internal dengan Opportunity-Threat eksternal.

Strategi SO & ST (Strength-led)
  • SO — pakai strength untuk menangkap opportunity (growth agresif)
  • ST — pakai strength untuk menetralisir threat (defensif kuat)
Strategi WO & WT (Weakness-aware)
  • WO — perbaiki weakness untuk menangkap opportunity (turnaround)
  • WT — minimalkan weakness & hindari threat (survival)
TOWS berbeda dari SWOT: ia tidak berhenti pada daftar, tetapi memaksa formulasi strategi spesifik dari kombinasi internal-eksternal.

Kasus: TOWS Unilever Indonesia

Empat strategi konkret untuk Unilever Indonesia di era disrupsi digital & keberlanjutan.

TipeStrategiAsumsi Anggaran
SOMerek kuat × e-commerce growthAnggaran digital marketing +30%
STDistribusi luas × ancaman private labelAnggaran inovasi produk premium
WOPerbaiki digital cap × keberlanjutan trendAnggaran R&D kemasan ramah lingkungan
WTDependensi import × volatilitas rupiahAnggaran lokalisasi supplier
Setiap strategi TOWS → asumsi anggaran spesifik yang dapat dipertahankan di budget committee.

Ringkasan Kunci Pertemuan 2

Empat Lensa Analisis
PESTEL · Five Forces · VRIO · TOWS
Kuantifikasi Wajib
Setiap isu → asumsi anggaran eksplisit
Integrasi via TOWS
Empat tipe strategi (SO/ST/WO/WT)

Bawa empat lensa ini (PESTEL · Five Forces · VRIO · TOWS) sebagai perangkat analisis permanen di karier Anda.

Persiapan P3: baca data historis penjualan unit tempat Anda bekerja minimal 3 tahun; kita akan hitung proyeksi dengan MAPE/MSE minggu depan.