stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Pengantar Pengambilan Keputusan Manajerial (Dari Rasionalitas Penuh ke Terbatas)
RPS minggu 1 · 2x50 menit · Sub-CPMK 1

Pengambilan Keputusan Manajerial

Pertemuan 1 — Dari Rasionalitas Penuh ke Rasionalitas Terbatas

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 1: menjelaskan pergeseran asumsi rasionalitas penuh menuju rasionalitas terbatas dan relevansinya bagi peran manajer. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai sebelum meninggalkan kelas.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Asumsi rasionalitas penuh homo economicus & empat aksioma klasik
  • Tiga komponen keputusan rasional: EU = Σ pᵢ · u(xᵢ)
  • HDN-1: optimasi expected utility dari nol (Proyek A vs Proyek B)
Jam ke-2 (50 menit)
  • Bounded rationality Simon: satisficing vs maximizing
  • Kahneman-Tversky: Sistem 1 vs Sistem 2
  • Kasus GoTo IPO 2022 & implikasi bagi manajer sebagai choice architect
Posisi dalam alur 14 pertemuan: fondasi konseptual sebelum rational choice & eksperimen (P2), prospect theory (P3), heuristik & bias (P5-P6), hingga sintesis (P14).

Mengapa Manajer Perlu Memahami Rasionalitas

McKinsey (2009) menemukan ~60–70% keputusan strategis gagal mencapai target — dan penyebab utamanya bukan analisis, melainkan bias kognitif pengambil keputusan.

Decision Quality Survey
2–3×
Gap antara keyakinan manajer & akurasi aktual — overconfidence klasik (n≈2.200 keputusan)
Penetrasi Behavioral Unit
UK BIT → OECD
Dari Behavioural Insights Team UK (2010) ke tim nudge Google, P&G, OECD global
Pertanyaan pemantik: pikirkan keputusan strategis terakhir yang Anda ambil — berapa banyak alternatif yang benar-benar Anda pertimbangkan sebelum memilih? Apakah Anda optimasi atau satisficing?
Bagian 1 · 1/4
Asumsi Rasionalitas Penuh (Homo Economicus)
Diskusi kelas: pernahkah Anda bertemu homo economicus di tempat kerja — kolega yang benar-benar mengoptimalkan setiap keputusan dengan informasi lengkap? Atau semua orang yang Anda kenal satisficing?

Homo Economicus: Asumsi Klasik

Homo economicus adalah model manusia yang selalu memiliki preferensi lengkap, konsisten, dan tidak berubah; mengakses seluruh informasi relevan; dan mampu mengoptimalkan pilihan tanpa biaya kognitif. (adaptasi tradisi ekonomi neoklasik: Mill, Jevons, Edgeworth)
Aksioma 1 & 2
Preferensi
Lengkap (untuk A vs B, tahu pilihan) & transitif (jika A>B, B>C, maka A>C)
Aksioma 3 & 4
Optimasi
Informasi sempurna (semua konsekuensi & probabilitas diketahui) & kapasitas optimasi tak-terbatas
Catatan: asumsi ini by design tidak realistis — fungsinya sebagai benchmark normatif (standar "seharusnya"), bukan deskripsi positif perilaku nyata.

Rasionalitas Penuh vs Realitas Manajerial

Empat aksioma neoklasik vs empat realitas yang ditemui manajer sehari-hari — tabel ini memetakan jurang antara model dan kenyataan.

DimensiAsumsi Klasik (Homo Economicus)Realitas Manajerial
PreferensiLengkap & stabil sebelumnyaDibentuk saat mengambil keputusan (constructed preference)
InformasiSempurna & gratisAsimetris, parsial, mahal dicari (search cost)
OptimasiTak-biaya, kapasitas tak-terbatasWaktu & kapasitas kognitif terbatas (termasuk C-level)
KonsistensiInternal & stabilBerubah berdasarkan framing, urutan, & konteks

Tiga Komponen Keputusan Rasional: Preferensi-Informasi-Optimasi

Setiap model keputusan rasional selalu dapat diurai menjadi tiga komponen — inilah atom keputusan modern.

Preferensiutilitas u(·)Informasiprobabilitas p(·)×Expected UtilityEU = Σ pᵢ · u(xᵢ)
EU = Σ pᵢ · u(xᵢ)

Hitung dari Nol: Expected Utility Sebuah Keputusan Investasi

Skenario: Seorang manajer mempertimbangkan dua proyek investasi. Proyek A: 70% peluang untung Rp 1 M, 30% peluang rugi Rp 200 juta. Proyek B: 100% peluang untung Rp 500 juta. Asumsikan utilitas linier terhadap uang (u(x) = x).
LangkahPerhitunganNilai
1. EU Proyek A(0,70 × Rp 1 M) + (0,30 × −Rp 0,2 M)Rp 640.000.000
2. EU Proyek B1,00 × Rp 500 jutaRp 500.000.000
3. Selisih EUEU A − EU B = Rp 640 M − Rp 500 MRp 140.000.000
4. Keputusan rasionalPilih EU tertinggiProyek A (risk-neutral)
Kesimpulan
Rp 640 M vs Rp 500 M
Model rasionalitas penuh memilih Proyek A — tapi manajer risk-averse mungkin pilih B. Inilah pintu masuk kritik behavioral.
Bagian 2 · 2/4
Lahirnya Rasionalitas Terbatas (Simon)
Diskusi kelas: pikirkan keputusan rekrutmen terakhir di unit Anda — apakah Anda benar-benar memilih kandidat terbaik dari semua yang mungkin, atau yang pertama "cukup baik" yang muncul?

Herbert Simon: Bounded Rationality

Bounded rationality: manusia berperilaku rasional hanya sebatas yang diizinkan oleh kognisi, informasi, dan waktu yang tersedia bagi mereka. (parafrasa Simon, Models of Man, 1957)
Prinsip 1: Tiga Batas
  • Kapasitas kognitif terbatas
  • Informasi terbatas & asimetris
  • Waktu terbatas (deadline)
Prinsip 2: Satisficing
  • Cari alternatif "cukup baik"
  • Bukan optimal secara absolut
  • Aspiration level threshold
Prinsip 3: Heuristik Adaptif
  • Aturan praktis yang efisien
  • Berkembang karena ecologis
  • Bukan optimal matematis
Catatan historis: Simon dapat Nobel Ekonomi 1978 untuk karyanya mematahkan asumsi rasionalitas penuh — pengakuan resmi bahwa model klasik tidak akurat.

Satisficing vs Maximizing

Dua strategi keputusan dengan trade-off berbeda — Schwartz (2004) menemukan maximizer kurang puas dari satisficer (paradox of choice).

Maximizing (Rasionalitas Penuh)
  • Cari semua alternatif yang mungkin
  • Evaluasi setiap alternatif vs semua kriteria
  • Pilih yang terbaik secara absolut
  • Biaya: waktu & kognitif sangat tinggi
Satisficing (Rasionalitas Terbatas)
  • Tetapkan ambang batas (aspiration level)
  • Cari alternatif pertama yang melampaui ambang
  • Berhenti begitu ambang tercapai
  • Biaya: rendah; mungkin bukan optimal

Tiga Batas Kognitif: Informasi-Kognitif-Waktu

Tiga batas yang membuat optimasi penuh mustahil bagi manusia (dan organisasi) — bersifat struktural, bukan kelemahan yang bisa diatasi dengan training.

Batas Informasi
  • Asimetris (counterparty tahu lebih banyak)
  • Mahal dicari (search cost)
  • Masa depan tidak presisi terprediksi
Batas Kognitif
  • Memori kerja ~7±2 item (Miller 1956)
  • Bias perhatian (fokus salient)
  • Decision fatigue beruntun
Batas Waktu
  • Deadline eksternal (market window)
  • Opportunity cost menunggu
  • On-the-spot decisions di front-line

Hitung dari Nol: Kapan Berhenti Mencari Alternatif?

Skenario: Manajer procurement memilih supplier. Setiap hari pencarian tambahan biaya Rp 2 juta (waktu staf + opportunity cost). Setiap supplier berikutnya punya peluang 40% ditemukan lebih murah Rp 10 juta. Berapa lama manajer harus mencari?
LangkahPerhitunganNilai
1. Expected gain supplier berikutnya40% × Rp 10 jutaRp 4.000.000
2. Biaya pencarian per iterasiwaktu staf + opportunityRp 2.000.000
3. Net expected gainRp 4 juta − Rp 2 jutaRp 2.000.000
4. Threshold berhentisaat expected gain < biayaexpected gain ≤ Rp 2 juta
5. Dengan asumsi decayberhenti setelah ~2–3 iterasisatisficing optimal
Kesimpulan
2–3 iterasi
Mengoptimalkan tanpa batas adalah irasional — satisficing adalah strategi matematis optimal.
Bagian 3 · 3/4
Behavioral Economics Modern (Kahneman-Tversky)
Diskusi kelas: pikirkan keputusan investasi IPO terakhir — lebih banyak dipengaruhi analisis fundamental (Sistem 2) atau gut feeling & hype (Sistem 1)?

Kahneman-Tversky: Sistem 1 vs Sistem 2

Otak manusia memiliki dua mode berpikir — satu cepat dan intuitif, satu lambat dan analitis (Kahneman 2011).

SISTEM 1cepat · otomatis · intuitifSISTEM 2lambat · deliberate · logisDEFAULT = SISTEM 1Sistem 2 jika Sistem 1 kewalahan

Mayoritas keputusan harian = Sistem 1. Sistem 2 hanya diaktifkan ketika Sistem 1 menemui kesulitan — itulah mengapa struktur proses (pre-mortem, checklist, devil's advocate) sangat penting.

Tiga Pilar Behavioral Economics

Tiga pilar konseptual yang membedakan behavioral economics dari ekonomi neoklasik.

Pilar 1
Prospect Theory
Nilai diukur relatif titik referensi (bukan absolut); loss aversion ~2× lebih sakit dari gain setara — detail P3-P4
Pilar 2
Heuristik & Bias
Aturan praktis efisien tetapi menyimpang sistematis dari rasionalitas — detail P5-P6
Pilar 3
Framing Effects
Cara penyajian pilihan (gain/loss frame) mengubah preferensi — implikasi komunikasi manajerial

Studi Kasus: GoTo IPO & Optimisme Manajerial

IPO GoTo (Gojek-Tokopedia) April 2022 adalah ilustrasi behavioral economics dalam aksi nyata di pasar modal Indonesia.

PeriodePeristiwaDinamika Behavioral
2021Merger Gojek-Tokopedia; valuasi combined ~USD 18 miliarOptimisme tinggi pasca-pandemi digital
Apr 2022IPO GoTo di IDX dengan harga Rp 338/lembarSubscription ritel sangat tinggi (oversubscribe berkali-lipat)
Q3-Q4 2022Harga turun signifikan (~70-80% dari puncak)Kerugian ribuan investor ritel yang masuk di harga tinggi
2023-2024Restructuring; fokus profitabilitasSaham stabil di level rendah
Tiga pelajaran behavioral: (1) Herding — ikut-ikutan karena takut ketinggalan (FOMO); (2) Overconfidence — keyakinan berlebih pada valuasi pasca-merger; (3) Recency bias — ekstrapolasi tren pandemi luar biasa ke masa normal.
Bagian 4 · 4/4
Implikasi bagi Manajer sebagai Choice Architect
Diskusi kelas: sebagai manajer, di area mana Anda membentuk lingkungan keputusan bawahan atau pelanggan? Apakah Anda melakukannya dengan sadar?

Manajer sebagai Choice Architect

Setiap manajer adalah choice architect — baik disadari maupun tidak. Empat alat utama + etika nudge.

Choice Architect (Desainer Lingkungan)
  • Default options — apa yang terjadi kalau tidak memilih
  • Friction — effort untuk mengambil pilihan tertentu
  • Framing — bagaimana pilihan disajikan
  • Salience — apa yang menonjol visual/kontekstual
Nudge Designer (Pendorong Etis)
  • Nudge = intervensi yang ubah perilaku tanpa batasi pilihan
  • Harus transparan & dapat di-opt-out
  • Tujuan: tingkatkan welfare decision maker
  • Bukan manipulasi untuk profit perusahaan

Ringkasan & Persiapan Pertemuan 2

Tiga Aliran
Rasionalitas
Penuh → Bounded (Simon) → Behavioral (Kahneman-Tversky)
Atom Keputusan
EU = Σ pᵢ·u(xᵢ)
Tapi manusia satisficing, bukan optimizing — bounded rationality
Peta Kognitif
Sistem 1 vs 2
Mayoritas keputusan harian = Sistem 1 (cepat, intuitif)

Bawa tiga lensa ini (aliran · EU · Sistem 1/2) sebagai peta rujukan sepanjang semester.

Persiapan P2: baca Kahneman (2011) bab 1-3 (Sistem 1 & 2); Thaler-Sunstein (2008) bab 1-2 (choice architecture). Bawa satu contoh keputusan strategis dari pengalaman kerja yang Anda curigai dipengaruhi bias — akan jadi bahan diskusi P5.