Magister Manajemen • FEB UNDIP • Pengambilan Keputusan Keuangan
Struktur Modal Lanjutan
Pertemuan 12 — Dari Trade-off ke Pecking Order, Timing, dan Praktik CFO
Melampaui MM: mengapa keputusan struktur modal riil jarang mengikuti rasio utang “optimal” buku teks, dan bagaimana CFO mengambil keputusan di bawah asimetri informasi dan tekanan pasar.
RPS MINGGU 13 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Melampaui Trade-off: Pecking Order, Agency Cost, dan APV
Diskusi kelas: jika trade-off theory sudah memberi rasio utang optimal, mengapa CFO top masih sering “menyimpang” darinya dalam praktik?
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK Minggu 13 — setelah pertemuan ini, Anda mampu:
TUJUAN 1
01
Menerapkan pecking order dan agency cost theory untuk menjelaskan pola pendanaan riil perusahaan.
TUJUAN 2
02
Menghitung Adjusted Present Value (APV) dan trade-off WACC untuk keputusan struktur modal.
TUJUAN 3
03
Menganalisis sinyal pasar dari keputusan penerbitan utang vs ekuitas (market timing & signaling).
TUJUAN 4
04
Menyusun kerangka keputusan struktur modal untuk konteks pasar berkembang seperti Indonesia.
Titik Berangkat: Trade-off Theory (Recap Kilat)
Anda sudah mendalami ini minggu lalu — hari ini kita treat sebagai fondasi, bukan tujuan akhir.
Trade-off theory menjawab “berapa” leverage optimal. Tiga teori berikut menjawab “mengapa” perusahaan sering tidak berada di titik itu.
Pecking Order Theory (Myers & Majluf, 1984)
Bukan rasio target — melainkan urutan preferensi sumber dana akibat asimetri informasi.
PRIORITAS 1
Internal
Laba ditahan. Tidak ada sinyal negatif ke pasar, tidak ada biaya emisi.
PRIORITAS 2
Utang
Klaim tetap, risiko mispricing lebih kecil dibanding ekuitas bagi investor luar.
PRIORITAS 3
Ekuitas
Pilihan terakhir — penerbitan saham baru sering ditafsirkan pasar sebagai sinyal saham “overvalued”.
Implikasi manajerial: perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung rendah leverage bukan karena menghindari utang, tetapi karena jarang butuh dana eksternal — berlawanan dengan prediksi trade-off theory.
Hitung dari Nol: Adjusted Present Value (APV)
Proyek KPBU dengan struktur pendanaan campuran — APV memisahkan nilai operasional dari efek pendanaan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai proyek tanpa utang (Vu)
Proyeksi FCF terdiskonto @ Ru
Rp420 miliar
2. PV Tax Shield dari utang
Rp200 M × 22% (PPh Badan)
Rp44 miliar
3. PV Biaya Kesulitan Keuangan
15% probabilitas × Rp80 miliar
−Rp12 miliar
4. APV = Vu + PV Tax Shield − PV Distress
420 + 44 − 12
Rp452 miliar
HASIL APV
Rp452 M
vs Vu tanpa utang Rp420 M → utang menambah nilai bersih Rp32 miliar
Agency Cost of Debt dan Equity
Agency Cost of Equity
Free Cash Flow Hypothesis (Jensen, 1986) — manajer dengan kas berlebih cenderung over-invest atau “empire building”.
Utang memaksa disiplin: kewajiban bayar bunga mengurangi kas bebas yang bisa disalahgunakan.
Underinvestment — proyek NPV positif ditolak karena manfaatnya “lari” ke kreditur lebih dulu.
Implikasi: struktur modal optimal bukan hanya soal pajak vs distress cost, tetapi juga soal siapa mengontrol siapa dalam organisasi.
Bagian 2 dari 3
Timing Pasar, Sinyal, dan Reaksi Investor
Diskusi kelas: apa sebenarnya yang disampaikan pasar ketika sebuah emiten mengumumkan rights issue dibanding penerbitan obligasi?
Market Timing Theory (Baker & Wurgler, 2002)
Struktur modal = akumulasi hasil upaya timing pasar historis, bukan target rasio yang stabil.
Logika Inti
Manajer menerbitkan ekuitas saat harga saham dinilai tinggi relatif fundamental (market-to-book tinggi).
Manajer menerbitkan utang atau buyback saham saat harga saham dinilai rendah.
Efek keputusan ini persisten — leverage saat ini adalah “jejak” kumulatif keputusan timing masa lalu, bukan hasil optimisasi sekali jalan.
Beda mendasar dari trade-off theory: di sini tidak ada “kembali ke target” — leverage rendah hari ini bisa jadi warisan IPO yang dilakukan saat valuasi tinggi bertahun-tahun lalu.
Signaling Theory: Membaca Sinyal Penerbitan Sekuritas
PENGUMUMAN UTANG
▲
Sinyal positif (Ross, 1977) — manajer percaya diri arus kas cukup untuk membayar kewajiban tetap.
PENGUMUMAN EKUITAS BARU
▼
Sinyal negatif (Myers & Majluf, 1984) — pasar menafsirkan manajer menjual saham karena menilainya overvalued.
Reaksi pasar rata-rata terhadap pengumuman rights issue di banyak studi emerging market: harga saham turun dalam jangka pendek di sekitar tanggal pengumuman — besaran bervariasi antarstudi dan bukan hukum pasti.
Mini-Kasus: SPV Jalan Tol Menghadapi Cost Overrun
Konteks KPBU — keputusan manajerial, bukan sekadar soal rumus (angka ilustrasi, bukan data proyek riil tertentu).
Situasi
SPV jalan tol menghadapi cost overrun konstruksi ~Rp300 miliar (ilustrasi). DSCR proyeksi saat ini 1,35×; kovenan lender mensyaratkan DSCR minimum 1,25×. Dua opsi pendanaan tambahan tersedia.
OPSI A
Utang Senior
Lebih murah, tapi menekan DSCR mendekati batas kovenan — risiko technical default naik.
OPSI B
Ekuitas Sponsor
Menjaga DSCR aman, tapi mengencerkan return sponsor & perlu persetujuan RUPS/mitra konsorsium.
Hitung dari Nol: Menguji Titik Leverage melalui WACC
Dalam rentang diuji, WACC terus turun (manfaat pajak > premi risiko). Rating agency menandai D/E >1,5 sebagai batas investment grade untuk kasus ini — di titik itulah biaya distress mulai naik tajam dan trade-off berbalik.
Bagian 3 dari 3
Struktur Modal di Pasar Berkembang & Keputusan CFO
Diskusi kelas: mengapa perusahaan Indonesia cenderung lebih bergantung pada utang bank dibanding obligasi korporasi, dibanding perusahaan AS?
Determinan Empiris Struktur Modal
Temuan konsisten lintas negara (Titman & Wessels, 1988; Rajan & Zingales, 1995).
Berkorelasi Negatif dengan Leverage
Profitabilitas — sesuai pecking order, laba tinggi = lebih sedikit butuh dana eksternal.
Peluang pertumbuhan (growth options) — risiko underinvestment/agency cost of debt lebih tinggi.
Berkorelasi Positif dengan Leverage
Tangibilitas aset — aset berwujud = jaminan lebih mudah, biaya agency of debt lebih rendah.
Ukuran perusahaan — skala besar = risiko kebangkrutan lebih rendah, akses pasar utang lebih luas.
Struktur Modal di Pasar Berkembang: Konteks Indonesia
BANK-BASED
■
Pasar obligasi korporasi masih dangkal; kredit perbankan mendominasi pembiayaan eksternal korporasi.
KEPEMILIKAN TERKONSENTRASI
■
Banyak emiten keluarga/konglomerasi — agency cost bergeser dari manajer-pemegang saham ke pemegang saham mayoritas-minoritas.
PERAN BUMN
■
Akses PMN (penyertaan modal negara) & penjaminan pemerintah mengubah kalkulus trade-off standar.
Implikasi: model struktur modal dari literatur AS/Eropa perlu disesuaikan, bukan diterapkan mentah — terutama untuk isu agency cost dan akses pasar modal.
Dynamic Capital Structure: Target Leverage & Speed of Adjustment
Perusahaan tidak langsung berada di leverage optimal — mereka bergerak menuju target secara bertahap.
D/E(t) = D/E(t−1) + λ × [D/E* − D/E(t−1)]
λ (Speed of Adjustment) Tinggi
Akses pasar modal mudah, biaya penyesuaian rendah — leverage cepat kembali ke target setelah shock (mis. emiten besar dengan rating baik).
λ Rendah
Biaya transaksi/emisi tinggi, akses pasar terbatas — leverage “menyimpang lama” dari target (umum di perusahaan menengah/kecil).
Kerangka Keputusan CFO: Lima Langkah Analisis
Langkah
Fokus Analisis
Pertanyaan Kunci
1. Diagnosis
Leverage saat ini vs benchmark sektor/peer
Di mana posisi kita relatif industri?
2. Uji Kovenan & Rating
Sensitivitas DSCR/rating terhadap tambahan utang
Berapa “ruang gerak” sebelum breach kovenan?
3. Fleksibilitas Finansial
Kapasitas cadangan pinjaman untuk peluang mendadak
Apakah kita masih bisa merespons M&A/ekspansi?
4. Timing Pasar
Kondisi suku bunga & valuasi ekuitas saat ini
Apakah ini “jendela” yang baik untuk emisi?
5. Sinyal ke Investor
Dampak persepsi pasar atas pengumuman pendanaan
Sinyal apa yang ingin kita kirim ke pasar?
PRINSIP PENUTUP
Selaraskan
Keputusan struktur modal yang baik = kelima langkah ini saling konsisten, bukan hanya satu terpenuhi.
Sinyal Distress & Keputusan Restrukturisasi Utang
Kasus sektor BUMN Karya Indonesia (2023–2024): tekanan likuiditas memaksa keputusan struktur modal darurat.
Pola Umum yang Teramati
Leverage tinggi warisan proyek infrastruktur jangka panjang bertemu mismatch tenor pendanaan jangka pendek.
Opsi yang ditempuh: restrukturisasi utang (perpanjangan tenor, konversi sebagian menjadi ekuitas), bukan sekadar refinancing biasa.
Sinyal ke pasar: negosiasi terbuka dengan kreditur cenderung lebih dipercaya dibanding menutupi masalah likuiditas.
Pelajaran untuk manajer: struktur modal “aman” di atas kertas (DSCR proyeksi) bisa runtuh karena mismatch likuiditas, bukan hanya karena leverage nominal terlalu tinggi.
Latihan Kelompok Singkat (15 Menit)
Instruksi
Bentuk kelompok 3–4 orang seperti biasa.
Pilih satu perusahaan tempat salah satu anggota bekerja (atau perusahaan publik yang dikenal kelompok).
Jalankan Kerangka Keputusan CFO 5-Langkah (slide 17) terhadap perusahaan tersebut secara ringkas.
Identifikasi: teori mana (trade-off / pecking order / agency cost / timing-signaling) paling menjelaskan struktur modal perusahaan itu saat ini?
Siapkan 2 menit presentasi lisan — 2 kelompok akan dipanggil acak.
Latihan ini adalah pemanasan untuk studi kasus kelompok pekan-pekan mendatang — simpan catatan analisis Anda.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Dikuasai Hari Ini
Pecking order & agency cost sebagai pelengkap trade-off theory.
APV sebagai alat hitung fleksibel untuk proyek pendanaan campuran.
Market timing & signaling untuk membaca reaksi pasar.
Kerangka keputusan CFO 5-langkah & konteks pasar berkembang Indonesia.
Pertemuan Berikutnya
Studi kasus kelompok berbasis kasus riil — terapkan seluruh alat dari Pertemuan 8–12 (penganggaran modal, biaya modal, struktur modal) pada satu perusahaan utuh.
Siapkan: hasil latihan hari ini sebagai bahan awal diskusi kelompok.
📖 Baca juga: Wacc — penjelasan mendalam dan contoh numerik.