‹ Daftar slidePertemuan 5: Jenis-Jenis Sekuritas dan Penerbitannya untuk Mengembangkan Modal
Magister Manajemen · FEB UNDIP
Pengambilan Keputusan Keuangan
Pertemuan 5: Jenis-Jenis Sekuritas dan Penerbitannya untuk Mengembangkan Modal
Dari mana perusahaan mengambil modal, dan mengapa pilihan instrumen itu sendiri sudah merupakan sinyal ke pasar.
RPS minggu 5 · 2×50 menit
Tujuan Sesi Ini
Bukan "apa itu saham dan obligasi" — tapi kapan dan mengapa perusahaan memilih satu instrumen di atas yang lain.
Sasaran 1
Peta & Teori
Memetakan spektrum ekuitas–hibrida–utang dan menjelaskan pilihan struktur pendanaan lewat pecking order dan signaling theory.
Sasaran 2
Mekanisme Rilis
Menghitung biaya riil penerbitan ekuitas: underpricing IPO dan dilusi rights issue (TERP).
Sasaran 3
Instrumen Hibrida
Mengevaluasi kapan obligasi konversi, waran, atau saham preferen lebih unggul dari ekuitas/utang murni.
Sasaran 4
Keputusan
Menyusun rekomendasi instrumen pendanaan untuk skenario perusahaan riil dengan kerangka trade-off yang eksplisit.
Mengapa Pilihan Instrumen > Sekadar "Butuh Uang"
Setiap penerbitan sekuritas mengirim sinyal ke pasar — dan pasar bereaksi sebelum uang itu terpakai.
Saat Bukalapak mengumumkan IPO 2021, harga saham justru tertekan tajam beberapa bulan setelah listing — pasar membaca ekspektasi pertumbuhan dan valuasi awal secara kritis, bukan sekadar merayakan dana segar yang masuk.
Saat BBRI melakukan rights issue ~Rp 41 triliun (2021, dalam rangka pembentukan holding ultra mikro), harga saham relatif bertahan — pasar menilai penggunaan dana (akuisisi strategis) lebih penting daripada sekadar dilusi kepemilikan.
Pertanyaan hari ini: apa yang membedakan reaksi pasar terhadap dua peristiwa penerbitan modal ini? Jawabannya ada di teori struktur modal dan mekanisme penerbitan yang akan kita bedah.
Bagian 1 dari 3
Peta Sekuritas & Teori Struktur Modal
Diskusi kelas: Jika dua perusahaan punya profitabilitas sama tapi satu selalu mendanai ekspansi dengan laba ditahan sementara yang lain rutin menerbitkan saham baru — apa yang sedang mereka "katakan" ke pasar?
Spektrum Sekuritas: Bukan Hitam-Putih
Ekuitas dan utang adalah dua ujung spektrum klaim atas arus kas & kontrol; sebagian besar inovasi keuangan hidup di tengahnya.
Tax shield
Bunga utang mengurangi laba kena pajak (PPh Badan 22%); dividen tidak. Ini mendorong bias ke utang secara murni fiskal.
Kontrol & dilusi
Ekuitas baru mengencerkan kepemilikan & suara pendiri; utang tidak — kecuali gagal bayar memicu covenant (klausul pembatas kreditur).
Financial distress
Utang berlebih menaikkan risiko gagal bayar & biaya kesulitan keuangan — trade-off klasik teori static trade-off (Modigliani & Miller, 1963, versi berpajak).
Pecking Order Theory (Myers & Majluf, 1984)
Manajer punya informasi lebih baik daripada investor luar — urutan pendanaan mengikuti tingkat asimetri informasi, bukan struktur modal optimal.
Laba ditahan → Utang → Ekuitas baru (urutan preferensi manajer)
Mengapa laba ditahan dulu
Tanpa Sinyal
Tidak perlu mengungkap informasi ke pihak luar dan tidak ada biaya penerbitan (flotation cost).
Mengapa ekuitas terakhir
Sinyal Negatif
Menerbitkan saham baru sering ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa manajemen menilai sahamnya overvalued.
Implikasi manajerial: perusahaan dengan arus kas internal kuat (mis. konsumer defensif) jarang menerbitkan saham baru; perusahaan dengan capex besar & kas terbatas (mis. startup teknologi, infrastruktur) lebih sering ke pasar modal — bukan karena strukturnya "salah", tapi karena kebutuhan dananya melampaui kapasitas internal.
Signaling Theory & Biaya Agensi
Struktur modal juga menyelesaikan (atau memperparah) masalah keselarasan kepentingan antara manajer, pemegang saham, dan kreditur.
Signaling — Ross (1977)
Utang tinggi = sinyal keyakinan manajer atas arus kas masa depan (mampu bayar bunga tetap).
Peningkatan dividen/leverage sering direspons positif oleh pasar sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen.
Agency Cost — Jensen & Meckling (1976)
Utang mendisiplinkan manajer (arus kas bebas wajib dibayarkan, bukan "dihamburkan").
Tapi utang berlebih memicu risk-shifting: manajer berjudi dengan uang kreditur saat mendekati gagal bayar.
Kerangka keputusan: gunakan utang untuk mendisiplinkan arus kas bebas pada perusahaan matang dengan proyek terbatas; hindari pada perusahaan tumbuh tinggi yang butuh fleksibilitas pendanaan berulang.
Mini-Kasus: Membaca Keputusan Pendanaan GOTO & BBRI
Bingkai sebagai keputusan manajerial, bukan sekadar peristiwa pasar modal.
GOTO — IPO 2022
IPO terbesar di BEI saat itu, dana terkumpul dilaporkan berkisar ~Rp 15,8 triliun (ilustrasi, cek prospektus resmi). GOTO memanfaatkan struktur saham dengan hak suara multipel (dual-class shares) yang baru diizinkan OJK untuk perusahaan teknologi — pendiri tetap kendalikan suara meski ekuitas terdilusi luas.
BBRI — Rights Issue 2021
Rights issue ~Rp 41 triliun (ilustrasi berbasis pemberitaan publik) sebagian besar diserap pemerintah sebagai pemegang saham pengendali, digunakan untuk membentuk holding ultra mikro (BRI–Pegadaian–PNM). Dana punya tujuan strategis jelas, bukan sekadar menambal kas.
Pola yang sama — penerbitan ekuitas baru — bisa dibaca pasar secara berbeda tergantung kejelasan penggunaan dana, struktur kendali, dan kredibilitas pihak yang menyerap saham baru.
Bagian 2 dari 3
Mekanisme Penerbitan Ekuitas
Diskusi kelas: Mengapa harga IPO hampir selalu ditetapkan di bawah estimasi nilai wajar — dan siapa sebenarnya yang "membayar" untuk underpricing itu?
IPO: Proses dan Struktur Biaya
Go public bukan sekadar "jual saham ke publik" — ada rantai proses dan biaya yang menggerus dana yang benar-benar diterima perusahaan.
Biaya eksplisit
3–7%
dari dana terkumpul (fee underwriter — underwriting, penjamin emisi)
Biaya implisit
Underpricing
selisih harga penawaran vs harga pasar hari 1 — dibahas slide berikut
Biaya berkelanjutan
Disclosure
kewajiban pelaporan & tata kelola sebagai Tbk. (Terbuka) — bukan biaya sekali jalan
Hitung dari Nol: Underpricing & "Money Left on the Table"
Ilustrasi: PT Maju Digital Tbk. menawarkan 500 juta lembar saham IPO pada harga Rp 1.000/saham; hari pertama listing ditutup di Rp 1.250/saham.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga penawaran (offer price)
—
Rp 1.000/saham
2. Harga penutupan hari 1
—
Rp 1.250/saham
3. Selisih harga per saham
1.250 − 1.000
Rp 250/saham
4. Jumlah saham ditawarkan
—
500.000.000 lembar
5. Money left on the table
Rp250 × 500 juta
Rp 125 miliar
6. Persentase underpricing
250 / 1.000 × 100%
25%
Interpretasi
Rp 125 M "Hilang"
Dana yang seharusnya bisa masuk kas perusahaan jika harga ditetapkan di Rp 1.250, tapi justru dinikmati investor IPO awal.
Rights Issue (HMETD): Mengapa Bukan Sekadar "Jual Saham Baru"
HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) memberi pemegang saham lama hak prioritas membeli saham baru — melindungi dari dilusi tak terkontrol, tapi tetap menurunkan harga teoritis saham.
Kapan dipakai
Kebutuhan dana besar & terjadwal (ekspansi, deleveraging, akuisisi)
Pemegang saham pengendali ingin mempertahankan proporsi kepemilikan
Biaya lebih murah dibanding IPO baru (tidak perlu bookbuilding penuh)
Konsekuensi bagi investor lama
Ikut exercise (tebus hak) → proporsi kepemilikan tetap, tapi keluar kas tambahan
Jual hak (right) di pasar → dapat kompensasi tunai, proporsi kepemilikan turun
Diam saja → hak hangus, kerugian dilusi penuh tanpa kompensasi
Harga saham otomatis turun secara teoritis pasca-rights issue — bukan karena kinerja memburuk, tapi karena basis saham beredar bertambah. Nilai teoritis ini disebut TERP (Theoretical Ex-Rights Price) — kita hitung di slide berikutnya.
Hitung dari Nol: TERP (Theoretical Ex-Rights Price)
Ilustrasi: Saham PT Sentosa Karya Tbk. diperdagangkan Rp 4.000 (cum-rights). Perusahaan menawarkan rights issue rasio 5:1 (5 saham lama berhak atas 1 saham baru) pada harga pelaksanaan Rp 2.500.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga cum-rights (Pcum)
—
Rp 4.000
2. Rasio right (N saham lama : 1 baru)
—
5 : 1
3. Harga pelaksanaan (Pexercise)
—
Rp 2.500
4. Nilai gabungan (N saham lama + 1 baru)
(5 × 4.000) + (1 × 2.500)
Rp 22.500
5. TERP
22.500 / (5 + 1)
Rp 3.750
6. Nilai teoritis 1 right
4.000 − 3.750
Rp 250
Dilusi harga teoritis
−6,25%
(250 / 4.000) — harga saham "otomatis" turun ke Rp 3.750 pasca-rights issue, murni efek matematis penambahan saham beredar.
Coba Sendiri: Simulasikan TERP Rights Issue
Ubah harga cum-rights, rasio right, dan harga pelaksanaan, lalu amati bagaimana TERP dan nilai teoritis right bergerak.
Private Placement vs. Penawaran Umum Terbatas: Trade-off Kecepatan vs Kontrol
Bukan semua penambahan modal harus lewat mekanisme publik penuh — private placement adalah jalur cepat dengan konsekuensinya sendiri.
Dimensi
Private Placement
Rights Issue / SPO Publik
Kecepatan eksekusi
Cepat (hitungan minggu)
Lambat (perlu RUPS, prospektus, OJK)
Biaya transaksi
Lebih rendah
Lebih tinggi (underwriting, disclosure)
Dilusi bagi pemegang saham lama
Berpotensi besar & tidak proporsional
Proporsional (ada hak prioritas)
Transparansi harga
Rentan dipersepsi "harga khusus" investor tertentu
Harga terbentuk lewat mekanisme pasar/bookbuilding
Kasus tipikal
Butuh dana darurat, investor strategis spesifik (mis. mitra teknologi)
Rencana pendanaan terjadwal, basis investor luas
Private placement pada emiten publik rawan sorotan tata kelola bila harga jauh di bawah pasar — pemegang saham minoritas berhak mempertanyakan keadilan valuasi (fairness opinion) dalam RUPS.
Bagian 3 dari 3
Sekuritas Hibrida & Obligasi Korporasi
Diskusi kelas: Jika Anda CFO dan investor menawar dua opsi — obligasi kupon 9% atau obligasi konversi kupon 6% dengan opsi tukar ke saham — apa yang sesungguhnya sedang Anda "jual" selain uang tunai?
Obligasi Korporasi: Senioritas, Kupon, dan Rating
Tidak semua obligasi setara — struktur senioritas dan peringkat kredit menentukan berapa premi yang harus dibayar emiten.
Senior secured
Klaim pertama atas aset jaminan spesifik. Kupon terendah karena risiko kreditur paling kecil.
Senior unsecured
Klaim prioritas tapi tanpa jaminan spesifik — bergantung pada seluruh aset perusahaan secara umum.
Subordinated
Dibayar setelah kreditur senior saat likuidasi. Kupon tertinggi untuk kompensasi risiko lebih besar.
Peringkat kredit dari lembaga pemeringkat (mis. PEFINDO di Indonesia) menerjemahkan risiko gagal bayar menjadi kode huruf (AAA hingga D) — setiap penurunan satu notch peringkat umumnya menaikkan yield spread yang dituntut investor, menaikkan biaya bunga riil bagi emiten.
Fitur tambahan yang memengaruhi harga: callable (emiten bisa melunasi lebih awal — menguntungkan emiten, kupon lebih tinggi sebagai kompensasi ke investor) dan covenant (klausul pembatas, mis. batas rasio utang) yang melindungi kreditur.
Obligasi Konversi: Utang yang Bisa Menjadi Ekuitas
Investor menerima kupon lebih rendah demi hak menukar obligasi menjadi saham pada harga tertentu — emiten "menjual" opsi ini sebagai ganti bunga yang lebih murah.
Mekanisme inti
Conversion price: harga saham saat konversi dianggap "impas"
Conversion ratio: jumlah saham yang didapat per obligasi
Investor akan konversi jika harga pasar saham > conversion price
Kapan emiten memilih ini
Perusahaan tumbuh tinggi, sulit dinilai investor obligasi murni
Ingin biaya bunga lebih murah daripada obligasi biasa
Bersedia menerima dilusi bertahap jika saham naik, bukan sekaligus
Walkthrough singkat: obligasi konversi Rp 10 juta, conversion price Rp 2.000/saham → conversion ratio = 10.000.000 / 2.000 = 5.000 saham per obligasi. Jika harga pasar saham naik ke Rp 3.000, nilai konversi = 5.000 × Rp 3.000 = Rp 15 juta — investor untung menukar; jika harga tetap di bawah Rp 2.000, investor tetap pegang obligasi dan menikmati kupon tetap layaknya utang biasa.
Waran & Saham Preferen: "Pemanis" Penerbitan
Dua instrumen ini jarang jadi tulang punggung pendanaan sendirian — perannya sebagai pelengkap yang menurunkan biaya instrumen utama.
Waran (Warrant)
Sweetener Obligasi
Hak beli saham baru pada harga tertentu, sering "dibonuskan" bersama penerbitan obligasi untuk menurunkan kupon yang dituntut investor. Tidak seperti obligasi konversi, waran biasanya bisa diperdagangkan terpisah dari obligasinya.
Saham Preferen
Kuasi-Ekuitas
Dividen tetap diprioritaskan di atas saham biasa, tapi umumnya tanpa hak suara. Cocok untuk investor yang ingin arus kas mirip obligasi tanpa memperbesar rasio utang di neraca (tidak selalu dianggap "utang" oleh kreditur/rating agency).
Kerangka keputusan cepat: butuh kupon obligasi lebih murah tanpa melepas kendali penuh → pertimbangkan waran. Butuh dana mirip ekuitas tanpa mendilusi hak suara & tanpa menaikkan rasio utang → pertimbangkan saham preferen.
Latihan Kelompok: Rekomendasikan Instrumen Pendanaan
Skenario
PT Nusantara Agro Tbk. (ilustrasi) membutuhkan dana Rp 800 miliar untuk ekspansi pabrik pengolahan. Kondisi: rasio utang terhadap ekuitas saat ini sudah ~1,8x (relatif tinggi), pemegang saham pengendali keluarga ingin mempertahankan kendali >51%, arus kas operasional stabil tapi belum cukup untuk membiayai penuh dari laba ditahan, dan manajemen yakin harga saham saat ini undervalued.
Tugas Kelompok (15 menit)
1. Pilih instrumen: rights issue, obligasi senior, obligasi konversi, atau kombinasi. 2. Jelaskan dengan teori (pecking order/signaling) mengapa pilihan itu paling masuk akal. 3. Identifikasi satu risiko utama dari pilihan Anda.
Kriteria Presentasi
Setiap kelompok presentasi 3 menit; kelompok lain boleh menantang asumsi (mis. "kenapa bukan private placement saja?").
Ringkasan & Menuju Pertemuan Berikutnya
Kondisi Perusahaan
Instrumen yang Cenderung Sesuai
Kas internal kuat, kebutuhan dana kecil
Laba ditahan (urutan pertama pecking order)
Leverage rendah, arus kas stabil, butuh disiplin manajerial
Obligasi senior / pinjaman bank
Leverage sudah tinggi, tak ingin mendilusi kendali penuh
Obligasi konversi atau saham preferen
Kebutuhan dana besar terjadwal, kendali pengendali penting
Rights issue (HMETD)
Kebutuhan dana cepat, ada investor strategis spesifik
Private placement (dengan risiko tata kelola)
Tugas sebelum pertemuan berikutnya
Bawa satu contoh nyata penerbitan sekuritas (IPO/rights issue/obligasi) dari perusahaan tempat Anda bekerja atau perusahaan publik IDX pilihan Anda — kita akan bahas metode penilaian-nya minggu depan.
Pertemuan 6
Penilaian Obligasi
Yield to maturity, harga wajar, dan sensitivitas suku bunga