‹ Daftar slidePertemuan 2: Riset Pasar untuk Desain Produk Baru
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Riset Pasar untuk Desain Produk Baru
Pemasaran Strategik · Magister Manajemen
Dari Voice of Customer ke spesifikasi desain yang bisa dipertanggungjawabkan secara manajerial.
Bagian 1
Mengapa Riset Pasar Menentukan Nasib Produk Baru
Pertanyaan diskusi: berapa besar taruhan finansial ketika produk baru gagal, dan kapan riset pasar benar-benar sepadan dengan biayanya?
Agenda & Posisi Pertemuan Ini dalam Alur PLC
Agenda 2x50 menit
Mengapa riset pasar strategis, bukan sekadar survei kepuasan
Jobs-to-be-Done & needs-based segmentation
Conjoint analysis — menghitung trade-off atribut produk
TURF analysis — memilih portofolio varian optimal
Dari insight riset ke keputusan Go/No-Go
Pertemuan ini berada tepat sebelum kurva PLC dimulai — keputusan di sini menentukan bentuk kurva itu sendiri.
Skala Kegagalan Produk Baru & Ongkos Salah Duga
Riset industri (Castellion & Markham, 2013) mencatat tingkat kegagalan produk baru berkisar luas — bergantung definisi "gagal" dan sektor.
FMCG
~40%
gagal dalam 2 tahun peluncuran (ilustrasi rentang industri)
Teknologi/App
~60-90%
fitur/produk baru tidak mencapai adopsi target
Riset pasar formal
~5-10%
dari anggaran total NPD — kecil dibanding ongkos kegagalan
Implikasi manajerial: biaya riset pasar hampir selalu lebih murah daripada biaya menarik produk gagal dari pasar — tetapi riset yang salah rancang bisa sama mahalnya dengan tidak riset sama sekali.
Kerangka Jobs-to-be-Done (JTBD)
Jobs-to-be-Done (Christensen et al., 2016): konsumen tidak membeli produk, mereka "menyewa" produk untuk menuntaskan sebuah pekerjaan (job) dalam konteks tertentu.
Struktur pernyataan job
Situasi — kapan & di mana kebutuhan muncul
Motivasi — apa yang ingin dituntaskan
Hasil yang diharapkan — ukuran keberhasilan bagi konsumen
Contoh klasik: konsumen membeli milkshake pagi hari bukan karena rasa, tapi untuk "job" — menemani perjalanan komuter yang membosankan sekaligus mengenyangkan sampai siang. Kompetitor sejati milkshake pagi itu bukan milkshake merek lain, melainkan pisang atau donat.
Relevansi desain produk: fitur yang tidak melayani "job" utama konsumen — sekuat apa pun secara teknis — cenderung diabaikan pasar.
Segmentasi Berbasis Kebutuhan vs. Demografi
Segmentasi demografis (tradisional)
Usia, pendapatan, lokasi, gender
Mudah dioperasionalkan untuk media buying
Lemah memprediksi keputusan pembelian aktual
Segmentasi berbasis kebutuhan (Day, 1990-an; diperkuat JTBD)
Dikelompokkan menurut job & prioritas manfaat
Lebih relevan untuk keputusan desain fitur
Butuh riset kualitatif lebih dalam untuk memetakan
Implikasi bagi Anda sebagai manajer: dua konsumen dengan profil demografis identik bisa punya job yang sangat berbeda — dan sebaliknya, dua segmen demografis berbeda bisa berbagi job yang sama.
Mini-Kasus: Riset Pasar Sebelum Fitur Baru (Ilustrasi)
Ilustrasi pengambilan keputusan berbasis JTBD di platform digital Indonesia — angka bersifat ilustratif, bukan data resmi perusahaan.
Skenario: Tokopedia mempertimbangkan fitur cicilan tanpa kartu kredit
Riset kualitatif awal (contextual interview, n~30 pengguna) menemukan job utama: "menyelesaikan pembelian penting tanpa mengganggu arus kas bulanan"
Segmentasi demografis semula menunjuk kelas menengah urban 25-35 tahun sebagai target utama
Riset lanjutan (needs-based) mengungkap job serupa juga kuat pada segmen UMKM pembeli bahan baku — di luar target demografis awal
Keputusan manajerial: perluas cakupan fitur ke kategori B2B kecil, bukan hanya konsumen ritel
Fuzzy Front End: Dari Discovery ke Spesifikasi Desain
Kerangka ini (dikenal sebagai "Fuzzy Front End" dalam literatur manajemen inovasi) menegaskan: riset pasar bukan satu aktivitas tunggal, melainkan rangkaian metode yang berbeda di tiap tahap.
Sisa pertemuan ini fokus pada dua tahap kanan: Concept Testing — di mana conjoint analysis dan TURF bekerja.
Bagian 2
Dari Voice of Customer ke Spesifikasi Desain
Pertanyaan diskusi: metode riset mana yang paling tepat ketika anggaran terbatas tapi risiko keputusan desain tinggi?
Metode Kualitatif Lanjutan: Etnografi & Contextual Inquiry
Etnografi
Observasi konsumen di konteks nyata (rumah, toko, kantor)
Menangkap kebutuhan laten yang tak terucap dalam wawancara
Mahal & lambat — cocok untuk taruhan desain besar
Contextual Inquiry
Wawancara sambil konsumen menjalankan tugas aktual
Lebih cepat & murah daripada etnografi penuh
Risiko: perilaku bisa berubah karena diamati (efek observer)
Sebagai manajer, keputusan Anda bukan "kualitatif atau kuantitatif" tapi "berapa dalam observasi yang sepadan dengan besarnya taruhan investasi produk".
Conjoint Analysis: Mengukur Trade-off Atribut Produk
Conjoint analysis (Green & Srinivasan, 1978) mengukur seberapa besar konsumen bersedia berkompromi antar-atribut produk — bukan sekadar preferensi tunggal.
Output conjoint bukan "atribut favorit", melainkan bobot relatif tiap atribut dalam keputusan pembelian nyata — inilah yang membedakannya dari survei preferensi biasa.
Hitung dari Nol: Utilitas & Preference Share Conjoint
Kasus ilustrasi: brand skincare lokal menguji dua konsep produk pelembap wajah dengan tiga atribut.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Part-worth kemasan (Premium − Standar)
0,6 − 0,2
0,4
2. Part-worth harga (Rp89rb − Rp129rb)
0,5 − 0,1
0,4
3. Part-worth klaim (BPOM+Halal − BPOM saja)
0,3 − 0,1
0,2
4. Total utilitas Konsep A (Premium + Rp89rb + Halal)
0,6 + 0,5 + 0,3
1,4
5. Total utilitas Konsep B (Standar + Rp129rb + BPOM saja)
0,2 + 0,1 + 0,1
0,4
6. Preference share Konsep A
1,4 ÷ (1,4 + 0,4) × 100%
78%
Kesimpulan
78% vs 22%
Konsep A (premium, murah, klaim ganda) diprediksi menang preferensi — tapi periksa margin sebelum memutuskan harga Rp89rb layak diproduksi
Coba Sendiri: Hitung Utilitas & Preference Share Konsep Produk
Ubah part-worth tiap atribut dan lihat langsung bagaimana preference share antara dua konsep produk bergeser.
TURF Analysis: Mengoptimalkan Portofolio Varian
TURF (Total Unduplicated Reach and Frequency) menjawab pertanyaan berbeda dari conjoint: bukan "atribut mana yang menang", tapi "kombinasi varian mana yang menjangkau pasar terluas tanpa tumpang tindih".
Kapan dipakai
Keputusan lini produk: berapa rasa/varian yang diluncurkan
Menghindari kanibalisasi antar-varian sendiri
Membatasi kompleksitas rantai pasok & SKU
Logika dasar
Reach — persentase konsumen yang menyukai minimal 1 varian dalam portofolio
Frequency — rata-rata jumlah varian yang disukai per konsumen
Varian ditambahkan selama menaikkan reach total secara berarti
Hitung dari Nol: Reach Gabungan TURF
Kasus ilustrasi: survei 500 responden untuk 3 varian rasa minuman teh kemasan baru — "berapa varian yang perlu diluncurkan?"
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total responden disurvei
n
500
2. Suka Varian A saja (unik)
120 ÷ 500 × 100%
24%
3. Suka Varian B saja (unik)
90 ÷ 500 × 100%
18%
4. Suka A dan B (overlap, dihitung sekali)
80 ÷ 500 × 100%
16%
5. Reach gabungan A+B
24% + 18% + 16%
58%
6. Tambahan unik dari Varian C (tanpa overlap)
12 ÷ 500 × 100%
2%
7. Reach total A+B+C
58% + 2%
60%
Keputusan lini produk
60%
Menambah Varian C hanya menaikkan reach 2 poin persen — bandingkan dengan biaya tambahan SKU sebelum diputuskan layak diproduksi
Tambah/kurangi varian dan atur overlap-nya untuk melihat langsung titik di mana reach tambahan mulai mengecil.
Mini-Kasus: Conjoint & TURF dalam Formulasi Produk (Ilustrasi)
Skenario: brand kecantikan nasional merancang lini serum wajah baru
Tahap 1 — Conjoint: menguji trade-off kandungan aktif (niacinamide vs vitamin C), harga, dan ukuran kemasan → memilih formula unggulan
Tahap 2 — TURF: dari 5 varian aroma/tekstur kandidat, memilih 3 varian dengan reach gabungan tertinggi
Hasil ilustratif: 3 varian terpilih menjangkau ~72% preferensi responden, dibanding ~48% jika hanya meluncurkan 1 varian tunggal
Keputusan manajerial: lini 3 varian disetujui produksi meski menambah kompleksitas SKU — reach tambahan dinilai sepadan dengan biaya
Bagian 3
Dari Insight Riset ke Keputusan Peluncuran
Pertanyaan diskusi: sinyal riset apa yang paling sering diabaikan manajer sebelum produk baru akhirnya gagal di pasar?
Kerangka Keputusan Go/No-Go
Skor tertimbang membantu memisahkan keputusan berbasis data dari keyakinan personal eksekutif yang paling vokal di ruang rapat.
Kriteria
Bobot × Skor (1-5)
Kontribusi
Preference share hasil conjoint (≥60% = skor tinggi)
30% × 4
1,2
Reach TURF portofolio varian (≥65% = skor tinggi)
25% × 4
1,0
Kejelasan job konsumen (validasi kualitatif)
20% × 3
0,6
Margin proyeksi vs. harga hasil riset
25% × 3
0,75
Total skor tertimbang
—
3,55 / 5
Ambang keputusan (ilustrasi)
GO
Skor ≥3,5 → lanjut ke penetapan harga peluncuran; skor 2,5-3,49 → riset tambahan; <2,5 → No-Go
Bias & Jebakan dalam Riset Pasar
Stated vs. Revealed Preference
Konsumen sering menyatakan preferensi berbeda dari perilaku beli aktual
Conjoint lebih tahan bias ini dibanding survei preferensi langsung — tapi tidak imun
VOC Blind Spot
Konsumen sulit membayangkan produk yang belum pernah ada
Anekdot klasik: Steve Jobs menolak riset pasar konvensional untuk iPhone — argumennya, "konsumen tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai kita tunjukkan"
Sebagai manajer S2, sikap yang tepat bukan memilih ekstrem "selalu percaya riset" atau "abaikan riset, percaya visi" — melainkan mengenali kapan tiap pendekatan lebih layak dipakai berdasarkan tingkat inovasi produk.
Menghubungkan Riset Pasar ke Keputusan Harga & Positioning
Part-worth harga dari conjoint hari ini bukan sekadar angka preferensi — itu adalah input utama untuk menentukan rentang harga yang secara realistis diterima pasar sebelum Anda menghitung skimming vs. penetration pricing minggu depan.
Reach TURF juga menentukan skala produksi awal — portofolio varian yang terlalu luas memperbesar risiko modal kerja sebelum harga final ditetapkan.
Latihan Kelas: Rancang Riset Pasar untuk Produk Pilihan Anda
Instruksi kerja kelompok (sisa waktu kelas)
Bentuk kelompok 3-4 orang, pilih satu produk/jasa baru yang relevan dengan industri salah satu anggota kelompok
Rumuskan pernyataan Job-to-be-Done untuk produk tersebut (situasi – motivasi – hasil yang diharapkan)
Tentukan 3 atribut produk yang akan diuji lewat conjoint analysis, dan 2-3 kandidat varian yang layak diuji TURF
Susun kerangka Go/No-Go sederhana (kriteria + bobot) yang akan dipakai untuk memutuskan kelayakan produk tersebut
Siapkan 3 slide ringkas untuk presentasi singkat pada pertemuan berikutnya sebagai pemanasan sebelum topik penetapan harga
Tujuan latihan: melatih Anda menerjemahkan kerangka riset pasar hari ini menjadi rancangan kerja nyata yang bisa dieksekusi tim produk dalam waktu terbatas — bukan sekadar memahami teorinya secara pasif.