‹ Daftar slidePertemuan 2: Memahami Pelanggan: Keputusan Pembelian, Customer Journey, dan Customer Lifetime Value (CLV)
Magister Manajemen · FEB UNDIP
Pemasaran, Konsumsi dan Keberlanjutan
Memahami Pelanggan: Keputusan Pembelian, Customer Journey, dan Customer Lifetime Value (CLV)
Dari pemahaman pelanggan menjadi keputusan alokasi sumber daya pemasaran yang terukur.
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK A
Proses Keputusan
Menganalisis proses keputusan pembelian pelanggan B2C & B2B, termasuk pergeseran akibat digitalisasi dan pengaruh sosial.
Sub-CPMK B
Customer Journey
Memetakan customer journey lintas titik kontak (touchpoint) untuk mengidentifikasi peluang intervensi manajerial.
Sub-CPMK C
Hitung CLV
Menghitung dan menginterpretasikan Customer Lifetime Value untuk keputusan retensi dan alokasi anggaran akuisisi.
Sub-CPMK D
Segmentasi Bernilai
Menggunakan CLV & journey untuk memprioritaskan segmen pelanggan secara strategis, bukan intuitif.
Bagian 1 dari 4
Proses Keputusan Pembelian: Model Klasik vs Realitas Digital
Diskusi kelas: Apakah model 5-tahap keputusan pembelian masih relevan ketika pelanggan Anda mulai riset di TikTok dan membeli di Shopee dalam hitungan menit?
Model Keputusan Pembelian: Titik Tolak, Bukan Titik Akhir
Model lima tahap (Engel-Kollat-Blackwell; dipopulerkan Kotler & Keller) tetap berguna sebagai kerangka analitis, bukan deskripsi akurat perilaku modern.
Nilai manajerial model ini: sebagai checklist audit — di tahap mana pelanggan Anda paling banyak "bocor" (drop-off)? Bukan sebagai peta jalan yang harus dilalui berurutan.
Realitas Digital: Messy Middle & Non-Linearitas
Google (2020) menyebut fase evaluasi sebagai "messy middle" — pelanggan berputar berulang kali antara exploration (memperluas pilihan) dan evaluation (mempersempit pilihan) sebelum membeli, dipengaruhi bias kognitif (heuristik, social proof, scarcity).
Implikasi Manajerial 1
Titik kontak (touchpoint) bertambah drastis: ulasan, live shopping, komunitas WhatsApp/Telegram, algoritma rekomendasi.
Anggaran pemasaran tidak lagi cukup dialokasikan linear per tahap funnel.
Implikasi Manajerial 2
Konten pihak ketiga (ulasan, KOL/key opinion leader) kini lebih dipercaya daripada iklan pemilik merek.
Peran manajer bergeser dari "mendorong pesan" menjadi "mengelola kehadiran di titik keputusan".
Mini-Kasus: Keputusan Pembelian Skincare Lokal di Marketplace
Sebuah merek skincare lokal (ilustrasi, mengacu pola industri kecantikan Indonesia) mendapati 78% traffic berasal dari pencarian setelah melihat ulasan/konten UGC (user-generated content), namun konversi pembelian pertama hanya 3,2%.
Pertanyaan keputusan: Apakah anggaran tambahan sebaiknya dialokasikan ke (a) memperbanyak KOL/ulasan (memperluas exploration), atau (b) memperkuat halaman produk & garansi (mempercepat evaluation)?
Jawaban yang benar bergantung pada di mana funnel bocor — bukan pada intuisi tim kreatif semata. Ini kembali ke checklist audit dari slide sebelumnya.
B2B vs B2C: Perbedaan yang Mengubah Strategi
B2C
Individual
Siklus keputusan pendek, dipengaruhi emosi & social proof, satu pengambil keputusan (kadang dipengaruhi keluarga/komunitas).
B2B
Buying Center
Siklus panjang, melibatkan beberapa peran (initiator, influencer, decider, buyer, gatekeeper — Webster & Wind, 1972), rasional & berbasis ROI.
Implikasi: untuk pelanggan korporat (mis. penjualan solusi ERP ke UMKM naik kelas), customer journey harus dipetakan per peran dalam buying center, bukan sebagai satu individu tunggal.
Bagian 2 dari 4
Memetakan Customer Journey
Diskusi kelas: Jika Anda hanya boleh memperbaiki SATU titik kontak pelanggan tahun ini, titik mana yang Anda pilih — dan berdasarkan data apa?
Customer Journey Map: Dari Deskriptif ke Diagnostik
Bukan sekadar diagram tahapan — customer journey map yang bernilai manajerial memetakan tiga lapisan sekaligus di tiap titik kontak (touchpoint):
Lapisan 1
Aksi
Apa yang dilakukan pelanggan (cari, bandingkan, klik, bayar)
Lapisan 2
Emosi
Bagaimana perasaan pelanggan di titik itu (frustrasi, percaya diri, ragu)
Lapisan 3
Peluang
Titik intervensi manajerial yang bisa memperbaiki metrik
Contoh Peta Journey: Nasabah Bank Digital Membuka Rekening
Titik intervensi tertinggi: verifikasi KYC — di sinilah data industri menunjukkan drop-off terbesar pada onboarding bank digital di Indonesia.
Hitung dari Nol: Mengukur Tingkat Kebocoran (Drop-off) Journey
Data onboarding ilustratif 10.000 pengunjung aplikasi bank digital. Hitung tingkat konversi tiap tahap untuk menemukan titik intervensi.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Unduh aplikasi dari 10.000 pengunjung
4.000 / 10.000 x 100
40%
2. Mulai KYC dari yang unduh
3.200 / 4.000 x 100
80%
3. Selesai KYC dari yang mulai
1.600 / 3.200 x 100
50%
4. Setor awal dari yang selesai KYC
1.360 / 1.600 x 100
85%
5. Konversi akhir (setor awal / total pengunjung)
1.360 / 10.000 x 100
13,6%
Titik Kebocoran Terbesar
KYC (50%)
Konversi terendah di seluruh funnel → prioritas investasi UX
Coba Sendiri: Telusuri Funnel Onboarding AARRR
Ubah tingkat konversi tiap tahap Acquisition-Activation-Retention-Referral-Revenue dan amati di mana kebocoran terbesar muncul.
Bagian 3 dari 4
Customer Lifetime Value (CLV): Dari Transaksi ke Relasi
Diskusi kelas: Mengapa perusahaan rela merugi di transaksi pertama pelanggan (mis. subsidi ongkir e-commerce)? Kapan strategi ini masuk akal secara finansial?
Customer Lifetime Value: Definisi & Mengapa Penting
Customer Lifetime Value (CLV) = total nilai bersih yang diproyeksikan dari seorang pelanggan selama seluruh hubungannya dengan perusahaan (Kumar & Reinartz, 2016).
Kegunaan Manajerial
Menentukan batas atas biaya akuisisi pelanggan (CAC) yang rasional.
Memprioritaskan segmen untuk retensi vs akuisisi.
Basis argumen anggaran pemasaran ke direksi/investor.
Prinsip Kunci: Rasio CLV:CAC
Rasio ideal umum dipakai industri: ≥ 3:1 (CLV tiga kali lipat CAC).
Rasio < 1:1 = model bisnis tidak berkelanjutan secara struktural.
Rumus CLV: Versi Sederhana & Versi Diskonto
CLV = (Margin per Periode × Frekuensi) × Rata-rata Masa Hidup Pelanggan
Versi lebih presisi (memperhitungkan nilai waktu uang, relevan untuk hubungan pelanggan jangka panjang B2B):
Untuk kelas ini kita fokus pada versi sederhana yang cukup untuk keputusan manajerial cepat; versi diskonto dipakai saat horizon proyeksi > 3 tahun atau nilai kontrak besar (mis. korporat B2B).
Coba Sendiri: Hitung CLV Terdiskonto
Geser margin per periode, tingkat retensi, dan faktor diskonto, lalu amati bagaimana nilai kini pelanggan berubah dibanding versi sederhana.
Hitung dari Nol: CLV Pelanggan Kopi Kekinian (Ilustrasi)
Data ilustratif pelanggan reguler gerai kopi lokal skala menengah di Semarang.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Margin per transaksi (harga Rp 28.000, HPP 40%)
28.000 x (1 - 40%)
Rp 16.800
2. Frekuensi beli per bulan
diketahui dari data transaksi
3x/bulan
3. Margin per bulan per pelanggan
16.800 x 3
Rp 50.400
4. Rata-rata masa hidup pelanggan
diketahui dari data retensi
18 bulan
5. CLV sederhana
50.400 x 18
Rp 907.200
Implikasi Keputusan
CAC maks ≈ Rp 300.000
Dengan target rasio CLV:CAC = 3:1 (907.200 / 3)
Sensitivitas CLV: Retensi Mengalahkan Akuisisi
Efek kenaikan retensi (memperpanjang masa hidup pelanggan) terhadap CLV — dari kasus gerai kopi (dasar: masa hidup 18 bulan, margin bulanan Rp 50.400).
Skenario Masa Hidup
Perhitungan CLV
CLV
Dasar: 18 bulan
50.400 x 18
Rp 907.200
Retensi +20%: 21,6 bulan
50.400 x 21,6
Rp 1.088.640
Retensi +50%: 27 bulan
50.400 x 27
Rp 1.360.800
Kenaikan retensi 20% → CLV naik ~20% secara linear (pada margin tetap) — inilah dasar riset klasik bahwa menaikkan retensi 5% dapat menaikkan profit 25-95% (Reichheld & Sasser, 1990) melalui efek majemuk pada portofolio pelanggan.
Segmentasi Pelanggan Berbasis CLV: Matriks Keputusan
Diskusi kelas: Bagaimana ketiga konsep hari ini — proses keputusan, journey, dan CLV — akan Anda pakai bersama saat membedah kasus Unilever Brazil di Pertemuan 4?
Kerangka Terintegrasi: Dari Data Pelanggan ke Keputusan
Langkah analisis yang akan Anda pakai berulang kali sepanjang semester ini (termasuk studi kasus Unilever Brazil & ACCOR):
Langkah
Pertanyaan Kunci
Output
1. Petakan proses keputusan
Bagaimana pelanggan target benar-benar mengambil keputusan?
Tahapan & titik kontak utama
2. Bangun customer journey map
Di mana titik friksi & drop-off terbesar?
Peta aksi-emosi-peluang
3. Hitung/estimasi CLV per segmen
Segmen mana yang bernilai secara ekonomi?
Angka CLV & rasio CLV:CAC
4. Silangkan journey x CLV
Di mana intervensi paling bernilai (matriks 2x2)?
Prioritas segmen & titik kontak
Kerangka ini adalah logika inti yang akan Anda pakai untuk menyusun analisis masalah-dampak-intervensi pada tugas kelompok studi kasus.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Rangkuman Hari Ini
Proses keputusan pembelian modern bersifat non-linear ("messy middle").
Customer journey map bernilai manajerial saat memuat aksi, emosi, dan peluang intervensi.
CLV = alat kuantitatif untuk menetapkan batas atas CAC dan memprioritaskan segmen.
Retensi memiliki daya ungkit lebih besar terhadap profit dibanding akuisisi semata.
Tugas & Persiapan P3
Bawa Data
Siapkan estimasi CLV & sketsa customer journey untuk 1 produk/jasa di tempat kerja Anda (individu, 1 halaman) — akan dipakai sebagai bahan diskusi logika analisis kasus di Pertemuan 3.