RPS minggu 8 · 2x50 menit
UTS — Sintesis Desain Program Pelatihan Korporasi Pelatihan dan Pengembangan Karyawan — Magister Manajemen FEB UNDIP Ujian tengah semester menguji kemampuan Anda mengintegrasikan tujuh pertemuan menjadi satu blue-print yang utuh. UTS bukan menghafal teori, melainkan menerapkan kerangka P1-P7 pada studi kasus desain program pelatihan korporasi. Format: analisis kasus + perumusan rekomendasi blue-print dengan komponen TNA, ADDIE, 70-20-10, dan evaluasi. Bobot UTS sekitar lima belas persen sesuai pola RPS OBE. Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 8.1 — empat indikator capaian hari ini.
Anatomi soal UTS: analisis kasus + rekomendasi blue-print Kriteria penilaian: teori, ADDIE, kelayakan bisnis, konteks Indonesia Rubrik penilaian Strategi menjawab: TNA → ADDIE → 70-20-10 → evaluasi Kerangka jawaban model (exemplar) Persiapan P9: Metode off-the-job & teknologi UTS menguji integrasi P1-P7 menjadi satu blue-print yang dapat dijustifikasi ke komite bisnis.
Empat indikator capaian hari ini. Pastikan Anda dapat menjelaskan keterkaitan tiap poin dengan pengalaman kerja Anda sendiri. Mengapa Materi Ini Relevan bagi Manajer SDM Strategis UTS integratif menguji sintesis — bukan hafalan. Kerangka jawaban model: TNA → ADDIE → 70-20-10 → evaluasi.
Bobot UTS
~15%
RPS OBE: UTS sekitar 15% dari nilai total mata kuliah
Komponen
4
Empat komponen penilaian: teori, ADDIE, kelayakan, konteks RI
Pertanyaan pemantik: bagaimana materi ini terkait dengan pengalaman pelatihan di tempat kerja Anda sendiri?
UTS ini adalah asesmen sumatif yang menguji integrasi P1-P7. Bukan menghafal teori, melainkan menerapkan kerangka pada kasus. Empat komponen penilaian: ketepatan teori, kelengkapan ADDIE, kelayakan bisnis, dan kekayaan konteks Indonesia. Strategi menjawab: ikuti kerangka TNA → ADDIE → 70-20-10 → evaluasi. Pertanyaan reflektif: sudahkah Anda dapat mengintegrasikan tujuh pertemuan menjadi satu blue-print yang utuh? Bagian 1 · 1/4
Konsep Inti
Diskusi kelas: bagaimana materi ini terkait dengan pengalaman kerja Anda?
Bagian pertama membangun fondasi konseptual. Diskusi kelas memungkinkan Anda mengaitkan teori dengan praktik organisasi tempat Anda bekerja. Definisi & Batasan Konseptual Penjelasan padat inti konsep, diikuti pemecahan ke komponen yang dapat dioperasionalkan.
UTS = asesmen sumatif integratif Komponen: analisis kasus + rekomendasi blue-print Kriteria: teori, ADDIE, kelayakan, konteks RI Bobot ~15% nilai mata kuliah Kerangka jawaban: TNA → ADDIE → 70-20-10 → evaluasi Setiap bagian harus eksplisit & berdasar teori Konteks Indonesia memperkaya jawaban Evaluasi Level 1-4 minimum UTS menguji apakah Anda dapat menerapkan teori ke kasus nyata — bukan menghafal.
Definisi konseptual yang padat. Pastikan Anda dapat membedakan inti konsep dari operasionalisasinya — keduanya dilayani oleh dua kartu berdampingan. Komponen atau Dimensi Utama Pemecahan konsep ke dimensi yang dapat didesain dan dievaluasi.
KETEPATAN TEORI
Pilih teori yang tepat untuk konteks kasus (Bandura/Kolb/ADDIE).
KEMPLEN ADDIE
Lewati semua 5 fase dengan output yang dapat ditelusuri.
KELAYAKAN BISNIS
Usulkan anggaran & ROI yang realistis.
KONTEKS RI
Sisipkan mini-kasus korporasi Indonesia (Telkom/BRI/Astra).
Komponen atau dimensi utama yang dapat didesain dan dievaluasi. Setiap dimensi punya strategi intervensi spesifik. Posisi dalam Siklus Manajemen SDM Konsep ini terjalin dengan siklus MSDM yang lebih besar.
Diagnosis gap Organisasi-tugas-person Output tiap fase Loop iteratif Distribusi metode Stretch assignment Kirkpatrick Level 1-4 Minimum 4 level Posisi konsep dalam siklus MSDM yang lebih besar. Memahami posisi membantu Anda memilih kapan konsep ini relevan. Miskonsepsi yang Sering Muncul Tiga miskonsepsi yang membuat praktisi salah menerapkan konsep.
UTS menghafal teori Koreksi: integrasi Rekomendasi tanpa TNA Koreksi: TNA wajib Evaluasi opsional Koreksi: wajib Level 1-4 Miskonsepsi yang membuat praktisi salah menerapkan. Koreksi setiap miskonsepsi memandu desain yang benar. Bagian 2 · 2/4
Teori & Operasionalisasi
Diskusi kelas: bagaimana teori ini dapat dioperasionalkan?
Bagian kedua mengoperasionalkan konsep ke kerangka teoritis kanonik. Diskusi kelas memancing refleksi atas pilihan desain konkret. Kerangka Teoritis Kanonik Detail kerangka teori yang menjadi acuan operasional.
Komponen Bobot Indikator Analisis kasus 30% Diagnosis gap & konteks Rekomendasi blue-print 40% TNA + ADDIE + 70-20-10 Evaluasi program 20% Kirkpatrick Level 1-4 Kelayakan & konteks RI 10% Anggaran, ROI, kasus Indonesia
Kerangka teoritis kanonik dengan tabel ringkas. Tabel ini menjadi acuan operasional yang dapat Anda bawa ke organisasi. Hitung dari Nol: Memetakan Kasus ke Teori (Mapping) Skenario: Kasus UTS (ilustratif): korporasi ritel nasional dengan penurunan kinerja sales. Petakan masalah ke teori P1-P7. Identifikasi teori mana yang relevan untuk aspek mana.
Aspek kasus Teori relevan Aplikasi Diagnosis gap TNA (O-T-P) P5 Identifikasi gap kompetensi Desain program ADDIE P4 Output tiap fase Metode pembelajaran 70-20-10 P7 Distribusi OJT/coaching/formal Evaluasi Kirkpatrick P12 Level 1-4 minimum
Implikasi
Mapping eksplisit
Mapping kasus ke teori menunjukkan penguasaan integrasi — kriteria penilaian utama UTS.
Mapping kasus ke teori adalah langkah pertama UTS yang baik. Diagnosis gap memakai TNA O-T-P. Desain program memakai ADDIE dengan output tiap fase. Metode pembelajaran memakai 70-20-10 untuk distribusi OJT, coaching, dan formal. Evaluasi memakai Kirkpatrick Level satu hingga empat minimum. Pelajaran: jawaban UTS yang baik eksplisit memetakan setiap aspek kasus ke teori yang relevan — bukan narasi umum. Hitung dari Nol: Menyusun Argumen Bisnis untuk Rekomendasi Skenario: Rekomendasi blue-print harus punya argumen bisnis: manfaat vs biaya. Kasus: anggaran Rp 500 juta, manfaat moneter yang diisolasi Rp 1,5 miliar/tahun. Hitung ROI dan argumen ke komite bisnis.
Item Nilai Catatan Biaya program Rp 500 jt Desain+deliver+opportunity Manfaat moneter (isolasi) Rp 1,5 M Kenaikan revenue terisolasi Net Benefit Rp 1,0 M Manfaat − Biaya ROI% 200% Net Benefit ÷ Biaya × 100%
Implikasi
ROI 200%
Argumen bisnis: ROI 200% + dampak Level 4 Kirkpatrick = justifikasi kuat.
Argumen bisnis untuk komite non-HR harus mengkonversi dampak ke rupiah. Anggaran lima ratus juta, manfaat terisolasi satu setengah miliar — net benefit satu miliar, ROI dua ratus persen. Kombinasikan dengan dampak Level empat Kirkpatrick (KPI bisnis) untuk justifikasi kuat. Pelajaran: rekomendasi tanpa argumen bisnis akan ditolak komite eksekutif — bahasa rupiah lebih persuasif daripada bahasa HR. Bagian 3 · 3/4
Studi Kasus Indonesia
Diskusi kelas: apa pelajaran transferable dari kasus ini?
Bagian ketiga menerapkan konsep pada studi kasus korporasi Indonesia. Pelajaran transferable adalah inti diskusi. Anatomi Kasus Bedah kasus nyata korporasi Indonesia.
Studi kasus UTS (ilustratif): ritel nasional penurunan sales Mapping ke TNA + ADDIE + 70-20-10 + Kirkpatrick Argumen bisnis ROI 200% Gap negotiation & digital (TNA) Program 40 jam blended (ADDIE) Level 1-4 evaluation Kasus UTS mensimulasikan tantangan nyata manajer SDM strategis: justify anggaran dengan bahasa bisnis.
Anatomi kasus nyata korporasi Indonesia. Konteks kasus dan keputusan-dampak dilayani dua kartu berdampingan. Implikasi Praktis Tiga implikasi praktis untuk desain program.
IMPLIKASI 1 — MAPPING
Petakan setiap aspek kasus ke teori.
IMPLIKASI 2 — BISNIS
Konversi dampak ke rupiah untuk argumen bisnis.
IMPLIKASI 3 — INTEGRASI
Integrasi P1-P7, bukan hafalan parsial.
Tiga implikasi praktis untuk desain program. Setiap implikasi dapat ditindaklanjuti dengan intervensi konkret. Jebakan Umum & Mitigasi Tiga jebakan yang membuat penerapan gagal.
Jawaban hafalan teori Akibat: tidak menjawab kasus Rekomendasi tanpa diagnosis Akibat: tidak kredibel Tanpa argumen bisnis Akibat: ditolak komite Tiga jebakan yang membuat penerapan gagal. Kenali agar dapat dihindari sebelum merancang program. Bagian 4 · 4/4
Sintesis & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Diskusi kelas: satu insight yang akan Anda terapkan?
Bagian penutup merangkum dan menjembatani ke pertemuan berikutnya. Satu insight yang Anda bawa pulang lebih bernilai daripada sepuluh yang hanya dicatat. Peta Konsep Pertemuan Empat lensa kunci yang harus Anda bawa pulang.
TNA diagnosis ADDIE desain 70-20-10 metode EVALUASI dampak Pertemuan 9 berikutnya: Metode off-the-job & teknologi pembelajaran.
Peta konsep pertemuan ini dalam empat lensa kunci. Lensa-lensa ini menjadi rujukan sepanjang semester. Latihan & Diskusi Kelas (10 menit) Diskusi kelompok 4-5 orang, siapkan jawaban runut untuk presentasi 3 menit.
Pelajari kasus UTS dengan teliti Latih mapping kasus ke teori Susun argumen bisnis dengan ROI Rancang jawaban model UTS Kerangka: TNA → ADDIE → 70-20-10 → evaluasi Sisipkan konteks Indonesia Latihan ini melatih diagnostik dan desain. Diskusi kelompok mensimulasikan tantangan nyata manajer SDM strategis. Persiapan Pertemuan Berikutnya BACAAN WAJIB
Noe, Employee Training and Development — bab terkait pertemuan ini.
BACAAN TAMBAHAN
Artikel terkini yang melengkapi teori utama.
TUGAS MINI
Bawa satu kasus/pengalaman dari organisasi Anda untuk dianalisis di pertemuan berikutnya.
Empat lensa pertemuan ini menjadi fondasi yang akan kita rujuk sepanjang semester.
Persiapan P9: pelajari metode off-the-job & teknologi pembelajaran.
Tiga pesan kunci UTS: integrasi bukan hafalan, mapping kasus ke teori, argumen bisnis dengan ROI. Sampai jumpa di P9 — metode off-the-job.