RPS minggu 13 · 2x50 menit
Bank Konvensional vs Fintech Disrupsi model bisnis, kolaborasi vs kompetisi — Magister Manajemen FEB UNDIP Selamat datang di pertemuan 13. Setelah cyber risk minggu lalu, hari ini kita masuk pertanyaan strategis: bagaimana dinamika antara bank konvensional dan fintech? Narasi lama "fintech akan gantikan bank" sudah usang — realitas hari ini adalah coopetition, gabungan kompetisi dan kolaborasi. Bank masih dominan di kredit korporasi dan wholesale payment, fintech dominan di pembayaran ritel dan paylater. Tapi garis batasnya makin kabur dengan embedded finance dan Banking-as-a-Service. Hari ini kita akan bedah lanskap disrupsi, segmen yang terdisrupsi, strategi bank menghadapi fintech, dan tren masa depan. Pertanyaan pemantik: di Indonesia, siapa yang menang di pembayaran mikro — bank atau e-wallet? Jawabannya mengungkap kompleksitas coopetition yang akan kita bedah. Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 13: menganalisis dinamika persaingan dan kolaborasi antara institusi keuangan konvensional dan fintech.
Lanskap disrupsi & definisi fintech (Gomber 2017) Taksonomi FSB 7 segmen Segmen disrupsi: pembayaran, kredit, investasi Empat strategi bank: build, buy, partner, watch Mini-kasus bank × fintech partnership Embedded finance & Banking-as-a-Service Posisi alur: dari cyber risk (P12) ke bank vs fintech (P13) → studi kasus terintegrasi (P14).
Empat lensa hari ini. Jam pertama: lanskap disrupsi dengan definisi fintech dari Gomber Koch dan Siering 2017 yang jadi rujukan akademik utama; taksonomi FSB atau Financial Stability Board tujuh segmen fintech; serta tiga segmen yang paling terdisrupsi yaitu pembayaran, kredit, dan investasi. Jam kedua: empat strategi bank menghadapi fintech yaitu build buy partner dan watch; mini-kasus partnership bank dan fintech di Indonesia; serta tren masa depan embedded finance dan Banking-as-a-Service. Posisi alur: dari cyber risk minggu lalu ke bank vs fintech hari ini, ke studi kasus terintegrasi minggu depan di mana kita akan aplikasikan semua kerangka ke kasus konkret seperti GoTo, Bibit, dan Bank Neo. Motivasi: Coopetition, Bukan Eliminasi Pendapatan Bank Global
~USD 5 T
Per tahun (McKinsey Global Banking Annual Review, dihedge)
Valuasi Fintech Global
~Triliunan USD
Akumulasi valuasi fintech publik & privat (dihedge — bervariasi sumber)
Dua dunia berbenturan & bersinergi — narasi "fintech gantikan bank" terbukti salah, realitas = coopetition.
Dua angka motivasi yang menjelaskan kenapa coopetition adalah realitas. Pertama, pendapatan bank global mencapai sekitar USD 5 triliun per tahun menurut McKinsey Global Banking Annual Review — angka saya hedge karena bervariasi tahun dan metodologi. Kedua, valuasi fintech global akumulasi mencapai triliunan USD, menggabungkan fintech publik seperti PayPal dan Block, serta privat seperti Stripe dan Ant Group. Angka ini juga dihedge karena valuasi privat fluktuatif. Pesan kunci: dua dunia berbenturan dan bersinergi. Narasi lama fintech akan gantikan bank terbukti salah — bank masih hidup dan dominan di banyak segmen, fintech juga tumbuh tapi banyak yang belum profit. Realitas hari ini adalah coopetition: kompetisi di beberapa segmen, kolaborasi di segmen lain. Pertanyaan pemantik: di Indonesia, siapa yang menang di pembayaran mikro, bank atau e-wallet? Jawabannya: e-wallet dominan transaksi ritel QRIS, tapi bank dominan wholesale transfer via BI-FAST dan RTGS. Bagian 1 · 1/4
Lanskap Disrupsi
Diskusi kelas: sebutkan satu layanan yang dulunya hanya bank, sekarang dominan fintech.
Blok satu: lanskap disrupsi. Pertanyaan diskusi: sebutkan satu layanan yang dulunya hanya di bank, sekarang dominan fintech. Beberapa jawaban yang sering muncul: transfer mikro dulu via teller bank, sekarang via GoPay atau OVO. Investasi reksa dana dulu via bank atau sekuritas dengan minimum jutaan, sekarang via Bibit atau Ajaib mulai Rp 100 ribu. Pembayaran tagihan dulu via ATM, sekarang via e-wallet atau aplikasi super. Pinjaman konsumtif dulu via kartu kredit bank, sekarang via paylater Kredivo atau Akulaku. Diskusi kelas silakan berbagi pengalaman pribadi — saya ingin dengar contoh konkret dari mahasiswa. Definisi Fintech (Gomber, Koch & Siering 2017) Gomber, Koch & Siering (2017) — rujukan akademik utama: "Fintech adalah inovasi finansial berbasis teknologi yang meliputi model bisnis baru, aplikasi, proses, atau produk dengan material efek pada pasar keuangan, institusi, dan penyedia layanan."
Model bisnis baru Aplikasi (UX, mobile-first) Proses (otomasi, AI) Produk (reksa dana micro, paylater) Pasar keuangan (likuiditas, struktur) Institusi (bank, sekuritas) Penyedia layanan (fintech, regtech) Miskonsepsi: "fintech = aplikasi keuangan" Lebih luas: model bisnis & proses Disrupsi = UX, velocity, biaya Definisi fintech dari Gomber Koch dan Siering 2017 dalam jurnal Business Research — ini adalah rujukan akademik utama yang dipakai banyak peneliti. Definisi: fintech adalah inovasi finansial berbasis teknologi yang meliputi model bisnis baru, aplikasi, proses, atau produk dengan material efek pada pasar keuangan, institusi, dan penyedia layanan. Empat komponen kunci: model bisnis baru seperti P2P lending yang match lender-borrower tanpa perantara; aplikasi dengan UX mobile-first; proses dengan otomasi dan AI; serta produk seperti reksa dana micro investing dan paylater. Material efek di tiga level: pasar keuangan yang likuiditas dan strukturnya berubah; institusi seperti bank dan sekuritas yang model bisnisnya beradaptasi; serta penyedia layanan termasuk fintech dan regtech sendiri. Miskonsepsi: fintech dianggap hanya aplikasi keuangan. Lebih luas dari itu — fintech mengubah model bisnis dan proses, bukan hanya UI. Disrupsi fintech adalah kombinasi UX velocity dan biaya. Taksonomi Fintech (FSB 7 Segmen) Financial Stability Board mengelompokkan fintech ke 7 segmen fungsional — semua hadir di ekosistem Indonesia.
Payments — e-wallet, QRIS, cross-borderMarket support — regtech & suptechInvestment mgmt — robo-advisorCapital raising — crowdfunding, securitiesDeposit & lending — P2P, paylaterInsurance — insurtechMarket provisioning — matching platformFSB taksonomi = peta jalan. Bank Indonesia punya aktivitas di semua segmen, intensitas berbeda.
Taksonomi FSB atau Financial Stability Board mengelompokkan fintech ke 7 segmen fungsional. Segmen satu payments yaitu e-wallet, QRIS, dan cross-border payment linkage. Contoh Indonesia: GoPay, OVO, Dana, ShopeePay. Segmen dua market support yaitu regtech dan suptech yang sudah kita bahas minggu lalu. Segmen tiga investment management yaitu robo-advisor. Contoh Indonesia: Bibit, Ajaib, Bareksa. Segmen empat capital raising yaitu crowdfunding dan securities offering. Contoh: Crowdiera, Santara. Segmen lima deposit dan lending yaitu P2P lending dan paylater. Contoh: Modalku, Investree, Kredivo, Akulaku. Segmen enam insurance yaitu insurtech. Contoh: PasarPolis, Qoala. Segmen tujuh market provisioning yaitu matching platform. FSB taksonomi adalah peta jalan untuk memahami landscape fintech. Bank Indonesia punya aktivitas di semua segmen, tapi intensitas berbeda — payments paling mature, lainnya tumbuh cepat. Sebagai mahasiswa MM, peta ini berguna untuk analisis kompetitif dan strategi market entry. Keunggulan Bank vs Fintech Bank
Trust & Modal
Lisensi, jaringan cabang, data historis, modal besar, trust brand
Fintech
UX & Velocity
UX mobile-first, talent digital, biaya operasi rendah, model bisnis baru
Battle
Regulasi
Customer relationship, data ownership, regulasi adalah medan utama
Bank kuat di trust dan modal; fintech kuat di UX dan velocity. Medan pertempuran: customer relationship & data.
Bandingkan keunggulan bank versus fintech. Bank kuat di empat hal. Trust brand — nasabah percaya bank dengan dana besar karena lisensi dan riwayat puluhan tahun. Modal besar untuk skala operasi dan compliance. Lisensi bank yang sulit didapat menjadi barrier entry. Jaringan cabang fisik yang masih penting untuk segmen tertentu seperti kredit KPR. Data historis nasabah yang panjang untuk credit scoring. Fintech kuat di empat hal berbeda. UX mobile-first yang jauh lebih baik dari bank apps kebanyakan. Velocity — kecepatan inovasi dan iterasi fitur. Talent digital — engineer dan product manager kelas dunia. Biaya operasi rendah karena tanpa cabang fisik. Model bisnis baru yang bank tidak terpikir. Battle sesungguhnya di tiga medan: customer relationship — siapa yang punya hubungan langsung dengan nasabah; data ownership — siapa yang punya data transaksi; dan regulasi — siapa yang lebih adaptif dengan rule baru. Medan pertempuran utama adalah customer relationship dan data. Hitung dari Nol: Unit Economics Bank vs Fintech Skenario (ilustratif): bank X cost-to-serve nasabah ritel Rp 50.000/tahun (cabang, teller); fintech Y Rp 10.000/tahun (digital only). Bank revenue per nasabah Rp 200.000/tahun (spread, fee); fintech Rp 80.000/tahun (MDR, fee). Hitung margin.
Metrik Bank X Fintech Y Revenue/nasabah/thn Rp 200.000 Rp 80.000 Cost-to-serve/thn Rp 50.000 Rp 10.000 Margin rupiah Rp 150.000 Rp 70.000 Margin % 75% 87,5%
Insight
Strategi Berbeda
Bank margin Rp lebih besar (premium); fintech margin % lebih tinggi (volume + cross-sell)
Hitung dari nol unit economics bank versus fintech. Skenario ilustratif: bank X cost-to-serve nasabah ritel Rp 50.000 per tahun untuk cabang teller dan infrastruktur fisik. Fintech Y hanya Rp 10.000 per tahun karena digital only tanpa cabang. Bank revenue per nasabah Rp 200.000 per tahun dari spread bunga dan fee. Fintech Rp 80.000 per tahun dari MDR dan fee. Hitung margin. Langkah satu: revenue bank Rp 200.000, fintech Rp 80.000. Langkah dua: cost bank Rp 50.000, fintech Rp 10.000. Langkah tiga: margin rupiah bank Rp 150.000, fintech Rp 70.000. Langkah empat: margin persen bank 75 persen, fintech 87,5 persen. Insight: strategi berbeda. Bank margin rupiah lebih besar per nasabah karena revenue tinggi, cocok untuk premium service dengan segmen high-value. Fintech margin persen lebih tinggi karena cost rendah, cocok untuk volume besar dengan cross-sell. Tidak ada yang dominan mutlak — strategi harus sesuai posisi. Bagian 2 · 2/4
Segmen Disrupsi
Diskusi kelas: segmen mana yang paling terdisrupsi fintech — pembayaran, kredit, atau investasi?
Blok dua: segmen disrupsi. Pertanyaan diskusi: segmen mana yang paling terdisrupsi fintech — pembayaran, kredit, atau investasi? Argumen pembayaran: e-wallet dan QRIS sudah dominan di ritel, bank hampir kehilangan transaksi mikro. Argumen kredit: paylater tumbuh eksponensial, terutama milenial, tapi kredit korporasi masih bank. Argumen investasi: robo-advisor menurunkan barrier entry, tapi AUM high-net-worth masih MI tradisional. Realitas: pembayaran paling terdisrupsi karena sudah mass-market, kredit di tengah, investasi paling awal. Diskusi kelas silakan berbagi pendapat. Pembayaran: E-Wallet vs Kartu Bank Transaksi mikro QRIS (warung, kopi) GoPay, OVO, Dana, ShopeePay Top-up mudah via bank & agen Cashback & promo agresif Transfer besar (RTGS, BI-FAST) Korporat payroll Wholesale payment antar bank Settlement & clearing Pembayaran ritel = e-wallet dominan; pembayaran wholesale = bank tetap raja. Dua segmen, dua pemenang.
Segmen pembayaran terbelah dua. E-wallet dominan di transaksi mikro ritel, khususnya via QRIS untuk warung dan kafe. Pemain: GoPay, OVO, Dana, dan ShopeePay. Keunggulan: top-up mudah via bank atau agen, cashback dan promo agresif yang bikin user sticky. Bank masih dominan di empat hal: transfer besar via RTGS dan BI-FAST untuk nilai di atas Rp 100 juta; payroll korporat yang otomatis ke rekening karyawan; wholesale payment antar bank untuk settlement bisnis; serta settlement dan clearing antar lembaga. Jadi pembayaran ritel e-wallet dominan, pembayaran wholesale bank tetap raja. Dua segmen dengan dua pemenang. Implikasi strategis: bank tidak perlu takut e-wallet karena mereka bermain di segmen berbeda. Tapi bank perlu waspada karena e-wallet terus naik ke value chain — GoPay mulai tawarkan pinjaman dan investasi. Kredit: P2P & Paylater vs Kredit Bank P2P lending (Modalku, Investree) — UMKM Paylater (Kredivo, Akulaku, ShopeePayLater) Segmen unbanked & underbanked Approval cepat (AI credit scoring) Kredit korporasi (working capital, investasi) KPR (Kredit Pemilikan Rumah) Kendaraan bermotor Nasabah established dengan credit history Paylater tumbuh eksponensial, terutama milenial — risiko over-indebtedness perlu diawasi regulator.
Segmen kredit juga terbelah. Fintech dominan di P2P lending untuk UMKM seperti Modalku dan Investree, serta paylater untuk konsumtif seperti Kredivo, Akulaku, dan ShopeePayLater. Segmen target: unbanked dan underbanked yang tidak punya akses kredit bank. Keunggulan: approval cepat dalam hitungan menit dengan AI credit scoring berbasis data alternatif. Bank masih dominan di kredit korporasi seperti working capital dan investasi, KPR atau Kredit Pemilikan Rumah dengan tenor panjang, kredit kendaraan bermotor, serta nasabah established dengan credit history. Pesan kunci: paylater tumbuh eksponensial terutama di generasi milenial, tapi risiko over-indebtedness atau kelebihan utang perlu diawasi regulator. OJK sudah menerbitkan POJK tentang penyelenggaraan layanan pembiayaan berbasis risiko bersama atau PINBM yang mengatur paylater. Sebagai mahasiswa MM, perlu paham trade-off antara inklusi kredit dan risiko konsumen. Investasi: Robo-Advisor vs MI Tradisional Bibit, Ajaib, Bareksa Min Rp 100 rb (barrier rendah) Alokasi otomatis (profil risiko) Auto-invest (recurring) Target: milenial, investor pemula Mandiri Investasi, Schroders, BNI AM Min Rp 10 jt + Personal advisor Produk premium (high-net-worth) Target: investor established Robo-advisor menurunkan barrier entry — tidak menggantikan MI premium, tapi melayani segmen baru.
Segmen investasi juga terbelah. Robo-advisor fintech seperti Bibit, Ajaib, dan Bareksa melayani investor pemula milenial. Minimum Rp 100 ribu sehingga barrier entry sangat rendah. Fitur kunci: alokasi otomatis berbasis profil risiko (konservatif, moderat, agresif), serta auto-invest untuk recurring investment bulanan. Target: milenial dan investor pemula yang dulu tidak terlayani. Manajer Investasi tradisional yang berafiliasi bank seperti Mandiri Investasi, Schroders, dan BNI Asset Management melayani segmen berbeda. Minimum Rp 10 juta ke atas, personal advisor untuk nasabah premium, produk high-net-worth seperti private equity fund. Target: investor established dengan dana besar. Pesan kunci: robo-advisor tidak menggantikan MI premium — keduanya melayani segmen berbeda. Robo-advisor menurunkan barrier entry untuk segmen pemula, MI premium melayani high-net-worth. Pasar tumbuh dua arah. Hitung dari Nol: CAC Bank vs Fintech Skenario (ilustratif): CAC bank (akuisisi via cabang) Rp 500.000/nasabah; CAC fintech (digital marketing) Rp 100.000/nasabah. Bank akuisisi 100.000 nasabah/tahun; fintech 1 juta/tahun. Asumsi LTV bank Rp 600.000; LTV fintech Rp 150.000.
Metrik Bank Fintech CAC per nasabah Rp 500.000 Rp 100.000 Akuisisi/thn 100.000 1.000.000 CAC total/thn Rp 50 M Rp 100 M LTV per nasabah Rp 600.000 Rp 150.000 LTV/CAC ratio 1,2× 1,5×
Insight
Fintech LTV/CAC > Bank
ILUSTRATIF — LTV/CAC 3× adalah target sehat; 1,2× berbahaya (terlalu tipis)
Hitung dari nol CAC bank versus fintech. CAC atau Customer Acquisition Cost adalah biaya akuisisi satu nasabah baru. Skenario ilustratif: CAC bank Rp 500.000 per nasabah via jaringan cabang dan sales, CAC fintech Rp 100.000 per nasabah via digital marketing. Bank akuisisi 100.000 nasabah per tahun, fintech 1 juta nasabah per tahun karena skalanya digital. Asumsi LTV atau Lifetime Value bank Rp 600.000, LTV fintech Rp 150.000. Hitung CAC total dan LTV per CAC ratio. Langkah satu: CAC per nasabah. Langkah dua: akuisisi. Langkah tiga: CAC total bank Rp 50 miliar, fintech Rp 100 miliar — fintech spend lebih banyak tapi dapat 10 kali nasabah. Langkah empat: LTV. Langkah lima: LTV per CAC bank 1,2 kali, fintech 1,5 kali. Insight: fintech LTV/CAC lebih sehat dari bank. ILUSTRATIF — LTV/CAC 3 kali adalah target sehat di industri, 1,2 kali berbahaya karena margin tipis sekali kena churn. Bank perlu turunkan CAC dengan digitalisasi onboarding. Bagian 3 · 3/4
Strategi Bank
Diskusi kelas: strategi mana paling realistis untuk bank Indonesia — build, buy, partner, atau watch?
Blok tiga: strategi bank menghadapi fintech. Pertanyaan diskusi: strategi mana paling realistis untuk bank Indonesia — build, buy, partner, atau watch? Argumen build: control penuh, sesuai kebutuhan, tapi slow. Argumen buy: cepat scale up via akuisisi, tapi mahal. Argumen partner: cepat dan bagi risiko, tapi kurang control. Argumen watch: amati dulu, copy yang berhasil, tapi bisa kalah momentum. Realitas: kebanyakan bank Indonesia kombinasikan — build untuk core banking, partner untuk fitur baru seperti paylater, dan sedikit buy untuk digital bank. Diskusi kelas silakan berbagi pendapat. Empat Strategi Bank (Batten) Strategi 1
Build
Investasi internal R&D digital — control penuh, slow
Strategi 2
Buy
Akuisisi fintech — cepat scale up, mahal
Strategi 3
Partner
Kolaborasi dengan fintech — cepat, bagi risiko
Strategi 4
Watch
Tunggu & cepat follow — amati pasar, copy yang work
Kebanyakan bank kombinasikan: build core, partner fitur baru, buy untuk digital bank, watch untuk teknologi immature.
Empat strategi bank menghadapi fintech dari kerangka Batten. Strategi satu, Build: investasi internal R&D digital untuk bangun capability sendiri. Control penuh atas teknologi dan data, tapi slow karena bank bukan tech company. Contoh: Livin Mandiri yang dibangun internal BSM. Strategi dua, Buy: akuisisi fintech untuk cepat scale up. Mahal tapi langsung dapat tim teknologi dan user base. Contoh: akuisisi Bank Neo oleh Akulaku, atau investasi Bank BTPN ke digital bank. Strategi tiga, Partner: kolaborasi dengan fintech. Cepat go-to-market dan bagi risiko, tapi kurang control atas UX dan data. Contoh: BCA × GoPay, Mandiri × Mapan. Strategi empat, Watch: tunggu dan cepat follow yang berhasil di pasar. Hemat R&D tapi bisa kalah momentum. Realitas: kebanyakan bank kombinasikan empat strategi. Build untuk core banking, partner untuk fitur baru seperti paylater, buy untuk digital bank, dan watch untuk teknologi immature seperti blockchain. Tidak ada strategi tunggal yang menang. Investasi Internal vs Akuisisi vs Partnership Contoh: Livin' Mandiri (BSM) BCA mobile (in-house) Pro: control, sesuai kebutuhan Kontra: slow, talent digital susah Contoh: akuisisi Bank Neo (Akulaku) Investasi Sea to SeaBank Pro: cepat, dapat tim & user Kontra: mahal, integration challenge Contoh: BTPN × Jenius × Kredivo Bank Neo × Akulaku (BaaS-like) Pro: cepat, bagi risiko & modal Kontra: kurang control UX/data Tidak ada strategi terbaik mutlak — pilihan tergantung posisi bank, modal, dan risk appetite.
Tiga pilihan eksekusi: build, buy, partner. Build contohnya Livin Mandiri dari Bank Syariah Mandiri yang dibangun internal, BCA mobile yang in-house. Pro: control penuh dan sesuai kebutuhan bank. Kontra: slow karena bukan core competence bank, dan talent digital sulit direkrut karena kompetisi dengan fintech. Buy contohnya akuisisi Bank Neo Commerce oleh Akulaku, atau investasi Sea Group ke SeaBank Indonesia. Pro: cepat scale up, langsung dapat tim teknologi dan user base. Kontra: mahal, dan integration challenge antara budaya bank dan fintech. Partner contohnya BTPN dengan Jenius dan Kredivo untuk paylater, Bank Neo dengan Akulaku sebagai BaaS-like. Pro: cepat go-to-market dan bagi risiko serta modal. Kontra: kurang control atas UX dan data yang sering jadi tension. Pesan kunci: tidak ada strategi terbaik mutlak. Pilihan tergantung posisi bank di market, modal yang tersedia, dan risk appetite direksi. Mini-Kasus: Bank × Fintech Partnership Indonesia Bank Fintech Partner Segmen BCA GoPay (GoTo) Pembayaran QRIS, e-wallet integration BTPN Jenius × Kredivo Digital bank + paylater konsumer Mandiri Mapan Kredit UMKM berbasis komunitas Bank Neo Commerce Akulaku Digital bank + paylater (BaaS-like) SeaBank ShopeePay × Shopee Embedded finance marketplace
Tiga pelajaran: (1) kolaborasi memperluas reach; (2) bank bawa modal+trust, fintech bawa UX+velocity; (3) regulasi (POJK kerjasama) memfasilitasi.
Mini-kasus partnership bank dan fintech di Indonesia. BCA dengan GoPay untuk pembayaran QRIS dan e-wallet integration — bank terbesar Indonesia partner dengan e-wallet terbesar. BTPN dengan Jenius dan Kredivo untuk digital bank plus paylater konsumer. Mandiri dengan Mapan untuk kredit UMKM berbasis komunitas. Bank Neo Commerce dengan Akulaku untuk digital bank plus paylater dalam model BaaS-like. SeaBank dengan ShopeePay dan Shopee untuk embedded finance di marketplace. Tiga pelajaran utama. Pertama, kolaborasi memperluas reach — bank dapat akses ke user base fintech, fintech dapat lisensi dan modal bank. Kedua, bank bawa modal plus trust, fintech bawa UX plus velocity — sinergi kapabilitas. Ketiga, regulasi POJK kerjasama antara bank dan fintech memfasilitasi struktur legal partnership. Pesan: di Indonesia, partnership adalah strategi dominan, bukan kompetisi langsung. Bank yang tidak partner akan kalah momentum. Bagian 4 · 4/4
Kolaborasi & Masa Depan
Diskusi kelas: apakah embedded finance akan menggantikan peran bank ritel?
Blok empat: kolaborasi dan masa depan. Pertanyaan diskusi: apakah embedded finance seperti GoPay di Tokopedia atau ShopeePay di Shopee akan menggantikan peran bank ritel? Argumen ya: konsumen tidak perlu lagi buka aplikasi bank untuk transaksi, semua jadi di marketplace. Bank hanya jadi backend invisible. Argumen tidak: bank masih dominan untuk tabungan gaji, kredit besar, dan regulasi. Realitas: embedded finance mengancam bank ritel yang tidak adaptif, tapi bank yang adaptif bisa jadi enabler BaaS. Masa depan: batas bank dan non-bank makin kabur. Diskusi kelas silakan berbagi pendapat. Embedded Finance & BaaS Layanan keuangan tertanam di non-finansial Contoh: GoPay di Tokopedia, ShopeePay di Shopee Bayar now pay later di checkout e-commerce Asuransi travel di booking tiket Bank sewakan lisensi & infrastruktur Brand non-bank jadi "channel" Contoh: Akulaku × Bank Neo Contoh: SeaBank × Shopee ecosystem Masa depan: batas bank & non-bank makin kabur. Bank yang tidak adaptif jadi invisible utility.
Dua tren masa depan: embedded finance dan BaaS. Embedded finance adalah layanan keuangan tertanam di platform non-finansial. Contoh Indonesia: GoPay di Tokopedia untuk pembayaran, ShopeePay di Shopee, bayar now pay later atau BNPL di checkout e-commerce, serta asuransi travel di booking tiket. Konsumen tidak perlu buka aplikasi bank atau fintech terpisah — semua tertanam di pengalaman utama. Banking-as-a-Service atau BaaS adalah kebalikannya — bank menyewakan lisensi dan infrastruktur ke brand non-bank. Brand non-bank seperti Akulaku atau Shopee menjadi channel distribution. Contoh: Akulaku × Bank Neo di mana Bank Neo sediakan lisensi bank dan core banking, Akulaku bawa user base dan UX. SeaBank × Shopee ecosystem di mana SeaBank jadi bank backend untuk semua transaksi Shopee. Pesan kunci: masa depan batas bank dan non-bank makin kabur. Bank yang tidak adaptif akan jadi invisible utility — backend yang tidak dilihat konsumen, margin tipis. Bank yang adaptif bisa jadi enabler BaaS dengan margin lebih tinggi. Tren Masa Depan: Disrupsi Lintas Sektor GoTo, Grab, Sea — multiple service in 1 app Fintech sebagai monetization utama Cross-subsidy antar service Bank Neo, Jenius, SeaBank, TMRW 100% digital, tanpa cabang Acquisition via partner ecosystem DeFi (decentralized finance) CBDC wholesale (Digital Rupiah BI) Tokenisasi aset (pasar modal) Tiga tren yang membentuk masa depan: super app, digital bank, dan DeFi/CBDC. Bank tradisional harus pilih posisi.
Tiga tren masa depan yang membentuk lanskap keuangan. Pertama, Super App seperti GoTo, Grab, dan Sea yang menawarkan multiple service dalam satu aplikasi. Fintech sering jadi monetization utama dengan margin tinggi, sementara service lain seperti ride-hailing jadi customer acquisition channel. Cross-subsidy antar service adalah strategi kunci. Kedua, Digital Bank seperti Bank Neo Commerce, Jenius dari BTPN, SeaBank, dan TMRW dari UOB. 100 persen digital tanpa cabang fisik ritel. Acquisition via partner ecosystem, bukan via sales force traditional. Ketiga, DeFi atau decentralized finance berbasis blockchain, serta CBDC wholesale yaitu Digital Rupiah BI yang sudah masuk tahap uji coba. Tokenisasi aset di pasar modal juga mulai dibahas oleh OJK. Pesan: tiga tren ini akan membentuk masa depan. Bank tradisional harus pilih posisi — apakah jadi super app partner, transformasi ke digital bank, atau eksplorasi DeFi dan CBDC. Tidak pilih = tergilas. Ringkasan Kunci Pertemuan 13 Lanskap
Taksonomi FSB 7 segmen + definisi Gomber 2017
Segmen Disrupsi
Pembayaran (e-wallet), kredit (paylater), investasi (robo)
Strategi
Build/buy/partner/watch + embedded finance & BaaS
Bawa tiga lensa: lanskap (taksonomi) · segmen (disrupsi) · strategi (build/buy/partner + embedded).
Persiapan P14: bawa satu kasus institusi keuangan Indonesia yang Anda minati (Bibit, Ajaib, GoTo, Bank Neo); siap diskusi strategi adaptasi dengan tiga lensa (struktur pasar, inovasi, regulasi).
Tiga pesan kunci pertemuan 13. Pertama, lanskap: taksonomi FSB 7 segmen dan definisi Gomber Koch Siering 2017 jadi kerangka akademik utama. Kedua, segmen disrupsi: pembayaran dengan e-wallet, kredit dengan paylater, dan investasi dengan robo-advisor adalah tiga segmen paling terdisrupsi. Ketiga, strategi bank: empat pilihan build, buy, partner, watch, plus tren masa depan embedded finance dan Banking-as-a-Service. Sampai jumpa di pertemuan 14 — Studi Kasus Terintegrasi, di mana kita akan aplikasikan semua kerangka 13 pertemuan ke kasus konkret: GoTo sebagai super app, Bibit sebagai robo-advisor, dan Bank Neo Commerce sebagai digital bank. Bawa satu kasus institusi keuangan Indonesia yang Anda minati untuk diskusi strategi adaptasi. Kuis singkat 10 menit di awal pertemuan berikutnya tentang bank versus fintech.