RPS minggu 7 · 2x50 menit
Inovasi Sistem Pembayaran QRIS, BI-FAST, BSPI 2025, dan CBDC Garuda — Magister Manajemen FEB UNDIP Hari ini kita masuk infrastruktur paling invisible tapi paling fundamental dari inovasi digital keuangan: sistem pembayaran. QRIS dan BI-FAST adalah dua inovasi yang mengubah harian kita — dari pembelian kopi di warung sampai transfer antar bank gratis. Sebagai mahasiswa MM, Anda mungkin tidak sadar bahwa dibalik QRIS dan BI-FAST adalah strategi geopolitik Bank Indonesia: mereduksi ketergantungan pada jaringan Visa/Mastercard, dan menyiapkan CBDC atau Central Bank Digital Currency bernama Garuda. Pertanyaan pemantik: jika BI-FAST bisa mendesak SKN dan RTGS lama, mengapa BI tetap mempertahankan ketiganya secara paralel? Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 7: menganalisis ekosistem sistem pembayaran digital Indonesia & strategi Bank Indonesia 2025 (BSPI).
Ekosistem pembayaran: tunai, non-tunai, kartu, e-wallet QRIS: interoperabilitas, MDR, & ekspansi UMKM BI-FAST: real-time 24/7 mendesak SKN BSPI 2025: blueprint strategis BI CBDC Garuda: rationally, model retail vs wholesale Cross-border QRIS (Thailand, Malaysia, Filipina) Posisi alur: dari perbankan (P6) ke pembayaran (P7) → open banking (P8) → P2P/crowdfunding (P9).
Empat indikator hari ini: ekosistem pembayaran dari tunai ke e-wallet; QRIS dan interoperabilitas yang menyatukan e-wallet berbeda; BI-FAST real-time 24/7 yang mendesak sistem SKN lama; serta BSPI 2025 sebagai blueprint strategis BI dan eksplorasi CBDC Garuda. Pertanyaan pemantik tentang paralel tiga sistem — SKN, RTGS, BI-FAST — sangat relevan karena setiap sistem punya use case berbeda: RTGS untuk nilai besar dan urgent, SKN untuk batch non-urgent, BI-FAST untuk retail real-time. BI tidak mau menghilangkan opsi. Ekosistem Pembayaran Indonesia Empat lapisan: tunai (banknotes), non-tunai clearing, kartu ( kredit/debit), e-wallet & QR — terhubung via infrastruktur BI.
RTGS nilai besar, real-time SKNBI batch, multilateral BI-FAST retail real-time 24/7 Kartu Kredit/Debit Visa/Mastercard/GPN E-Wallet GoPay/OVO/Dana/LinkAja QRIS interoperable QR Empat lapisan ekosistem pembayaran Indonesia: tunai via banknotes BI, non-tunai clearing via RTGS dan SKNBI, kartu kredit/debit via Visa Mastercard GPN, dan e-wallet serta QR. Empat infrastruktur kunci: RTGS untuk transaksi nilai besar real-time (minimum Rp 100 juta), SKNBI untuk batch multilateral non-urgent, BI-FAST untuk retail real-time 24/7, dan kartu via jaringan internasional atau GPN lokal. E-wallet seperti GoPay, OVO, Dana, LinkAja dihubungkan via QRIS. Diagram menunjukkan arsitektur infrastruktur pembayaran Indonesia dengan QRIS sebagai jembatan interoperabilitas. BI mengontrol backbone via RTGS, SKN, BI-FAST. Visa dan Mastercard mengontrol jaringan kartu internasional. Bagian 1 · 1/4
QRIS: Interoperabilitas
Diskusi kelas: sebelum QRIS, dua merchant dengan e-wallet berbeda tidak bisa bertransaksi. Bagaimana QRIS menyelesaikan masalah ini?
Sebelum QRIS ada masalah klasik fragmentasi: merchant harus pasang banyak QR dari berbagai e-wallet (GoPay, OVO, Dana, LinkAja). Setiap e-wallet punya nasabah sendiri, dan tidak interoperable. Merchant kecil kewalahan dengan banyak QR di dinding. QRIS menyelesaikan ini dengan satu QR standar yang bisa di-scan oleh semua e-wallet. BI sebagai regulator menetapkan standar teknis, dan semua PJSP atau Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran wajib support. Efeknya: merchant cukup satu QR, nasabah bebas pakai e-wallet mana saja. Ini meningkatkan adoption UMKM secara dramatis. QRIS: Cara Kerja & Manfaat Standar QR Code EMV Co. (internasional) Implementasi: BI sebagai regulator, PJSP sebagai operator MDR (Merchant Discount Rate): 0,3% (UMKM), 0,7% (non-UMKM) — dihedge Tipe: Static (tetap), Dynamic (per transaksi), Cross-border Merchant: satu QR, semua e-wallet Nasabah: bebas pilih e-wallet PJSP: kompetisi sehat via fitur, bukan lock-in BI: visibilitas & kontrol transaksi QRIS launch 2019 — transaksi 2024: ~Rp 300 T+/thn (dihedge). Inklusi UMKM dramatis.
Cara kerja QRIS menggunakan standar QR Code EMV Co. internasional, dengan BI sebagai regulator dan PJSP sebagai operator. MDR atau Merchant Discount Rate berbeda untuk UMKM dan non-UMKM — sekitar 0,3 persen untuk UKM dan 0,7 persen untuk non-UKM (saya hedge karena angka berubah). Tiga tipe QRIS: Static untuk fixed amount, Dynamic untuk per-transaksi amount, dan Cross-border untuk transaksi lintas negara. Manfaat ekosistem: merchant cukup satu QR, nasabah bebas pilih e-wallet, PJSP berkompetisi via fitur bukan lock-in, dan BI dapat visibilitas dan kontrol transaksi. QRIS launch 2019 dengan transaksi 2024 mencapai lebih dari Rp 300 triliun per tahun — inklusi UMKM meningkat dramatis karena merchant kecil kini bisa menerima pembayaran digital. Hitung dari Nol: MDR Merchant Skenario: warung kopi dengan QRIS UMKM (MDR 0,3%) vs non-UMKM (MDR 0,7%). Volume Rp 50 juta/bulan. Berapa biaya MDR per bulan & per tahun?
Kategori MDR Volume/bulan Biaya MDR/bulan Biaya MDR/tahun UMKM 0,3% Rp 50 jt Rp 150.000 Rp 1.800.000 Non-UMKM 0,7% Rp 50 jt Rp 350.000 Rp 4.200.000 Selisih 0,4 pp — Rp 200.000 Rp 2.400.000
Kesimpulan
Selisih Rp 2,4 jt/thn
Subsidi MDR UMKM signifikan untuk merchant kecil — mendorong adoption
Hitungan MDR menunjukkan dampak subsidi UMKM. Warung kopi dengan QRIS UMKM dan MDR 0,3 persen, volume Rp 50 juta per bulan, biaya MDR Rp 150 ribu per bulan atau Rp 1,8 juta per tahun. Untuk kategori non-UMKM dengan MDR 0,7 persen, biaya MDR Rp 350 ribu per bulan atau Rp 4,2 juta per tahun. Selisih 0,4 percentage points menghasilkan selisih biaya Rp 200 ribu per bulan atau Rp 2,4 juta per tahun. Implikasi: subsidi MDR UMKM signifikan untuk merchant kecil — mendorong adoption. Warung kecil yang margin-nya tipis bisa hemat Rp 2,4 juta setahun, yang bisa direinvestasi ke bisnis. Bagian 2 · 2/4
BI-FAST & Real-Time Payment
Diskusi kelas: BI-FAST launch 2021 — apakah ini menggantikan SKN sepenuhnya, atau pelengkap?
BI-FAST diluncurkan Januari 2021 sebagai sistem pembayaran retail real-time 24/7/365 dengan biaya sangat rendah (target Rp 2.500 per transaksi pada stage akhir). Sebelum BI-FAST, nasabah harus menunggu clearing SKN yang batch (beberapa jam) atau bayar mahal via prisma RTGS (Rp 5.000-10.000 per transaksi). BI-FAST menggabungkan kecepatan real-time dengan biaya retail. Pertanyaan: apakah mengganti SKN sepenuhnya? Strategi BI: BI-FAST akan secara bertahap menggantikan SKN retail, tapi SKN tetap dipertahankan untuk transaksi tertentu (nilai besar, korporat). RTGS tetap untuk interbank settlement. Jadi tiga sistem paralel dengan use case berbeda. BI-FAST: Real-Time 24/7 Real-time 24/7/365 (termasuk weekend) Biaya target Rp 2.500/transaksi (stage akhir) Limit: Rp 250 juta/transaksi (dihedge) Launch bertahap per bank (Jan 2021+) Pengguna retail: transfer antar bank gratis/cepat Merchant: settlement cepat, cash flow sehat Bank: kompetisi via UX, bukan biaya Mendesak SKN & fee transfer tradisional BI-FAST = infrastruktur foundational untuk ekonomi digital real-time Indonesia.
BI-FAST adalah sistem pembayaran retail real-time 24/7/365 termasuk weekend dan hari libur, dengan biaya target Rp 2.500 per transaksi pada stage akhir (saat ini beberapa bank masih gratis sebagai promo). Limit transaksi sekitar Rp 250 juta per transaksi, saya hedge karena bisa berubah. Launch bertagap per bank mulai Januari 2021. Dampak: pengguna retail bisa transfer antar bank gratis dan cepat, merchant dapat settlement cepat sehingga cash flow sehat, bank berkompetisi via UX bukan biaya, dan BI-FAST mendesak SKN serta fee transfer tradisional. BI-FAST adalah infrastruktur foundational untuk ekonomi digital real-time Indonesia — banyak aplikasi lending, e-commerce, dan gig economy bergantung padanya. Komparasi: SKN vs RTGS vs BI-FAST Sistem Nilai Settlement Biaya Jam Operasi RTGS ≥ Rp 100 juta Real-time (settlement bank) ~Rp 5.000-10.000 (dihedge) Banking hours SKNBI Retail & besar Batch (beberapa kali/hari) ~Rp 2.900 (dihedge) Banking hours BI-FAST ≤ Rp 250 juta Real-time 24/7 Target Rp 2.500 (dihedge) 24/7/365
Tiga sistem paralel: setiap sistem punya use case optimal — tidak ada "one size fits all".
Komparasi tiga sistem pembayaran BI. RTGS untuk transaksi nilai besar di atas Rp 100 juta dengan settlement real-time antar bank, biaya sekitar Rp 5.000-10.000 per transaksi (saya hedge), jam operasi banking hours. SKNBI untuk retail dan nilai besar dengan settlement batch beberapa kali sehari, biaya sekitar Rp 2.900 per transaksi (dihedge). BI-FAST untuk transaksi di bawah Rp 250 juta dengan settlement real-time 24/7, biaya target Rp 2.500 (dihedge). Tiga sistem paralel: setiap sistem punya use case optimal. RTGS untuk interbank settlement besar, SKN untuk corporate batch, BI-FAST untuk retail real-time. Tidak ada one size fits all — BI menjaga pilihan untuk fleksibilitas. Bagian 3 · 3/4
BSPI 2025 & CBDC Garuda
Diskusi kelas: apakah CBDC Garuda akan menggantikan uang tunai? Apa risiko CBDC retail?
Pertanyaan CBDC sangat relevan dan kontroversial. CBDC atau Central Bank Digital Currency adalah uang digital fiat yang diterbitkan bank central langsung ke publik (retail) atau bank (wholesale). Garuda adalah project CBDC BI yang masih dalam tahap eksplorasi. CBDC retail punya potensi: inklusi keuangan, efisiensi cross-border, kontrol monetary policy. Tapi risiko: bank runs (nasabah bisa pindah ke CBDC saat krisis bank komersial), privasi, dan disrupsi sistem perbankan komersial. Negara yang sudah launch CBDC retail: Bahamas (Sand Dollar), Nigeria (eNaira), Cina (e-CNY pilot). BI masih hati-hati — model wholesale lebih mungkin duluan untuk interbank settlement. BSPI 2025: Blueprint Strategis BI Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 — tiga pilar: interoperabilitas, inklusi, & inovasi.
QRIS lintas PJSP BI-FAST lintas bank GPN (Gerbang Pembayaran Nasional) Layanan pembayaran terjangkau UMKM Cross-border QRIS (ASEAN-5) EDK (Electronic Data Capture) murah CBDC Garuda (wholesale & retail) Open API pembayaran Regulatory sandbox BI BSPI 2025 = peta jalan BI menuju ekosistem pembayaran terintegrasi & inovatif.
Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 atau BSPI 2025 adalah peta jalan BI menuju ekosistem pembayaran terintegrasi dan inovatif. Tiga pilar: pertama interoperabilitas dengan QRIS lintas PJSP, BI-FAST lintas bank, dan GPN atau Gerbang Pembayaran Nasional untuk kartu. Kedua, inklusi dengan layanan pembayaran terjangkau UMKM, cross-border QRIS dengan ASEAN-5 (Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Indonesia), dan EDK murah. Ketiga, inovasi dengan CBDC Garuda wholesale dan retail, Open API pembayaran, dan regulatory sandbox BI. BSPI 2025 bukan regulasi tunggal — ia peta jalan strategis yang diturunkan ke regulasi teknis (POJK, PBI). CBDC Garuda: Project Eksplorasi BI Untuk interbank settlement Lebih cepat & murah dari RTGS Risiko rendah (limited participants) Pilot project: dalam eksplorasi Untuk publik umum Inklusi keuangan, efisiensi Risiko: bank runs, privasi Model: token vs account-based CBDC Garuda masih dalam tahap eksplorasi — pengumuman resmi step-by-step per kuartal.
CBDC Garuda adalah project eksplorasi Bank Indonesia, terbagi dua model. CBDC wholesale untuk interbank settlement, lebih cepat dan murah dari RTGS, risiko rendah karena limited participants, pilot project dalam eksplorasi. CBDC retail untuk publik umum, potensi inklusi keuangan dan efisiensi, tapi risiko bank runs (nasabah bisa pindah ke CBDC saat krisis bank komersial), privasi (siapa yang punya akses data transaksi?), dan model desain (token-based anonymous vs account-based identified). Garuda masih dalam tahap eksplorasi — BI berhati-hati karena CBDC retail bisa disrupsi sistem perbankan komersial. Negara yang sudah launch CBDC retail: Bahamas Sand Dollar, Nigeria eNaira, Cina e-CNY pilot. BI kemungkinan akan duluan wholesale untuk minim risiko. Hitung dari Nol: Biaya Transfer BI-FAST vs SKN Skenario: UMKM transfer 30×/bulan ke supplier via BI-FAST (Rp 2.500) vs SKN (Rp 2.900). Hitung selisih biaya per bulan & per tahun.
Sistem Biaya/transaksi Frekuensi/bulan Biaya/bulan Biaya/tahun BI-FAST Rp 2.500 30 Rp 75.000 Rp 900.000 SKN Rp 2.900 30 Rp 87.000 Rp 1.044.000 Selisih Rp 400 — Rp 12.000 Rp 144.000
Implikasi
~Rp 144 rb/thn
Selisih kecil per UMKM, tapi skala nasional: juta UMKM × Rp 144 rb = ratusan miliar efisiensi
Hitungan biaya transfer BI-FAST vs SKN menunjukkan efisiensi skala. UMKM transfer 30 kali per bulan ke supplier via BI-FAST (Rp 2.500 per transaksi) menghabiskan Rp 75 ribu per bulan atau Rp 900 ribu per tahun. Via SKN (Rp 2.900 per transaksi) menghabiskan Rp 87 ribu per bulan atau Rp 1.044.000 per tahun. Selisih Rp 12 ribu per bulan atau Rp 144 ribu per tahun. Selisih kecil per UMKM, tapi skala nasional: jutaan UMKM dikalikan Rp 144 ribu = ratusan miliar efisiensi ekonomi. Inilah mengapa infrastruktur pembayaran real-time murah adalah game-changer untuk inklusi keuangan. Bagian 4 · 4/4
Cross-Border QRIS
Diskusi kelas: cross-border QRIS ASEAN-5 (Thailand, Malaysia, Filipina, Singapura) — siapa yang untung paling besar?
Cross-border QRIS ASEAN-5 menghubungkan sistem pembayaran Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Pertanyaan: siapa yang untung paling besar? Pertama, turis dan migrant workers yang bisa transaksi langsung tanpa perlu tukar uang fisik. Kedua, UMKM di negara tujuan (mis. Thailand) yang bisa menerima pembayaran dari turis Indonesia. Ketiga, BI dan bank central ASEAN yang mengurangi ketergantungan pada Visa Mastercard internasional. Keempat, ekosistem e-wallet ASEAN yang punya pangsa pasar lebih luas. Yang dirugikan: Visa Mastercard dan bank yang hidup dari fee kartu internasional. Strategi geopolitik: ASEAN membangun sovereign payment infrastructure. Cross-Border QRIS: ASEAN-5 Thailand
2022
Pertama: IDR ⇄ THB langsung via QRIS-PromptPay
Malaysia
2023
DuitNow-QRIS integration
Filipina
2023
QRPh-QRIS integration
Manfaat: turis, migrant workers, UMKM — reduksi ketergantungan Visa/Mastercard internasional.
Cross-border QRIS ASEAN-5 dimulai dengan Thailand 2022 — pertama integrasi IDR dan THB langsung via QRIS-PromptPay. Malaysia 2023 dengan DuitNow-QRIS integration. Filipina 2023 dengan QRPh-QRIS integration. Singapura dan Indonesia juga sudah integrasi. Manfaat: turis dan migrant workers bisa transaksi langsung tanpa tukar uang fisik, UMKM di negara tujuan bisa menerima pembayaran dari turis Indonesia, dan secara geopolitik ASEAN mengurangi ketergantungan pada Visa dan Mastercard internasional. Strategi: ASEAN membangun sovereign payment infrastructure untuk ekonomi digital regional. Pelajaran: inovasi pembayaran tidak hanya teknologi tapi juga strategi geopolitik dan ekonomi. Ringkasan Kunci Pertemuan 7 QRIS
Interoperabilitas, MDR UMKM 0,3% vs non-UMKM 0,7% (dihedge)
BI-FAST
Real-time 24/7, biaya target Rp 2.500, mendesak SKN retail
BSPI 2025
3 pilar: interoperabilitas, inklusi, inovasi (CBDC Garuda)
Bawa tiga lensa: QRIS & interoperabilitas · BI-FAST real-time · CBDC Garuda (wholesale duluan).
Persiapan P8: baca publikasi BI Open API & S-NAP ; baca UU 27/2022 PDP; bawa pengalaman pakai Open Banking (mis. izinkan akses rekening ke aplikasi fintech).
Tiga pesan kunci: QRIS sebagai interoperabilitas pembayaran dengan MDR UMKM 0,3 persen vs non-UMKM 0,7 persen (saya hedge angka pasti); BI-FAST real-time 24/7 dengan biaya target Rp 2.500 yang mendesak SKN retail; dan BSPI 2025 dengan tiga pilar interoperabilitas inklusi dan inovasi termasuk CBDC Garuda. Sampai jumpa di P8 — Open Banking dan Interoperabilitas Data, di mana kita akan dalami S-NAP, Open API, dan implikasi UU 27/2022 PDP. Kuis singkat 10 menit di awal pertemuan berikutnya tentang sistem pembayaran.