‹ Daftar slidePertemuan 4: Analisis Pekerjaan, Deskripsi Pekerjaan, dan Pengaturan Alternatif Kerja
Magister Manajemen · FEB UNDIP
Manajemen Sumber Daya Manusia dan Hubungan Tempat Kerja
Analisis Pekerjaan, Deskripsi Pekerjaan, dan Pengaturan Alternatif Kerja
Dari dokumen administratif menjadi infrastruktur keputusan strategis SDM.
RPS minggu 4 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK A
Mengevaluasi kapan analisis pekerjaan berbasis tugas versus kompetensi lebih tepat untuk konteks organisasi tertentu
Menghitung nilai relatif jabatan dengan metode point-factor job evaluation
Sub-CPMK B
Merancang deskripsi pekerjaan yang defensibel secara hukum dan mendukung desain pekerjaan bermotivasi tinggi (JCM)
Mengambil keputusan pengaturan kerja alternatif dengan kerangka trade-off fleksibilitas vs kendali, sesuai regulasi ketenagakerjaan Indonesia
Fokus hari ini: keputusan manajerial berbasis data, bukan hafalan definisi — setiap konsep akan dikaitkan dengan kasus dan angka nyata.
Bagian 1
Analisis Pekerjaan sebagai Infrastruktur Strategis SDM
Pertanyaan diskusi: Apakah analisis pekerjaan di organisasi Anda masih mencerminkan pekerjaan yang sebenarnya dijalankan hari ini, atau sekadar warisan dokumen lama?
Analisis Pekerjaan: dari Administratif ke Strategis
Pandangan lama memperlakukan analisis pekerjaan sebagai dokumentasi kepatuhan. Pandangan Resource-Based View (Barney, 1991) memperlakukannya sebagai peta sumber daya manusia bernilai, langka, dan sulit ditiru — fondasi HR architecture (Lepak & Snell, 1999) yang membedakan perlakuan investasi SDM per segmen jabatan.
Implikasi manajerial: jabatan inti (core, nilai strategis tinggi) layak mendapat analisis mendalam dan investasi pengembangan; jabatan pendukung cukup distandarkan atau dialihdayakan.
Metode Pengumpulan Data: Dua Walkthrough Kasus
Kasus A — Peran Baru: Data Analyst Bank Digital
1Belum ada insan yang memegang peran ini — tidak bisa observasi atau wawancara pemegang jabatan
2Gunakan Position Analysis Questionnaire (PAQ) berbasis peran serupa di industri + database O*NET sebagai titik awal
3Validasi dengan wawancara manajer lini yang akan mengawasi peran tersebut, bukan pemegang jabatan
Kasus B — Peran Lama: Teller Bank Konvensional
1Peran sudah berjalan lama, tetapi berubah drastis sejak adopsi digital banking — tugas fisik menyusut, tugas edukasi nasabah meningkat
2Gunakan critical incident technique — kumpulkan insiden nyata (transaksi kompleks, komplain nasabah) untuk menangkap tugas yang benar-benar terjadi
3Bandingkan dengan dokumen lama — selisihnya menunjukkan seberapa usang analisis sebelumnya
Kerangka Pilihan: Job-Based vs Competency-Based Analysis
Langkah
Kriteria Pertimbangan
Implikasi Manajerial
1. Stabilitas struktur organisasi
Struktur stabil, jabatan jelas → job-based; struktur cair/matriks → competency-based
Bank BUMN konvensional cenderung job-based; startup teknologi cenderung competency-based
2. Kecepatan perubahan tugas
Tugas cepat berubah (digitalisasi) → fokus kompetensi transferabel
Kompetensi bertahan lintas rotasi jabatan; deskripsi tugas cepat usang
3. Tujuan penggunaan hasil analisis
Untuk job evaluation/kompensasi → job-based lebih presisi legal
Untuk pengembangan talenta/rotasi → competency-based lebih relevan
4. Biaya pemeliharaan
Job-based perlu revisi tiap perubahan tugas; competency-based lebih stabil
Organisasi dengan turnover tugas tinggi lebih hemat dengan competency-based
Kesimpulan praktis: banyak organisasi besar Indonesia kini memakai model hibrida — job-based untuk kompensasi, competency-based untuk pengembangan dan mobilitas talenta.
Hitung dari Nol: Point-Factor Job Evaluation
Kasus: menilai jabatan Analis Kredit Senior di sebuah bank menengah pada empat faktor kompensasi (skala level 1–5, bobot poin per level berbeda per faktor).
Ubah level dan bobot tiap faktor kompensasi untuk melihat bagaimana total poin evaluasi — dan pita grade yang dihasilkan — bergeser.
Bagian 2
Deskripsi Pekerjaan sebagai Dokumen Strategis dan Legal
Pertanyaan diskusi: Kapan deskripsi pekerjaan berhenti menjadi alat komunikasi ekspektasi, dan mulai menjadi risiko hukum bagi organisasi?
Anatomi Deskripsi Pekerjaan yang Efektif
Fungsi Esensial vs Marginal
Esensial: tugas inti yang jika dihilangkan mengubah hakikat jabatan — wajib bisa dijalankan pemegang jabatan
Marginal: tugas pendukung yang bisa didelegasikan atau diakomodasi tanpa mengubah hakikat jabatan
Mini-Kasus: Fintech Pembayaran (ilustrasi)
Jabatan Customer Support Specialist di sebuah fintech pembayaran mensyaratkan mengetik cepat sebagai fungsi esensial, tetapi mengangkat beban berat di gudang arsip dicantumkan sebagai fungsi esensial secara keliru — padahal ini marginal dan bisa didelegasikan.
Kesalahan klasifikasi ini berisiko menghambat akomodasi bagi kandidat penyandang disabilitas, bertentangan dengan semangat UU No. 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Deskripsi Pekerjaan Usang sebagai Risiko Hukum
Mini-kasus (ilustrasi, komposit dari pola sengketa ketenagakerjaan umum di Indonesia): seorang karyawan digugat PHK dengan alasan kinerja buruk pada tugas yang tidak pernah tercantum dalam deskripsi pekerjaan resminya.
Posisi Perusahaan
Menilai kinerja berdasarkan tugas aktual yang berkembang seiring waktu, meski tidak terdokumentasi ulang.
Posisi Serikat Pekerja / Karyawan
Menilai kinerja berdasarkan tugas yang tidak pernah disepakati secara tertulis adalah tidak adil dan berpotensi melanggar prinsip due process dalam UU Cipta Kerja jo. PP No. 35/2021.
Pelajaran manajerial: deskripsi pekerjaan yang tidak direvisi mengikuti perubahan tugas nyata melemahkan posisi hukum perusahaan dalam sengketa Perselisihan Hubungan Industrial (PHI) — bukan hanya melemahkan posisi karyawan.
Kerangka Analisis: Audit Deskripsi Pekerjaan
Langkah
Pertanyaan Audit
Tindakan Jika Gagal
1. Kesesuaian tugas aktual
Apakah tugas yang tercantum masih dijalankan pemegang jabatan hari ini?
Perbarui daftar tugas via wawancara/observasi terbaru
2. Klasifikasi esensial vs marginal
Apakah setiap tugas esensial benar-benar mengubah hakikat jabatan jika dihilangkan?
Reklasifikasi tugas, buka ruang akomodasi
3. Keterukuran standar kinerja
Apakah setiap tugas punya standar kinerja yang bisa diukur objektif?
Tergolong rendah → otonomi (3/7) adalah faktor pembatas utama, prioritas redesain
Bagian 3
Pengaturan Alternatif Kerja
Pertanyaan diskusi: Apakah kebijakan kerja fleksibel di organisasi Anda dirancang berdasarkan kebutuhan pekerjaan, atau sekadar mengikuti tren pasca-pandemi?
Taksonomi Pengaturan Kerja Alternatif
Lokasi Kerja
Remote penuh
Hybrid terjadwal
Hybrid fleksibel (karyawan memilih)
Waktu Kerja
Flextime (jam inti tetap)
Compressed workweek (4 hari × 10 jam)
Job sharing (dua orang, satu jabatan)
Status Hubungan Kerja
Kontrak PKWT jangka pendek
Kerja gig/lepas berbasis proyek
Alih daya (outsourcing) non-inti
Ketiga dimensi ini bisa dikombinasikan — hybrid fleksibel dengan status PKWT, misalnya, umum pada peran project-based di industri kreatif.
Mini-Kasus Indonesia: Keputusan Hybrid Work (ilustrasi)
Sebuah perusahaan teknologi finansial nasional (ilustrasi, komposit pola industri) mengevaluasi apakah tim customer experience dan tim engineering layak memakai kebijakan hybrid yang sama.
Tim Customer Experience
Interaksi langsung dengan mitra merchant, butuh kolaborasi tatap muka untuk eskalasi cepat → hybrid terjadwal 3 hari kantor
Tim Engineering
Pekerjaan berbasis kode, kolaborasi asinkron efektif via alat digital → hybrid fleksibel, karyawan memilih sendiri
Keputusan manajerial: kebijakan hybrid tidak harus seragam lintas fungsi — keputusan berbasis sifat pekerjaan (interdependensi tugas) lebih defensibel daripada kebijakan satu-untuk-semua yang mudah menimbulkan rasa tidak adil.
Kerangka Keputusan: Fleksibilitas vs Kendali
Langkah
Pertanyaan Kunci
Arah Keputusan
1. Interdependensi tugas
Seberapa besar tugas membutuhkan koordinasi real-time dengan orang lain?
Tinggi → lebih banyak hari kantor terjadwal
2. Keterukuran output
Bisakah kinerja diukur dari hasil, bukan kehadiran?
Terukur jelas → fleksibilitas lokasi/waktu lebih aman
3. Kebutuhan onboarding/mentoring
Apakah pemegang jabatan baru butuh bimbingan intensif tatap muka?
Ya → hybrid terjadwal di fase awal, fleksibel setelah mapan
4. Risiko kepatuhan & keamanan data
Apakah pekerjaan melibatkan data sensitif/regulasi ketat (mis. perbankan)?
Ya → kendali lokasi lebih ketat, remote terbatas
Kesimpulan: kerangka ini menggantikan pendekatan "ikuti tren pasar" dengan keputusan berbasis sifat pekerjaan yang bisa dipertanggungjawabkan ke direksi.
Regulasi Ketenagakerjaan Indonesia Terkait Kerja Alternatif
Status Hubungan Kerja
UU No. 11/2020 (Cipta Kerja) & PP No. 35/2021: mengatur PKWT, alih daya (outsourcing), dan pesangon
Alih daya kini boleh untuk seluruh jenis pekerjaan, bukan hanya pekerjaan penunjang — perluas opsi model kerja alternatif bagi perusahaan
Area Abu-Abu: Kerja Gig/Platform
Mitra pengemudi/kurir platform digital umumnya diposisikan sebagai mitra, bukan pekerja/buruh formal — di luar cakupan penuh UU Ketenagakerjaan
Area ini terus berkembang secara regulasi — perusahaan perlu memantau perkembangan kebijakan Kemnaker terkait pekerja platform
Untuk manajer: pengaturan kerja alternatif tidak hanya soal desain SDM, tetapi juga klasifikasi hukum status hubungan kerja — kesalahan klasifikasi berisiko sengketa dan sanksi administratif.
Latihan Kelas: Redesain Pekerjaan
Instruksi Tugas Kelompok (15 menit)
Pilih satu jabatan nyata dari organisasi salah satu anggota kelompok
Skor lima dimensi JCM (skala 1–7) untuk kondisi saat ini, hitung MPS-nya
Identifikasi dimensi JCM dengan skor terendah sebagai target intervensi
Tentukan satu pengaturan kerja alternatif (dari taksonomi Bagian 3) yang paling relevan untuk memperbaiki dimensi tersebut
Siapkan argumen 2 menit seolah-olah presentasi ke direksi — sertakan justifikasi hukum ketenagakerjaan yang relevan
Kelompok akan dipanggil acak untuk presentasi singkat — siapkan angka MPS dan argumen keputusan Anda.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 5
Yang Kita Pelajari
Analisis pekerjaan = infrastruktur strategis, bukan dokumen administratif satu kali
Job evaluation point-factor memberi dasar kompensasi yang defensibel secara hukum
JCM & MPS mengubah desain pekerjaan menjadi keputusan terukur
Pengaturan kerja alternatif harus mengikuti sifat pekerjaan, bukan tren pasar
Pertemuan 5: Pengadaan Karyawan
Deskripsi pekerjaan yang akurat hari ini menjadi input langsung untuk perencanaan tenaga kerja, rekrutmen, dan seleksi minggu depan — jabatan dengan MPS rendah juga memengaruhi strategi menarik kandidat.
Tugas sebelum pertemuan berikutnya: selesaikan analisis MPS jabatan latihan hari ini dan bawa hasilnya sebagai bahan diskusi rekrutmen minggu depan.