EI tim bukan rata-rata EI anggota — kompetensi kolektif yang muncul dari norma, ritus, dan interaksi. Project Aristotle Google menemukan psychological safety sebagai faktor #1 tim efektif.
Peta Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan **mampu mengelola EI/ESI pada level tim: dari individu ke kompetensi kolektif** (Sub-CPMK 13).
Lead: "Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan **mampu mengelola EI/ESI pada level tim: dari individu ke kompetensi kolektif** (Sub-CPMK 13)."
Empat indikator (num-box):
1. Menjelaskan tiga norma EI tim Druskat-Wolff
2. Menerapkan model kompetensi kolektif tim EI
3. Menganalisis Project Aristotle Google (lima faktor)
4. Merancang ritus tim yang membangun EI kolektif
Rujukan: —
Motivasi: Mengapa Tim EI Tinggi Lebih dari Penjumlahan Individu
Woolley et al. (2010) Science: collective intelligence tim tidak berkorelasi kuat dengan IQ rata-rata anggota; lebih berkorelasi dengan turn-taking equality dan social sensitivity.
Korelasi lemah
c-factor vs IQ rata-rata anggota r=0,18 (lemah).
Korelasi kuat
c-factor vs social sensitivity anggota r=0,42; vs turn-taking equality r=0,37.
- Pertanyaan pemantik: "Pernahkah Anda melihat tim 'all-stars' (individu jenius) yang gagal? Apa penyebabnya?"
Pertanyaan pemantik: Pernahkah Anda melihat tim 'all-stars' (individu jenius) yang gagal? Apa penyebabnya?
Visual: Grid2 + callout.
Glosarium: c-factor (faktor kecerdasan kolektif — ukuran kemampuan tim memecahkan beragam tugas; Woolley et al. 2010; analog IQ untuk individu).
Rujukan: Woolley et al. (2010).
Bagian 1 · 1/4
Tim EI Druskat-Wolff
Tiga norma EI tim
Diskusi kelas: Apa norma tim yang Anda anggap berkontribusi pada EI kolektif? Bagaimana norma itu terbentuk?
Druskat-Wolff: Tiga Norma EI Tim
Druskat-Wolff (2001) mendefinisikan EI tim sebagai tiga norma yang membangun kapasitas kelola emosi di tiga level.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Druskat-Wolff: Tiga Norma EI Tim", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Interpersonal level
kelola emosi antar anggota (norma: dengar aktif, beri feedback SBI, hadapi konflik konstruktif).
Group-boundaries level
kelola emosi terhadap identitas tim (norma: jaga tim dari blame eksternal, hadapi konflik internal secara langsung, proses emosi kolektif).
External level
kelola emosi terhadap stakeholder luar (norma: cari perspektif luar,proactive dengan kritik eksternal, jaga reputasi tim).
Pesan: EI tim efektif di tiga level — internal antar anggota, identitas tim, dan stakeholder luar; banyak tim hanya fokus satu level.
Visual: Grid2 2x2 + callout.
Glosarium: Norm (norma — aturan informal yang dijalankan anggota tim; dapat eksplisit (tertulis) atau implisit; Druskat-Wolff fokus pada norma yang membangun kapasitas EI tim).
Rujukan: Druskat & Wolff (2001).
Lima Kompetensi Kolektif EI Tim
Kompetensi kolektif EI tim yang muncul dari norma Druskat-Wolff.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Lima Kompetensi Kolektif EI Tim", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Team Self-Awareness
tim secara kolektif sadar mood dan dynamics sendiri; ritus check-in emosi.
Team Self-Management
tim mengelola emosi sendiri tanpa tergantung leader; pemulihan setelah setback.
Team Social Awareness
tim sadar dampaknya pada stakeholder lain; membaca emosi customer/senior.
Team Relationship Management
tim mengelola relasi lintas tim dan stakeholder; kolaborasi proaktif.
Conflict Resolution Competence
tim menyelesaikan konflik internal tanpa eskalasi; Thomas-Kilmann fleksibel.
Pesan: lima kompetensi ini BUKAN agregat individu — properti tim yang muncul dari ritus dan norma.
Visual: Card 5 + callout.
Glosarium: Team self-awareness (kesadaran diri tim — kapasitas tim untuk secara kolektif mengamati dan menamai mood, dynamics, dan pola sendiri; analog individual self-awareness untuk tim).
Rujukan: Druskat & Wolff (2001).
Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: Team EI Inventory Skor — Diagnostik Lima Kompetensi Kolektif
Skenario: Sebuah tim 8 anggota mengisi Team EI Inventory (5 kompetensi, 4 item per kompetensi, skala 1-7). Mean per kompetensi: Team Self-Awareness 4,8; Team Self-Management 4,2; Team Social Awareness 5,1; Team Relationship Management 3,9; Conflict Resolution 4,4. Hitung mean dan binding constraint.
- Tabel langkah (dtab):
Kompetensi
Skor (1-7)
% max
Team Self-Awareness
4,8
69%
Team Self-Management
4,2
60%
Team Social Awareness
5,1
73%
Team Relationship Management
3,9
56%
Conflict Resolution
4,4
63%
**Mean team EI**
(4,8 + 4,2 + 5,1 + 3,9 + 4,4) ÷ 5
**4,48 (64%)**
**Binding constraint**
min(4,8; 4,2; 5,1; 3,9; 4,4)
**3,9 (Team Relationship)**
Kesimpulan: Mean 4,48 (64%) — sedang. Binding constraint: Team Relationship Management 3,9 (56%) — tim kuat di internal (self & social awareness) tetapi lemah di relasi lintas tim. Prioritas: cross-functional collaboration ritus.
Visual: Tabel 7 baris ber-fragment; bar SVG per kompetensi.
Rujukan: Druskat & Wolff (2001).
Bagian 2 · 2/4
Kompetensi Kolektif Tim
c-factor Woolley · Reading the Mind in the Eyes
Diskusi kelas: Apa yang membuat satu tim lebih cerdas secara kolektif dari tim lain, meskipun individu mirip?
Collective Intelligence Factor Woolley (c-factor)
Woolley et al. (2010) Science: collective intelligence factor (c-factor) tim — analog IQ untuk individu.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Collective Intelligence Factor Woolley (c-factor)", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Definisi
c-factor = kemampuan tim untuk memecahkan beragam tugas (verbal, visual, logis); konsisten lintas tugas.
Metodologi
Woolley menguji tim pada baterai tugas beragam dan menemukan faktor umum yang menjelaskan performa lintas tugas.
Implikasi
c-factor lebih baik memprediksi performa tim kompleks daripada IQ anggota terbaik atau rata-rata.
Pesan: tim memiliki 'IQ kolektif' yang dapat diukur dan di-develop; bukan takdir dari anggota.
Visual: SVG scatter + Card 3 + callout.
Glosarium: Factor analysis (analisis faktor — teknik statistik untuk mengidentifikasi variabel latent yang menjelaskan korelasi antar variabel observed; Woolley menggunakan ini untuk mengidentifikasi c-factor).
Rujukan: Woolley et al. (2010).
Empat Prediktor c-factor: Social Sensitivity, Turn-Taking, Persentase Perempuan, EI
Woolley menemukan empat prediktor c-factor tim — semuanya dynamics tim, bukan individu.
r
0,42
r
0,37
r
0,30
Turn-taking equality
distribusi bicara yang seimbang; r=0,37 dengan c-factor.
Persentase perempuan
tim dengan lebih banyak perempuan cenderung c-factor lebih tinggi (mediation via social sensitivity).
EI rata-rata
kompetensi emosi individu yang kontribusi; r=0,30 dengan c-factor.
Pesan: c-factor dipengaruhi dynamics tim (turn-taking, social sensitivity) lebih kuat daripada IQ individu — implikasi untuk design tim.
Visual: Grid2 2x2 + callout.
Glosarium: Reading the Mind in the Eyes test (tes membaca pikiran dari mata — instrumen Baron-Cohen untuk mengukur social sensitivity; partisipan identifikasi emosi dari foto mata saja; prediktor c-factor).
Rujukan: Woolley et al. (2010).
Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: c-factor Estimasi Tim — Reading the Mind in the Eyes Test Aggregate
Skenario: Reading the Mind in the Eyes test (36 item, max skor 36) diisi 6 anggota tim. Skor individu: 28, 30, 25, 27, 32, 26. Hitung mean dan standard deviation untuk estimasi social sensitivity tim (prediktor c-factor).
- Tabel langkah (dtab):
Kesimpulan: Mean social sensitivity 28,0 (78%) — tinggi. SD 2,45 — relatif homogen (anggota tim mirip). Prediksi c-factor: rata-rata-tinggi berdasarkan prediktor Woolley.
Visual: Tabel 9 baris ber-fragment; bar SVG per anggota.
Rujukan: Baron-Cohen et al. (2001) Reading the Mind in the Eyes.
Bagian 3 · 3/4
Project Aristotle Google
Lima faktor tim efektif
Diskusi kelas: Menurut Anda, apa faktor terpenting yang membuat satu tim lebih efektif dari yang lain?
Project Aristotle: Lima Faktor Tim Efektif
Google Project Aristotle (2012-2015) menganalisis 180+ tim untuk menemukan lima faktor tim efektif.
tahun
2012
tahun
2015
Dependability
anggota menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas tinggi tepat waktu.
Structure & clarity
peran, rencana, tujuan jelas untuk setiap anggota.
Meaning
pekerjaan secara personal bermakna untuk setiap anggota.
Pesan: psychological safety FAKTOR #1, lebih kuat dari yang lain; empat lain juga penting tetapi tidak menggantikan PS.
Visual: Grid2 2x3 dengan ranking + callout.
Glosarium: Project Aristotle (Proyek Aristotle — inisiatif Google People Operations 2012-2015 untuk mengidentifikasi faktor tim efektif; dinamai dari Aristoteles "whole is greater than sum of parts").
Rujukan: Google Re:Work (2016).
Psychological Safety #1 — Bukti dan Mekanisme
Mengapa psychological safety menjadi faktor #1? Bukti empiris dan mekanisme penjelasan.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Psychological Safety #1 — Bukti dan Mekanisme", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Bukti empiris
tim dengan PS tinggi outperform PS rendah pada revenue generation, innovation rate, retention — konsisten lintas industri.
Mekanisme pembelajaran
PS memungkinkan tim mengakui kesalahan dan belajar; tanpa PS, kesalahan disembunyikan dan pembelajaran terhenti.
Mekanisme inovasi
PS memungkinkan anggota mengusul ide "gila" tanpa takut diremehkan; inovasi lahir dari psychological risk-taking.
Pesan: PS bukan 'soft factor' — ini prediktor paling kuat outcomes hard (revenue, innovation, retention).
Visual: Card 3 + callout.
Glosarium: —
Rujukan: Edmondson (1999, 2018); Google Re:Work (2016).
Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: Team Effectiveness Regression — Lima Faktor Project Aristotle
Kesimpulan: PS berkontribusi 30,9% — terbesar; melebihi dua faktor berikutnya digabung. R² model ~0,58 — model menjelaskan 58% varians effectiveness (besar untuk model sosial).
Visual: Tabel 7 baris ber-fragment; bar SVG β per faktor.
Rujukan: Google Re:Work (2016); interpretasi data.
Bagian 4 · 4/4
Ritus Tim Membangun EI Kolektif
Check-in · AAR · Retrospective
Diskusi kelas: Ritus tim apa yang paling efektif yang pernah Anda alami? Bagaimana ritus itu dibangun?
Lima Ritus Tim untuk EI Kolektif
Lima ritus praktis yang membangun EI kolektif dan psychological safety tim.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Lima Ritus Tim untuk EI Kolektif", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Check-in emosi awal meeting
2 menit per anggota untuk share energi/mood; build awareness.
Retrospective
sprint/agile retro untuk refleksi tim: apa yang berjalan baik, apa yang dapat diperbaiki, action items.
After-Action Review (AAR)
militer US; setelah event penting, refleksi structured: apa rencana, apa aktual, apa yang belajar.
sesi khusus di mana anggota berbagi kegagalan dan pelajaran; build PS untuk kesalahan.
Pesan: ritus harus konsisten dan ritmis — bukan event one-off; build kebiasaan tim dari waktu.
Visual: Grid2 2x3 + callout.
Glosarium: After-Action Review (AAR / Tinjauan Pasca-Aksi — praktik refleksi structured US Army setelah event; empat pertanyaan: apa rencana, apa aktual, apa yang belajar, apa yang akan diubah; adaptasi corporate).
Rujukan: Edmondson (2018); praktik agile/AAR.
After-Action Review (AAR) dan Retrospective
Dua ritus refleksi paling kuat: AAR dan Retrospective — bagaimana memfasilitasi dengan baik.
Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "After-Action Review (AAR) dan Retrospective", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Pesan: kedua ritus memerlukan PS untuk efektif — anggota harus merasa aman jujur tentang kesalahan; leader harus model dengan jujur pertama.
Visual: Grid2 + callout.
Glosarium: Facilitator (fasilitator — pihak netral yang memandu proses diskusi tanpa kontribusi konten; peran kunci dalam AAR dan retrospective agar semua anggota berbicara tanpa bias).
Rujukan: Edmondson (2018); praktik agile/AAR.
Studi Kasus: Project Aristotle Google — Empat Tahap Riset 2012-2015
Timeline Project Aristotle Google 2012-2015 dan implementasi temuan.
Tahun
Momen
Aktivitas riset
Temuan
2012
Inisiasi: "Apa makes tim Google efektif?"
People Analytics team bentuk taskforce; review literatur
Studi kualitatif dynamics tim; uji causal mechanism
PS mekanisme via learning behavior
2015-2016
Toolk internal dan eksternal
Manager toolkit; Google Re:Work publish
Publikasi temuan; ribuan organisasi adopt
Pesan: Project Aristotle adalah contoh riset people analytics terbesar; temuan PS sebagai #1 divalidasi lintas ribuan tim global.
Visual: Timeline 4 baris + callout.
Glosarium: People Analytics (People Analytics / HR Analytics — pendekatan berbasis data untuk pengambilan keputusan SDM; menggunakan statistik dan data science; Project Aristotle adalah contoh klasik).
Rujukan: Google Re:Work (2016).
Ringkasan & Persiapan Pertemuan 14
Druskat-Wolff EI tim
tiga norma (interpersonal, group-boundaries, external); EI tim bukan rata-rata individu.
Collective intelligence (c-factor)
Woolley; prediktor: social sensitivity, turn-taking equality, persentase perempuan, EI.
Project Aristotle
lima faktor tim efektif dengan psychological safety #1; ritus praktis (check-in, AAR, retro). - Lead highlight: "Bawa satu ritus tim baru yang akan Anda coba minggu depan dengan tim Anda sendiri." - Callout: **Persiapan P14**: review seluruh materi P...
Bawa satu ritus tim baru yang akan Anda coba minggu depan dengan tim Anda sendiri.
Coba Sendiri: Trust Repair Lewicki 3-Tahap
Simulasikan trust repair pada skenario pelanggaran trust: pilih kombinasi tahap Lewicki-Bunker (Acknowledgment, Restitution, Behavioral Change) dan amati tingkat recovery trust untuk pelanggaran kompetensi vs integritas.