stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-05
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 5: Cara Kerja Emosi: mekanisme emosi dan pengaruhnya terhadap perilaku serta pengambilan keputusan
RPS minggu 1 · 2x50 menit

Cara Kerja Emosi dan Keputusan Manajerial

Pertemuan 5 — Siklus Emosi, Somatic Marker, dan Bias Keputusan

Setiap keputusan manajerial membawa jejak emosi: dari appraisal otomatis di amigdala hingga somatic marker di PFC ventromedial. Pasien Damasio tanpa emosi justru mengambil keputusan buruk — emosi bukan lawan rasionalitas, tetapi informasi esensial.

Peta Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan **mampu menerapkan pemahaman cara kerja emosi untuk membaca dinamika emosi di tempat kerja** (Sub-CPMK 5).

  • Lead: "Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan **mampu menerapkan pemahaman cara kerja emosi untuk membaca dinamika emosi di tempat kerja** (Sub-CPMK 5)."
  • Empat indikator (num-box):
  • 1. Menjelaskan siklus emosi dengan contoh kerja
  • 2. Membedakan emosi dasar vs sekunder (5 contoh)
  • 3. Menjelaskan tiga pola pengaruh emosi pada keputusan
  • 4. Mengidentifikasi empat bias keputusan akibat emosi
Rujukan:

Motivasi: Mengapa Memahami Cara Kerja Emosi Mengubah Keputusan Manajerial

Keputusan manajerial tanpa emosi adalah keputusan buruk — Damasio (1994) menunjukkan pasien lesi PFC ventromedial yang 'rasional' justru mengambil keputusan merugikan.

Affect-as-information (Schwarz-Clore)

mood sebagai heuristic cepat — bahaya bila mood tidak relevan dengan tugas.

Somatic marker (Damasio)

tubuh menyimpan jejak emosi dari keputusan lampau sebagai intuisi yang memandu. - Pertanyaan pemantik: "Kapan terakhir Anda membuat keputusan manajerial yang dipengaruhi mood? Apakah hasilnya optimal?"

Pertanyaan pemantik: Kapan terakhir Anda membuat keputusan manajerial yang dipengaruhi mood? Apakah hasilnya optimal?
Visual: Grid2 dua kartu + callout pertanyaan.
Glosarium: Affect-as-information (afek sebagai informasi — model Schwarz-Clore 1983 bahwa orang menggunakan mood sebagai shortcut informasi untuk keputusan).
Rujukan: Damasio (1994); Schwarz & Clore (1983).
Bagian 1 · 1/4
Anatomi dan Siklus Emosi
Siklus emosi · Appraisal primer vs sekunder
Diskusi kelas: Apakah marah selalu merusak keputusan, atau ada kondisi di mana marah membantu?

Siklus Emosi: Pemicu → Appraisal → Perasaan → Ekspresi → Konsekuensi

Siklus emosi adalah rangkaian lima tahap yang dapat diintervensi di tiap titik.

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Siklus Emosi: Pemicu → Appraisal → Perasaan → Ekspresi → Konsekuensi", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Pemicu (trigger)

kejadian eksternal (email tegas dari atasan) atau internal (ingatan).

Appraisal

interpretasi otomatis (mis. "dia tidak menghargai saya").

Perasaan (feeling)

sensasi subjektif (marah, kecewa).

Ekspresi

wajah, suara, postur, kata.

Konsekuensi

tindakan (balas email tegas, hindari, konfrontasi).

Titik intervensi terbaik: appraisal (reinterpretasi) sebelum ekspresi; Gross (1998) memetakan lima titik regulasi.
Visual: SVG siklus 5 tahap + callout.
Glosarium: Gross emotion regulation model (model regulasi emosi Gross — kerangka 5 titik intervensi: situation selection, situation modification, attentional deployment, cognitive change, response modulation).
Rujukan: Gross (1998); Scherer (2001).

Komponen Appraisal: Primer vs Sekunder (Lazarus)

Lazarus (1991) membedakan appraisal primer (relevansi & ancaman) dari appraisal sekunder (sumber daya & opsi).

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Komponen Appraisal: Primer vs Sekunder (Lazarus)", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Appraisal primer

"Apakah ini relevan untuk saya? Apakah ini ancaman atau peluang?" — menentukan valensi dan intensitas awal.

Appraisal sekunder

"Apakah saya punya sumber daya untuk menghadapinya? Apa opsi saya?" — menentukan respons coping.

Reappraisal

evaluasi ulang setelah informasi baru — titik intervensi EI.

EI tinggi: appraisal primer cepat, appraisal sekunder akurat, reappraisal cepat saat informasi baru muncul.
Visual: Card 3 + callout.
Glosarium: Coping (coping — strategi mengelola stres; problem-focused coping menyelesaikan masalah, emotion-focused coping mengelola emosi).
Rujukan: Lazarus (1991).

Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: Emosi Profile — Intensitas × Frekuensi × Durasi (Skoring 3 Dimensi)

Skenario: Seorang manajer melacak emosi marah selama 2 minggu (10 hari kerja). Data: hari 1 (intensitas 7/10, durasi 30 menit), hari 2 (intensitas 5, durasi 15 menit), hari 3 (tidak marah), hari 4 (intensitas 8, durasi 60 menit), hari 5 (tidak marah). Minggu kedua: hari 6 (intensitas 6, durasi 20 menit), hari 7 (tidak marah), hari 8 (intensitas 4, durasi 10 menit), hari 9 (tidak marah), hari 10 (intensitas 9, durasi 90 menit). Hitung emosi burden score = mean intensitas × frekuensi (hari marah) × mean durasi (jam). - Tabel langkah (dtab):
LangkahPerhitunganNilai
1Mean intensitas hari marah = (7+5+8+6+4+9) ÷ 66,5/10
2Frekuensi hari marah dari 10 hari6 hari (60%)
3Mean durasi = (30+15+60+20+10+90) ÷ 637,5 menit (0,625 jam)
4Emosi burden score = 6,5 × 0,6 × 0,6252,44 (skor 0-10)
5Interpretasi: burden ≥ 3 = tinggi; 2-3 sedang; <2 rendahsedang
Kesimpulan: Emosi burden marah manajer 2,44 — sedang. Pola: hari dengan intensitas tinggi (8-9) cenderung durasi panjang (60-90 menit) — korelasi intensitas-durasi.
Visual: Tabel 5 baris ber-fragment; bar SVG 10 hari grayscale.
Rujukan: Praktik psikologi klinis.
Bagian 2 · 2/4
Emosi Dasar dan Sekunder
Ekman 7 · Mood vs emosi vs affect
Diskusi kelas: Bagaimana membedakan intuisi (somatic marker sehat) dari bias afektif?

Tujuh Emosi Dasar Ekman + Emosi Sekunder

Ekman (2003) mengusulkan tujuh emosi dasar universal lintas budaya, yang dapat berblend menjadi emosi sekunder.

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Tujuh Emosi Dasar Ekman + Emosi Sekunder", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Emosi sekunder lebih kompleks secara kognitif, memerlukan appraisal sekunder; muncul lebih lambat tetapi lebih tahan lama.
Visual: Grid2 dua kartu + SVG 7 wajah grayscale.
Glosarium: Kontempt (contempt — emosi meremehkan; satu dari tujuh emosi dasar Ekman; sering muncul dalam konflik relasi sebagai tanda rasa superior).
Rujukan: Ekman (2003).

Mood vs Emosi vs Affect: Tiga Level

Tiga level pengalaman emosional yang sering tertukar: mood, emosi, dan affect.

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Mood vs Emosi vs Affect: Tiga Level", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Affect

keadaan hedonik umum (positif/negatif); paling dasar, paling samar.

Emosi

singkat (detik-jam), intens, terfokus pada objek spesifik (marah pada email X).

Mood

berlangsung lama (jam-hari), samar, tanpa pemicu jelas (mood buruk tanpa sebab).

Implikasi: mood lebih memengaruhi keputusan global; emosi lebih memengaruhi keputusan spesifik. EI tinggi mengenali keduanya.
Visual: Card 3 + callout.
Glosarium: Affect (afek — keadaan hedonik umum positif/negatif; pengalaman emosional paling dasar).
Rujukan: Forgas (1995).

Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: Bias Affect-as-Information — Selisih Penilaian 'Kualitas Hidup' Mood Positif vs Negatif

Skenario: Replikasi Schwarz & Clore (1983). Subjek mood positif (dapat hadiah kecil) vs mood negatif (gagal tugas kecil) menilai kepuasan hidup mereka pada skala 1-10. Mood positif: 7,8 (n=30); mood negatif: 5,4 (n=30). Hitung selisih dan ukuran efek. - Tabel langkah (dtab):
LangkahPerhitunganNilai
1Mean mood positif7,8
2Mean mood negatif5,4
3Selisih mean = 7,8 − 5,42,4
4Pooled SD ≈ 1,21,2
5Cohen d = selisih ÷ pooled SD = 2,4 ÷ 1,22,0 (sangat besar)
Kesimpulan: Bias affect-as-information sangat besar (d=2,0) — mood menambah 2,4 poin pada penilaian kepuasan hidup yang seharusnya stabil. Mengapa berbahaya: keputusan manajerial juga terkontaminasi mood.
Visual: Tabel 5 baris ber-fragment; bar SVG dua kondisi grayscale.
Rujukan: Schwarz & Clore (1983).
Bagian 3 · 3/4
Emosi dan Pengambilan Keputusan
Tiga pola · Somatic marker · Pasien Elliot
Diskusi kelas: Kapan Anda harus menunda keputusan karena mood buruk, dan kapan harus lanjut?

Tiga Pola Pengaruh Emosi pada Keputusan

Lerner et al. (2015) dalam *Annual Review of Psychology* memetakan tiga pola pengaruh emosi pada keputusan.

tahun
2015
tahun
2001
Tiga pola tidak bertentangan — affect-as-information cepat, appraisal tendency spesifik, somatic marker mendalam.
Visual: Grid3 tiga kartu + callout.
Glosarium: Appraisal tendency framework (kerangka kecenderungan appraisal — Lerner-Keltner 2001; emosi spesifik menyalakan kecenderungan kognitif yang memengaruhi keputusan, mis. takut membuat pesimis risiko).
Rujukan: Lerner et al. (2015); Schwarz & Clore (1983); Lerner & Keltner (2001).

Somatic Marker Damasio (Pasien Elliot)

Damasio (1994) mempelajari pasien Elliot dengan lesi PFC ventromedial — 'rasional' tetapi mengambil keputusan buruk karena somatic marker hilang.

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Somatic Marker Damasio (Pasien Elliot)", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Kasus Elliot

tumor PFC ventromedial diangkat; IQ dan logika normal, tetapi keputusan hidup dan karier berantakan.

Mekanisme

tubuh menyimpan jejak emosi (somatic marker) dari keputusan lampau yang membimbing keputusan baru tanpa analisis sadar.

Implikasi

intuisi yang sehat bukan mistik — itu jejak pengalaman emosional yang membimbing keputusan kompleks di bawah ambang kesadaran.

Tanpa emosi, rasionalitas lumpuh — Damasio menunjukkan emosi adalah informasi esensial, bukan lawan.
Visual: SVG otak + Card 3 + callout.
Glosarium: Somatic marker hypothesis (hipotesis somatic marker — Damasio 1994; tubuh menyimpan jejak emosi yang membimbing keputusan).
Rujukan: Damasio (1994).

Hitung dari Nol: Hitung dari Nol: Somatic Marker Weight dalam Keputusan Ambigu — Eksperimen Iowa Gambling Task

Skenario: Iowa Gambling Task (Bechara et al. 1997). Peserta sehat vs pasien lesi PFC ventromedial memilih dari 4 deck kartu. Deck A/B: imbalan tinggi tapi rugi besar (rugi bersih); Deck C/D: imbalan rendah tapi rugi kecil (untung bersih). Hitung proporsi pilihan menguntungkan setelah 100 kartu. - Tabel langkah (dtab):
KelompokPilihan deck menguntungkan (C/D) dari 100 kartuPilihan deck merugikan (A/B)Somatic marker weight (selisih dari 50%)
Peserta sehat70 kartu30 kartu+20% (intuisi membimbing ke C/D)
Pasien lesi vmPFC45 kartu55 kartu−5% (tidak ada pembimbing somatic)
Selisih70 − 4525%
Kesimpulan: Peserta sehat mengandalkan somatic marker (respons kulit sebelum sadar) untuk memilih deck menguntungkan 70%; pasien tanpa somatic marker memilih lebih acak (45%). Bukti langsung peran emosi dalam keputusan ambigu.
Visual: Tabel 3 baris ber-fragment; bar SVG dua kelompok grayscale.
Rujukan: Bechara et al. (1997).
Bagian 4 · 4/4
Bias Emosi di Tempat Kerja
Empat bias · Mini-kasus credit committee
Diskusi kelas: Apakah AI bisa menggantikan affect-as-information dalam keputusan manajerial?

Empat Bias Keputusan Akibat Emosi

Empat bias keputusan yang paling sering muncul di tempat kerja, dengan intervensi EI.

tahun
2001
tahun
1998
Anger bias

marah membuat pesimis terhadap orang lain tetapi optimis terhadap risiko — bahaya di negosiasi.

Fear bias

takut membuat pesimis terhadap risiko secara umum — bahaya di investasi dan inovasi.

Mood-congruent recall

mood buruk memudahkan ingat kejadian buruk — bias evaluasi performance review.

Ego depletion

regulasi emosi berlebih menguras willpower — keputusan buruk di akhir hari.

Intervensi: kesadaran separuh solusi; tunda keputusan irreversibel saat mood ekstrem; jadwalkan keputusan penting di pagi hari.
Visual: Grid2 2x2 + callout.
Glosarium: Ego depletion (deplesi ego — Baumeister 1998; willpower adalah sumber daya terbatas yang terkuras oleh regulasi diri; memengaruhi keputusan berikutnya).
Rujukan: Lerner & Keltner (2001); Baumeister et al. (1998).

Mini-Kasus: Credit Committee Mood Bias

Mini-kasus: credit committee yang reject pinjaman baik karena mood buruk sore hari — affect-as-information di aksi.

Refleksi diskusi: Setelah mempelajari "Mini-Kasus: Credit Committee Mood Bias", identifikasi satu implikasi praktis untuk konteks organisasi Anda dan satu pertanyaan kritis yang masih perlu diuji secara empiris.
Intervensi: jadwalkan committee pagi hari; sadarkan diri
Visual: Grid2 + callout.
Glosarium: Misattribution of affect (kesalahan atribusi afek — fenomena menyalaarkan afek (mood) ke objek yang sebenarnya tidak terkait; mis. mood buruk disalahkan ke kualitas pinjaman).
Rujukan: Schwarz & Clore (1983); studi mood-keputusan.

Studi Kasus: Credit Committee Mood Bias di Bank Indonesia

Timeline investigasi mood bias di credit committee bank Indonesia (anonim).

TahapMomenBias yang TerjadiIntervensi
Pra-2020Committee sore hari setelah meeting panjangAffect-as-information, ego depletionTidak disadari
2020-2021Audit: 15% reject ternyata layakMood-congruent recall + anger biasInvestigasi pola
2022Eksperimen: committee pagi vs soreReject rate sore 22% lebih tinggiValidasi bias
2023Implementasi: committee pagi + checklistReject rate setara; kualitas keputusan naikStruktur sebagai intervensi
Pesan: EI bukan hanya keterampilan individu — struktur keputusan adalah intervensi EI tingkat sistem.
Visual: Timeline 4 baris + callout.
Glosarium:
Rujukan: Studi internal bank (anonim); Schwarz & Clore (1983).

Ringkasan & Persiapan Pertemuan 6

Siklus emosi 5 tahap
pemicu, appraisal, perasaan, ekspresi, konsekuensi; titik intervensi: reappraisal.
Tiga pola pengaruh emosi
affect-as-information, appraisal tendency, somatic marker.
Empat bias
anger, fear, mood-congruent recall, ego depletion; intervensi: struktur keputusan. - Lead highlight: "Bawa kerangka ini untuk audit keputusan Anda sendiri minggu depan — mana yang dipengaruhi emosi?" - Callout: **Persiapan P6**: baca Kabat-Zinn (1990...

Bawa kerangka ini untuk audit keputusan Anda sendiri minggu depan — mana yang dipengaruhi emosi?

Coba Sendiri: Indeks Keamanan Psikologis Tim

Jawab tujuh pernyataan gaya Edmondson tentang tim Anda (kantor cabang, toko, atau unit UMKM) dan lihat indeks keamanan psikologis tim Anda, lengkap dengan interpretasi berbasis temuan Google Project Aristotle.