Manajemen Risiko Kredit — Magister Manajemen FEB UNDIP
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 13: menjelaskan mekanisme credit risk transfer (sekuritisasi, CDS, CDO) dan pelajaran dari krisis 2008.
Jam ke-1 (50 menit)
Konsep CRT: definisi & tujuan
Tiga mekanisme CRT (overview)
Capital relief dari sekuritisasi (HDN)
Sekuritisasi: SPV + tranches + waterfall
Jam ke-2 (50 menit)
Distribusi loss ke tranches (HDN)
Derivatif kredit: CDS, TRS, CDO
Pelajaran krisis 2008 & reformasi
CRT di Indonesia (EBA, Sarana Sekuritisasi)
Posisi alur: P12 (regulasi Basel III) → transfer risiko ke pihak ketiga → P14 (studi kasus terintegrasi).
Motivasi: Sekuritisasi UMKM Indonesia
CRT bukan konsep asing di Indonesia — EBA dan sekuritisasi UMKM sudah berjalan, dengan potensi besar untuk capital relief bank.
Praktik di Indonesia
EBA (Efek Beragunan Aset) untuk KPR, UMKM, receivables
PT Sarana Sekuritisasi Indonesia (BUMN fasilitator)
POJK sekuritisasi: risk retention, disclosure
EBA syariah untuk pasar Islam
Potensi & Tantangan
Capital relief untuk bank menyalurkan lebih banyak UMKM
Likuiditas pasar investor masih terbatas
Data historical untuk rating kurang komprehensif
Pasar CDS domestik belum berkembang
Indonesia belajar dari krisis 2008: mengutamakan struktur sederhana dan transparansi daripada kompleksitas. Lihat kontrak derivatif dan option pricing.
Bagian 1 · 1/4
Konsep CRT
Diskusi kelas: mengapa bank ingin mentransfer risiko kredit ke pihak ketiga? Apa trade-off dari transfer versus retention?
Definisi & Tujuan CRT
Credit Risk Transfer adalah mekanisme memindahkan risiko kredit dari bank ke investor pihak ketiga — bukan menghilangkan risiko, tapi redistribusi.
Fee income — servicing fee dari portofolio ditransfer
Filosofi Dasar
CRT ≠ menghilangkan risiko sistemik
CRT = redistribusi risiko ke pihak lain
Bank kehilangan upside, dapat fee + capital relief
Investor dapat return berbeda sesuai risk appetite
CRT menciptakan pasar untuk risiko kredit — investor dengan risk appetite berbeda dapat memilih profil return yang sesuai.
Tiga Mekanisme CRT (Overview)
Tiga mekanisme CRT yang bekerja melalui jalur berbeda — dipilih berdasarkan tujuan dan struktur yang diinginkan.
Mekanisme
Cara Kerja
Instrumen Utama
1. Sekuritisasi
Jual portofolio ke SPV, terbitkan surat berharga
MBS, ABS, EBA
2. Derivatif Kredit
Kontrak proteksi default, tidak jual underlying
CDS, TRS, CDO
3. Penjualan Langsung
Jual individual ke bank/investor lain
Loan sale, assignment
Sekuritisasi = fundamental redistribusi; derivatif = synthetic transfer; penjualan langsung = individual.
Hitung dari Nol: Capital Relief dari Sekuritisasi
Skenario: Bank BCD memiliki portofolio KPR Rp 1 triliun (risk weight 35%). Bank mempertahankan equity tranche Rp 50 M (5%, risk weight 1.250%) dan mentransfer sisanya Rp 950 M ke investor melalui sekuritisasi. Hitung modal sebelum dan sesudah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. RWA awal (portofolio penuh)
$1.000 \times 0{,}35$
Rp 350 M
2. RWA retained equity tranche
$50 \times 12{,}50$
Rp 625 M
3. RWA setelah sekuritisasi
Hanya retained equity tranche
Rp 625 M
4. Modal awal
$0{,}08 \times 350$
Rp 28 M
5. Modal setelah
$0{,}08 \times 625$
Rp 50 M
6. Selisih modal
$50 - 28$
$+22\;\text{M}$ (NAIK)
Insight
Modal NAIK Rp 22 M
Risk weight equity tranche 1.250% justru meningkatkan modal — bank harus transfer mayoritas risiko untuk capital relief sesuai Significant Risk Transfer test Basel III.
Bagian 2 · 2/4
Sekuritisasi
Diskusi kelas: mengapa sekuritisasi menggunakan tranches (tidak menjual satu paket)? Apa keuntungan struktur waterfall?
Proses Sekuritisasi (Cash Flow)
Sekuritisasi cash flow adalah proses mengubah portofolio kredit menjadi surat berharga dengan struktur SPV dan tranches.
Langkah
Aktor/Aktivitas
Karakteristik
1. Originator
Bank dengan portofolio kredit (mis. 1.000 KPR)
Sumber aset
2. True sale
Originator jual portofolio ke SPV
Off-balance sheet; bankruptcy remote
3. SPV
Special Purpose Vehicle (trust/LLC)
Entitas hukum terpisah
4. Issuance
SPV terbitkan surat berharga (tranches)
Senior, mezzanine, equity
5. Servicing
Originator tetap kelola kredit operasional
Servicing fee
6. Waterfall
Pembayaran debitur mengalir ke investor
Senior first, equity last
True sale penting untuk bankruptcy remote — jika originator bangkrut, portofolio tidak masuk bankruptcy estate.
Tranching: Senior, Mezzanine, Equity
Tranching membagi risiko portofolio ke kelas dengan profil return-risiko berbeda — inovasi finansial yang powerful tetapi kompleks.
Tranche
% Portofolio
Risk Weight
Investor Tipikal
Equity / First Loss
0–5%
1.250% (deduction)
Originator retain / hedge fund
Mezzanine
5–20%
150–800%
Investor sophisticated
Senior
80–95%
20–100% (rating AAA)
Pension, insurance, bank treasury
Waterfall: pembayaran cash flow ke senior first (coupon), lalu mezzanine, equity last. Loss waterfall kebalikan: equity first loss, mezzanine second, senior terakhir.
Hitung dari Nol: Distribusi Loss ke Tranches
Skenario: Sekuritisasi portofolio Rp 1 triliun dengan struktur: Equity Rp 30 M (3%), Mezzanine Rp 100 M (10%), Senior Rp 870 M (87%). Total loss aktual Rp 80 M. Distribusikan loss ke tranches sesuai waterfall.
Langkah
Perhitungan
Loss yang Diserap
1. Equity habis lebih dulu
Seluruh equity Rp 30 M
Rp 30 M ($100\%$ equity)
2. Sisa loss
$80 - 30$
Rp 50 M
3. Mezzanine serap berikutnya
$50\;\text{dari}\;100$
Rp 50 M ($50\%$ mezzanine)
4. Sisa Mezzanine
$100 - 50$
Rp 50 M
5. Senior tersentuh?
$80 < 30 + 100 = 130$
Tidak tersentuh
6. Total loss terserap
$\text{Equity } 30 + \text{Mezzanine } 50$
Rp 80 M
Insight
Senior Rp 870 M AMAN
Tranching memberi perlindungan senior via subordinasi. Senior hanya tersentuh jika loss > Rp 130 M (13% portofolio). Untuk KPR normal (loss 1–2%), senior sangat aman → rating AAA.
Coba Sendiri: CDS Spread → Probabilitas Gagal Bayar
CDS adalah termometer pasar untuk risiko kredit suatu reference entity. Geser spread CDS dan recovery rate untuk menerjemahkan premi tahunan menjadi probabilitas default kumulatif — dasar pricing credit risk transfer.
Bagian 3 · 3/4
Derivatif Kredit
Diskusi kelas: apa perbedaan CDS dengan asuransi tradisional? Mengapa naked CDS menjadi kontroversial?
Credit Default Swap (CDS)
CDS adalah kontrak derivatif yang membayar jika reference entity default — seperti asuransi default.
Mekanisme CDS
Protection buyer bayar premi periodik ke seller
Jika reference entity default → seller bayar paritas − recovery
Jika tidak default hingga maturity → kontrak berakhir
Settlement: cash atau physical delivery
Use Case
Hedging — lindungi exposure existing
Spekulasi — naked CDS tanpa underlying
Arbitrase — CDS spread vs bond spread
Pricing: spread basis points per tahun
Contoh: bank exposure Rp 100 M ke PT ABC, beli CDS premi 2%/tahun. Jika ABC default (recovery 40%), bank terima Rp 60 M dari seller → net zero loss (selain premi).
Total Return Swap (TRS)
TRS adalah derivatif yang mentransfer total return aset (coupon + capital gain/loss) — lebih komprehensif dari CDS yang hanya default.
Mekanisme TRS
Total return payer (pemilik aset) transfer semua return aset
Total return receiver bayar floating (JIBOR + spread)
Jika aset default → receiver menyerap loss
Jika harga naik → receiver dapat capital gain
Perbedaan dari CDS
CDS hanya bayar saat default event
TRS bayar untuk setiap perubahan nilai
Termasuk price decline tanpa default
Lebih komprehensif tetapi lebih kompleks
Use case: bank transfer economic exposure tanpa jual aset; investor dapat synthetic exposure tanpa modal penuh (leverage).
Collateralized Debt Obligation (CDO)
CDO adalah repacking portofolio aset (obligasi, kredit, CDS) ke tranches baru — mirip sekuritisasi tetapi dengan underlying lebih beragam.
Cash CDO
Underlying: aset fisik
Obligasi, kredit corporate
Relatif aman jika underlying berkualitas
Synthetic CDO
Underlying: CDS (exposure sintetik)
Lebih fleksibel
Penyebab utama krisis 2008
CDO² (squared)
Underlying: tranches CDO lain
Sangat kompleks
Risk weight 1.250% Basel III
Krisis 2008: synthetic CDO dengan subprime MBS sebagai underlying runtuh saat loss rate aktual 15–20% (jauh di atas ekspektasi 3–5%).
Coba Sendiri: Credit Spread & Harga Obligasi
Sekuritisasi menghasilkan tranches yang diperdagangkan dengan spread berbeda sesuai rating. Geser peringkat dan spread untuk merasakan bagaimana credit spread memengaruhi harga obligasi dan EBA.
Bagian 4 · 4/4
Pelajaran Krisis & Studi Kasus
Diskusi kelas: apa pelajaran utama dari krisis 2008 untuk pengelolaan CRT? Reformasi apa yang paling penting?
Krisis 2008: Subprime MBS & CDO
Lima faktor penyebab krisis 2008 yang terkait CRT — pelajaran mahal tentang inovasi finansial yang salah digunakan.
Penyebab
Bubble perumahan AS — KPR subprime tumbuh pesat 2002–2006
Sekuritisasi subprime MBS — packing kredit berisiko
Rating agencies salah — AAA pada senior tranche subprime
Origination incentive — fee tanpa retention risk
Akibat
Bubble burst 2007 → harga rumah turun, default naik
MBS dan CDO runtuh, investor global terdampak
Lehman bangkrut Sept 2008 → krisis sistemik global
AIG (CDS raksasa) bail-out USD 182 miliar
Recession global 2008–2009; biaya triliunan USD
Krisis ini bukan kesalahan CRT itu sendiri, tetapi penggunaan yang salah dan under-supervised — kompleksitas masking risk.
Reformasi Pasca-Krisis (Dodd-Frank, EMIR)
Lima reformasi pasca-krisis untuk CRT yang lebih aman — membentuk landscape modern.
Reformasi
Mekanisme
Tujuan
1. Risk retention 5%
Originator wajib retain 5% equity tranche
Skin in the game; cegah moral hazard
2. Mandatory CCP clearing
Derivatif standardized via CCP
Transparency, netting, mutualisasi
3. Margin non-cleared
Collateral wajib untuk OTC derivatives
Kurangi counterparty risk
4. Risk weight re-securitization
Risk weight 1.250% untuk CDO²
Buat tidak ekonomis
5. Rating agency reform
Bank wajib internal due diligence
Reduce reliance on external ratings
Indonesia mengadopsi melalui POJK: OJK mengatur risk retention, disclosure, dan supervisi ketat untuk sekuritisasi.
Studi Kasus: CRT di Indonesia
Konteks: Indonesia mengembangkan CRT melalui EBA dan PT Sarana Sekuritisasi Indonesia (BUMN), dengan regulasi yang mengadopsi pelajaran global pasca-krisis 2008.
Aspek
Pertanyaan
Praktik Indonesia
1. EBA
Apa instrumen sekuritisasi?
Efek Beragunan Aset untuk KPR, UMKM, receivables
2. Sarana Sekuritisasi
Siapa fasilitator?
PT Sarana Sekuritisasi Indonesia (BUMN)
3. CDS domestik
Adakah pasar?
Belum berkembang; sebagian via offshore
4. Regulasi
POJK apa?
Sekuritisasi: risk retention + disclosure
5. Tantangan
Apa kendala?
Likuiditas investor; data historical untuk rating
6. Peluang
Ke depan?
Sekuritisasi UMKM untuk capital relief; EBA syariah
Insight
Indonesia mengutamakan struktur sederhana dan transparency; potensi besar sekuritisasi UMKM untuk capital relief bank
Ringkasan Kunci Pertemuan 13
3 Mekanisme CRT
Sekuritisasi (fundamental), derivatif kredit (synthetic), penjualan langsung (individual)
Sekuritisasi
SPV + tranches (senior/mezzanine/equity); waterfall loss; SRT test untuk capital relief
Bawa kerangka CRT ini ke P14 (studi kasus terintegrasi) — sintesis semua konsep P1-P13. Hubungkan dengan CAR dan PD/LGD/EAD.
Persiapan P14: baca semua materi P1-P13 untuk integrasi studi kasus. Bawa refleksi satu kasus debitur atau peristiwa yang mengintegrasikan konsep-konsep yang telah dipelajari. P14 adalah ujian akhir virtual.
Coba Sendiri: Payoff Derivatif & Eksposur CDS
CDS adalah opsi asuransi gagal bayar dengan profil payoff karakteristik. Geser strike dan harga underlying untuk merasakan bagaimana proteksi CDS mengubah distribusi loss bank yang memiliki exposure ke reference entity.
Coba Sendiri: Diversifikasi Portofolio & Transfer Risiko
Eksplorasi bagaimana korelasi antar aset memengaruhi profil return-risiko portofolio — inti di balik struktur tranching dan CDO.