RPS minggu 11 · 2x50 menit
Risiko Kredit Counterparty (CCR) — Derivatif & Eksposur Dinamis Manajemen Risiko Kredit — Magister Manajemen FEB UNDIP Selamat datang di pertemuan kesebelas. Kuis singkat 10 menit di awal tentang PSAK 71 dari pertemuan sepuluh — silakan siapkan kertas. Hari ini kita beralih ke jenis risiko kredit yang lebih kompleks dan dinamis: counterparty credit risk di derivatif dan pasar modal. Berbeda dari kredit tradisional yang eksposurnya relatif statis, CCR berubah setiap hari mengikuti pergerakan pasar. Kegagalan counterparty besar seperti Lehman Brothers 2008 atau AIG memicu krisis sistemik global — inilah mengapa CCR menjadi sorotan utama regulator pasca-krisis. Anda yang bekerja di treasury atau capital markets akan langsung berhadapan dengan ISDA Master Agreement, CSA collateral, dan CVA pricing setiap hari. Pada akhir kelas Anda akan mampu menghitung EAD SA-CCR dengan netting dan collateral, serta memahami trade-off mitigasi bilateral versus CCP clearing. Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 11: menjelaskan counterparty credit risk dan metode pengukuran serta mitigasinya di derivatif.
Definisi CCR vs kredit tradisional Karakteristik eksposur dinamis (MtM) SA-CCR: Replacement Cost + Potential Future Exposure Netting & collateral (CSA) Lima strategi mitigasi + CCP clearing CVA pricing & pelajaran Lehman/AIG 2008 Posisi alur: P10 (PSAK 71) → CCR derivatif → P12 (kerangka regulasi Basel III). Dari akuntansi kerugian ke risiko counterparty dinamis.
Mari saya jelaskan alur dua sesi. Sesi pertama membangun konsep fundamental perbedaan CCR dengan kredit tradisional, mendalami karakteristik eksposur dinamis yang berubah mengikuti MtM harian, lalu masuk ke pengukuran EAD derivatif dengan formula SA-CCR yang mengkombinasikan Replacement Cost dengan Potential Future Exposure. Sesi kedua kita bahas mitigasi CCR yang mencakup netting ISDA, collateral CSA, CCP clearing, CVA pricing, dan limit konsentrasi, ditutup studi kasus Lehman dan AIG 2008 sebagai pelajaran kolosal tentang systemic risk dari bilateral OTC derivatives. Perhatikan bahwa CCR adalah risiko yang paling sulit diukur dan dimitigasi karena bersifat bilateral dan dinamis — bank bisa saja mengukur exposure hari ini, tetapi esok bisa berubah signifikan mengikuti pergerakan pasar. Inilah mengapa infrastructure ISDA dan model kuantitatif yang sophisticated menjadi keharusan di bank yang aktif di derivatif. Motivasi: Lehman 2008 — Pelajaran CCR Sistemik Krisis 2008 mengungkap kelemahan mendasar pengelolaan CCR — satu kegagalan counterparty dapat memicu domino global.
~USD 600 triliun notional derivatif (mayoritas OTC) Counterparties terdampak; pasar uang freeze CVA charge melonjak di seluruh industri Memicu bail-out AIG dan reformasi besar Bilateral OTC = domino risk Netting + collateral membantu, tidak hapus risk "Too big to fail" mengancam stabilitas Reformasi: CCP clearing + margin requirements CCR bukan sekadar risiko individual — kegagalan counterparty besar dapat memicu krisis sistemik global.
Mari saya mulai dengan motivasi historis yang paling dramatis. Krisis 2008 dengan kegagalan Lehman Brothers adalah pelajaran terbesar tentang CCR sistemik. Lehman memiliki sekitar USD 600 triliun notional derivatif yang sebagian besar adalah OTC atau over-the-counter bilateral. Saat Lehman bangkrut 15 September 2008, semua counterparty terdampak secara langsung, pasar uang freeze karena saling tidak percaya, dan CVA charge melonjak di seluruh industri karena counterparty risk dianggap naik untuk semua bank. Kegagalan ini memicu bail-out AIG sebesar USD 182 miliar dari Fed dan reformasi besar regulasi global. Pelajaran inti yang harus Anda pegang: bilateral OTC menciptakan domino risk di mana satu kegagalan dapat menjalar ke seluruh sistem. Netting dan collateral membantu mengurangi magnitude tetapi tidak menghilangkan systemic risk. Lembaga too big to fail dengan konsentrasi CDS seperti AIG mengancam stabilitas sistemik. Reformasi pasca-2008 mewajibkan CCP clearing untuk standardized derivatives dan margin requirements untuk non-cleared — inilah konteks historis yang membentuk kerangka modern pengelolaan CCR yang akan kita dalami hari ini. Bagian 1 · 1/4
Definisi & Karakteristik CCR
Diskusi kelas: apa perbedaan fundamental antara risiko kredit tradisional dan counterparty credit risk? Mengapa CCR lebih sulit dikelola?
Blok pertama membangun kerangka konseptual CCR. Pertanyaan diskusi tadi menyangkut inti kompleksitas CCR. Perbedaan fundamental: kredit tradisional memiliki eksposur yang relatif statis yaitu plafon atau outstanding pokok yang berubah lambat sesuai jadwal amortisasi. CCR di derivatif memiliki eksposur dinamis yang berubah setiap hari mengikuti pergerakan MtM pasar. Bank bisa saja mengukur eksposur hari ini, tetapi esok bisa berubah signifikan mengikuti pergerakan suku bunga, FX, atau harga underlying. Lebih jauh, CCR bersifat bilateral — kedua pihak saling memiliki eksposur, dan siapa yang menjadi "kreditor" dapat berubah tergantung pergerakan pasar. Ini berbeda dari kredit tradisional yang satu arah yaitu bank sebagai kreditor dan debitur sebagai pihak yang berhutang. Kombinasi eksposur dinamis dan bilateral membuat CCR jauh lebih sulit diukur dan dimitigasi — inilah mengapa infrastructure ISDA, model kuantitatif sophisticated, dan CCP clearing menjadi keharusan di bank yang aktif di derivatif. Definisi CCR vs Kredit Tradisional CCR adalah risiko bahwa counterparty derivatif default sebelum kewajiban final diselesaikan — dengan eksposur yang berubah setiap hari.
Aspek Kredit Tradisional Counterparty Credit Risk Instrument Loan, kredit, obligasi Derivatif OTC (IRS, FX, CDS) Eksposur Statik (plafon/outstanding) Dinamis (MtM berubah harian) Arah risiko Unilateral (bank → debitur) Bilateral (dua arah) Settlement Pencairan + amortisasi Mark-to-market + net settlement Mitigasi utama Agunan, covenant Netting ISDA, collateral CSA, CCP
CCR unik karena eksposur dapat berubah dari Rp 0 ke ratusan miliar dalam hitungan hari pada volatilitas pasar tinggi.
Tabel perbandingan ini merangkum perbedaan fundamental CCR dengan kredit tradisional. Pertama, instrument: kredit tradisional mencakup loan, kredit, dan obligasi, sementara CCR muncul di derivatif OTC seperti Interest Rate Swap, FX forward, dan Credit Default Swap. Kedua, eksposur: kredit tradisional statis mengikuti plafon atau outstanding yang berubah lambat, sementara CCR dinamis mengikuti MtM yang berubah harian. Ketiga, arah risiko: kredit tradisional unilateral di mana bank sebagai kreditor dan debitur sebagai pihak yang berhutang, sementara CCR bilateral di mana kedua pihak saling memiliki eksposur dan siapa yang menjadi kreditor dapat berubah tergantung pergerakan pasar. Keempat, settlement: kredit tradisional melalui pencairan dan amortisasi, sementara CCR melalui mark-to-market dan net settlement periodik. Kelima, mitigasi utama: kredit tradisional memakai agunan dan covenant, sementara CCR memakai netting ISDA, collateral CSA, dan CCP clearing. Pesan kunci: CCR unik karena eksposur dapat berubah dari Rp 0 ke ratusan miliar dalam hitungan hari pada volatilitas pasar tinggi — ini mengapa pengukuran harian dan model future exposure menjadi krusial. Karakteristik Eksposur Dinamis Eksposur CCR bukan angka tunggal — ia adalah distribusi probabilitas yang berubah sepanjang waktu.
Expected Exposure (EE): rata-rata eksposur pada waktu tPotential Future Exposure (PFE): eksposur pada percentile tinggi (mis. 95%)Expected Positive Exposure (EPE): rata-rata EE sepanjang tenorPagi: MtM positif Rp 30 M Sore: MtM bisa Rp 50 M atau Rp 10 M Tergantung pergerakan pasar Memerlukan model simulasi (Monte Carlo) Pengukuran CCR tidak bisa "snapshot" — harus memodelkan distribusi eksposur masa depan melalui simulasi stochastik.
Tiga metrik eksposur ini adalah bahasa standar pengukuran CCR yang harus Anda kuasai. Expected Exposure atau EE adalah rata-rata eksposur pada waktu tertentu t, dihitung dari distribusi simulasi. Potential Future Exposure atau PFE adalah eksposur pada percentile tinggi seperti 95 persen, mirip dengan Value at Risk — mengukur tail risk. Expected Positive Exposure atau EPE adalah rata-rata EE sepanjang tenor, yang dipakai untuk perhitungan kebutuhan modal Basel. Sifat dinamisnya signifikan: pagi MtM positif Rp 30 miliar, sore bisa menjadi Rp 50 miliar atau Rp 10 miliar tergantung pergerakan pasar suku bunga, FX, atau harga underlying. Karena eksposur adalah variabel random, pengukuran CCR tidak bisa snapshot tunggal — harus memodelkan distribusi eksposur masa depan melalui simulasi stochastik seperti Monte Carlo yang menghasilkan ribuan skenario pergerakan pasar. Bank treasury departemen membangun infrastruktur model kuantitatif sophisticated untuk ini, dengan tim quant dan data scientist yang khusus mengembangkan dan memvalidasi model PFE. Hitung dari Nol: MtM Eksposur Interest Rate Swap Skenario: Bank masuk IRS 5-tahun notional Rp 100 M dengan Counterparty XYZ. Bank menerima fixed 6%, bayar floating. Setelah 1 tahun, suku bunga floating naik ke 8%. Hitung eksposur CCR bank ke XYZ.
Langkah Perhitungan Nilai 1. Bank menerima fixed 6% × Rp 100 M Rp 6 M/tahun 2. Bank bayar floating 8% × Rp 100 M Rp 8 M/tahun 3. Net cash flow bank Rp 6 M − Rp 8 M −Rp 2 M/tahun (rugi) 4. MtM swap (PV 4 tahun) PV net cash flow Negatif untuk bank 5. Eksposur CCR bank ke XYZ Bank dalam posisi rugi Rp 0
Insight
Eksposur CCR = Rp 0
Karena bank rugi, jika XYZ default bank "untung" (terlepas kewajiban). Sebaliknya posisi simetris → MtM positif → ada eksposur CCR.
Hitungan ini menunjukkan karakteristik bilateral CCR dengan sangat jelas. Bank masuk Interest Rate Swap 5-tahun dengan notional Rp 100 miliar, menerima fixed 6 persen dan bayar floating. Setelah 1 tahun, suku bunga floating naik ke 8 persen. Bank menerima Rp 6 miliar dan membayar Rp 8 miliar sehingga net cash flow negatif Rp 2 miliar per tahun. MtM swap untuk 4 tahun tersisa dihitung sebagai present value net cash flow, yang menjadi negatif untuk bank. Eksposur CCR bank ke Counterparty XYZ adalah Rp 0 karena bank dalam posisi rugi — jika XYZ default, bank justru untung karena terlepas dari kewajiban bersih. Tetapi ini simetris: jika bank menerima floating dan bayar fixed, posisi akan terbalik — bank menerima Rp 8 miliar dan bayar Rp 6 miliar, MtM positif, dan ada eksposur CCR signifikan. Pelajaran penting yang harus Anda pegang: eksposur CCR bersifat random tergantung pergerakan pasar dan posisi bank. Inilah mengapa bank harus mengukur eksposur setiap hari dengan MtM harian dan memodelkan future exposure melalui simulasi stochastik. Bagian 2 · 2/4
Pengukuran EAD Derivatif
Diskusi kelas: mengapa EAD derivatif tidak bisa dihitung sekadar dari nilai kontrak? Apa komponen yang sering terlewat?
Blok ini mendalami pengukuran EAD derivatif dengan formula SA-CCR. Pertanyaan diskusi tadi menyentuh inti kompleksitas pengukuran CCR. EAD kredit tradisional sederhana yaitu plafon atau outstanding, tetapi EAD derivatif jauh lebih kompleks karena empat alasan. Pertama, eksposur saat ini yang MtM hanya salah satu komponen — harus ditambah potensi perubahan masa depan. Kedua, eksposur masa depan dapat berubah signifikan mengikuti volatilitas pasar. Ketiga, netting antar multiple transaksi dengan counterparty yang sama mengurangi eksposur agregat. Keempat, collateral yang juga berubah setiap hari mengurangi eksposur efektif. Komponen yang sering terlewat adalah Potential Future Exposure atau PFE yang mengakui eksposur dapat naik di masa depan — bank yang hanya melihat MtM saat ini akan understate risiko. Basel III memperkenalkan SA-CCR atau Standardized Approach for Counterparty Credit Risk yang mengkombinasikan Replacement Cost berbasis MtM dengan PFE add-on berbasis notional dan jenis derivatif. SA-CCR menggantikan pendekatan lama CEM yang dianggap terlalu sederhana dan underestimasi risiko. SA-CCR: Replacement Cost + Add-On SA-CCR (Standardized Approach for CCR) mengkombinasikan eksposur saat ini dengan potensial masa depan — standar Basel III sejak 2017.
EAD = α × (RC + PFE) dengan α = 1,4 (faktor pengali standar Basel)
MtM net saat ini setelah netting RC = max(MtM net − collateral, 0) Komponen "hari ini" Add-on berdasarkan notional & jenis derivatif IRS add-on < CDS add-on (volatilitas berbeda) Komponen "masa depan" α = 1,4 mengakui korelasi antar komponen eksposur. SA-CCR menggantikan CEM yang underestimasi risiko.
Formula SA-CCR ini adalah standar Basel III untuk pengukuran EAD derivatif yang harus dipahami praktisi. EAD sama dengan α dikali (RC plus PFE). α sama dengan 1,4 adalah faktor pengali standar Basel yang mengakui korelasi antar komponen eksposur. RC atau Replacement Cost adalah MtM net saat ini setelah netting dan collateral, dihitung sebagai max MtM net dikurangi collateral, nol. Sebagai contoh, bank punya MtM positif Rp 50 miliar ke Counterparty A dan collateral yang diterima Rp 20 miliar, maka RC adalah max 50 dikurangi 20 yaitu Rp 30 miliar. PFE atau Potential Future Exposure adalah add-on yang mengakui eksposur dapat naik di masa depan, berbeda per jenis derivatif — IRS add-on lebih rendah dari CDS karena volatilitas berbeda. Total EAD adalah 1,4 dikali RC plus PFE. SA-CCR menggantikan CEM atau Current Exposure Method yang lebih sederhana dan underestimasi risiko, efektif 2017 sebagai bagian dari Basel III post-krisis. Bank dengan portofolio derivatif besar harus menerapkan SA-CCR untuk kebutuhan modal regulatori. Netting & Collateral di Derivatif Netting dan collateral adalah dua pilar mitigasi CCR yang diatur ISDA Master Agreement.
Jika default: hanya posisi net yang menjadi eksposur Antar semua transaksi dengan counterparty sama Mengurangi eksposur agregat signifikan Syarat: perjanjian legally enforceable di yurisdiksi counterparty Variation margin: collateral harian untuk MtM saat iniInitial margin: collateral tambahan untuk PFEThreshold: rating tinggi → threshold besar (kolateral kurang)Cash, SBN, aset likuid (dengan haircut) Netting + collateral dapat mengurangi EAD 50–80% dibanding tanpa mitigasi — krisis 2008 mendorong mandatory collateral untuk semua OTC derivatives.
Dua pilar mitigasi CCR ini adalah standar global dalam ISDA Master Agreement yang harus Anda kuasai. Netting adalah perjanjian bahwa jika default, hanya posisi net antar semua transaksi dengan counterparty yang sama yang menjadi eksposur. Sebagai contoh, bank punya 5 transaksi derivatif dengan Counterparty A masing-masing MtM positif Rp 20 miliar, negatif Rp 10 miliar, positif Rp 15 miliar, negatif Rp 5 miliar, dan positif Rp 10 miliar. Tanpa netting, gross exposure adalah Rp 45 miliar yaitu jumlah dari yang positif. Dengan netting, net MtM adalah Rp 30 miliar yaitu jumlah aljabarik. Pengurangan signifikan, dan collateral lebih lanjut mengurangi. CSA atau Credit Support Annex mengatur dua jenis collateral: variation margin yaitu collateral harian untuk MtM yang berubah setiap hari, dan initial margin yaitu collateral untuk PFE sebagai tambahan di atas variation. Threshold: counterparty dengan rating tinggi seperti AAA mungkin tidak perlu collateral untuk MtM di bawah threshold tertentu, sementara rating rendah butuh collateral penuh. Netting plus collateral dapat mengurangi EAD 50 sampai 80 persen — inilah mengapa krisis 2008 mendorong mandatory clearing dan collateral untuk semua OTC derivatives. Hitung dari Nol: EAD SA-CCR dengan Netting Skenario: Bank punya 3 transaksi derivatif dengan Counterparty Z yang sama: T1 MtM +Rp 30 M, T2 MtM −Rp 10 M, T3 MtM +Rp 20 M. Add-on PFE aggregate = Rp 15 M. Collateral yang diterima = Rp 15 M. Hitung EAD SA-CCR dan bandingkan dengan tanpa mitigasi.
Langkah Perhitungan Nilai 1. Sum of positives (gross) 30 + 20 Rp 50 M 2. Net MtM (algebraic sum) 30 − 10 + 20 Rp 40 M 3. RC = max(Net MtM − Collateral, 0) max(40 − 15, 0) Rp 25 M 4. PFE add-on aggregate — Rp 15 M 5. EAD SA-CCR α × (RC + PFE) = 1,4 × (25 + 15) Rp 56 M 6. Tanpa mitigasi (gross + PFE) 1,4 × (50 + 15) Rp 91 M
Insight
Mitigasi: −38%
Netting + collateral mengurangi EAD dari Rp 91 M ke Rp 56 M. Signifikan untuk kebutuhan modal — mitigasi CCR bukan opsional tetapi esensial.
Hitungan ini menunjukkan dampak signifikan mitigasi CCR pada EAD secara konkret. Tanpa mitigasi, gross positives Rp 50 miliar plus PFE Rp 15 miliar dikalikan α 1,4 menghasilkan EAD Rp 91 miliar. Dengan netting, net MtM menjadi Rp 40 miliar bukan gross Rp 50 miliar. Dengan collateral Rp 15 miliar, RC menjadi max 40 dikurangi 15 yaitu Rp 25 miliar. EAD SA-CCR adalah 1,4 dikali (25 plus 15) sama dengan Rp 56 miliar. Pengurangan dari Rp 91 miliar ke Rp 56 miliar adalah 38 persen — signifikan untuk kebutuhan modal. Inilah mengapa bank dengan portofolio derivatif besar harus memiliki perjanjian ISDA plus CSA dengan semua counterparty; tanpa itu, eksposur sangat tinggi dan kebutuhan modal berlipat. Pelajaran kunci: mitigasi CCR bukan opsional tetapi esensial untuk efisiensi modal dan stabilitas bank. Regulator pasca-2008 mendorong mandatory netting plus collateral untuk semua OTC derivatives untuk mengurangi systemic risk dan meningkatkan transparansi. Bagian 3 · 3/4
Mitigasi CCR
Diskusi kelas: mengapa pasca-krisis 2008 regulator mendorong CCP clearing untuk derivatif? Apa trade-off yang harus dikelola?
Blok ini mendalami lima strategi mitigasi CCR yang membentuk toolkit bank modern. Pertanyaan diskusi tadi menjawab salah satu reformasi besar pasca-2008. Sebelum krisis, kebanyakan derivatif OTC diperdagangkan bilateral — bank A bertransaksi langsung dengan bank B tanpa intermediasi. Masalahnya: jika satu pihak default seperti Lehman, semua counterparty terdampak secara langsung dan domino effect terjadi. CCP atau Central Counterparty clearing mengintermediasi: bank A dan bank B masing-masing bertransaksi dengan CCP bukan langsung satu sama lain. Jika satu bank default, CCP menyerap dampaknya melalui margin dan default fund, tidak menyebar ke counterparty lain. CCP menjadi hub yang centralizes risk dan mutualizes loss. Pasca-2008, regulator seperti Dodd-Frank AS dan EMIR Eropa mewajibkan CCP clearing untuk derivatif tertentu terutama yang standardized. Trade-off yang harus dikelola: CCP mengurangi CCR bilateral tetapi menciptakan systemic risk baru — jika CCP sendiri gagal, dampaknya catastrophic. CCP memerlukan governance ketat, liquidity backup, dan resolvency plan untuk menjaga stabilitas. Lima Strategi Mitigasi CCR Lima strategi yang membentuk toolkit mitigasi CCR bank modern — dipakai kombinasi untuk mitigasi optimal.
Strategi Mekanisme Dampak 1. Netting (ISDA) Kompensasi posisi antar transaksi Gross → net exposure 2. Collateral margining (CSA) Variation margin + initial margin EAD dikurangi collateral 3. CCP clearing Intermediasi via CCP Hilangkan bilateral risk 4. CVA pricing Harga counterparty risk di valuation Akuntansi expected loss 5. Limit & concentration Limit eksposur per counterparty/sektor Kontrol konsentrasi
Bank modern menggunakan kombinasi kelima strategi — tanpa mitigasi komprehensif, eksposur derivatif besar menjadi tidak ekonomis dan berisiko sistemik.
Lima strategi ini adalah toolkit mitigasi CCR yang lengkap yang harus Anda kuasai. Netting ISDA mengurangi gross exposure menjadi net melalui kompensasi posisi antar transaksi dengan counterparty yang sama. Collateral margining mengunci eksposur dengan deposit berupa variation margin untuk MtM harian dan initial margin untuk PFE. CCP clearing menghilangkan bilateral risk dengan mengintermediasi melalui Central Counterparty. CVA pricing yang akan dibahas slide berikutnya mengakui counterparty risk dalam valuation derivatif — bank harus memprovisi kerugian yang diharapkan dari CCR di laporan laba rugi. Limit dan concentration control: bank menetapkan eksposur maksimum per counterparty seperti maksimal 10 persen modal bank dan per sektor industri seperti maksimal 20 persen untuk financials. Bank modern menggunakan kombinasi kelima strategi: netting plus collateral untuk semua counterparty, CCP untuk derivatif standardized, bilateral untuk eksotik, limit untuk konsentrasi, dan CVA untuk akuntansi. Tanpa mitigasi komprehensif, bank dengan portofolio derivatif besar akan menghadapi kebutuhan modal yang tidak ekonomis dan risiko sistemik yang signifikan. Collateral Margining & CSA CSA (Credit Support Annex) mengatur collateral harian untuk derivatif OTC — standar global ISDA.
Collateral harian untuk MtM saat ini Ditransfer antar pihak tiap hari Mengunci eksposur "hari ini" Collateral tambahan untuk PFE Standar BCBS-IOSCO non-cleared MPOR biasanya 10 hari Threshold: MtM di bawah tidak perlu collateralMTA: transfer hanya jika > minimumEfisiensi operasional Collateral dapat cash, government bonds, atau aset likuid lain dengan haircut berbeda sesuai volatilitas.
CSA adalah standar global untuk collateral di OTC derivatives yang harus dipahami praktisi treasury. Variation Margin atau VM adalah collateral harian untuk MtM saat ini — jika MtM berubah dari Rp 30 miliar ke Rp 35 miliar, counterparty yang berposisi rugi harus transfer Rp 5 miliar tambahan. VM mengunci eksposur current. Initial Margin atau IM adalah collateral tambahan untuk PFE yang mengakui eksposur dapat naik sebelum collateral berikutnya diadjust. Standar BCBS-IOSCO mewajibkan IM untuk non-centrally cleared derivatives, dengan MPOR atau Margin Period of Risk biasanya 10 hari yang merupakan asumsi waktu untuk close position dan liquidate collateral setelah default. Threshold: untuk counterparty dengan rating tinggi AAA, MtM di bawah threshold tertentu seperti USD 50 juta tidak memerlukan collateral karena counterparty dipercaya. MTA atau Minimum Transfer Amount: collateral hanya ditransfer jika perubahan MtM melebihi MTA seperti USD 500 ribu untuk efisiensi operasional. Collateral dapat berupa cash, government bonds, atau aset likuid lain dengan haircut berbeda sesuai volatilitas — semakin volatil, semakin besar haircut. Central Counterparty (CCP) Clearing CCP mengintermediasi transaksi derivatif — mengurangi bilateral risk dan centralizes risk management.
Bank A & B transaksi derivatif CCP menjadi pembeli untuk penjual, penjual untuk pembeli Setelah novation: A–CCP & CCP–B (dua kontrak) Default A tidak langsung dampak B Manfaat: mutualization of loss via default fundStandardisasi & transparansi Risiko: CCP jadi systemically importantButuh governance & liquidity kuat Contoh: LCH SwapClear (London), CME (AS), HKEX (Asia); KPEI (Indonesia, saham BEI). Derivatif OTC IDN belum ada CCP domestik aktif.
CCP clearing adalah reformasi besar pasca-krisis 2008 untuk derivatif yang harus Anda pahami. Mekanismenya disebut novation: bank A dan bank B awalnya bertransaksi bilateral. CCP melakukan novation yaitu menggantikan kontrak awal A-B dengan dua kontrak baru yaitu A-CCP dan CCP-B. Setelah novation, A dan B masing-masing punya kontrak dengan CCP bukan langsung satu sama lain. Manfaatnya signifikan: jika A default, B tidak terdampak langsung karena CCP menyerap dampaknya. CCP juga melakukan mutualization yaitu semua anggota berkontribusi ke default fund, dan jika satu anggota default, loss ditutup dari default fund bukan dari counterparty individual. CCP juga melakukan standardisasi dan transparansi melalui pelaporan data pasar untuk price discovery. Trade-off yang harus dikelola: CCP menjadi systemically important institution atau SIFI — jika CCP sendiri gagal karena default beberapa anggota besar sekaligus, dampaknya catastrophic. CCP memerlukan governance ketat, liquidity backup, dan resolvency plan. Contoh global: LCH SwapClear di London, CME di AS, HKEX di Asia. Indonesia: KPEI bertindak sebagai CCP untuk transaksi saham BEI, tetapi derivatif OTC Indonesia belum ada CCP domestik yang aktif sehingga bank IDN biasanya pakai CCP offshore. Bagian 4 · 4/4
CVA & Krisis 2008
Diskusi kelas: mengapa CVA menjadi sorotan besar selama krisis Eropa 2010–2012? Apa implikasi bagi keputusan hedging bank?
Blok penutup ini mendalami CVA pricing dan pelajaran dari krisis. Pertanyaan diskusi tadi menyentuh peran CVA dalam pengukuran dan pricing counterparty risk. CVA atau Credit Valuation Adjustment adalah adjustment terhadap valuation derivatif untuk mengakui counterparty risk. Sebelum krisis 2008, banyak bank menilai derivatif tanpa memperhitungkan counterparty risk secara explicit — hanya nilai MtM. Krisis 2008 mengungkap kelemahan fatal: bank-bank dengan MtM positif terhadap Lehman harus menyerap kerugian besar, dan CVA negatif melonjak di seluruh industri. Setelah 2008, IFRS 13 atau fair value measurement mewajibkan pengakuan CVA dalam valuation derivatif. Krisis Eropa 2010-2012 atau sovereign debt crisis lebih lanjut menyoroti CVA — bank dengan eksposur derivatif ke negara-negara Eropa perifer seperti Greece, Italy, dan Spain mengalami CVA charge besar saat sovereign spreads melebar. CVA volatility menjadi sumber utama laba rugi bank trading, sehingga bank harus membangun desk CVA khusus untuk mengelola. Implikasi hedging: bank harus hedge both exposure market risk dan PD credit risk secara simultaneous, yang kompleks dan sering gagal saat stress. CVA: Pricing Counterparty Risk CVA adalah adjustment valuation untuk mengakui counterparty risk — pricing the risk explicitly di valuation derivatif.
CVA = (1 − Recovery) × Σt EE(t) × PD(t) × DF(t)
1 − Recovery rate counterparty Sama dengan LGD kredit tradisional Rata-rata eksposur masa depan Hasil simulasi stochastik PD counterparty Dapat dari rating atau CDS spread CVA charge memengaruhi P&L trading dan modal; hedging kompleks karena harus hedge market + credit risk simultaneously.
Formula CVA ini adalah inti pricing counterparty risk yang harus Anda pahami. CVA sama dengan 1 dikurangi recovery dikali sigma EE t dikali PD t dikali DF t. Tiga komponen CVA: LGD counterparty yaitu 1 dikurangi recovery rate yang sama dengan LGD kredit tradisional, Expected Exposure yaitu rata-rata eksposur masa depan yang dihasilkan dari simulasi stochastik, dan PD counterparty yaitu probabilitas default yang dapat diperoleh dari rating eksternal atau CDS spread pasar. Sebagai contoh sederhana, EE rata-rata Rp 50 miliar, PD 2 persen, LGD 60 persen, menghasilkan CVA sekitar 0,60 dikali 50 dikali 0,02 sama dengan Rp 0,6 miliar. CVA mengurangi valuation derivatif — bank dengan counterparty berisiko harus menilai lebih rendah daripada dengan counterparty riskless seperti sovereign. CVA charge memengaruhi P&L trading dan kebutuhan modal; bank dengan portofolio derivatif besar harus mengelola CVA desk aktif. Hedging CVA sangat kompleks karena harus hedge both exposure sebagai market risk dan PD sebagai credit risk secara simultaneous — banyak bank gagal hedging CVA saat krisis 2008 dan menyerap kerugian besar. Bank Indonesia yang aktif di derivatif juga harus menerapkan CVA valuation sesuai PSAK 71 dan IFRS 13. Lehman & AIG: Studi Krisis 2008 Dua kasus krisis 2008 mengungkap kelemahan mendasar pengelolaan CCR — memicu reformasi global.
~USD 600 triliun notional derivatif (mayoritas OTC) Counterparties terdampak; sebagian besar recover via netting + collateral Tetapi CVA charge melonjak di seluruh industri Pasar derivatif freeze karena saling tidak percaya Penjual CDS raksasa (~USD 2 triliun portfolio) Saat mortgage default massal: klaim raksasa Kehabisan likuiditas; bail-out USD 182 M dari Fed Tanpa bail-out: domino effect sistemik Pelajaran: netting + collateral membantu tetapi tidak menghilangkan systemic risk; lembaga "too big to fail" dengan konsentrasi CDS mengancam stabilitas.
Dua kasus ini adalah pelajaran paling dramatis tentang CCR sistemik yang harus Anda pegang. Lehman Brothers memiliki sekitar USD 600 triliun notional derivatif yang sebagian besar adalah OTC bilateral. Saat bangkrut 15 September 2008, semua counterparty terdampak secara langsung. Beruntung banyak yang telah memiliki netting plus collateral yang memadai, sehingga gross exposure berkurang signifikan dan counterparties berhasil recover sebagian besar. Tetapi dampak sistemik tetap besar: CVA charge melonjak di seluruh industri karena counterparty risk dianggap naik untuk semua bank, dan pasar uang freeze karena saling tidak percaya. AIG adalah penjual CDS raksasa dengan portfolio sekitar USD 2 triliun. Saat mortgage default massal terjadi, AIG harus membayar klaim raksasa, kehabisan likuiditas, dan tanpa bail-out USD 182 miliar dari Fed akan bangkrut serta memicu domino effect. Pelajaran kunci: netting plus collateral membantu tetapi tidak menghilangkan systemic risk. Lembaga too big to fail dengan konsentrasi di CDS seperti AIG mengancam stabilitas sistemik. Krisis ini memicu reformasi besar: mandatory CCP clearing untuk standardized derivatives, margin requirements untuk non-cleared, dan CVA capital charge di Basel III. Studi Kasus: CCR di Bank Indonesia Konteks: Bank Indonesia umumnya menggunakan derivatif untuk hedging (FX forward, IRS) — bukan spekulasi seperti bank investasi global. Pengelolaan CCR mengikuti standar ISDA global dengan adaptasi lokal.
Aspek Pertanyaan Praktik Bank IDN 1. Aktivitas derivatif Derivatif apa yang dipakai? FX forward, IRS untuk hedging 2. Counterparties Siapa counterparty? Bank lain (offshore), corporate besar 3. ISDA + CSA Adakah perjanjian netting? Ya, untuk counterparties besar 4. CCP clearing Adakah derivatif via CCP? Sebagian, via CCP offshore 5. Limit Bagaimana konsentrasi CCR? Limit per counterparty (POJK) 6. CVA Apakah CVA dihitung? Ya, sesuai PSAK 71/IFRS 13
Insight
Bank IDN fokus hedging bukan spekulasi; collateral valuta sama + legal opinion enforceability netting di yurisdiksi counterparty
Studi kasus ini mensintesis pengelolaan CCR di bank Indonesia yang menjadi praktik nyata. Bank Indonesia umumnya menggunakan derivatif untuk hedging yaitu FX forward untuk exposure valuta asing dan IRS untuk exposure suku bunga, bukan spekulasi seperti bank investasi global. Counterparties mencakup bank lain sering offshore dan corporate besar dengan exposure valas. ISDA Master Agreement plus CSA dengan counterparties besar untuk netting dan collateral yang mengurangi eksposur agregat. CCP clearing sebagian untuk derivatif standardized melalui CCP offshore karena Indonesia belum punya CCP domestik untuk derivatif OTC. Limit per counterparty diatur POJK yang menetapkan eksposur CCR maksimum. CVA dihitung dan dilaporkan sesuai PSAK 71 dan IFRS 13 untuk derivatif OTC. Untuk menangani CCR ke counterparty offshore, bank IDN menggunakan collateral dalam valuta yang sama, legal opinion untuk enforceability netting di yurisdiksi counterparty, dan konsentrasi pada counterparties dengan rating tinggi. Trade-off hedging versus spekulasi: hedging mengurangi risiko tetapi biaya, sementara spekulasi menambah return tetapi risiko besar. Bank Indonesia dengan fokus intermediasi tradisional cenderung konservatif. Ringkasan Kunci Pertemuan 11 Eksposur Dinamis
CCR bilateral & dinamis; EAD SA-CCR = α × (RC + PFE) dengan α = 1,4
Mitigasi 5 Pilar
Netting + collateral CSA + CCP clearing + CVA pricing + limit concentration
Pelajaran 2008
Systemic risk dari bilateral OTC derivatives; reformasi: CCP clearing + margin requirements
Bawa kerangka CCR ini ke P12 (regulasi Basel III) & P14 (studi kasus terintegrasi).
Persiapan P12: baca Saunders bab 13 (Regulatory framework) & BCBS Basel III framework. Bawa refleksi satu kerangka regulasi (POJK/Basel) yang Anda kenal. Kuis 10 menit di awal P12.
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan tiga pesan kunci hari ini. Pertama, CCR adalah eksposur yang bilateral dan dinamis dengan formula EAD SA-CCR sama dengan α 1,4 dikali (RC plus PFE), jauh lebih kompleks dari kredit tradisional yang statis. Kedua, lima pilar mitigasi CCR mencakup netting ISDA, collateral CSA, CCP clearing, CVA pricing, dan limit concentration — bank modern menggunakan kombinasi semuanya untuk mitigasi optimal. Ketiga, pelajaran krisis 2008 dari Lehman dan AIG menunjukkan bahwa bilateral OTC derivatives menciptakan systemic risk yang memicu reformasi global berupa mandatory CCP clearing dan margin requirements untuk non-cleared derivatives. Pertemuan berikutnya kita akan melihat dari sudut pandang yang lebih luas yaitu kerangka regulasi Basel III dan POJK 11 per 2016 yang menjadi payung semua konsep yang sudah kita pelajari sejauh ini — dari PD, LGD, EAD, hingga CCR. Sampai jumpa di pertemuan 12 dan jangan lupa kuis 10 menit di awal kelas.