‹ Daftar slidePertemuan 2: Formulasi Pengambilan Keputusan Analitis dalam Operasi
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Formulasi Pengambilan Keputusan Analitis dalam Operasi
Manajemen Operasi dan Teknologi — Magister Manajemen FEB UNDIP
Dari payoff table sampai pohon keputusan: kerangka kuantitatif untuk memutuskan kapasitas, proses, dan investasi operasi di bawah ketidakpastian.
Sub-CPMK Pertemuan 2
Sub-CPMK A
Struktur Keputusan
Memformulasikan hierarki keputusan operasi (strategis-taktis-operasional) dan mengklasifikasikan kondisi keputusan (certainty, risk, uncertainty).
Sub-CPMK B
EMV & EVPI
Menghitung Expected Monetary Value dan Expected Value of Perfect Information untuk mengevaluasi alternatif di bawah risiko.
Sub-CPMK C
Pohon Keputusan & LP
Menyusun pohon keputusan sekuensial dan formulasi Linear Programming dasar untuk alokasi sumber daya operasi.
Sub-CPMK D
MCDA & Sensitivitas
Menerapkan Multi-Criteria Decision Analysis dan analisis sensitivitas untuk keputusan manajerial multi-kriteria.
Bagian 1 dari 3
Kerangka Keputusan Operasi: Hierarki dan Kondisi Ketidakpastian
Diskusi kelas: ketika permintaan pasar tidak pasti, apakah keputusan kapasitas sebaiknya dibuat berdasarkan skenario terburuk, atau berdasarkan ekspektasi rata-rata tertimbang probabilitas?
Hierarki Keputusan Operasi: Strategis, Taktis, Operasional
Setiap keputusan operasi punya horizon waktu dan reversibilitas yang berbeda — menentukan alat analitis mana yang relevan (Slack, Brandon-Jones & Johnston, Operations Management).
Implikasi manajerial: alat kuantitatif hari ini — EMV, pohon keputusan, LP — paling relevan untuk keputusan strategis dan taktis, di mana biaya kesalahan tinggi dan waktu tersedia untuk analisis formal.
Tiga Kondisi Pengambilan Keputusan
Klasifikasi klasik (Raiffa, 1968) menentukan alat analitis yang tepat — kesalahan paling umum di lapangan adalah memakai alat "certainty" pada masalah yang sebenarnya "risk".
Certainty
Pasti
Hasil tiap alternatif diketahui persis → optimasi (LP, EOQ)
Risk
Berisiko
Hasil tidak pasti, tapi probabilitas tiap skenario diketahui/diestimasi → EMV, pohon keputusan
Uncertainty
Tak Pasti
Probabilitas skenario tidak diketahui → kriteria maximax/maximin/regret
Mini-Kasus: Keputusan Kapasitas Pabrik Semen
Produsen semen nasional (ilustrasi, mengacu pola industri semen Indonesia) mempertimbangkan menambah satu lini produksi baru senilai investasi besar, sementara permintaan domestik dipengaruhi siklus proyek infrastruktur pemerintah yang fluktuatif.
Pertanyaan keputusan: Apakah manajemen sebaiknya membangun kapasitas besar sekaligus (skala ekonomi, tapi risiko idle capacity jika proyek infrastruktur melambat), atau kapasitas bertahap (lebih fleksibel, tapi kehilangan peluang jika permintaan melonjak)?
Ini bukan pertanyaan definisi — ini pertanyaan trade-off risiko vs skala ekonomi yang akan kita formalkan dengan payoff table dan EMV pada slide berikutnya.
Bagian 2 dari 3
Payoff Table, EMV, dan Nilai Informasi
Diskusi kelas: berapa rupiah maksimal yang rasional dikeluarkan perusahaan Anda untuk riset pasar sebelum memutuskan investasi kapasitas — dan bagaimana Anda membuktikan angka itu ke direksi?
Payoff Table: Empat Kriteria Keputusan Klasik
Payoff table memetakan alternatif x kondisi pasar; kriteria dipilih sesuai apakah probabilitas kondisi diketahui (risk) atau tidak (uncertainty).
Kriteria
Logika Pilihan
Cocok untuk
Maximax
Pilih alternatif dgn hasil terbaik dari skenario terbaiknya (optimis)
Uncertainty, manajer risk-taker
Maximin
Pilih alternatif dgn hasil terburuk paling "tidak buruk" (pesimis/konservatif)
Uncertainty, manajer risk-averse
Minimax Regret
Minimalkan penyesalan maksimum dibanding pilihan terbaik tiap skenario
Uncertainty, hindari kesalahan terburuk
EMV (Expected Monetary Value)
Pilih alternatif dgn ekspektasi tertimbang probabilitas tertinggi
Risk, probabilitas skenario diketahui
Untuk kasus pabrik semen: karena perusahaan punya data historis siklus proyek infrastruktur, ini kondisi risk — EMV adalah kriteria yang tepat, bukan maximax/maximin.
EMV Rp52 M > Rp28 M → pilih meski ada risiko rugi Rp20 M jika permintaan rendah
Pohon Keputusan: Memvisualkan Keputusan Sekuensial
Kotak = titik keputusan (kendali manajer); lingkaran = titik peluang (kendali pasar/eksternal). Berguna saat keputusan bertahap, bukan sekali jalan.
Pohon keputusan cocok saat ada keputusan lanjutan bersyarat (mis. ekspansi tahap 2 hanya jika tahap 1 sukses) — payoff table biasa tidak menangkap sekuensialitas ini.
Hitung dari Nol: Expected Value of Perfect Information (EVPI)
EVPI = batas atas rasional biaya riset pasar/informasi tambahan sebelum keputusan kapasitas diambil.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Payoff terbaik jika tahu pasti Tinggi
max(Rp100M, Rp40M)
Rp100 M
2. Payoff terbaik jika tahu pasti Rendah
max(-Rp20M, Rp10M)
Rp10 M
3. Expected Value with Perfect Info (EVwPI)
0,6 x 100 + 0,4 x 10
Rp64 M
4. EMV terbaik tanpa informasi tambahan
dari slide sebelumnya
Rp52 M
5. EVPI = EVwPI - EMV terbaik
64 - 52
Rp12 M
Batas Atas Anggaran Riset
Rp12 Miliar
Membayar riset pasar > Rp12 M/tahun secara ekonomi tidak rasional untuk kasus ini
Coba Sendiri: Bangun Pohon Keputusan Anda Sendiri
Ubah probabilitas kondisi pasar dan payoff tiap cabang, lalu amati bagaimana EMV terbaik dan EVPI ikut bergeser secara otomatis.
Mini-Kasus: Investasi Otomasi Gudang Perusahaan Logistik
Perusahaan ekspedisi nasional (ilustrasi, mengacu pola industri logistik Indonesia seperti JNE/SiCepat) mempertimbangkan investasi sistem sortir otomatis di gudang utama, dengan keputusan bertahap: uji coba satu gudang dulu, baru perluasan nasional.
Pertanyaan keputusan: Apakah struktur keputusan ini cocok dimodelkan sebagai payoff table sederhana, atau memerlukan pohon keputusan dua tahap (uji coba → keputusan perluasan berdasarkan hasil uji coba)?
Karena ada keputusan lanjutan bersyarat pada hasil tahap pertama, kasus ini adalah kandidat ideal pohon keputusan — bukan payoff table satu tahap.
Formulasi Linear Programming untuk Alokasi Kapasitas
Ketika keputusan melibatkan alokasi sumber daya terbatas ke beberapa lini produk/proses (kondisi certainty), Linear Programming (LP) memberi solusi optimal formal (Hillier & Lieberman).
Konteks: X1 dan X2 = unit produk A dan B; Rp8 juta & Rp5 juta = margin per unit; kendala jam mesin dan kapasitas gudang membatasi kombinasi produksi yang layak.
Hitung dari Nol: Titik Impas Pilihan Proses (Manual vs Semi-Otomatis)
Keputusan proses: mesin semi-otomatis (biaya tetap tinggi, variabel rendah) vs proses manual (biaya tetap rendah, variabel tinggi). Cari volume impas.
Di atas volume ini → pilih semi-otomatis; di bawahnya → pilih manual
Bagian 3 dari 3
Kriteria Multi-Dimensi: MCDA, Sensitivitas, dan Integrasi Kerangka
Diskusi kelas: jika kriteria kualitatif (mis. fleksibilitas) dan kuantitatif (mis. biaya) saling bertentangan dalam sebuah keputusan operasi, bagaimana Anda meyakinkan direksi bahwa skor tertimbang bisa dipercaya?
Multi-Criteria Decision Analysis: Skor Tertimbang
Saat kriteria tidak bisa direduksi ke rupiah (biaya, kecepatan, kualitas, fleksibilitas), gunakan skor tertimbang dengan bobot eksplisit (adaptasi AHP, Saaty 1980) untuk pilihan teknologi otomasi gudang.
Kriteria (bobot)
Otomasi Penuh (skor 1-10)
Semi-Otomatis (skor 1-10)
Biaya (30%)
6
7
Kecepatan (25%)
9
7
Kualitas (25%)
8
7
Fleksibilitas (20%)
5
7
Skor tertimbang: Otomasi Penuh = 0,3(6)+0,25(9)+0,25(8)+0,2(5) = 7,05; Semi-Otomatis = 0,3(7)+0,25(7)+0,25(7)+0,2(7) = 7,00. Selisih tipis → keputusan sensitif terhadap bobot.
Analisis Sensitivitas: Seberapa Kokoh Keputusan Anda?
Ketika selisih skor/EMV tipis, uji seberapa besar asumsi harus berubah sebelum keputusan optimal berbalik — ini yang membedakan analis junior dari manajer senior.
Skenario 1: Geser Bobot Fleksibilitas
Jika bobot fleksibilitas naik dari 20% ke 30% (kompensasi turun dari kecepatan)
Semi-Otomatis unggul → keputusan BERBALIK
Skenario 2: Geser Probabilitas Permintaan (EMV)
Jika P(Tinggi) turun dari 0,6 ke 0,45 pada kasus pabrik semen
EMV(Besar) = 0,45(100)+0,55(-20) = Rp34 M — masih > Kecil (Rp23,5 M), keputusan STABIL
Keputusan yang robust (tahan terhadap pergeseran asumsi wajar) lebih layak dipresentasikan ke direksi daripada keputusan dengan selisih tipis dan sensitif.
Rubrik: Memilih Alat Analitis Sesuai Kondisi Keputusan
Kondisi/Situasi
Alat yang Tepat
Contoh Kasus Hari Ini
Certainty, satu tahap, sumber daya terbatas
Linear Programming
Alokasi jam mesin ke produk A/B
Risk, probabilitas diketahui, satu tahap
Payoff table + EMV
Keputusan kapasitas pabrik semen
Risk, keputusan bertahap/bersyarat
Pohon keputusan + EVPI
Investasi otomasi gudang bertahap
Kriteria kualitatif & kuantitatif campuran
MCDA + analisis sensitivitas
Pilihan teknologi otomasi vs semi-otomatis
Perbandingan dua opsi biaya tetap/variabel
Analisis titik impas (break-even)
Proses manual vs semi-otomatis
Kerangka Terintegrasi: Dari Kondisi ke Keputusan
Kerangka lima langkah ini berlaku untuk semua topik operasi di sisa semester — kualitas, persediaan, revenue management, dan kapasitas semuanya adalah kasus khusus dari alur ini.
Latihan Sebelum Pertemuan 3
Siapkan satu payoff table dari pengalaman kerja/organisasi Anda sendiri (nyata atau ilustrasi wajar), lalu hitung EMV dan EVPI-nya.
Instruksi Tugas
Identifikasi satu keputusan operasi berisiko di tempat kerja Anda (kapasitas, proses, atau investasi teknologi).
Susun payoff table dengan minimal 2 alternatif x 2 kondisi pasar, lengkap dengan estimasi probabilitas.
Hitung EMV tiap alternatif dan EVPI, lalu simpulkan keputusan optimal dalam maksimal setengah halaman.
Bawa hasilnya ke Pertemuan 3 untuk didiskusikan singkat sebelum masuk topik manajemen jasa dan teori antrian.
Tujuan latihan: memastikan Anda bisa mengaplikasikan EMV/EVPI pada konteks pekerjaan Anda sendiri, bukan hanya kasus ilustrasi di kelas.