stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-05
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 5: Struktur Berbasis Perorangan
RPS minggu 5 · 3 SKS

Struktur Berbasis Perorangan

Manajemen Kinerja dan Kompensasi — Magister Manajemen FEB UNDIP

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 5: merancang struktur pengupahan berbasis perorangan (skill, kompetensi, pengembangan).

Jam ke-1 (50 menit)
  • Alternatif struktur berbasis perorangan: skill-based, competency-based
  • Skill-based pay: konsep, implementasi, kelebihan-kekurangan
  • Competency-based pay: fokus perilaku dan karakter
Jam ke-2 (50 menit)
  • Kerangka 70-20-10 (Lombardo & Eichinger) untuk pengembangan
  • Incentive jangka pendek vs LTI jangka panjang
  • Studi kasus: Astra talent development pipeline
Posisi dalam alur: struktur perorangan (P5) → daya saing eksternal (P6) → desain tingkat upah (P7) → UTS (P8) → manajemen kinerja (P9) → pay-for-performance (P10).

Mengapa Struktur Berbasis Perorangan

Struktur berbasis jabatan membayar berdasarkan nilai jabatan. Struktur berbasis perorangan membayar berdasarkan skill, kompetensi, atau pengembangan individu.

Skill Premium (engineer)
+25–40%
insentif untuk skills langka: cloud, AI/ML, cybersecurity (Mercer Indonesia 2024, dihedge)
Adobe — 70-20-10
90%+
karyawan menerima pengembangan terstruktur; adoption tinggi sejak check-in 2012
Pertanyaan pemantik: bagaimana dua engineer pada jabatan yang sama dapat menerima gaji berbeda 30%? Jawabannya: skill-based premium yang menjawab dinamika pasar talent.
Bagian 1 · 1/4
Job-based vs Person-based
Diskusi kelas: untuk industri Anda, mana yang lebih cocok — job-based atau person-based? Mengapa?

Job-based vs Person-based Pay

Job-based pay membayar berdasarkan nilai jabatan (job evaluation score). Person-based pay membayar berdasarkan karakteristik individu (skill, kompetensi, pengembangan).
DimensiJob-basedPerson-based
Basis bayarNilai jabatan (point plan)Skill / kompetensi / pengembangan
LogikaJabatan penting → bayar tinggiIndividu langka/bagus → bayar tinggi
Cocok untukPekerjaan standard, industri matangKnowledge work, industri dinamis
ContohManufaktur, BUMN, retailTechnology, consulting, creative
RisikoTidak mengakomodasi skill langkaSubjektif, biaya training besar

Skill-based Pay: Konsep

Skill-based pay membayar karyawan berdasarkan jumlah dan kedalaman skill yang dimiliki dan dapat didemonstrasikan, bukan jabatan yang dipegang.

Mekanisme
  • Identifikasi skill blocks (mis. Python, SQL, Tableau)
  • Definisikan tingkat penguasaan (beginner, intermediate, expert)
  • Setiap skill block = premium tertentu (mis. Rp 2 jt/bln)
  • Verifikasi via assessment, sertifikasi, portofolio
Kelebihan & Kelemahan
  • + Fleksibel, akomodir skill langka
  • + Insentif continuous learning
  • Verifikasi sulit, biaya training besar
  • Skill obsolescent (perlu update)
Risk utama: skill premium tidak sinkron dengan produktivitas. Karyawan dapat mengumpulkan skill tanpa benar-benar menggunakannya dalam pekerjaan.

Hitung dari Nol: Engineer Skill Premium

Skenario: Engineer Andi di startup technology. Base pay job-based: Rp 20 jt/bln. Skill blocks: Python expert (Rp 3 jt), SQL intermediate (Rp 1 jt), AWS expert (Rp 4 jt), Tableau beginner (Rp 0,5 jt). Berapa total gaji bulanan?
KomponenPerhitunganNilai
1. Base pay (job-based)Skor point plan engineer × midpointRp 20.000.000
2. Python expertSertifikasi + portofolio 3 projectRp 3.000.000
3. SQL intermediateSertifikasi database adminRp 1.000.000
4. AWS expertSertifikasi Solutions Architect ProRp 4.000.000
5. Tableau beginnerOnline course + 1 project internalRp 500.000
6. Total skill premiumRp 3 + 1 + 4 + 0,5Rp 8.500.000
7. Total gaji bulananBase + skill premiumRp 28.500.000
8. Premium %Rp 8,5 / Rp 20 × 100%42,5%
Kesimpulan
+42,5%
Skill premium atas base — masuk akal untuk engineer dengan skill langka (Python + AWS). Bandingkan dengan pasar: Rp 28,5 jt kompetitif untuk tech Jakarta 2024.
Bagian 2 · 2/4
Competency-based Pay
Diskusi kelas: bagaimana membedakan "skill" dan "competency"? Mana yang lebih sulit dinilai?

Competency-based Pay: Konsep

Competency-based pay membayar karyawan berdasarkan kompetensi yang didemonstrasikan — gabungan knowledge, skill, ability, dan personal characteristic.

Definisi Kompetensi
  • Lebih luas dari skill
  • Contoh: leadership, customer obsession, innovation, integrity
  • Dinilai via 360-degree feedback, behavioral interview
Tier Kompetensi
  • Tier 1: Foundational (integritas, etika kerja)
  • Tier 2: Professional (analytical, communication)
  • Tier 3: Leadership (people, strategic thinking)
  • Tier 4: Executive (vision, enterprise mindset)
Praktik
  • Kompetensi dinilai dalam performance review
  • Promosi ke tier lebih tinggi = gaji naik
  • Cocok untuk organisasi matriksial, agile
  • Contoh: Unilever Future Leaders Programme
Risk utama: subjektivitas penilaian kompetensi. Perlu multiple raters (360°) dan kalibrasi komite untuk konsistensi.

Hitung dari Nol: Kompetensi ke Gaji

Skenario: Manager Budi di Unilever Indonesia. Base pay: Rp 40 jt/bln. Kompetensi tier: Leadership tier 3 (Rp 5 jt premium), Customer obsession tier 3 (Rp 3 jt), Innovation tier 2 (Rp 2 jt). Berapa total gaji bulanan?
KomponenTierPremium (Rp jt/bln)
1. Base pay managerRp 40,0
2. LeadershipTier 3Rp 5,0
3. Customer obsessionTier 3Rp 3,0
4. InnovationTier 2Rp 2,0
Total competency premiumRp 10,0
Total gaji bulananRp 50,0
Kesimpulan
+25%
Competency premium atas base — masuk akal untuk manager dengan leadership kuat. Dapat dipertahankan via 360° feedback.
Bagian 3 · 3/4
70-20-10 Development Framework
Diskusi kelas: dari pengalaman Anda, mana yang paling efektif untuk pengembangan diri — on-the-job, mentor, atau training formal?

70-20-10 Framework (Lombardo & Eichinger)

Kerangka pengembangan yang menjadi standar global: 70% dari pengalaman kerja, 20% dari exposure ke orang lain, 10% dari pendidikan formal.

70% — EXPERIENCEOn-the-job, project, stretch assignmentRotasi, special project, lead inisiatif20% — EXPOSUREMentor, coachNetworking, peer learning10% — EDUCATIONTraining formalCourse, certificationOUTPUTSkill & kompetensitersertifikasi

Lever terbesar pengembangan adalah 70% on-the-job experience — bukan training formal. Banyak organisasi over-invest di 10% education dan under-invest di 70% experience.

Hitung dari Nol: Budget Pengembangan 70-20-10

Skenario: Korporasi dengan 1.000 karyawan, total budget pengembangan Rp 5 M/tahun. Alokasi saat ini 70% training formal, 20% mentoring, 10% experience. Bagaimana rebudget sesuai framework 70-20-10?
KomponenSaat IniTarget 70-20-10Rekomendasi
Experience (70%)Rp 0,5 M (10%)Rp 3,5 M (70%)+Rp 3 M — project-based, rotasi
Exposure (20%)Rp 1,0 M (20%)Rp 1,0 M (20%)Tetap — mentoring, coaching
Education (10%)Rp 3,5 M (70%)Rp 0,5 M (10%)−Rp 3 M — kurangi training formal
TotalRp 5,0 MRp 5,0 MRealokasi, bukan tambahan
Kesimpulan
Realokasi 60%
Geser Rp 3 M dari training formal ke experience — investasi project-based, rotasi, dan stretch assignment yang lebih efektif untuk pengembangan
Bagian 4 · 4/4
Incentive Jangka Pendek & Panjang
Diskusi kelas: untuk industri Anda, jenis incentive apa yang paling efektif memotivasi karyawan?

Incentive: Short-term vs Long-term

Incentive jangka pendek (STI) memotivasi kinerja tahunan; incentive jangka panjang (LTI) memotivasi retensi dan alignment dengan pemegang saham.

KarakteristikShort-term Incentive (STI)Long-term Incentive (LTI)
HorizonTahunan (≤1 tahun)3–5 tahun
MekanismeBonus tahunan, komisi, profit sharingStock option, RSU, performance share
TujuanMotivasi kinerja kuartalan/tahunanRetensi + alignment pemegang saham
Cocok untukSales, operations, all employeesExecutive, key talent, startup
RisikoShort-termism, myopic behaviorVolatilitas saham, complex valuation
Praktik modern: kombinasi STI + LTI untuk executive dan key talent. STI-only cenderung mendorong short-termism; LTI-only cenderung mengurangi urgency kinerja tahunan.

Studi Kasus: Astra Talent Pipeline

Astra International menggelar talent development pipeline terintegrasi yang menjadi benchmark korporasi Indonesia.

Tahap PipelineMekanismeOutcome
1. MT (Management Trainee)Rekrut S1 fresh, 2 tahun rotasi 4 divisi, mentor dedicatedPengembangan 70% experience, 20% mentor, 10% training
2. Officer (5–8 tahun)Special project, MBA sponsorship untuk top 10%Skill-based premium untuk project complexity
3. Manager (8–15 tahun)Leadership development program, cross-divisional assignmentCompetency-based pay untuk leadership tier
4. Senior Leader (15+ tahun)Executive coaching, board exposure, LTIStock option + STI + base yang kompetitif
Pelajaran: pipeline terintegrasi dari MT sampai senior leader — pengembangan dan kompensasi saling memperkuat. Tidak ada gap antara junior dan senior.

Ringkasan Kunci Pertemuan 5

Struktur Person-based
Skill-based pay (skill premium) + competency-based pay (kompetensi tier)
70-20-10
70% experience, 20% exposure, 10% education — lever utama adalah on-the-job
STI vs LTI
Short-term incentive (bonus tahunan) + long-term incentive (stock option)

Tiga lensa ini (person-based · 70-20-10 · STI/LTI) menjadi input ke daya saing eksternal P6 minggu depan.

Persiapan P6: baca Milkovich bab 7 tentang daya saing eksternal; bawa contoh tiga jabatan dengan skill premium untuk diolah dengan widget pay-policy-line.