Kerangka 70-20-10 (Lombardo & Eichinger) untuk pengembangan
Incentive jangka pendek vs LTI jangka panjang
Studi kasus: Astra talent development pipeline
Posisi dalam alur: struktur perorangan (P5) → daya saing eksternal (P6) → desain tingkat upah (P7) → UTS (P8) → manajemen kinerja (P9) → pay-for-performance (P10).
Mengapa Struktur Berbasis Perorangan
Struktur berbasis jabatan membayar berdasarkan nilai jabatan. Struktur berbasis perorangan membayar berdasarkan skill, kompetensi, atau pengembangan individu.
Skill Premium (engineer)
+25–40%
insentif untuk skills langka: cloud, AI/ML, cybersecurity (Mercer Indonesia 2024, dihedge)
Adobe — 70-20-10
90%+
karyawan menerima pengembangan terstruktur; adoption tinggi sejak check-in 2012
Pertanyaan pemantik: bagaimana dua engineer pada jabatan yang sama dapat menerima gaji berbeda 30%? Jawabannya: skill-based premium yang menjawab dinamika pasar talent.
Bagian 1 · 1/4
Job-based vs Person-based
Diskusi kelas: untuk industri Anda, mana yang lebih cocok — job-based atau person-based? Mengapa?
Job-based vs Person-based Pay
Job-based pay membayar berdasarkan nilai jabatan (job evaluation score). Person-based pay membayar berdasarkan karakteristik individu (skill, kompetensi, pengembangan).
Dimensi
Job-based
Person-based
Basis bayar
Nilai jabatan (point plan)
Skill / kompetensi / pengembangan
Logika
Jabatan penting → bayar tinggi
Individu langka/bagus → bayar tinggi
Cocok untuk
Pekerjaan standard, industri matang
Knowledge work, industri dinamis
Contoh
Manufaktur, BUMN, retail
Technology, consulting, creative
Risiko
Tidak mengakomodasi skill langka
Subjektif, biaya training besar
Skill-based Pay: Konsep
Skill-based pay membayar karyawan berdasarkan jumlah dan kedalaman skill yang dimiliki dan dapat didemonstrasikan, bukan jabatan yang dipegang.
Definisikan tingkat penguasaan (beginner, intermediate, expert)
Setiap skill block = premium tertentu (mis. Rp 2 jt/bln)
Verifikasi via assessment, sertifikasi, portofolio
Kelebihan & Kelemahan
+ Fleksibel, akomodir skill langka
+ Insentif continuous learning
− Verifikasi sulit, biaya training besar
− Skill obsolescent (perlu update)
Risk utama: skill premium tidak sinkron dengan produktivitas. Karyawan dapat mengumpulkan skill tanpa benar-benar menggunakannya dalam pekerjaan.
Hitung dari Nol: Engineer Skill Premium
Skenario: Engineer Andi di startup technology. Base pay job-based: Rp 20 jt/bln. Skill blocks: Python expert (Rp 3 jt), SQL intermediate (Rp 1 jt), AWS expert (Rp 4 jt), Tableau beginner (Rp 0,5 jt). Berapa total gaji bulanan?
Komponen
Perhitungan
Nilai
1. Base pay (job-based)
Skor point plan engineer × midpoint
Rp 20.000.000
2. Python expert
Sertifikasi + portofolio 3 project
Rp 3.000.000
3. SQL intermediate
Sertifikasi database admin
Rp 1.000.000
4. AWS expert
Sertifikasi Solutions Architect Pro
Rp 4.000.000
5. Tableau beginner
Online course + 1 project internal
Rp 500.000
6. Total skill premium
Rp 3 + 1 + 4 + 0,5
Rp 8.500.000
7. Total gaji bulanan
Base + skill premium
Rp 28.500.000
8. Premium %
Rp 8,5 / Rp 20 × 100%
42,5%
Kesimpulan
+42,5%
Skill premium atas base — masuk akal untuk engineer dengan skill langka (Python + AWS). Bandingkan dengan pasar: Rp 28,5 jt kompetitif untuk tech Jakarta 2024.
Bagian 2 · 2/4
Competency-based Pay
Diskusi kelas: bagaimana membedakan "skill" dan "competency"? Mana yang lebih sulit dinilai?
Competency-based Pay: Konsep
Competency-based pay membayar karyawan berdasarkan kompetensi yang didemonstrasikan — gabungan knowledge, skill, ability, dan personal characteristic.
Dinilai via 360-degree feedback, behavioral interview
Tier Kompetensi
Tier 1: Foundational (integritas, etika kerja)
Tier 2: Professional (analytical, communication)
Tier 3: Leadership (people, strategic thinking)
Tier 4: Executive (vision, enterprise mindset)
Praktik
Kompetensi dinilai dalam performance review
Promosi ke tier lebih tinggi = gaji naik
Cocok untuk organisasi matriksial, agile
Contoh: Unilever Future Leaders Programme
Risk utama: subjektivitas penilaian kompetensi. Perlu multiple raters (360°) dan kalibrasi komite untuk konsistensi.
Hitung dari Nol: Kompetensi ke Gaji
Skenario: Manager Budi di Unilever Indonesia. Base pay: Rp 40 jt/bln. Kompetensi tier: Leadership tier 3 (Rp 5 jt premium), Customer obsession tier 3 (Rp 3 jt), Innovation tier 2 (Rp 2 jt). Berapa total gaji bulanan?
Komponen
Tier
Premium (Rp jt/bln)
1. Base pay manager
—
Rp 40,0
2. Leadership
Tier 3
Rp 5,0
3. Customer obsession
Tier 3
Rp 3,0
4. Innovation
Tier 2
Rp 2,0
Total competency premium
—
Rp 10,0
Total gaji bulanan
—
Rp 50,0
Kesimpulan
+25%
Competency premium atas base — masuk akal untuk manager dengan leadership kuat. Dapat dipertahankan via 360° feedback.
Bagian 3 · 3/4
70-20-10 Development Framework
Diskusi kelas: dari pengalaman Anda, mana yang paling efektif untuk pengembangan diri — on-the-job, mentor, atau training formal?
70-20-10 Framework (Lombardo & Eichinger)
Kerangka pengembangan yang menjadi standar global: 70% dari pengalaman kerja, 20% dari exposure ke orang lain, 10% dari pendidikan formal.
Lever terbesar pengembangan adalah 70% on-the-job experience — bukan training formal. Banyak organisasi over-invest di 10% education dan under-invest di 70% experience.
Hitung dari Nol: Budget Pengembangan 70-20-10
Skenario: Korporasi dengan 1.000 karyawan, total budget pengembangan Rp 5 M/tahun. Alokasi saat ini 70% training formal, 20% mentoring, 10% experience. Bagaimana rebudget sesuai framework 70-20-10?
Komponen
Saat Ini
Target 70-20-10
Rekomendasi
Experience (70%)
Rp 0,5 M (10%)
Rp 3,5 M (70%)
+Rp 3 M — project-based, rotasi
Exposure (20%)
Rp 1,0 M (20%)
Rp 1,0 M (20%)
Tetap — mentoring, coaching
Education (10%)
Rp 3,5 M (70%)
Rp 0,5 M (10%)
−Rp 3 M — kurangi training formal
Total
Rp 5,0 M
Rp 5,0 M
Realokasi, bukan tambahan
Kesimpulan
Realokasi 60%
Geser Rp 3 M dari training formal ke experience — investasi project-based, rotasi, dan stretch assignment yang lebih efektif untuk pengembangan
Bagian 4 · 4/4
Incentive Jangka Pendek & Panjang
Diskusi kelas: untuk industri Anda, jenis incentive apa yang paling efektif memotivasi karyawan?
Incentive: Short-term vs Long-term
Incentive jangka pendek (STI) memotivasi kinerja tahunan; incentive jangka panjang (LTI) memotivasi retensi dan alignment dengan pemegang saham.
Karakteristik
Short-term Incentive (STI)
Long-term Incentive (LTI)
Horizon
Tahunan (≤1 tahun)
3–5 tahun
Mekanisme
Bonus tahunan, komisi, profit sharing
Stock option, RSU, performance share
Tujuan
Motivasi kinerja kuartalan/tahunan
Retensi + alignment pemegang saham
Cocok untuk
Sales, operations, all employees
Executive, key talent, startup
Risiko
Short-termism, myopic behavior
Volatilitas saham, complex valuation
Praktik modern: kombinasi STI + LTI untuk executive dan key talent. STI-only cenderung mendorong short-termism; LTI-only cenderung mengurangi urgency kinerja tahunan.
Studi Kasus: Astra Talent Pipeline
Astra International menggelar talent development pipeline terintegrasi yang menjadi benchmark korporasi Indonesia.
Tahap Pipeline
Mekanisme
Outcome
1. MT (Management Trainee)
Rekrut S1 fresh, 2 tahun rotasi 4 divisi, mentor dedicated
Pengembangan 70% experience, 20% mentor, 10% training
2. Officer (5–8 tahun)
Special project, MBA sponsorship untuk top 10%
Skill-based premium untuk project complexity
3. Manager (8–15 tahun)
Leadership development program, cross-divisional assignment
Competency-based pay untuk leadership tier
4. Senior Leader (15+ tahun)
Executive coaching, board exposure, LTI
Stock option + STI + base yang kompetitif
Pelajaran: pipeline terintegrasi dari MT sampai senior leader — pengembangan dan kompensasi saling memperkuat. Tidak ada gap antara junior dan senior.
Tiga lensa ini (person-based · 70-20-10 · STI/LTI) menjadi input ke daya saing eksternal P6 minggu depan.
Persiapan P6: baca Milkovich bab 7 tentang daya saing eksternal; bawa contoh tiga jabatan dengan skill premium untuk diolah dengan widget pay-policy-line.