stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Behavioral Finance Pasar — Limits to Arbitrase, Noise Trader, dan Anomali Pasar
RPS minggu 12 · 2x50 menit

Behavioral Finance Pasar

Limits to Arbitrase, Noise Trader, dan Anomali Pasar

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 12: menjelaskan bias kolektif, menganalisis limits to arbitrase, dan merancang strategi portofolio yang memperhitungkan noise trader risk.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Dari bias individu ke level pasar (jembatan P9)
  • Model noise trader De Long et al. (1990)
  • Information cascade & herding Banerjee (1992)
Jam ke-2 (50 menit)
  • Limits to arbitrase Shleifer-Vishny (1997)
  • Anomali pasar: behavioral vs risk-based
  • Adaptive Market Hypothesis Lo (2004) & implikasi portofolio
Posisi dalam alur: setelah investasi alternatif P11, sebelum evaluasi kinerja P13.

Mengapa Mispricing Bisa Bertahun Bertahan?

Pertanyaan kunci: kalau arbitraseur rasual selalu ada, mengapa mispricing persisten? Karena "benar" tidak sama dengan "menang".

Momentum
~12 bln
Persistensi rata-rata strategi Jegadeesh-Titman 1993 (ilustratif)
LTCM
1998
Arbitraseur "benar" bangkrut sebelum harga revert
Pertanyaan pemantik: mengapa Anda yang short overvalued bisa bangkrut duluan sebelum harga turun?
Bagian 1 · 1/4
Dari Bias Individu ke Level Pasar
Diskusi kelas: bagaimana bias individu dapat diagregasi jadi inefisiensi pasar?

Rekap Bias Individu (Jembatan dari P9)

Di P9 kita pelajari empat bias utama investor individu. Sekarang pertanyaan baru: bagaimana bias ini diagregasi jadi inefisiensi pasar?

Bias Individu (P9)MekanismeImplikasi Pasar
OverconfidenceIlusi kontrol, kalibrasi berlebihTrading berlebih → volume tinggi, underdiversifikasi
HerdingMengikuti perilaku orang lainBubble & crash — korelasi tinggi antar-investor
Loss aversionKerugian terasa 2× lebih sakitDisposition effect, premium ekuitas (equity premium puzzle)
AnchoringMengaitkan ke harga beli awalUnderreaction terhadap informasi baru
Kunci agregasi: bias individu TIDAK independen — korelasi antar-investor (herding, media, narrative) membuat bias tidak saling menetralkan.

Model Noise Trader De Long et al. (1990)

De Long, Shleifer, Summers, Waldmann 1990: pasar berisi dua tipe pelaku — arbitraseur rasional dan noise trader yang irasional.

Arbitraseur Rasional
  • Tahu harga wajar (fundamental)
  • Ambil posisi kontrarian
  • Tidak suka risiko — butuh risk premium
  • Horizont terbatas (dana eksternal)
Noise Trader
  • Persepsi harga salah/sentiment-driven
  • Beli saat optimis, jual saat pesimis
  • Mendorong harga menjauh fundamental
  • Bisa bertahan lebih lama dari arbitraseur
Noise trader risk: harga bisa semakin menjauh dari fundamental sebelum revert — arbitraseur menanggung risiko ini.

Information Cascade & Herding Banerjee (1992)

Banerjee 1992: investor mengabaikan sinyal privat dan mengikuti perilaku orang lain — cascade informasional, akar bubble.

Tahap CascadeMekanismeContoh
1. Sinyal privatInvestor punya info sendiriAnalisis fundamental saham X
2. Observasi orang lainLihat orang beli/jualLihat volume naik, forum ramai
3. InferensiAsumsi orang lain tahu lebih"Mereka pasti tahu sesuatu"
4. CascadeIkut meski kontradiksi sinyalBeli meski analisis sendiri kurang yakin
Cascade bukan sekadar "ikut-ikutan irasional" — bisa rasionalkah secara informasional (inferensi dari perilaku orang lain).
Bagian 2 · 2/4
Limits to Arbitrase
Diskusi kelas: kalau Anda yakin saham overvalued, mengapa short-selling berisiko?

Definisi Limits to Arbitrase

Shleifer & Vishny 1997: arbitrase bukan tanpa risiko. Tiga hambatan utama membuat mispricing bisa persisten.

HambatanDefinisiKonsekuensi
Implementasi shortSulit/mahal meminjam sahamShort selling terbatas, biaya borrow tinggi
Horizont investorDana eksternal bisa tarik kapan sajaArbitraseur dipaksa exit sebelum revert
Modal terbatasArbitraseur undercapitalizedTidak cukup modal menahan drawdown
Noise trader riskHarga bisa makin menjauhMargin call sebelum revert
Intuisi: "benar tapi bangkrut duluan" — arbitraseur yang benar bisa bangkrut sebelum harga revert.

Noise Trader Risk & Synchronization Risk

Abreu-Brunnermeier 2003: meski semua arbitraseur tahu mispricing, sulit mensinkronkan exit → mispricing persisten.

Noise Trader Risk
  • Harga bisa makin menjauh fundamental
  • Drawdown bisa dalam sebelum revert
  • Margin call memaksa exit prematur
  • LTCM 1998: ~USD 4,6 miliar rugi
Synchronization Risk
  • Semua arbitraseur tahu mispricing
  • Tapi tidak ada koordinasi entry/exit
  • Takut exit duluan, menunggu
  • Mispricing tetap sampai catalyst
Catalyst (berita, peristiwa) dibutuhkan untuk memicu revert — tanpa itu, mispricing bisa bertahan.

Eksplorasi: Limits to Arbitrase Simulator

Visualisasi interaktif mispricing, modal arbitraseur, horizont, dan probabilitas "bangkrut duluan" (Shleifer-Vishny 1997).

Geser slider: kappa (kekuatan noise trader), horizont arbitraseur, dan modal relatif. Lihat bagaimana peak mispricing dan peluang bangkrut-duluan berubah.
Bagian 3 · 3/4
Anomali Pasar: Behavioral atau Risk-Based?
Diskusi kelas: value premium itu karena investor behavioral, atau karena value stocks benar-benar lebih berisiko?

Anomali Return Utama di Pasar Saham

Empat anomali paling terdokumentasi — masing-masing punya penjelasan behavioral dan risk-based yang saling bersaing.

AnomaliTemuan EmpirisPenulis Kunci
MomentumSaham pemenang 12 bln terakhir terus menangJegadeesh-Titman 1993
Value premiumHigh book-to-market outperform lowFama-French 1992 (HML)
Size effectSmall-cap outperform large-capBanz 1981
PEADDrift setelah earnings surpriseBall-Brown 1968, Bernard-Thomas 1989
Setiap anomali punya dua penjelasan: behavioral (bias) atau risk-based (kompensasi risiko). Debat belum tuntas.

Dua Lensa: Behavioral vs Risk-Based

Untuk setiap anomali, ada dua kerangka penjelasan yang saling bersaing — keduanya punya bukti empiris.

Lensa Behavioral
  • Momentum: underreaction (anchoring)
  • Value: overextrapolasi masa lalu
  • PEAD: underreaction earnings
  • Keyakinan: bias kognitif bisa diukur
Lensa Risk-Based
  • Value: distress premium (Fama-French 1993)
  • Size: small-cap lebih berisiko
  • Momentum: crash risk (Daniel-Moskowitz)
  • q-theory: Hou-Xue-Zhang 2015
Kontroversi belum tuntas — sebagian bukti mendukung behavioral, sebagian risk-based. Hati-hati "free lunch" bisa berkompensasi risiko tersembunyi.

Fama (1998) vs Shiller/Thaler: Debat Efisiensi Pasar

Debat dua kubu Nobel: Fama membela EMH, Shiller-Thaler menunjuk persistensi anomali. Adaptive Market Lo (2004) sebagai sintesis.

PosisiArgumen UtamaBukti
Fama (1998) — EMHAnomali = chance (data snooping), hilang seiring waktuBanyak anomali melemah setelah publikasi
Shiller, ThalerPersistensi anomali + bubble menunjukkan inefisiensiDot-com 2000, IHSG 2013, excess volatility
Lo (2004) — AMHPasar fluktuasi efisien-inefisien sesuai adaptasiStrategi punya life cycle (muncul-usang)
Adaptive Market Hypothesis Lo 2004: sintesis — pasar bukan selalu efisien atau inefisien, melainkan fluktuasi.
Bagian 4 · 4/4
Implikasi untuk Portofolio
Diskusi kelas: bagaimana manajer portofolio memanfaatkan behavioral tanpa jatuh ke noise trader risk?

Strategi Menghadapi Noise Trader Risk

Limits to arbitrase mengubah cara praktis membangun portofolio — bukan kontrarian murni, tapi disiplin dengan catalyst dan likuiditas.

Disiplin Entry
  • Tunggu catalyst, bukan mispricing murni
  • Limit ukuran posisi kontrarian
  • Diversifikasi across mispricings
Funding Liquidity
  • Cadangan kas untuk margin call
  • Hindari over-leverage (LTCM)
  • Horizont panjang (lock-up investor)
Tilt, Bukan Bet Besar
  • Tilt 5-10% ke value/momentum
  • Core-satellite approach
  • Hindari market timing murni
Pelajaran LTCM:alpha tidak mengimbangi over-leverage. Modal & likuiditas sama pentingnya dengan tesis investasi.

Adaptive Market Hypothesis Lo (2004)

Sintesis Lo 2004: pasar fluktuasi antara efisien dan inefisien — strategi punya life cycle, pelaku beradaptasi.

Kondisi PasarKarakteristikImplikasi Strategi
Stabil / KompetitifInformasi melimpah, kompetisi tinggiMendekati efisien — pasif indeks optimal
DisrupsiInovasi, krisis, regulasi baruInefisien sementara — window alpha
Setelah adaptasiPelaku belajar, strategi terarbitraseWindow alpha menutup — kembali efisien
Praktis: strategi punya life cycle — muncul, menguntungkan, lalu usang. Tidak ada strategi abadi.

Bubble & Crash di BEI: Pola Behavioral

Tiga episode BEI menunjukkan pola klasik herding + limits to arbitrase — bukti behavioral pasar Indonesia.

IHSG 2013
  • Naik ~+28% (Jan-Mei 2013, ilustratif)
  • Crash ~-24% saat taper tantrum
  • Cascade beli +Limits to arbitrase
IPO GoTo 2022
  • IPO Rp 338 (Apr 2022)
  • Turun ke ~Rp 200-an dalam bulan
  • Narrative play + herding IPO
Pola umum: akumulasi (overconfidence), peak (cascade), crash (panic). Harga dapat menjauh fundamental berbulan-bulan.

Ringkasan Kunci Pertemuan 12

Bias Agregat
Herding, cascade, noise trader
Limits to Arbitrase
Modal, horizont, noise trader risk
Adaptive Market
Strategi punya life cycle (Lo 2004)

Tiga pesan: bias agregat jadi anomali; "benar tapi bangkrut duluan" menjelaskan persistensi; strategi perlu catalyst dan likuiditas.

Persiapan P13: baca BKM bab 24 (portfolio performance evaluation); pertanyaan: bagaimana membandingkan manajer investasi yang ambil risiko berbeda?