RPS minggu 10 · 2x50 menit
Investasi Pendapatan Tetap Obligasi, Yield, Duration, dan Convexity Hari ini kita beralih dari psikologi investasi P9 ke instrumen penting yang menjadi tulang punggung portofolio institusional: obligasi dan pasar fixed income. Topik ini sangat relevan untuk Indonesia karena SBN atau Surat Berharga Negara adalah kelas aset terbesar di portofolio dana pensiun dan asuransi. Kita akan membahas mekanisme penilaian obligasi, hubungan suku bunga BI dengan harga obligasi, dan bagaimana duration serta convexity mengukur sensitivitas harga terhadap yield. Pertanyaan pemanting untuk diskusi: apa yang terjadi pada portofolio obligasi Anda ketika BI mengumumkan kenaikan rate? Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 10: menilai obligasi berdasarkan harga, yield, duration, convexity dan menerapkannya untuk manajemen risiko suku bunga.
Dasar obligasi: kupon, jatuhtempo, nominal, YTM Mekanisme penilaian: harga = PV cash flow Hubungan suku bunga BI & harga obligasi Macaulay & modified duration Convexity & estimasi perubahan harga Strategi fixed income & pasar obligasi RI Posisi dalam alur: setelah behavioral P9, sebelum alternatif investasi P11.
Empat hal yang harus Anda kuasai hari ini. Pertama, menjelaskan mekanisme penilaian obligasi: harga, yield, duration, convexity. Kedua, menganalisis hubungan suku bunga dengan harga obligasi. Ketiga, menerapkan duration dan convexity untuk manajemen risiko suku bunga. Keempat, membandingkan kelas aset fixed income di pasar Indonesia seperti SBN dan obligasi korporasi. Kalau di akhir kuliah Anda bisa menjelaskan mengapa harga obligasi turun saat BI rate naik dan bagaimana duration mengukur sensitivitasnya, Anda menguasai inti penilaian obligasi. Mengapa BI Rate Mempengaruhi Harga Obligasi? Pertanyaan fundamental fixed income: bagaimana kebijakan moneter BI memengaruhi portofolio obligasi?
BI Rate Naik
Harga ↓
Yield naik agar kompetitif dengan instrumen baru
BI Rate Turun
Harga ↑
Yield turun; kupon lama lebih menarik
Pertanyaan pemantik: bagaimana manajer dana pensiun melindungi portofolio SBN dari kenaikan BI rate?
Pertanyaan fundamental fixed income: bagaimana kebijakan moneter Bank Indonesia memengaruhi portofolio obligasi? Hubungan dasar adalah inverse relationship antara yield dan harga obligasi. Ketika BI rate naik, yield obligasi baru naik agar kompetitif dengan instrumen lain. Akibatnya, harga obligasi lama yang punya kupon lebih rendah harus turun agar yield to maturity investor baru sama dengan yield pasar. Sebaliknya, ketika BI rate turun, yield obligasi turun, dan harga obligasi lama yang punya kupon lebih tinggi menjadi lebih menarik sehingga harganya naik. Implikasi praktis: kenaikan BI rate 1 persen dapat menyebabkan kerugian modal signifikan pada portofolio obligasi jangka panjang. Pertanyaan pemantik: bagaimana manajer dana pensiun melindungi portofolio SBN dari kenaikan BI rate? Jawabannya: melalui manajemen duration, diversifikasi maturity, dan strategi immunisasi yang akan kita bahas hari ini. Bagian 1 · 1/4
Penilaian Obligasi
Diskusi kelas: apa yang menentukan harga obligasi? Bagaimana kupon, jatuhtempo, dan yield berinteraksi?
Blok ini membahas mekanisme penilaian obligasi. Pertanyaan diskusi memancing kerangka penilaian: harga obligasi adalah present value semua cash flow masa depan (kupon periodik + face value di jatuhtempo), didiskontokan dengan yield yang merefleksikan risiko. Dasar Obligasi Obligasi adalah instrumen utang dengan kupon periodik dan pengembalian face value di jatuhtempo.
Komponen Definisi Contoh SBN RI Penerbit Entitas yang menerbitkan obligasi Pemerintah RI (SBN), BCA Finance (korporasi) Kupon Bunga periodik dibayar ke investor SUN FR 83: 7,125%/tahun Jatuhtempo Tanggal pengembalian face value SUN FR 83: 15-Feb-2033 Face value (nominal) Nilai pokok dikembalikan Rp 1 miliar per lot Yield to maturity (YTM) IRR yang menyetarakan harga dengan PV ~7% untuk SUN 10 tahun
Obligasi adalah instrumen utang dengan karakteristik utama. Pertama, penerbit: entitas yang menerbitkan obligasi — pemerintah RI untuk SBN atau Surat Berharga Negara, atau perusahaan seperti BCA Finance dan Telkom untuk obligasi korporasi. Kedua, kupon: bunga periodik dibayar ke investor, biasanya setengah tahunan atau tahunan — contoh SUN FR 83 punya kupon 7,125 persen per tahun. Ketiga, jatuhtempo: tanggal pengembalian face value — contoh SUN FR 83 jatuh tempo 15 Februari 2033. Keempat, face value atau nominal: nilai pokok yang dikembalikan di jatuhtempo, biasanya Rp 1 miliar per lot untuk SBN institusi. Kelima, yield to maturity atau YTM: internal rate of return yang menyetarakan harga obligasi dengan present value semua cash flow — untuk SUN 10 tahun saat ini sekitar 7 persen. Penting dicatat: harga obligasi berfluktuasi sepanjang waktu, tetapi face value tetap — sehingga yield juga berfluktuasi tergantung harga pasar. Formula Harga Obligasi Harga obligasi = present value semua kupon + present value face value, didiskontokan dengan YTM.
$$P = \Sigma\, [C / (1+y)^{t}] + F / (1+y)^{T}$$
P = harga obligasi C = kupon periodik F = face value y = yield to maturity per periode T = jumlah periode ke jatuhtempo Inverse: P naik ↔ y turun Jatuhtempo panjang → sensitivitas harga besar Kupon rendah → durasi tinggi → sensitivitas besar Hubungan inverse harga-yield adalah konsep terpenting dalam fixed income — semua strategi durasi berbasis ini.
Formula harga obligasi adalah present value semua kupon periodik ditambah present value face value di jatuhtempo, semuanya didiskontokan dengan yield to maturity per periode. Dalam notasi: P sama dengan sigma C dibagi 1+y pangkat t untuk semua periode, ditambah F dibagi 1+y pangkat T. Komponen: P harga obligasi, C kupon periodik, F face value, y YTM per periode, T jumlah periode ke jatuhtempo. Sifat penting dari formula ini. Pertama, hubungan inverse: harga P naik ketika yield y turun, dan sebaliknya — ini konsep terpenting dalam fixed income. Kedua, semakin panjang jatuhtempo T, semakin besar sensitivitas harga terhadap perubahan yield — karena cash flow jauh di masa depan lebih sensitif terhadap diskonto. Ketiga, semakin rendah kupon, semakin tinggi duration dan semakin besar sensitivitas harga — karena cash flow terkonsentrasi di face value di jatuhtempo. Implikasi praktis: obligasi zero-coupon dan obligasi jangka panjang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga. Manajer fixed income memanfaatkan ini untuk strategi durasi yang akan kita bahas. Yield to Maturity (YTM) YTM adalah internal rate of return obligasi yang menyetarakan harga dengan PV cash flow.
Ukuran Yield Definisi Kegunaan Current yield Kupon tahunan / harga Income relatif Yield to maturity (YTM) IRR dari cash flow Total return indikator Yield to call (YTC) IRR jika dipanggil awal Obligasi callable Spot rate Yield zero-coupon per maturity Bootstrapping kurva yield
YTM mengasumsikan investor memegang sampai jatuhtempo dan semua kupon diinvestasikan kembali dengan yield yang sama — asumsi yang jarang terpenuhi.
Yield to maturity atau YTM adalah ukuran yield paling penting. YTM adalah internal rate of return obligasi yang menyetarakan harga dengan present value semua cash flow — jika investor membeli di harga pasar dan memegang sampai jatuhtempo, YTM adalah return tahunan yang diperoleh. Empat ukuran yield berbeda. Current yield adalah kupon tahunan dibagi harga — ukuran income relatif, tidak mengakui capital gain/loss. YTM adalah ukuran total return indikator paling sering dikutip. Yield to call atau YTC adalah IRR jika obligasi callable dipanggil sebelum jatuhtempo — penting untuk obligasi korporasi yang callable. Spot rate adalah yield zero-coupon per maturity — digunakan untuk bootstrapping kurva yield. Penting dicatat: YTM mengasumsikan investor memegang sampai jatuhtempo dan semua kupon diinvestasikan kembali dengan yield yang sama — asumsi yang jarang terpenuhi dalam praktik. Reinvestment risk adalah risiko kupon tidak dapat diinvestasikan kembali dengan YTM semula. Implikasi: investor harus menyadari YTM adalah estimasi, bukan jaminan return. Hubungan Suku Bunga & Harga Obligasi Visualisasi inverse relationship antara yield dan harga — kenaikan yield menyebabkan harga turun.
Yield (%) → ↑ Harga Kurva harga-yield (convex) Yield rendah: harga tinggi Yield tinggi: harga rendah Hubungan inverse + convexity (BKM bab 14) BI rate naik 1% → yield SBN naik → harga obligasi jatuh, dengan magnitudo tergantung duration.
Diagram ini menggambarkan hubungan inverse antara yield dan harga obligasi. Sumbu horizontal yield dalam persen, sumbu vertikal harga. Kurva menurun dari kiri atas ke kanan bawah — yield rendah berarti harga tinggi, dan sebaliknya. Selain inverse, kurva juga convex — melengkung ke atas — yang menjadi dasar konsep convexity yang akan kita bahas. Contoh praktis: ketika BI mengumumkan kenaikan rate 1 persen dari 6 ke 7 persen, yield SBN 10 tahun akan naik dari sekitar 7 ke 8 persen, dan harga SUN FR 83 akan turun proporsional dengan duration. Untuk obligasi 10 tahun dengan duration sekitar 7, kerugian harga sekitar 7 persen untuk kenaikan yield 1 persen. Implikasi praktis: kenaikan BI rate dapat menyebabkan kerugian modal signifikan pada portofolio obligasi, terutama jangka panjang. Manajer fixed income harus memahami sensitivitas ini dan mengelola duration sesuai view tentang arah suku bunga. Coba Sendiri: Harga Obligasi vs Yield: Hubungan Terbalik Saat yield naik, harga obligasi turun — kuantifikasi sensitivitasnya.
Widget ini mengilustrasikan hubungan fundamental: harga obligasi bergerak berbanding terbalik dengan yield. Saat BI rate naik, yield SBN baru naik, sehingga harga obligasi lama dengan kupon lebih rendah turun agar kompetitif. Anda dapat menggeser yield dan melihat harga berubah — kurva hubungan harga-yield tidak linier melainkan konveks (convexity), menyebabkan kenaikan harga saat yield turun sedikit lebih besar daripada penurunan harga saat yield naik dengan magnitudo sama. Implikasi praktis: investor obligasi menghadapi risiko suku bunga (interest rate risk) — saat BI hawkish tahun 2022-2023, banyak portofolio obligasi Indonesia rugi harga signifikan. Duration dan convexity yang akan kita hitung di bawah adalah ukuran sensitivitas risiko suku bunga. Bagian 2 · 2/4
Duration & Convexity
Diskusi kelas: bagaimana cara mengukur sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan yield?
Blok ini membahas duration dan convexity — dua ukuran sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan yield. Pertanyaan diskusi memancing kerangka berpikir: kita perlu ukuran tunggal yang ringkas untuk sensitivitas harga, dan itulah duration. Macaulay Duration Macaulay duration : weighted average time untuk menerima semua cash flow obligasi. Ukuran sensitivitas harga terhadap yield. (Frederick Macaulay 1938; BKM bab 16)
$D_{\text{mac}} = \dfrac{\sum_{t=1}^{T} t \cdot PV(CF_t)}{P} = \dfrac{\sum_{t=1}^{T} t \cdot \frac{CF_t}{(1+y)^t}}{P}$
Zero-coupon bond: D_mac = jatuhtempo Kupon bond: D_mac < jatuhtempo Kupon tinggi → D_mac rendah Jatuhtempo panjang → D_mac tinggi D_mac 7 tahun = waktu rata-rata menunggu cash flow Lebih besar D_mac → lebih sensitif harga Dasar untuk modified duration Macaulay duration diperkenalkan Frederick Macaulay 1938 sebagai ukuran weighted average time untuk menerima semua cash flow obligasi. Formula: D_mac sama dengan sigma t dikali PV dari cash flow di periode t dibagi harga P — bobot adalah present value setiap cash flow. Sifat penting Macaulay duration. Pertama, untuk zero-coupon bond yang tidak punya kupon, D_mac sama dengan jatuhtempo karena semua cash flow di akhir. Kedua, untuk obligasi ber-kupon, D_mac lebih kecil dari jatuhtempo karena kupon periodik mempercepat penerimaan cash flow. Ketiga, semakin tinggi kupon, semakin rendah D_mac karena lebih banyak cash flow awal. Keempat, semakin panjang jatuhtempo, semakin tinggi D_mac. Interpretasi praktis: D_mac 7 tahun berarti investor rata-rata menunggu 7 tahun untuk menerima cash flow. Lebih besar D_mac berarti lebih sensitif terhadap perubahan yield. Macaulay duration menjadi dasar untuk modified duration yang lebih sering dipakai dalam manajemen risiko. Modified Duration Modified duration adalah ukuran praktis sensitivitas harga terhadap perubahan yield.
$\dfrac{\Delta P}{P} \approx -D_{\text{mod}} \times \Delta y, \qquad D_{\text{mod}} = \dfrac{D_{\text{mac}}}{1 + y/m}$
$D_{\text{mod}} = D_{\text{mac}} / (1 + y/m)$ $m$ = frekuensi kupon per tahun Estimasi % perubahan harga untuk $\Delta y$ SUN FR 83: $D_{\text{mod}} \approx 6{,}5$ BI rate naik 0,5% → $\Delta y = +0{,}5\%$ $\Delta P/P \approx -6{,}5 \times 0{,}5\% = -3{,}25\%$ Modified duration adalah ukuran risiko suku bunga standar industri — dana pensiun melaporkan D_mod portofolio.
Modified duration adalah ukuran praktis sensitivitas harga terhadap perubahan yield. Formula estimasi: persen perubahan harga sama dengan minus D_mod dikali perubahan yield. Hubungannya dengan Macaulay duration: D_mod sama dengan D_mac dibagi 1 ditambah y dibagi m, di mana m adalah frekuensi kupon per tahun. Contoh praktis: SUN FR 83 punya D_mod sekitar 6,5. Jika BI rate naik 0,5 persen, perubahan yield sekitar 0,5 persen, sehingga perubahan harga estimasi adalah minus 6,5 dikali 0,5 persen sama dengan minus 3,25 persen. Artinya harga obligasi turun sekitar 3,25 persen. Modified duration adalah ukuran risiko suku bunga standar industri — dana pensiun dan reksadana fixed income melaporkan D_mod portofolio ke regulator dan investor. Implikasi manajemen: manajer fixed income yang mengharapkan kenaikan rate akan menurunkan D_mod portofolio (memperpendek maturity), sebaliknya yang mengharapkan penurunan rate akan menaikkan D_mod (memperpanjang maturity). Convexity: Koreksi Orde Dua Modified duration adalah aproksimasi linear; convexity menambah koreksi orde dua untuk perubahan yield besar.
$\dfrac{\Delta P}{P} \approx -D_{\text{mod}} \times \Delta y + \tfrac{1}{2} \times C \times (\Delta y)^2$
Convexity selalu positif untuk obligasi standar Convexity tinggi: lebih baik untuk semua skenario yield Penting untuk perubahan yield besar Barbell strategy: convexity tinggi Bullet strategy: convexity rendah Long convexity saat volatilitas tinggi Convexity adalah "bonus" untuk investor — jika dua obligasi punya duration sama, pilih convexity tinggi.
Modified duration adalah aproksimasi linear yang akurat untuk perubahan yield kecil. Untuk perubahan yield besar, kurva harga-yield yang convex menyebabkan estimasi linear kurang akurat — convexity menambah koreksi orde dua. Formula lengkap: persen perubahan harga sama dengan minus D_mod dikali perubahan yield ditambah setengah kali convexity dikali perubahan yield kuadrat. Sifat convexity. Pertama, convexity selalu positif untuk obligasi standar — ini berarti convexity selalu menguntungkan investor. Kedua, convexity tinggi berarti lebih baik untuk semua skenario yield: harga naik lebih banyak saat yield turun, dan turun lebih sedikit saat yield naik. Ketiga, convexity penting untuk perubahan yield besar — untuk perubahan kecil, koreksi convexity minimal. Implikasi strategi: barbell strategy yang memegang obligasi jangka pendek dan panjang tanpa tengah menghasilkan convexity tinggi — menguntungkan saat volatilitas yield tinggi. Bullet strategy yang terkonsentrasi di maturity menengah punya convexity rendah tetapi yield mungkin lebih tinggi. Long convexity dengan opsi atau obligasi callable menjadi strategi saat volatilitas yield tinggi. Pesan praktis: convexity adalah bonus untuk investor — jika dua obligasi punya duration sama, selalu pilih convexity tinggi. Coba Sendiri: Yield to Maturity: Cari Akar Harga Obligasi YTM adalah diskonto yang membuat harga obligasi sama dengan harga pasar — cari akarnya.
Widget ini menghitung YTM (yield to maturity) — pengembalian tahunan efektif jika investor memegang obligasi sampai jatuh tempo. YTM adalah suku bunga diskonto yang membuat present value seluruh arus kas kupon dan pokok sama dengan harga pasar. Karena rumus PV tidak bisa diinvers secara aljabar, YTM dicari lewat iterasi numerik (metode bisection atau Newton-Raphson) — widget memperagakan prosesnya. YTM adalah ukuran return standar untuk membandingkan obligasi dengan kupon dan tenor berbeda. Di Indonesia, yield SBN seri FR diterbitkan oleh DJPPR Kementerian Keuangan melalui lelang mingguan; yield obligasi korporasi biasanya lebih tinggi (credit spread) untuk mengkompensasi risiko default penerbit. Eksplorasi: Harga-Yield & Duration Visualisasi interaktif sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan yield.
🧮 Buka widget penuh · 📖 pelajari teorinya di Duration & Convexity & WACC
Eksplorasi widget untuk memahami bagaimana duration dan convexity memengaruhi perubahan harga.
Widget duration-convexity-calculator memberi visualisasi interaktif tentang sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan yield. Manfaatkan widget untuk eksplorasi. Pertama, atur kupon dan jatuhtempo — lihat bagaimana Macaulay dan modified duration berubah. Kedua, simulasi perubahan yield positif dan negatif — lihat estimasi harga dengan duration saja versus duration plus convexity. Ketiga, bandingkan obligasi berbeda: zero-coupon versus ber-kupon, jangka pendek versus panjang. Eksperimen kunci: simulasi perubahan yield besar (2 persen) dan kecil (0,25 persen) — lihat bahwa convexity lebih penting untuk perubahan besar. Implikasi praktis: untuk manajemen portofolio, duration adalah ukuran utama, tetapi convexity menjadi pertimbangan kedua terutama saat volatilitas yield tinggi. Dana pensiun dengan liabilitas jangka panjang biasanya ingin convexity tinggi untuk lindung terhadap perubahan yield ekstrem. Bagian 3 · 3/4
Pasar Obligasi Indonesia
Diskusi kelas: apa perbedaan SBN dan obligasi korporasi Indonesia? Mana yang lebih sesuai untuk dana pensiun?
Blok ini membahas pasar obligasi Indonesia. Pertanyaan diskusi memancing pembedaan SBN (surat berharga negara) sebagai benchmark risiko terendah versus obligasi korporasi yang menawarkan yield lebih tinggi dengan risiko kredit. Dana pensiun konservatif lebih banyak SBN; yang mencari yield tambahan alokasikan ke korporasi. Surat Berharga Negara (SBN) SBN adalah instrumen utang pemerintah RI — benchmark risiko terendah untuk IDR.
Jenis SBN Karakteristik Contoh Seri SUN (Fixed Rate) Kupon tetap sampai jatuhtempo FR 83 (7,125%, 2033) SPN Discount, jangka pendek SPN 03 Desember VR (Variable Rate) Kupon mengambang VR series Sukuk Prinsip syariah PBS, Sukuk Tabungan INDON Global bond USD INDON 2050
SBN diterbitkan melalui lelang DJPPR Kemenkeu; yield benchmark 2/5/10 tahun mengindikasikan cost of borrowing pemerintah.
Surat Berharga Negara atau SBN adalah instrumen utang pemerintah RI — benchmark risiko terendah untuk Rupiah. Lima jenis SBN utama. Pertama, SUN Fixed Rate atau FR: kupon tetap sampai jatuhtempo — contoh FR 83 dengan kupon 7,125 persen dan jatuhtempo 2033. Kedua, SPN: discount notes jangka pendek tanpa kupon, dijual di bawah nominal dan dikembalikan di nominal — contoh SPN 03 Desember. Ketiga, VR atau Variable Rate: kupon mengambang yang disesuaikan dengan benchmark pasar. Keempat, Sukuk: obligasi syariah berdasarkan prinsip akad seperti ijarah atau wakalah — contoh PBS dan Sukuk Tabungan untuk ritel. Kelima, INDON: global bond dalam USD yang diterbitkan di pasar internasional — contoh INDON 2050 untuk jatuhtempo panjang. SBN diterbitkan melalui lelang DJPPR Kementerian Keuangan secara berkala. Yield benchmark 2 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun mengindikasikan cost of borrowing pemerintah dan menjadi acuan untuk pricing kredit lainnya. SBN adalah tulang punggung portofolio dana pensiun, asuransi, dan reksadana fixed income di Indonesia. Coba Sendiri: Pull-to-Par: Harga Obligasi Mendekati Nilai Nominal Saat mendekati jatuh tempo, harga obligasi converge ke nilai nominal 100 — mengapa dan seberapa cepat?
Widget ini memperagakan fenomena pull-to-par: harga obligasi yang diperdagangkan dengan premium atau diskon akan converge ke nilai nominal (par) saat jatuh tempo didekati. Mekanismenya sederhana — saat jatuh tempo, penerbit wajib melunasi pada nilai nominal penuh, sehingga harga pasar harus sama dengan nominal. Implikasi penting: investor yang membeli obligasi diskon (di bawah par) akan mendapat capital gain otomatis menuju maturity; sebaliknya, investor obligasi premium akan merasakan capital loss. Pull-to-par bekerja bersamaan dengan risiko suku bunga dan credit spread untuk menentukan total return obligasi. Manajer fixed income memanfaatkan pull-to-par dalam strategi roll-down yield curve: membeli tenor menengah dan memegang saat yield turun karena pergeseran kurva. Obligasi Korporasi Indonesia Obligasi korporasi menawarkan yield lebih tinggi dari SBN dengan imbalan risiko kredit.
BCA Finance, BFI Finance (consumer finance) Telkom, Pertamina (SOE) Adira, WOM Finance (multifinance) Property: Agung Podomoro, Lippo Rating AAA: spread 50-100 bps Rating AA: spread 100-200 bps Rating BBB: spread 200-400 bps High yield: spread >400 bps Spread = kompensasi untuk risiko kredit; semakin tinggi spread, semakin tinggi probabilitas default.
Obligasi korporasi Indonesia menawarkan yield lebih tinggi dari SBN dengan imbalan risiko kredit. Penerbit utama meliputi beberapa sektor. Consumer finance: BCA Finance dan BFI Finance yang fokus pembiayaan konsumen. SOE atau BUMN: Telkom dan Pertamina yang punya profil kredit kuat. Multifinance: Adira dan WOM Finance untuk pembiayaan kendaraan. Property: Agung Podomoro dan Lippo untuk pembiayaan proyek. Spread atas SBN mengukur risiko kredit dan likuiditas. Rating AAA: spread 50-100 basis points atas SBN — paling aman. Rating AA: spread 100-200 bps. Rating BBB: spread 200-400 bps — investment grade terendah. High yield atau speculative grade: spread lebih dari 400 bps — risiko default signifikan. Spread adalah kompensasi untuk risiko kredit; semakin tinggi spread, semakin tinggi probabilitas default yang diharapkan. Implikasi praktis: investor yang mencari yield tambahan alokasikan ke obligasi korporasi, tetapi harus sadar risiko default dan likuiditas. Reksadana fixed income Indonesia biasanya memegang campuran SBN dan obligasi korporasi investment grade. Bagian 4 · 4/4
Strategi Fixed Income
Diskusi kelas: strategi durasi apa yang sesuai untuk dana pensiun dengan liabilitas jangka panjang?
Blok penutup ini membahas strategi fixed income praktis. Pertanyaan diskusi memancing konsep immunisasi atau matched duration — dana pensiun dengan liabilitas jangka panjang sebaiknya memegang obligasi dengan duration yang mengimbangi liabilitas. Strategi Durasi Portofolio Tiga strategi durasi utama: matched duration (immunisasi), bullet, dan barbell.
D_portofolio = D_liabilitas Lindung dari risiko suku bunga Cocok untuk dana pensiun & asuransi Terkonsentrasi di maturity tengah Yield lebih tinggi dari barbell Convexity rendah Kombinasi jangka pendek & panjang Pilihan strategi tergantung view suku bunga, profil liabilitas, dan toleransi volatilitas.
Tiga strategi durasi utama untuk portofolio fixed income. Pertama, matched duration atau immunisasi: duration portofolio disetarakan dengan duration liabilitas — cocok untuk dana pensiun dan asuransi yang punya liabilitas terukur. Immunisasi melindungi dari risiko suku bunga karena perubahan nilai aset imbang dengan perubahan nilai liabilitas. Kedua, bullet strategy: terkonsentrasi di maturity tengah (misal 7-10 tahun) — yield biasanya lebih tinggi dari barbell dengan convexity rendah. Cocok untuk investor yang punya view yield spesifik di maturity tengah. Ketiga, barbell strategy: kombinasi maturity pendek (likuiditas) dan panjang (yield) tanpa tengah — menghasilkan convexity tinggi yang menguntungkan saat volatilitas yield tinggi. Pilihan strategi tergantung tiga faktor: view tentang arah suku bunga, profil liabilitas (untuk institusi), dan toleransi volatilitas. Dana pensiun konservatif biasanya memilih matched duration; manajer aktif memilih bullet atau barbell untuk mencari alpha. Reksadana Fixed Income Indonesia Reksadana pendapatan tetap memberi akses mudah ke portofolio obligasi dengan modal kecil.
Reksadana Manajer Investasi Alokasi Return 5 thn (ilustratif) Pendapatan Tetap BNI BNI AM SBN + korporasi ~6-7%/tahun Sucorinvest Stable Fund Sucorinvest SBN dominan ~6-7%/tahun Trimegah Fixed Income Trimegah Campuran ~6-7%/tahun BNP Paribas SR BNP Paribas AM Syariah ~6-7%/tahun
Reksadana fixed income adalah pilihan utama investor ritel & institusi kecil untuk diversifikasi kelas aset pendapatan tetap.
Reksadana pendapatan tetap memberi akses mudah ke portofolio obligasi dengan modal kecil — minimum pembelian sering Rp 100 ribu. Empat contoh reksadana fixed income Indonesia. Pertama, Pendapatan Tetap BNI dari BNI AM: alokasi campuran SBN dan obligasi korporasi, return historis 5 tahun sekitar 6-7 persen per tahun. Kedua, Sucorinvest Stable Fund dari Sucorinvest: dominan SBN untuk profil konservatif, return serupa 6-7 persen per tahun. Ketiga, Trimegah Fixed Income dari Trimegah: alokasi campuran, return serupa. Keempat, BNP Paribas SR dari BNP Paribas AM: sesuai prinsip syariah, return serupa. Penting dicatat: angka return ilustratif untuk tujuan pembelajaran; return aktual bervariasi tergantung kondisi pasar dan suku bunga. Reksadana fixed income adalah pilihan utama investor ritel dan institusi kecil untuk diversifikasi kelas aset pendapatan tetap — alternatif praktis dibanding membeli obligasi langsung yang memerlukan modal besar (Rp 1 miliar untuk SBN institusi). Ringkasan Kunci Pertemuan 10 Harga-Yield
Hubungan inverse — yield naik, harga turun (BKM bab 14)
Duration
Ukuran sensitivitas harga; modified duration untuk estimasi praktis
Convexity
Koreksi orde dua; penting untuk perubahan yield besar
Tiga pesan: harga-yield inverse; duration ukur risiko; convexity bonus.
Persiapan P11: baca BKM bab 22 (alternative investments); pertanyaan: apa keunggulan dan risiko private equity, real estate, dan komoditas?
Sebagai penutup, tiga pesan kunci. Pertama, hubungan inverse antara harga dan yield adalah konsep terpenting dalam fixed income — kenaikan suku bunga menyebabkan harga obligasi turun. Kedua, duration adalah ukuran standar sensitivitas harga — modified duration untuk estimasi praktis, dengan interpretasi persen perubahan harga per perubahan yield. Ketiga, convexity adalah koreksi orde dua yang penting untuk perubahan yield besar — selalu menguntungkan investor karena kurva harga-yield convex. Sampai jumpa di P11 di mana kita akan membahas investasi alternatif — private equity, real estate, komoditas, dan hedge fund — yang menjadi alokasi penting untuk portofolio institusi besar. 📖 Baca juga: Duration & Convexity — penjelasan mendalam dan contoh numerik.