‹ Daftar slidePertemuan 2: Return Historis dan Pengukuran Risiko (HPR, Varians, Deviasi Standar)
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Pengukuran Return Historis dan Risiko
HPR, Aritmatika vs Geometris, Varians, dan Deviasi Standar
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 2: menghitung return historis serta mengukur risiko aset menggunakan varians dan deviasi standar. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai sebelum meninggalkan kelas.
Jam ke-1 (50 menit)
HPR, return tahunan, dan total return (income + capital gain)
Return aritmatika vs geometris — kapan pakai yang mana
HDN-1: hitung return geometris vs aritmatika dari deret harga
Jam ke-2 (50 menit)
Varians dan deviasi standar sebagai ukuran risiko total (BKM bab 5)
Annualisasi σ; return real (Fisher) dan after-tax
Distribusi normal & asumsi Markowitz; persiapan P3 (kovarians)
Posisi dalam alur: pondasi kuantitatif sebelum MPT Markowitz (P3), efficient frontier (P4), dan CAPM (P5) yang semuanya memerlukan mean dan σ sebagai input.
Mengapa Pengukuran Risiko Kuantitatif
Tanpa pengukuran kuantitatif, trade-off risk-return hanya slogan; dengan varians dan deviasi standar, kita dapat membandingkan dan mengoptimasi risiko secara objektif.
Volatilitas IHSG
~15–20%
Deviasi standar return tahunan (dihedge; bervariasi per periode)
Volatilitas SBN
~3–5%
Jauh lebih rendah — profil risiko-return klasik safe haven
Pertanyaan pemantik: dua reksadana sama-sama return 10% per tahun, mana lebih baik? Jawaban: yang deviasi standarnya lebih rendah — risk-adjusted return lebih tinggi (rasio Sharpe, P13).
Bagian 1 · 1/4
Return Historis: HPR & Rata-rata
Diskusi kelas: jika saham naik 50% lalu turun 50%, berapa return total Anda? Mengapa jawabannya bukan nol?
HPR & Return Tahunan (BKM)
Holding Period Return (HPR) = (P₁ − P₀ + D₁) ÷ P₀ — return total atas satu periode kepemilikan, mencakup capital gain dan pendapatan (dividen/bunga). (adaptasi BKM, bab 5)
HPR Single-period
Satu periode (tahun/kuartal/bulan)
Annualisasi
(1 + HPR)1/n − 1 — mengubah HPR multi-tahun ke basis tahunan
Multi-period
Compounding: Π(1 + rₜ) − 1 — produk (1+r) periode
HPR = (P₁ − P₀ + D₁) ÷ P₀
Return Aritmatika vs Geometris
Dua cara menghitung return rata-rata — keduanya benar tetapi menjawab pertanyaan berbeda.
Skenario: Saham XYZ memiliki return 2 tahun berturut-turut: tahun 1 naik 50%, tahun 2 turun 50%. Harga awal P₀ = Rp 100. Hitung return aritmatika dan geometris, lalu bandingkan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga tahun 1 (P₁)
P₀ × (1 + 0,50) = Rp 100 × 1,50
Rp 150
2. Harga tahun 2 (P₂)
P₁ × (1 − 0,50) = Rp 150 × 0,50
Rp 75
3. Return total 2 tahun
(P₂ − P₀) ÷ P₀ = (Rp 75 − Rp 100) ÷ Rp 100
−25%
4. Aritmatika (AM)
(+50% + (−50%)) ÷ 2
0% per tahun (menyesatkan)
5. Geometris (GM)
[(1 + 0,50)(1 − 0,50)]1/2 − 1 = (0,75)0,5 − 1
−13,40% per tahun (akurat)
Kesimpulan
−13,4%/thn
Geometris mencerminkan kenyataan modal turun 25% dalam 2 tahun — AM 0% menyesatkan karena mengabaikan compounding
Bagian 2 · 2/4
Varians & Deviasi Standar
Diskusi kelas: apakah aset dengan deviasi standar 30% selalu lebih berisiko dari yang 15%? Kapan kesimpulan ini bisa salah?
Varians sebagai Ukuran Dispersi
Varians mengukur rata-rata kuadrat deviasi return dari mean — basis matematis risiko total.
Rumus Varians Sampel
σ² = Σ(rₜ − r̄)² ÷ (n − 1)
rₜ = return periode-t; r̄ = rata-rata; n = observasi
Pembagi (n − 1) = koreksi Bessel untuk sampel (unbiased)
Interpretasi
Varians besar = return menyebar jauh dari rata-rata
Varians kecil = return mengelompok dekat rata-rata
Satuan: persen kuadrat — sulit diinterpretasi langsung
σ² = Σ(rₜ − r̄)² ÷ (n − 1)
Deviasi Standar = Risiko Total
Deviasi standar (σ) adalah akar varians — ukuran risiko total dalam satuan return (persen).
σ tahunan IHSG ~15–20%: 95% kemungkinan return di r̄ ± 40%
Keterbatasan
Mengukur dispersi dua arah (upside & downside) — investor hanya takut downside
Asumsi normalitas dapat melanggar: return saham cenderung fat-tailed (kurtosis tinggi) dan left-skewed — krisis lebih sering daripada prediksi normal.
Periode Estimasi & Annualisasi
Pilihan frekuensi data memengaruhi estimasi σ — trade-off antara jumlah observasi dan noise.
Pilihan Frekuensi
Bulanan — standar industri reksadana; 60 observasi = 5 tahun
Harian — 252 observasi/tahun; lebih banyak tetapi lebih banyak noise (bid-ask bounce)
Mingguan — kompromi; 52 observasi/tahun
Annualisasi σ
σ_annual = σ_period × √(periode per tahun)
Bulanan: × √12 = × 3,46
Harian: × √252 = × 15,87
Trade-off: data frekuensi tinggi memberi observasi lebih banyak (estimasi lebih presisi) tetapi lebih banyak microstructure noise yang dapat menggelembungkan σ.
Hitung dari Nol: Deviasi Standar IHSG 5 Tahun
Skenario: Return IHSG 5 tahun berturut-turut: +5%, +8%, −3%, +12%, +10%. Hitung mean, varians, dan deviasi standar.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Mean (r̄)
(5 + 8 − 3 + 12 + 10) ÷ 5
6,4%
2. Deviasi tahun 1
5 − 6,4
−1,4
3. Deviasi tahun 2–5 (Σ kuadrat)
(−1,4)² + (1,6)² + (−9,4)² + (5,6)² + (3,6)²
1,96 + 2,56 + 88,36 + 31,36 + 12,96 = 137,2
4. Varians (σ²)
Σ kuadrat ÷ (n − 1) = 137,2 ÷ 4
34,3 (persen²)
5. Deviasi standar (σ)
√34,3
5,86% per tahun
Kesimpulan
σ ≈ 5,86%
Rata-rata return 6,4% dengan dispersi ±5,86% — jika diasumsikan normal, 95% return di antara −5,3% dan +18,1%
Bagian 3 · 3/4
Return Disesuaikan (Real, After-tax)
Diskusi kelas: mengapa investor di kategori pajak tertinggi mungkin memilih obligasi pemerintah daripada deposito meski return nominal lebih rendah?
Return Real vs Nominal (Fisher)
Investor rasional memaksimalkan daya beli, bukan angka nominal — inflasi menggerus return riil.
r_real ≈ r_nominal − inflasi
Return Before-tax vs After-tax
Pajak memotong return aktual — investor kategori pajak tinggi harus mempertimbangkan tax-efficiency.
Before-tax Return
Return dilaporkan di factsheet
Belum memperhitungkan pajak
Sering dipakai benchmarking
Tarif Pajak Umum RI
Dividen saham: 10% final
Bunga deposito: 20% final
Bunga SBN perorangan: 0% (rujukan umum; verifikasi)
After-tax Return
r_after = r_before × (1 − tarif)
Yang sebenarnya Anda terima
Dasar keputusan investasi sebenarnya
Di Indonesia, dividen saham dipajaki 10% final; bunga obligasi pemerintah memiliki perlakuan khusus (rujukan POJK/UU PPh terbaru, tarif dapat berbeda per investor).
Studi Kasus: Reksadana Sucorinvest vs BNI AM
Dua reksadana saham dengan profil return-risiko berbeda — mana lebih unggul secara risk-adjusted?
Metrik (3 thn)
Sucorinvest Equity Fund
BNI AM Saham
Return rata-rata (geometris)
~9% per tahun (ilustratif)
~7% per tahun (ilustratif)
Deviasi standar
~18% per tahun
~14% per tahun
Return per unit risiko (sederhana)
9 ÷ 18 = 0,50
7 ÷ 14 = 0,50
Interpretasi
Return risk-adjusted setara — pilihan tergantung profil risiko investor
Pelajaran: return tinggi dengan risiko moderat tidak otomatis lebih baik — yang menentukan adalah return per unit risiko (formal: rasio Sharpe, P13).
Bagian 4 · 4/4
Distribusi Return & Implikasi
Diskusi kelas: mengapa asumsi distribusi normal return penting bagi model Markowitz? Kapan asumsi ini melanggar realitas pasar?
Distribusi Normal & Asumsi Markowitz
Asumsi normalitas return memungkinkan Markowitz memodelkan portofolio hanya dengan mean & σ — revolusi teori investasi 1952.
Properti Distribusi Normal
Simetris di sekitar mean
Sepenuhnya dideskripsikan oleh mean & σ
±1σ = 68%; ±2σ = 95%; ±3σ = 99,7%
Memungkinkan optimasi mean-variance efisien
Implikasi Markowitz (1952)
Return = mean ekspektasi (r̄)
Risiko = varians (σ²)
Optimasi: minimasi σ² untuk target r̄
Mendefinisikan efficient frontier (P4)
Markowitz 1952 menunjukkan bahwa untuk return berdistribusi normal, investor hanya perlu peduli pada mean & σ — inilah revolusi modern portfolio theory.
Eksplorasi: ubah parameter GARCH (α, β) — lihat bagaimana volatilitas bergerak dalam cluster, tinggi setelah shock, meluruh perlahan. Ini melengkapi asumsi σ konstan Markowitz.
Ringkasan Kunci Pertemuan 2
AM vs GM
AM untuk estimasi (CAPM); GM untuk pertumbuhan kekayaan — AM ≥ GM