‹ Daftar slidePertemuan 1: Pengantar Investasi (Aset Riil vs Finansial, Proses, Risiko-Return)
RPS minggu 1 · 2x50 menit
Manajemen Investasi dan Portofolio
Pengantar: Aset Riil vs Finansial, Proses, dan Risiko-Return
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 1: menjelaskan perbedaan aset riil dan aset finansial serta kerangka dasar hubungan risiko-return. Empat indikator capaian yang harus Anda kuasai sebelum meninggalkan kelas.
Posisi dalam alur 14 pertemuan: fondasi konseptual sebelum kita membahas return historis (P2), MPT Markowitz (P3), efficient frontier (P4), CAPM (P5), APT (P6), hingga studi kasus terintegrasi (P14).
Mengapa Investasi Penting bagi Eksekutif MM
Bagi eksekutif MM, kerangka investasi melampaui portofolio pribadi — keputusan alokasi modal (capex), M&A, dan treasury perusahaan semuanya memakai aksioma risk-return yang sama.
IHSG Return Historis
~8–12%
Rata-rata tahunan 2015–2024 (BEI, dihedge; bervariasi tajam per tahun)
AUM Reksadana Saham Domestik
~Rp 250 T
OJK ~2024 (dihedge); akses ritel makin luas via Bibit/Bareksa/Ajaib
Pertanyaan pemantik: apa yang membedakan investor institusi (DPLK, asuransi, dana pensiun) dari investor ritel dalam proses investasi? Jawabannya hampir selalu disiplin proses dan kerangka alokasi aset.
Bagian 1 · 1/4
Definisi & Klasifikasi Aset
Diskusi kelas: apakah rumah tinggal yang Anda diami adalah investasi atau konsumsi? Mengapa BKM menggolongkannya secara berbeda dari saham?
Definisi Investasi (Bodie-Kane-Marcus)
Investasi adalah komitmen dana saat ini ke satu atau lebih aset selama periode tertentu dengan harapan memperoleh return yang lebih besar di masa depan. (adaptasi Bodie, Kane, & Marcus, Investments, bab 1)
1. Penundaan Konsumsi
Dana yang bisa dikonsumsi hari ini ditahan demi konsumsi lebih besar nanti
2. Ekspektasi Return
Harapan eksplisit atas pendapatan (dividen, bunga, capital gain)
3. Toleransi Risiko
Penerimaan atas ketidakpastian return sebagai kompensasi atas risiko
Investasi selalu mengandung ketidakpastian return — itulah yang membedakannya dari tabungan bebas risiko.
Aset Riil vs Aset Finansial
Dua kategori besar aset — sifat, likuiditas, dan cara penilaiannya berbeda secara struktural.
Dimensi
Aset Riil
Aset Finansial
Sifat
Tangible fisik, berwujud
Klaim kontraktual atas pendapatan
Contoh
Tanah, bangunan, komoditas (emas), mesin
Saham, obligasi, reksadana, derivatives
Likuiditas
Rendah–sedang (butuh waktu jual)
Tinggi (marketable di bursa)
Penilaian
Appraisal / valuasi subyektif
Mark-to-market (harga bursa transparan)
Volatilitas harga
Variatif, sering lebih stabil jangka panjang
Transparan, dapat bergerak harian
Klasifikasi Aset Finansial
Lima kategori utama yang akan menjadi bata pembangun portofolio sepanjang semester.
Setiap kelas aset memiliki profil risiko-return berbeda — inilah bata pembangun portofolio yang akan kita optimasi di P3–P4.
Hitung dari Nol: Return Holding Period IHSG
Skenario: Investor membeli reksadana indeks IHSG saat IHSG = 6.500 (awal 2021), menjual saat IHSG = 7.300 (akhir 2021). Selama periode, indeks tidak membayangkan dividen (asumsi price return). Hitung HPR dan return tahunan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga awal (P₀)
IHSG awal 2021
6.500
2. Harga akhir (P₁)
IHSG akhir 2021
7.300
3. HPR (holding period return)
(P₁ − P₀) ÷ P₀ = (7.300 − 6.500) ÷ 6.500
0,1231 (12,31%)
4. Return tahunan (jika 1 tahun)
HPR = 12,31% (n = 1 tahun, jadi sama)
12,31% per tahun
Kesimpulan
+12,31%
HPR sederhana — basis price return; total return akan lebih tinggi jika dividen saham indeks diikutsertakan
Bagian 2 · 2/4
Proses Investasi
Diskusi kelas: di organisasi Anda, siapa yang bertanggung jawab atas langkah perencanaan, eksekusi, dan evaluasi portofolio? Apakah perannya terpisah atau digabung?
Proses Investasi Tiga Langkah
Investasi profesional adalah proses berkelanjutan, bukan satu titik keputusan beli-jual.
Langkah 1 & 2
Perencanaan — menetapkan tujuan (retirement, anak), kendala (horizon, likuiditas, pajak), dan preferensi risiko investor → Investment Policy Statement (IPS)
Eksekusi — alokasi aset strategis (besar pai per kelas), analisis sekuritas (bottom-up), dan optimasi portofolio (Markowitz P3)
Langkah 3
Evaluasi — monitoring posisi vs benchmark, rebalancing berkala (P12), dan pengukuran kinerja risk-adjusted (Sharpe, Treynor, Jensen — P13)
Siklus berulang: temuan evaluasi memperbaiki perencanaan periode berikutnya
Investor institusi (DPLK, asuransi) menulis IPS formal; investor ritel sering melangkahi perencanaan dan langsung ke eksekusi — sumber kerugian terbesar.
Konstruksi Portofolio: Top-Down vs Bottom-Up
Dua filosofi pembentukan portofolio — keduanya valid, tetapi memerlukan keahlian dan tim berbeda.
Top-Down (alokasi dulu)
Alokasi aset global → domestik → kelas aset → sekuritas spesifik
Dimulai dari pandangan makroekonomi (siklus, suku bunga, geopolitik)
Cocok untuk investor institusi dengan tim strategi besar
Bottom-Up (stock-picking)
Analisis fundamental perusahaan satu per satu, abaikan pandangan makro
Mencari saham undervalued berbasis DCF, rasio PER/PBV
Filosofi Warren Buffett, Benjamin Graham (value investing)
Penelitian BKM menunjukkan alokasi aset menjelaskan sebagian besar variasi return portofolio jangka panjang (angka 90% sering dirujuk, tetapi bervariasi per studi — dihedge).
Alokasi Aset vs Pilihan Sekuritas
Dua keputusan terpisah yang sering dicampuradukkan pemula — keduanya penting tetapi urutannya krusial.
Alokasi Aset (besar pai)
Proporsi dana per kelas: saham vs obligasi vs pasar uang vs alternatif
Contoh: 60/30/10 untuk profil moderat (saham/obligasi/pasar uang)
Penentu utama return jangka panjang (BKM bab 2)
Pilihan Sekuritas (saham mana)
Saham BBCA atau BBRI di kelas saham? Obligasi FR atau SBN ritel?
Memerlukan analisis fundamental dan teknikal
Sumber alpha — keunggulan relatif dalam kelas aset
Kesalahan klasik pemula: fokus pada pilihan saham (BBCA vs BBRI) sebelum menetapkan alokasi aset (berapa persen saham vs obligasi). Selalu tentukan pai dulu, baru iris.
Hitung dari Nol: Alokasi Reksadana Tertimbang
Skenario: Investor Rp 100 juta dengan profil risiko moderat memilih alokasi 60% saham, 30% obligasi, 10% pasar uang. Ekspektasi return masing-masing kelas: saham 10%/tahun, obligasi 6%/tahun, pasar uang 4%/tahun. Hitung return portofolio tertimbang.
Kelas Aset
Bobot (w)
Return (r)
Kontribusi (w × r)
Saham
0,60
10%
6,00%
Obligasi
0,30
6%
1,80%
Pasar Uang
0,10
4%
0,40%
Total portofolio
1,00
—
8,20%
Kesimpulan
8,20%
Return portofolio tertimbang — di antara return tertinggi (saham 10%) dan terendah (pasar uang 4%), sesuai bobot alokasi
Bagian 3 · 3/4
Risiko-Return Trade-off
Diskusi kelas: jika saham menawarkan return 15% dan obligasi 6%, mengapa investor rasional tidak selalu memilih saham 100%? Apa yang hilang dari perbandingan ini?
Trade-off Risiko-Return (Aksioma)
Investor rasional bersikap aversif terhadap risiko — mereka memerlukan kompensasi (risk premium) untuk menanggung risiko tambahan.
E[r] = rf + (harga pasar risiko) × σ
Sumber Risiko Investasi
Tiga sumber utama yang harus diidentifikasi pada setiap instrumen sebelum dibeli.
1. Risiko Pasar
Pergerakan harga sistemik (IHSG turun, bunga naik)
Tidak dapat didiversifikasi penuh
Diukur: beta, durasi, VaR
2. Risiko Kredit (Default)
Counterparty gagal bayar (obligasi, reksadana)
Dapat dikurangi via rating & diversifikasi
Diukur: PD, spread, rating
3. Risiko Likuiditas
Kesulitan menjual tanpa diskon signifikan
Tinggi pada small-cap, properti, instrumen OTC
Diukur: bid-ask spread, turnover
Setiap sumber risiko memerlukan alat pengukuran dan kelolaan berbeda — diversifikasi hanya efektif untuk risiko idiosinkratik, bukan sistemik.
Studi Kasus: IHSG 2015–2024
Dekade penuh siklus menunjukkan bagaimana trade-off risk-return bekerja dalam praktik.
Tiga pelajaran: (1) Timing pasar sangat sulit — investor yang tetap disiplin pada alokasi mendapat manfaat compounding; (2) Shock sistemik (pandemi) menguji toleransi risiko yang sebenarnya; (3) Diversifikasi saham–obligasi–kas membantu navigasi siklus.
Bagian 4 · 4/4
Konteks Pasar Modal Indonesia
Diskusi kelas: bagaimana peran OJK, BEI, dan KSEI saling melengkapi dalam ekosistem pasar modal RI? Mengapa pemisahan fungsi penting?
Ekosistem Pasar Modal RI (OJK/BEI)
Pasar modal Indonesia diatur UU 8/1995 dan POJK turunan; ekosistem pemisahan fungsi menjamin integritas transaksi.
Regulator & Pengawas
OJK — regulator tunggal jasa keuangan (bank, pasar modal, asuransi) sejak 2013
UU 8/1995 Pasar Modal — kerangka hukum dasar
POJK turunan: reksadana, manajer investasi, bursa efek
Operator Bursa & Infrastruktur
BEI (Bursa Efek Indonesia) — tempat saham/obligasi diperdagangkan
KPEI — lembaga penjamin (clearing guarantee)
KSEI — lembaga kustodian (penyimpanan & penyelesaian)
AUM industri reksadana RI tumbuh signifikan dekade terakhir; akses investor ritel makin mudah via platform Bibit, Bareksa, Ajaib — tetap perlu literasi risk-return.
Eksplorasi: Alokasi Aset sesuai Profil Risiko
Visualisasi bagaimana alokasi aset (saham, obligasi, alternatif) berubah sesuai profil risiko investor — pengantar konkrit trade-off risiko-return.
Geser profil risiko dari konservatif ke agresif — lihat bagaimana alokasi saham, obligasi, dan alternatif berubah, serta ekspektasi return-volatilitas yang menyertainya.
Ringkasan Kunci Pertemuan 1
Aset Riil vs Finansial
Tangible vs klaim kontraktual — penilaian, likuiditas, dan volatilitas berbeda
Bawa tiga lensa ini (klasifikasi aset · proses 3 langkah · trade-off risk-return) sebagai peta rujukan sepanjang semester.
Persiapan P2: baca BKM bab 5 tentang return historis dan pengukuran risiko; bawa satu data harga saham emiten BEI (min. 12 bulan) untuk dihitung return rata-rata dan deviasi standarnya di kelas.