Limits to arbitrase: mengapa anomali tidak terhapus
Kontras active vs passive; smart beta (factor investing)
Jam ke-2 (50 menit)
Risk management behavioral: position sizing, stop-loss
Investment Policy Statement (IPS) sebagai struktur keputusan
Behavioral portfolio theory: mental accounting di tingkat portofolio
Posisi alur 14: P12 (eksperimen-neuro) → P13 (manajemen pasar tidak efisien) → P14 (krisis 2008). Hari ini aplikasi praktis.
Mengapa Pasar Masih Tidak Efisien
Grossman-Stiglitz 1980: pasar tidak bisa sepenuhnya efisien karena tidak ada insentif mengumpulkan informasi. Limits to arbitrase (Shleifer-Vishny 1997) memperhalus mengapa anomali bertahan.
Limits to arbitrase
Funding risk: arbitrageur kehabisan margin sebelum convergence
Noise trader risk: mispricing bisa memburuk sebelum betul
Career risk: fund manager dievaluasi jangka pendek
Implikasi praktis
Anomali bisa persisten tanpa arbitrase penuh
Investor retail dengan horizon panjang punya edge
Volatilitas tinggi di pasar BEI = peluang + risiko
Style investing perlu kesabaran (tahun, bukan bulan)
Pelajaran: anomali tidak hilang otomatis. Tetapi exploitasi butuh horizon panjang, struktur funding kuat, dan disiplin.
Bagian 1 · 1/4
Style Investing & Factor Premiums
Diskusi: Fama-French, Carhart, dan riset lebih baru mengidentifikasi “faktor” yang menjelaskan return saham di atas CAPM. Apakah ini kompensasi risiko atau kesalahan harga perilaku?
Factor Premiums: Empat Utama
Empat factor yang paling robust secara empiris di pasar global. Masing-masing punya justifikasi teoritis (risk-based vs behavioral).
Studi akademis Indonesia: value + momentum robust (dihedge); lebih tinggi dari pasar maju
Momentum: Lensa Behavioral
Momentum (Jegadeesh-Titman 1993) adalah salah satu anomali paling robust — tetapi juga paling berisiko. Behavioral finance memberi dua penjelasan utama.
Penjelasan behavioral
Underreaction: investor lambat update beliefs ke earnings baru
Anchoring: investor anchor ke harga lampau, slow adjust
Disposition effect: profit-taking dini memperlambat price adjustment
Herding: investor ikut trend setelah observasi (positive feedback)
Risiko momentum
Crash risk: momentum reversal bisa dramatis (2008-2009)
Momentum dapat negatif untuk periode panjang (3-5 tahun)
Turnover tinggi → biaya transaksi ~1-3%/tahun
Tax inefficiency (capital gain realisasi cepat)
Mitigasi: momentum “long-only” dengan filter vol regime; tidak untuk semua kondisi pasar (reversal saat bull-to-bear).
Bagian 2 · 2/4
Active vs Passive vs Smart Beta
Diskusi: debat klasik apakah investor sebaiknya active (stock picker), passive (index fund), atau smart beta (factor ETF). Lensa behavioral finance memberi kerangka baru.
Tiga Pendekatan: Active, Passive, Smart Beta
Aspek
Active
Passive (Index)
Smart Beta
Strategi
Stock picking fundamental/teknikal
Hold index (mis. IHSG, LQ45)
Hold factor portfolio (value, momentum, quality)
Cost
Tinggi (~1,5-3%/thn)
Rendah (~0,3-0,7%/thn)
Sedang (~0,5-1,2%/thn)
Tracking error vs market
Tinggi
Rendah
Sedang (active share ~50-80%)
Bias diri
Tinggi (overconfidence, herding)
Rendah (rules-based)
Rendah (rules-based + factor)
Peluang alpha
Ada tetapi sulit (~85% underperform)
Tidak ada (beta = market)
Faktor premia (~2-5%/thn)
Saat ini BEI: option smart beta terbatas. Investor ritel sebagian besar pilih active (high risk) atau passive index (BDUA, KMF).
Value Investing: dari Graham ke Buffett
Value investing adalah strategi tertua dan paling robust. Benjamin Graham 1934 (“Security Analysis”) dan Warren Buffett menunjukkan hasil konsisten. Lensa behavioral: value bekerja karena investor extrapolate masa lalu terlalu jauh.
Prinsip value investing
Margin of safety: beli di bawah intrinsic value dengan diskon
Mr. Market: pasar volatile, eksploitasi swing emosi
Long horizon: tahun, bukan bulan
Quality matters: “lebih baik perusahaan hebat dengan harga wajar”
Lensa behavioral
Extrapolation bias: investor pikir saham “murah” akan tetap turun
Glamour bias: investor lebih suka saham “populer” dengan cerita menarik
Loss aversion: investor takut beli saham yang baru turun
Aversion to boredom: saham value sering “membosankan”
Pelajaran BEI: saham value (BBCA, BBRI, TLKM) cenderung outperform long-term. Tetapi sabar dibutuhkan — value can underperform dalam periode bull market hype.
Behavioral Portfolio Theory
Shefrin-Statman 2000: investor tidak memiliki satu portofolio optimal — mereka punya “layered” portfolio berdasar mental accounting. Setiap layer punya tujuan dan toleransi risiko berbeda.
Layer portofolio mental
Layer 1 (bottom): “Safety” — capital preservation, tabungan, deposito
Hasil: suboptimal global (over-diversifikasi di layer bawah)
Tetapi: psychological beneficial (reduce anxiety)
Pelajaran: behavioral portfolio theory menjelaskan mengapa investor ritel Indonesia punya deposito + saham blue chip + saham gorengan — bukan satu portofolio optimal.
Bagian 3 · 3/4
Risk Management Behavioral
Diskusi: risk management bukan hanya kalkulasi Value-at-Risk atau Sharpe ratio. Behavioral risk management melindungi dari keputusan panik (jual di bottom) dan euforia (beli di top).
Empat Pilar Risk Management Behavioral
Pencegahan keputusan emosional
Investment Policy Statement (IPS): aturan tertulis sebelum stress
Position sizing: max 5% per saham; max 20% per sektor
Pre-commitment: trailing stop-loss otomatis
Cooling-off: 48 jam sebelum keputusan besar
Accountability & refleksi
Trading journal: catat setiap keputusan + alasan
Accountability partner: teman/mentor untuk review
Post-mortem: analisis keputusan baik & buruk secara periodik
Bias checklist: review overconfidence, loss aversion, dll.
Statistik DALBAR: investor US underperform index ~4%/tahun karena timing buruk. Sama dengan biaya behavioral.
Investment Policy Statement (IPS)
IPS adalah dokumen tertulis yang berisi aturan main investasi: tujuan, alokasi, kapan rebalance, kapan exit. Dibuat saat kondisi normal, dijalankan saat stress.
Komponen IPS
Tujuan & horizon: pensiun 20 tahun? pendidikan anak 10 tahun?
Rebalancing secara matematis memaksa “buy low, sell high”. Bonus bervariasi, tetapi disiplin ini melindungi dari drift berlebihan.
Bagian 4 · 4/4
Sintesis: Strategi Investasi BEI
Diskusi: mengelola investasi di BEI yang tidak efisien memerlukan kombinasi exploitation factor + protection diri dari bias. Pertemuan 14 akan kupas krisis finansial 2008 sebagai case terbesar behavioral finance.
Mitigasi Bias: Anak Tangga Praktis
Tidak ada obat tunggal untuk bias. Tetapi kombinasi tools berikut terbukti efektif secara empiris untuk mengurangi dampak bias pada keputusan investasi.
Stop-loss otomatis; framing ulang sebagai % dari portofolio
Sedang
Disposition effect
Rebalance rules-based; IPS exit criteria fundamental
Tinggi jika konsisten
Herding
Cooling-off 48 jam; kontrarian checklist
Sedang
Anchoring
Beragam valuation methods; DCF dari nol
Rendah-sedang
Hindsight bias
Trading journal (catat ex-ante, bukan ex-post)
Tinggi
Kunci: tools rules-based (IPS, automation) lebih efektif dari effort rasional. Otak Anda tidak bisa “beat” bias dengan niat saja.
Contrarian Investing: Melawan Kerumunan
Contrarian investing adalah ekstrem dari value — secara eksplisit melawan konsensus pasar. Sering dipraktikkan oleh investor legendaris (Templeton, Burry, Ackman). Berisiko tinggi tetapi potensial besar.
Filosofi contrarian
“Waktu terbaik untuk beli saat ada darah di jalanan” (Rothschild)
Belajar sektor/aset yang dibenci pasar (mis. energi saat ESG hype)
FAANG high; commodity, bank, energy rendah (~2021)
Krisis 2008: siapa beli saat S&P 666 = return berlipat
Risiko contrarian
Catching falling knife: beli lebih awal, harga masih turun
Value trap: saham murah karena memang fundamental buruk
Pain psikologis: underperform bertahun saat euforia
Lonely: semua orang berbeda pendapat
Contrarian bukan untuk semua. Butuh research mendalam, mental kuat, dan horizon sangat panjang. Untuk sebagian besar investor, value/factor rules-based lebih realistis.
Market Timing: Bisakah Dilakukan?
Pertanyaan klasik: bisakah kita time the market (beli di low, jual di high)? Bukti empiris menunjukkan market timing konsisten sangat sulit — bahkan untuk profesional.
Tantangan market timing
Harus benar dua kali: kapan exit dan kapan re-entry
Sebagian besar return pasar datang dari sedikit hari (best days)
Miss best 10 hari dalam 20 tahun → return turun ~50%
Cost transaksi + tax menggerus return
Strategi alternatif
Dollar-cost averaging (DCA): investasi teratur setiap bulan
Buy-and-hold dengan rebalance: discipline rules-based
Tactical asset allocation dengan rules: shift alokasi berdasarkan signal objektif
Value averaging: investasi lebih saat harga turun
Pelajaran: untuk sebagian besar investor, time IN market > timing market. Disiplin DCA + rebalance adalah strategi paling robust.
Kasus Integratif: Strategi untuk Investor Indonesia
Anda advisor untuk klien Indonesia, usia 35, eksekutif kelas menengah, Rp 500 juta untuk pensiun 25 tahun. Bagaimana Anda rancang strategi memanfaatkan BEI yang tidak efisien + melindungi dari bias?
Strategi portofolio
Core: 50% index BEI (BDUA atau KMF); 30% obligasi pemerintah (FR)
Satellite: 15% value + momentum (smart beta); 5% cash
Rebalance tahunan (force buy low, sell high)
Horizon panjang 25 tahun: kesabaran adalah edge
Struktur behavioral
IPS tertulis dengan exit criteria fundamental
Position sizing: max 5% per saham tunggal
Rebalance otomatis (broker / robo-advisor)
Trading journal kuartal untuk audit diri
Pelajaran: strategi terbaik untuk investor Indonesia = simple, low-cost, rules-based, dengan eksploitasi factor premium terbatas. Hindari kompleksitas dan stock-picking aktif.
Anomali persisten; horizon panjang + disiplin = edge
Behavioral Risk Mgmt
IPS, position sizing, rebalance, accountability
Strategi terbaik: exploit factor + protect dari bias diri melalui struktur keputusan rules-based.
Persiapan P14: baca Shiller (2000) “Irrational Exuberance” bab 1; bawa satu pelajaran yang bisa ditarik dari krisis 2008 untuk pasar BEI — kita akan kupas case terbesar behavioral finance.