Manifestasi bias pada keputusan individu vs korporasi (mis. manajemen laba)
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 11: menganalisis perbedaan manifestasi bias perilaku pada keputusan investor individu dan manajer perusahaan.
Jam ke-1 (50 menit)
Behavioral corporate finance (Shefrin 2005): dua aliran
Manajemen laba: real earnings management vs accruals
Teoh-Welch-Wong 1998: earnings management pre-IPO
Jam ke-2 (50 menit)
CEO overconfidence dalam M&A (Malmendier-Tate 2005)
Dividend policy irasional; catering theory (Baker-Wurgler)
Aplikasi BEI: kasus konkret emiten Indonesia
Posisi alur 14: P10 (budaya-agama) → P11 (perilaku manajer) → P12 (eksperimen-neuro) → P13 (manajemen pasar tidak efisien). Hari ini fokus aktor korporasi.
Mengapa Manajer Juga Bias
Klasis: manajer profesional dengan MBA dan pengalaman puluhan tahun harusnya lebih rasional daripada investor ritel. Realitas: studi behavioral corporate finance menunjukkan manajer juga bias — bahkan lebih parah karena power dan insentif karier.
M&A value destruction
~65-70%
Moeller 2005: akuisisi AS 1998-2001; mayoritas menghancurkan nilai pengakuisisi
Earnings management detection
~10-15% perusahaan
Studi akademis global; lebih tinggi untuk IPO, M&A, target bonus
Pertanyaan pemantik: mengapa CEO berpengalaman tetap melakukan akuisisi value-destroying? Jawaban: CEO overconfidence, hubungan agency, dan insentif jangka pendek.
Bagian 1 · 1/4
Behavioral Corporate Finance
Diskusi: Shefrin 2005 membedakan dua aliran behavioral corporate finance. Aliran 1: manajer bias (irrasional) vs pasar rasional. Aliran 2: manajer rasional vs pasar bias. Bagaimana aplikasinya di BEI?
Dua Aliran Behavioral Corporate Finance
Behavioral corporate finance (Shefrin 2005): studi bagaimana bias psikologis memengaruhi keputusan korporasi. Dua aliran: manajer irrational vs pasar irrational.
Aliran 1: Manajer irrational
Asumsi: manajer bias; pasar efisien
Mekanisme: overconfidence, optimism, hubris
Contoh: M&A overpay; ekspansi berlebihan; debt tinggi
Implikasi: harga saham turun saat pengumuman
Aliran 2: Manajer rasional, pasar bias
Asumsi: manajer rasional; pasar bias
Mekanisme: eksploitasi mispricing untuk funding
Contoh: IPO saat overvalued; buyback saat undervalued
Implikasi: keputusan timing market
Di BEI: kedua aliran bekerja. IPO GOTO 2022 = manajer rasional (eksploitasi window) + investor overconfident (hype). Banyak M&A BUMN = manajer overconfident (hubris).
Manajemen Laba: Definisi & Tipe
Manajemen laba (earnings management): intervensi manajer dalam pelaporan keuangan untuk mempengaruhi persepsi stakeholder tentang kinerja. Bisa legal (within GAAP) atau ilegal (fraud).
Tipe
Mekanisme
Contoh
Accruals management
Manipulasi waktu pengakuan pendapatan/beban dalam GAAP
Accelerate revenue recognition; delay expense
Real earnings management
Ubah operasi nyata untuk capai target laba
Reduce R&D; delay maintenance; discount sales
Income smoothing
Rata-ratakan laba antar-periode untuk平稳 earnings
Reserve di periode tinggi; release di periode rendah
Studi klasik: perusahaan AS secara sistematis meningkatkan earnings reported sebelum IPO untuk meningkatkan valuasi — kemudian reversal setelah IPO.
Pola pre-IPO
+5-8% accruals
TWW 1998: accruals tinggi 1-2 tahun sebelum IPO; revenue dipercepat
Pola post-IPO
Reversal ~50%
2-3 tahun post-IPO: earnings turun; harga saham underperform
Implikasi BEI: IPO dengan valuasi agresif (mis. GoTo, Bukalapak, many tech IPOs) sering menunjukkan pola serupa. Waspadai earnings yang tampak “terlalu bagus” di prospectus.
Mendeteksi Manajemen Laba: Beneish M-Score
Beneish 1999 membangun model M-Score dari 8 variabel rasio untuk mendeteksi manipulator. Investor dan auditor menggunakan sebagai early warning tool.
Variabel
Sinyal
Days Sales in Receivables Index (DSRI)
Naik = revenue recognized tanpa cash collection
Gross Margin Index (GMI)
Naik = margin turun; tekanan untuk manipulasi
Asset Quality Index (AQI)
Naik = capitalisasi biaya (proportionally more non-current assets other than PPE)
Sales Growth Index (SGI)
Naik = pertumbuhan cepat; tekanan untuk sustain
Depreciation Index (DEPI)
Naik = ubah asumsi depresiasi (income boost)
SGAI, LVGI, TATA
Sinyal SG&A, leverage, dan total accruals to total assets
Interpretasi: M > −1,78 = kemungkinan manipulator. Beneish (1999) mengidentifikasi manipulator ~on average 2 tahun sebelum deteksi SEC.
Bagian 2 · 2/4
CEO Overconfidence & M&A
Diskusi: Malmendier-Tate 2005 “CEO Overconfidence and Corporate Investment”. CEO overconfident 65% lebih mungkin melakukan akuisisi — dan akuisisi tersebut cenderung value-destroying.
Malmendier-Tate 2005: CEO Overconfidence
CEO overconfidence: kecenderungan CEO terlalu optimis tentang kemampuan diri dan prospek perusahaan. Diukur via proxy: menahan opsi saham lebih lama dari rasional, kepemilikan saham selama bubble.
+65% probabilitas M&A
CEO overconfident vs rasional; terutama jika cash-rich
Value destruction
CAR pengakuisisi −0,5% hingga −2% saat pengumuman M&A
Premium dibayar
+10-20% lebih tinggi dari akuisisi oleh CEO rasional
Implikasi: board perlu due diligence ketat dan shareholder vote untuk M&A oleh CEO overconfident.
Kasus BEI: Akuisisi Korporasi Indonesia
Banyak akuisisi emiten Indonesia menunjukkan pola serupa: premium tinggi, narasi sinergi optimis, kemudian underperform post-akuisisi.
Pola observable
Premium 30-50% di atas harga pasar pre-announcement
Narasi “sinergi operasional” dan “ekspansi strategis”
Harga saham pengakuisisi turun 5-15% dalam minggu
Realisasi sinergi <50% yang dijanjikan dalam 3 tahun
Penyebab (lensa behavioral)
CEO hubris: merasa bisa eksekusi lebih baik dari seller
Investment banker incentive: dorong deal untuk fee
Empire building: ukuran perusahaan = prestise CEO
Bandwagon effect: saingan juga akuisisi → FOMO CEO
Mitigasi untuk investor: jual saham pengakuisisi saat pengumuman M&A dengan premium tinggi. Untuk board: independent fairness opinion + shareholder vote.
Bagian 3 · 3/4
Disposition Effect: Antara Investor & Manajer
Diskusi: disposition effect (P4) tidak hanya pada investor individu — manajer korporasi juga. Mengapa CEO menahan divisi yang underperform dan menjual divisi yang perform?
Eksplorasi Interaktif: Disposition Effect
Simulasi disposition effect: bagaimana investor (dan manajer) cenderung menjual saham/divisi yang naik (gain) terlalu cepat dan menahan yang turun (loss) terlalu lama.
Dividend Policy: Catering Theory
Baker-Wurgler 2004 “A Catering Theory of Dividends”: keputusan dividen manajer bukan optimal, tetapi “catering” pada preferensi investor saat ini.
Teori klasik
Modigliani-Miller: dividen irrelevan dalam pasar sempurna
Signalling theory: dividen = sinyal informasi
Tax clientele: investor pilih dividen/capital gain berdasar pajak
Catering theory
Manajer bayar dividen ketika pasar menghargai dividen (dividend premium)
Manajer tidak bayar ketika pasar lebih suka capital gain
Implikasi BEI: perusahaan yang konsisten bayar dividen (BBCA, BBRI, TLKM) cenderung harga premium karena investor Indonesia suka income.
Hitung dari Nol: Biaya M&A Overpay
Skenario: Korporasi X akuisisi perusahaan Y dengan nilai wajar Rp 1 triliun (DCF). Harga akuisisi Rp 1,5 triliun (premium 50%). Sinergi yang dijanjikan Rp 100 miliar/tahun (perpetuity, discount 10%). Hitung value creation/destruction.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai wajar Y (DCF)
Independent valuation
Rp 1.000 miliar
2. Harga akuisisi
Nilai wajar + premium 50%
Rp 1.500 miliar
3. Premium over fair value
1.500 − 1.000
Rp 500 miliar (overpay)
4. PV sinergi yang dijanjikan
100 / 0,10 (perpetuity)
Rp 1.000 miliar
5. Net value (sinergi − premium)
1.000 − 500
+Rp 500 miliar (value creation IF sinergi terealisasi)
6. Realistis: sinergi terealisasi 50%
500 × 50% = 250; 250 − 500
−Rp 250 miliar (value destruction)
Insight
−Rp 250 miliar
Jika sinergi terealisasi 50% (tipikal post-M&A). Inilah pola value destruction umum.
Bagian 4 · 4/4
Sintesis & Aplikasi BEI
Diskusi: behavioral corporate finance memberi kerangka untuk evaluasi keputusan korporasi Indonesia. Pertemuan 12 akan kupas metode eksperimental yang memvalidasi teori perilaku.
Hubungan Agency & Bias Manajer
Hubungan agency (P3) memperkuat dampak bias manajer. CEO yang bias dengan insentif salah = kombinasi paling destruktif untuk shareholder value.
Bias manajer
Insentif agency yang memperkuat
Konsekuensi BEI
Overconfidence
Bonus tied to size/revenue; empire building
M&A overpay; ekspansi berlebihan
Short-termism
Bonus tahunan; quarterly earnings pressure
Earnings management; cut R&D
Loss aversion
Job security; reputational concern
Disposition effect; menahan proyek gagal
Hubris
Media celebration; CEO celebrity culture
Akuisisi value-destroying; integrasi buruk
Status quo bias
Vested interest in existing business
Inovasi lambat; disrupt
Mitigasi: struktur kompensasi jangka panjang (LTI, stock options vesting 5+ tahun); board independent; shareholder activism.
Kasus BEI: Earnings Management di Tech IPO
IPO GoTo dan Bukalapak 2021-2022 menunjukkan beberapa tanda earnings management klasik: fokus pada “adjusted EBITDA” (bukan net income), GMV growth sebagai metrik utama (bukan profit), dan narasi optimis berlebihan.
GMV/MAU sebagai metrik utama (bukan revenue/profit)
“Path to profitability” — janji tanpa timeline konkret
Capitalized customer acquisition costs
Aggressive revenue recognition (gross vs net)
Pola post-IPO
Realitas: rugi operasional besar, terus membakar cash
GMV growth melambat setelah saturasi
Path to profitability mundur berkali-kali
Harga saham turun 50-80% dari IPO
Dilusi via rights issue untuk cash tambahan
Mitigasi: baca laporan keuangan dengan skeptis. Bandingkan adjusted EBITDA vs net income + operating cash flow. Periksa catatan kaki untuk asumsi akuntansi.
Kasus Integratif: Evaluasi Keputusan Korporasi
Anda analis sekuritas. Emiten Z mengumumkan akuisisi emiten A senilai Rp 2 triliun (premium 60%). Saham Z turun 8% saat pengumuman. Bagaimana Anda mengevaluasi?
Analisis (lensa behavioral)
Premium 60%: sangat tinggi, di atas tipikal (30-50%)
Manajer juga bias — tetapi dengan konsekuensi lebih besar karena skala keputusan korporasi.
Persiapan P12: baca Camerer-Loewenstein-Prelec (2005) “Neuroeconomics”; bawa satu pertanyaan tentang otak dan keputusan finansial — kita akan kupas bukti neurosains.