Narrow framing, mental accounting, System 1 vs System 2
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 7: menganalisis bias home bias dan framing sempit pada keputusan alokasi aset investor domestik.
Jam ke-1 (50 menit)
Home bias: definisi, data, dan CAPM optimal
Penyebab: familiarity, information asymmetry, patriotism
Narrow framing: menilai keputusan isolasi (Kahneman-Lovallo 1993)
Jam ke-2 (50 menit)
Mental accounting (Thaler 1985): tiga komponen
Sistem 1 vs Sistem 2: konteks teoretis semua bias
Aplikasi BEI: alokasi optimal & strategi mitigasi
Posisi alur 14: P6 (overconfidence) → P7 (relativisme) → P8 (hyperbolic discounting) → P9 (modal sosial). Hari ini menyatukan bias kognitif individu dalam kerangka alokasi aset.
Mengapa Alokasi Aset Adalah Keputusan Paling Penting
Brinson dkk. 1986/1991: ~90% variabilitas return portofolio datang dari alokasi aset (saham/obligasi/cash), bukan stock picking atau market timing. Alokasi aset = keputusan paling penting.
Kontribusi alokasi aset
~90%
Brinson-Hood-Beebower 1986; konfirmasi 1991 untuk 82 reksa dana pensiun AS
Investor BEI diversifikasi internasional
< 5%
Mayoritas <5% portofolio di aset global (dihedge) — home bias ekstrem
Pertanyaan pemantik: jika alokasi aset menentukan 90% return, dan mayoritas investor BEI <5% di global — ada peluang besar untuk meningkatkan return risk-adjusted via diversifikasi internasional.
Bagian 1 · 1/4
Home Bias: Definisi & Data Global
Diskusi: jika CAPM optimal mengikuti market cap, dan BEI ~1,5% dari global market cap, maka investor rasional seharusnya hanya 1,5% di saham BEI. Kenyataan: investor Indonesia ~95% di BEI. Mengapa?
Home Bias: Data Komparatif
French-Potterba 1991: semua investor di dunia menunjukkan home bias ekstrem — jauh di atas alokasi market cap optimal. Indonesia adalah salah satu yang paling ekstrem.
Negara
% Market Cap Global
% Alokasi Investor Domestik
Home Bias
AS
~48%
~94%
~46 pp
Jepang
~44%
~89%
~45 pp
UK
~10%
~78%
~68 pp
Jerman
~7%
~73%
~66 pp
Indonesia
~1,5%
~95%
~93 pp (paling ekstrem)
Indonesia paling ekstrem: home bias ~93 pp. Investor AS relatif lebih rasional (~46 pp), meski tetap home biased.
Coba Sendiri: Ukur Home Bias Portofolio Indonesia
Pilih alokasi aktual portofolio klien Indonesia (saham BEI, obligasi FR, deposito) dan bandingkan dengan market portfolio global (weighted GDP). Widget menghitung home bias gap.
House Money Effect (Thaler-Johnson 1990)
Setelah mengalami gain, investor cenderung mengambil risiko lebih besar dengan uang “untung” — seolah uang itu “milik rumah” (house money) yang tidak terlalu berharga.
Mekanisme
Setelah untung besar (mis. +50% di saham A), reference point naik
Capital gain dianggap “house money” — lebih mudah risiko
Investor ambil posisi spekulatif ekstrem dengan uang untung
Saat rugi, baru sadar itu uang asli
Contoh BEI
Investor untung besar dari nikel 2022 → ambil risiko gorengan
Trader rugi semua gain + modal awal dalam 6 bulan
Hubungan dengan break-even effect (rugi → risk-seeking)
Mitigasi: setelah gain besar, realokasi 50% ke “lock-in” (reksa dana pasar uang). Jangan biarkan house money effect menghancurkan keuntungan.
Korelasi Antar-Pasar & Manfaat Diversifikasi
Korelasi return antar-pasar saham global cenderung <1 — sehingga diversifikasi mengurangi risiko tanpa mengorbankan return terlalu banyak.
Pasang pasar
Korelasi return (USD)
Implikasi diversifikasi
IHSG vs S&P 500
~0,40-0,50
Diversifikasi kuat; kombinasi optimal
IHSG vs MSCI Emerging
~0,60-0,70
Diversifikasi moderat (BEI bagian EM)
S&P 500 vs Nikkei
~0,50-0,60
Diversifikasi moderat
S&P 500 vs MSCI Europe
~0,75-0,85
Diversifikasi lemah (pasar maju saling terkait)
IHSG vs SBN (obligasi)
~−0,10 hingga +0,20
Diversifikasi sangat kuat (negatif/lemah)
Korelasi IHSG vs S&P 500 ~0,4-0,5 memberi manfaat diversifikasi besar. Kombinasi 70% IHSG + 30% S&P 500 mengurangi volatilitas ~15% dengan return serupa atau lebih tinggi.
Penyebab Home Bias
Tiga penyebab utama home bias: familiarity, information asymmetry, dan patriotisme/regulasi. Semua berasal dari System 1 (cepat, intuitif).
1. Familiarity
Lebih nyaman dengan yang dikenal: BBCA vs Apple; Alfamart vs Walmart. Familiarity = safety perception (irrasional).
2. Information asymmetry
Info BEI lebih mudah (Bahasa Indonesia, media lokal). Info saham global butuh effort Bahasa Inggris, zona waktu.
3. Patriotisme & regulasi
“Investasi untuk Indonesia”; batasan regulasi DPLK; tax treatment asing kurang familiar.
Implikasi: home bias berkurang seiring integrasi global, tetapi tetap kuat karena dasar psikologis.
Konsekuensi Home Bias: Risiko & Return
Home bias mengurangi return risk-adjusted karena diversifikasi suboptimal. IHSG berkorelasi tinggi dengan komoditas; saham global (mis. AS tech) memberikan diversifikasi.
Risiko konsentrasi BEI
Sektor finansial & komoditas ~60% IHSG
Tidak ada eksposur ke tech global (Apple, Microsoft, AI)
Sensitif terhadap harga batu bara, minyak sawit, nikel
Korelasi IHSG vs S&P 500 ~0,4-0,5 (rendah)
Manfaat diversifikasi global
Return S&P 500 2010-2023 ~12%/thn USD
Return IHSG 2010-2023 ~5-7%/thn IDR
Selisih ~5-7%/thn — compounding signifikan
Risiko nilai tukar IDR/USD (dapat dihedged)
Studi: portofolio 70% IHSG + 30% S&P 500 memiliki return risk-adjusted lebih tinggi daripada 100% IHSG, dengan volatilitas lebih rendah karena korelasi ~0,4-0,5.
Bagian 2 · 2/4
Narrow Framing
Diskusi: Anda menawarkan investasi A (90% untung Rp 5 juta, 10% rugi Rp 1 juta) dan investasi B (90% untung Rp 5 juta, 10% rugi Rp 1 juta). Jika ditawarkan terpisah, mayoritas menolak karena loss aversion. Jika ditawarkan gabungan (180% dari Rp 5 juta gain potensial), mayoritas terima. Inilah narrow framing.
Definisi Narrow Framing
Narrow framing (Kahneman-Lovallo 1993): kecenderungan menilai keputusan secara isolasi dalam rentang sempit, alih-alih dalam konteks portofolio lengkap atau horison panjang. Akibat: loss aversion dan risk aversion berlebihan.
Bentuk 1
Setiap keputusan dinilai terpisah, bukan agregat portofolio
Bentuk 2
Evaluasi jangka pendek (kuartal) alih-alih jangka panjang (10 tahun)
Bentuk 3
Asset class dinilai terpisah, bukan contribution to portfolio
Penangkal: selalu tanyakan “bagaimana keputusan ini berkontribusi pada portofolio keseluruhan dalam 10 tahun?”
Coba Sendiri: Narrow Framing Alokasi Aset
Bandingkan keputusan alokasi ketika saham dievaluasi sendiri vs sebagai bagian portofolio diversified. Widget menunjukkan bagaimana narrow framing menurunkan alokasi ke aset berisiko.
Mental Accounting (Thaler 1985)
Thaler 1985 “Mental Accounting and Consumer Choice”: manusia memisahkan uang dalam “akun mental” berbeda (gaji, bonus, hadiah, investasi, tabungan) dengan aturan berbeda — padahal uang adalah uang (fungibility).
Menahan utang kartu kredit 24% sambil punya deposito 5%
Menyimpan uang di reksa dana pasar uang (4%) sambil cicilan KPR 8%
Menganggap capital gain = “house money” → ambil risiko ekstrem
Tidak realokasi bonus ke investasi (memboroskan)
Prinsip fungibility: Rp 1 juta dari gaji, bonus, atau hadiah matematis sama. Tetapi mental accounting membuat perlakuan berbeda — irasional.
Bagian 3 · 3/4
Aplikasi BEI: Alokasi Optimal Indonesia
Diskusi: Anda konsultan keuangan. Klien Anda 40 tahun, gaji Rp 30 juta/bulan, punya KPR 7%, deposito Rp 200 juta (5%), portofolio saham BEI Rp 100 juta. Berapa alokasi optimal?
Alokasi Optimal untuk Investor Indonesia
Rekomendasi alokasi berbasis theory + mitigasi bias (untuk investor usia 30-50 tahun, horizon 15+ tahun).
Komponen
% Alokasi
Instrument Indonesia
Justifikasi
Emergency fund
3-6 bulan pengeluaran
Deposito / reksa dana pasar uang
Likuiditas; jangan over-allocate
Saham BEI
30-40%
ETF IHSG, saham blue chip, reksa dana saham
Eksposur domestik; tax familiar
Saham global
20-30%
ETF S&P 500 / MSCI World; reksa dana global
Diversifikasi; eksposur tech global
Obligasi/SBN
15-25%
SBN tradisional, SR, ORI; reksa dana pendapatan tetap
Stabilisator; income
Alternatif
0-10%
Reksa dana emas, properti (REITs)
Diversifikasi non-korelasi
Pelunasan utang berbunga tinggi (kartu kredit, KTA) = prioritas sebelum investasi. Mental accounting sering mengaburkan ini.
Hitung dari Nol: Biaya Mental Accounting
Skenario: Klien punya utang kartu kredit Rp 50 juta (24%/tahun), deposito Rp 50 juta (5%/tahun), portofolio saham Rp 50 juta (expected 10%/tahun). Hitung biaya mental accounting 5 tahun.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Bunga utang CC 5 tahun
$50 \times (1{,}24^{5} - 1)$
~Rp 86,7 juta bunga akumulatif
2. Bunga deposito 5 tahun
$50 \times (1{,}05^{5} - 1)$
~Rp 13,8 juta bunga akumulatif
3. Saham (ekspektasi) 5 tahun
$50 \times (1{,}10^{5} - 1)$
~Rp 30,5 juta gain ekspektasi
4. Net posisi
13,8 + 30,5 − 86,7
~−Rp 42,4 juta (rugi)
5. Strategi optimal: lunasi CC, saham Rp 100 jt
$100 \times (1{,}10^{5} - 1)$
~Rp 61 juta gain
6. Selisih strategi
61 − (−42,4)
~Rp 103,4 juta dalam 5 tahun
Insight
~Rp 103 juta hilang
Hanya dari mental accounting (mempertahankan deposito+saham sambil utang CC 24%). Inilah biaya bias.
Coba Sendiri: Biaya Mental Accounting Klien
Atur tiga mental account (gaji, bonus, warisan) dengan alokasi risiko berbeda untuk melihat ineffisiensi diversifikasi. Widget menghitung Sharpe ratio efektif vs portofolio gabungan optimal.
Bagian 4 · 4/4
Sistem 1 vs Sistem 2: Kerangka Semua Bias
Diskusi: semua bias yang kita bahas (P4-P7) berasal dari Sistem 1 yang cepat, intuitif. Sistem 2 yang analitis bisa menangkap, tetapi malas dan mahal. Bagaimana membangun sistem yang memanfaatkan keduanya?
Dua Sistem Berpikir (Kahneman 2011)
Kahneman 2011 Thinking Fast and Slow: manusia mempunyai dua sistem berpikir. Mayoritas keputusan harian oleh Sistem 1; Sistem 2 jarang aktif karena mahal kognitif.
Karakteristik
Sistem 1 (Cepat)
Sistem 2 (Lambat)
Kecepatan
Otomatis, instan
Sengaja, lambat
Effort
Tanpa effort, tidak sadar
Mahal kognitif, sadar
Konteks
Mayoritas keputusan harian
Untuk keputusan kompleks/sulit
Sumber bias
Heuristik, PT, overconfidence
Bisa menangkap bias Sistem 1
Trigger
Stimulus eksternal, emosi
Pertanyaan sulit, kontrol diri
Kondisi aktif
Default ( energi rendah, stres, waktu sempit)
Saat dipaksa (checklist, deadline)
Strategi: gunakan Sistem 2 untuk membuat checklist ketika kondisi tenang. Checklist membantu Sistem 1 membuat keputusan cepat tetapi berkualitas.
Coba Sendiri: Diagnosa System 1 vs System 2
Jalankan seri pertanyaan cepat yang memicu jawaban intuitif (System 1) vs pertanyaan yang membutuhkan refleksi (System 2). Widget menampilkan distribusi jawaban dan waktu responsi.
Bias Spesifik: Familiarity & Patriotism di BEI
Dua bias spesifik yang memperkuat home bias di Indonesia: familiarity (lebih nyaman dengan yang dikenal) dan patriotism (kewajiban moral investasi domestik).
Familiarity bias
Lebih nyaman saham yang “dikenal” (BBCA, TLKM) vs global (Apple, Microsoft)
Padahal BBCA dan Apple sama-sama global brand
Merasa “tahu” bisnis lokal — sering salah
Patriotism bias
“Investasi untuk Indonesia” — narasi emosional
Investasi di BEI = kontribusi pembangunan
Investasi global dianggap “tidak nasionalis”
Padahal diversifikasi global mengurangi risiko sistemik BEI
Mitigasi: sadari bahwa patriotism adalah valid untuk donasi/zakat, tetapi tidak optimal untuk investasi. Tujuan investasi = return risk-adjusted optimal, bukan patriotism.
Kasus Integratif: Rekomendasi Wealth Manager Indonesia
Sebagai wealth manager, Anda akan menghadapi klien home biased dengan mental accounting. Bagaimana pendekatan edukasi yang efektif?
Diagnosis klien (langkah 1)
Hitung alokasi saat ini: % saham BEI vs global
Identifikasi utang berbunga tinggi vs investasi
Identifikasi mental accounts (gaji vs bonus vs hadiah)
Evaluasi narrow framing: apakah setiap keputusan dinilai terpisah?
Edukasi & realokasi (langkah 2)
Tunjukkan biaya konkret home bias (return historis IHSG vs S&P 500)
Tunjukkan biaya mental accounting (utang vs deposito)
Rekomendasikan alokasi target 5-10 tahun bertahap
Bangun checklist untuk keputusan baru
Pendekatan empatik: jangan menghakimi. Mulai dari 10-20% realokasi, evaluasi 12 bulan, tingkatkan bertahap. Edukasi data-driven, bukan teoretis.
Ringkasan Kunci Pertemuan 7
Home Bias
Investor Indonesia ~93 pp home biased; diversifikasi global = peningkatan return risk-adjusted
Narrow Framing
Menilai keputusan isolasi; penangkal = portfolio thinking + horizon panjang
Mental Accounting
Pemisahan uang irasional; penangkal = fungibility + utang berbunga tinggi prioritaskan
Semua bias individu berasal dari Sistem 1. Mitigasi = checklist Sistem 2 yang dieksekusi cepat.
Persiapan P8: baca Laibson (1997) “Golden Eggs and Hyperbolic Discounting”; bawa satu keputusan keuangan yang Anda tunda (mis. mulai investasi, pelunasan utang) — kita akan analisis dengan lensa hyperbolic discounting & present bias.