stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Relativisme, Home Bias, & Dua Sistem Berpikir
RPS minggu 7 · 2x50 menit

Relativisme, Home Bias & Dua Sistem Berpikir

Narrow framing, mental accounting, System 1 vs System 2

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 7: menganalisis bias home bias dan framing sempit pada keputusan alokasi aset investor domestik.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Home bias: definisi, data, dan CAPM optimal
  • Penyebab: familiarity, information asymmetry, patriotism
  • Narrow framing: menilai keputusan isolasi (Kahneman-Lovallo 1993)
Jam ke-2 (50 menit)
  • Mental accounting (Thaler 1985): tiga komponen
  • Sistem 1 vs Sistem 2: konteks teoretis semua bias
  • Aplikasi BEI: alokasi optimal & strategi mitigasi
Posisi alur 14: P6 (overconfidence) → P7 (relativisme) → P8 (hyperbolic discounting) → P9 (modal sosial). Hari ini menyatukan bias kognitif individu dalam kerangka alokasi aset.

Mengapa Alokasi Aset Adalah Keputusan Paling Penting

Brinson dkk. 1986/1991: ~90% variabilitas return portofolio datang dari alokasi aset (saham/obligasi/cash), bukan stock picking atau market timing. Alokasi aset = keputusan paling penting.

Kontribusi alokasi aset
~90%
Brinson-Hood-Beebower 1986; konfirmasi 1991 untuk 82 reksa dana pensiun AS
Investor BEI diversifikasi internasional
< 5%
Mayoritas <5% portofolio di aset global (dihedge) — home bias ekstrem
Pertanyaan pemantik: jika alokasi aset menentukan 90% return, dan mayoritas investor BEI <5% di global — ada peluang besar untuk meningkatkan return risk-adjusted via diversifikasi internasional.
Bagian 1 · 1/4
Home Bias: Definisi & Data Global
Diskusi: jika CAPM optimal mengikuti market cap, dan BEI ~1,5% dari global market cap, maka investor rasional seharusnya hanya 1,5% di saham BEI. Kenyataan: investor Indonesia ~95% di BEI. Mengapa?

Home Bias: Data Komparatif

French-Potterba 1991: semua investor di dunia menunjukkan home bias ekstrem — jauh di atas alokasi market cap optimal. Indonesia adalah salah satu yang paling ekstrem.

Negara% Market Cap Global% Alokasi Investor DomestikHome Bias
AS~48%~94%~46 pp
Jepang~44%~89%~45 pp
UK~10%~78%~68 pp
Jerman~7%~73%~66 pp
Indonesia~1,5%~95%~93 pp (paling ekstrem)
Indonesia paling ekstrem: home bias ~93 pp. Investor AS relatif lebih rasional (~46 pp), meski tetap home biased.

House Money Effect (Thaler-Johnson 1990)

Setelah mengalami gain, investor cenderung mengambil risiko lebih besar dengan uang “untung” — seolah uang itu “milik rumah” (house money) yang tidak terlalu berharga.

Mekanisme
  • Setelah untung besar (mis. +50% di saham A), reference point naik
  • Capital gain dianggap “house money” — lebih mudah risiko
  • Investor ambil posisi spekulatif ekstrem dengan uang untung
  • Saat rugi, baru sadar itu uang asli
Contoh BEI
  • Investor untung besar dari nikel 2022 → ambil risiko gorengan
  • Trader rugi semua gain + modal awal dalam 6 bulan
  • Hubungan dengan break-even effect (rugi → risk-seeking)
Mitigasi: setelah gain besar, realokasi 50% ke “lock-in” (reksa dana pasar uang). Jangan biarkan house money effect menghancurkan keuntungan.

Korelasi Antar-Pasar & Manfaat Diversifikasi

Korelasi return antar-pasar saham global cenderung <1 — sehingga diversifikasi mengurangi risiko tanpa mengorbankan return terlalu banyak.

Pasang pasarKorelasi return (USD)Implikasi diversifikasi
IHSG vs S&P 500~0,40-0,50Diversifikasi kuat; kombinasi optimal
IHSG vs MSCI Emerging~0,60-0,70Diversifikasi moderat (BEI bagian EM)
S&P 500 vs Nikkei~0,50-0,60Diversifikasi moderat
S&P 500 vs MSCI Europe~0,75-0,85Diversifikasi lemah (pasar maju saling terkait)
IHSG vs SBN (obligasi)~−0,10 hingga +0,20Diversifikasi sangat kuat (negatif/lemah)
Korelasi IHSG vs S&P 500 ~0,4-0,5 memberi manfaat diversifikasi besar. Kombinasi 70% IHSG + 30% S&P 500 mengurangi volatilitas ~15% dengan return serupa atau lebih tinggi.

Penyebab Home Bias

Tiga penyebab utama home bias: familiarity, information asymmetry, dan patriotisme/regulasi. Semua berasal dari System 1 (cepat, intuitif).

1. Familiarity
Lebih nyaman dengan yang dikenal: BBCA vs Apple; Alfamart vs Walmart. Familiarity = safety perception (irrasional).
2. Information asymmetry
Info BEI lebih mudah (Bahasa Indonesia, media lokal). Info saham global butuh effort Bahasa Inggris, zona waktu.
3. Patriotisme & regulasi
“Investasi untuk Indonesia”; batasan regulasi DPLK; tax treatment asing kurang familiar.

Implikasi: home bias berkurang seiring integrasi global, tetapi tetap kuat karena dasar psikologis.

Konsekuensi Home Bias: Risiko & Return

Home bias mengurangi return risk-adjusted karena diversifikasi suboptimal. IHSG berkorelasi tinggi dengan komoditas; saham global (mis. AS tech) memberikan diversifikasi.

Risiko konsentrasi BEI
  • Sektor finansial & komoditas ~60% IHSG
  • Tidak ada eksposur ke tech global (Apple, Microsoft, AI)
  • Sensitif terhadap harga batu bara, minyak sawit, nikel
  • Korelasi IHSG vs S&P 500 ~0,4-0,5 (rendah)
Manfaat diversifikasi global
  • Return S&P 500 2010-2023 ~12%/thn USD
  • Return IHSG 2010-2023 ~5-7%/thn IDR
  • Selisih ~5-7%/thn — compounding signifikan
  • Risiko nilai tukar IDR/USD (dapat dihedged)
Studi: portofolio 70% IHSG + 30% S&P 500 memiliki return risk-adjusted lebih tinggi daripada 100% IHSG, dengan volatilitas lebih rendah karena korelasi ~0,4-0,5.
Bagian 2 · 2/4
Narrow Framing
Diskusi: Anda menawarkan investasi A (90% untung Rp 5 juta, 10% rugi Rp 1 juta) dan investasi B (90% untung Rp 5 juta, 10% rugi Rp 1 juta). Jika ditawarkan terpisah, mayoritas menolak karena loss aversion. Jika ditawarkan gabungan (180% dari Rp 5 juta gain potensial), mayoritas terima. Inilah narrow framing.

Definisi Narrow Framing

Narrow framing (Kahneman-Lovallo 1993): kecenderungan menilai keputusan secara isolasi dalam rentang sempit, alih-alih dalam konteks portofolio lengkap atau horison panjang. Akibat: loss aversion dan risk aversion berlebihan.
Bentuk 1
Setiap keputusan dinilai terpisah, bukan agregat portofolio
Bentuk 2
Evaluasi jangka pendek (kuartal) alih-alih jangka panjang (10 tahun)
Bentuk 3
Asset class dinilai terpisah, bukan contribution to portfolio

Penangkal: selalu tanyakan “bagaimana keputusan ini berkontribusi pada portofolio keseluruhan dalam 10 tahun?”

Mental Accounting (Thaler 1985)

Thaler 1985 “Mental Accounting and Consumer Choice”: manusia memisahkan uang dalam “akun mental” berbeda (gaji, bonus, hadiah, investasi, tabungan) dengan aturan berbeda — padahal uang adalah uang (fungibility).

Pola mental accounting umum
  • Gaji → untuk kebutuhan (teratur)
  • Bonus → untuk “hadiah” (liburan, gadget)
  • Hadiah/uang bonus → belanja “extra” (mudah dibuang)
  • Dividen saham → reinvestasi atau belanja
  • Capital gain → “house money” (lebih mudah risiko)
Konsekuensi irasional
  • Menahan utang kartu kredit 24% sambil punya deposito 5%
  • Menyimpan uang di reksa dana pasar uang (4%) sambil cicilan KPR 8%
  • Menganggap capital gain = “house money” → ambil risiko ekstrem
  • Tidak realokasi bonus ke investasi (memboroskan)
Prinsip fungibility: Rp 1 juta dari gaji, bonus, atau hadiah matematis sama. Tetapi mental accounting membuat perlakuan berbeda — irasional.
Bagian 3 · 3/4
Aplikasi BEI: Alokasi Optimal Indonesia
Diskusi: Anda konsultan keuangan. Klien Anda 40 tahun, gaji Rp 30 juta/bulan, punya KPR 7%, deposito Rp 200 juta (5%), portofolio saham BEI Rp 100 juta. Berapa alokasi optimal?

Alokasi Optimal untuk Investor Indonesia

Rekomendasi alokasi berbasis theory + mitigasi bias (untuk investor usia 30-50 tahun, horizon 15+ tahun).

Komponen% AlokasiInstrument IndonesiaJustifikasi
Emergency fund3-6 bulan pengeluaranDeposito / reksa dana pasar uangLikuiditas; jangan over-allocate
Saham BEI30-40%ETF IHSG, saham blue chip, reksa dana sahamEksposur domestik; tax familiar
Saham global20-30%ETF S&P 500 / MSCI World; reksa dana globalDiversifikasi; eksposur tech global
Obligasi/SBN15-25%SBN tradisional, SR, ORI; reksa dana pendapatan tetapStabilisator; income
Alternatif0-10%Reksa dana emas, properti (REITs)Diversifikasi non-korelasi
Pelunasan utang berbunga tinggi (kartu kredit, KTA) = prioritas sebelum investasi. Mental accounting sering mengaburkan ini.

Hitung dari Nol: Biaya Mental Accounting

Skenario: Klien punya utang kartu kredit Rp 50 juta (24%/tahun), deposito Rp 50 juta (5%/tahun), portofolio saham Rp 50 juta (expected 10%/tahun). Hitung biaya mental accounting 5 tahun.
LangkahPerhitunganNilai
1. Bunga utang CC 5 tahun50 × (1,24^5 − 1)~Rp 86,7 juta bunga akumulatif
2. Bunga deposito 5 tahun50 × (1,05^5 − 1)~Rp 13,8 juta bunga akumulatif
3. Saham (ekspektasi) 5 tahun50 × (1,10^5 − 1)~Rp 30,5 juta gain ekspektasi
4. Net posisi13,8 + 30,5 − 86,7~−Rp 42,4 juta (rugi)
5. Strategi optimal: lunasi CC, saham Rp 100 jt100 × (1,10^5 − 1)~Rp 61 juta gain
6. Selisih strategi61 − (−42,4)~Rp 103,4 juta dalam 5 tahun
Insight
~Rp 103 juta hilang
Hanya dari mental accounting (mempertahankan deposito+saham sambil utang CC 24%). Inilah biaya bias.
Bagian 4 · 4/4
Sistem 1 vs Sistem 2: Kerangka Semua Bias
Diskusi: semua bias yang kita bahas (P4-P7) berasal dari Sistem 1 yang cepat, intuitif. Sistem 2 yang analitis bisa menangkap, tetapi malas dan mahal. Bagaimana membangun sistem yang memanfaatkan keduanya?

Dua Sistem Berpikir (Kahneman 2011)

Kahneman 2011 Thinking Fast and Slow: manusia mempunyai dua sistem berpikir. Mayoritas keputusan harian oleh Sistem 1; Sistem 2 jarang aktif karena mahal kognitif.

KarakteristikSistem 1 (Cepat)Sistem 2 (Lambat)
KecepatanOtomatis, instanSengaja, lambat
EffortTanpa effort, tidak sadarMahal kognitif, sadar
KonteksMayoritas keputusan harianUntuk keputusan kompleks/sulit
Sumber biasHeuristik, PT, overconfidenceBisa menangkap bias Sistem 1
TriggerStimulus eksternal, emosiPertanyaan sulit, kontrol diri
Kondisi aktifDefault ( energi rendah, stres, waktu sempit)Saat dipaksa (checklist, deadline)
Strategi: gunakan Sistem 2 untuk membuat checklist ketika kondisi tenang. Checklist membantu Sistem 1 membuat keputusan cepat tetapi berkualitas.

Bias Spesifik: Familiarity & Patriotism di BEI

Dua bias spesifik yang memperkuat home bias di Indonesia: familiarity (lebih nyaman dengan yang dikenal) dan patriotism (kewajiban moral investasi domestik).

Familiarity bias
  • Lebih nyaman saham yang “dikenal” (BBCA, TLKM) vs global (Apple, Microsoft)
  • Padahal BBCA dan Apple sama-sama global brand
  • Merasa “tahu” bisnis lokal — sering salah
Patriotism bias
  • “Investasi untuk Indonesia” — narasi emosional
  • Investasi di BEI = kontribusi pembangunan
  • Investasi global dianggap “tidak nasionalis”
  • Padahal diversifikasi global mengurangi risiko sistemik BEI
Mitigasi: sadari bahwa patriotism adalah valid untuk donasi/zakat, tetapi tidak optimal untuk investasi. Tujuan investasi = return risk-adjusted optimal, bukan patriotism.

Kasus Integratif: Rekomendasi Wealth Manager Indonesia

Sebagai wealth manager, Anda akan menghadapi klien home biased dengan mental accounting. Bagaimana pendekatan edukasi yang efektif?

Diagnosis klien (langkah 1)
  • Hitung alokasi saat ini: % saham BEI vs global
  • Identifikasi utang berbunga tinggi vs investasi
  • Identifikasi mental accounts (gaji vs bonus vs hadiah)
  • Evaluasi narrow framing: apakah setiap keputusan dinilai terpisah?
Edukasi & realokasi (langkah 2)
  • Tunjukkan biaya konkret home bias (return historis IHSG vs S&P 500)
  • Tunjukkan biaya mental accounting (utang vs deposito)
  • Rekomendasikan alokasi target 5-10 tahun bertahap
  • Bangun checklist untuk keputusan baru
Pendekatan empatik: jangan menghakimi. Mulai dari 10-20% realokasi, evaluasi 12 bulan, tingkatkan bertahap. Edukasi data-driven, bukan teoretis.

Ringkasan Kunci Pertemuan 7

Home Bias
Investor Indonesia ~93 pp home biased; diversifikasi global = peningkatan return risk-adjusted
Narrow Framing
Menilai keputusan isolasi; penangkal = portfolio thinking + horizon panjang
Mental Accounting
Pemisahan uang irasional; penangkal = fungibility + utang berbunga tinggi prioritaskan

Semua bias individu berasal dari Sistem 1. Mitigasi = checklist Sistem 2 yang dieksekusi cepat.

Persiapan P8: baca Laibson (1997) “Golden Eggs and Hyperbolic Discounting”; bawa satu keputusan keuangan yang Anda tunda (mis. mulai investasi, pelunasan utang) — kita akan analisis dengan lensa hyperbolic discounting & present bias.