stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-05
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 5: Probability Processing — Heuristik Kognitif
RPS minggu 5 · 2x50 menit

Probability Processing

Heuristik representativeness, availability, base-rate neglect (Kahneman-Tversky 1974)

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 5: menerapkan heuristik pemrosesan probabilitas untuk menganalisis kesalahan estimasi risiko oleh investor.

Jam ke-1 (50 menit)
  • Tiga heuristik Kahneman-Tversky 1974: representativeness, availability, anchoring
  • Representativeness: mengabaikan base rate, sample size, regression to mean
  • Availability: bias dari kemudahan recall; efek media & pengalaman pribadi
Jam ke-2 (50 menit)
  • Base-rate neglect & konjunction fallacy (Linda problem)
  • Anchoring: bagaimana target price analis dibentuk
  • Aplikasi BEI: saham gorengan, IPO hype, strategi mitigasi
Posisi alur 14: P4 (PT) → P5 (heuristik) → P6 (overconfidence) → P7 (System 1/2). Heuristik adalah jalur cepat System 1 yang sering keliru.

Sistem 1 vs Sistem 2: Konteks Heuristik

Kahneman 2011 (Thinking Fast and Slow): manusia punya dua sistem berpikir. Sistem 1 (cepat, intuitif, heuristik) dan Sistem 2 (lambat, analitis, statistikal). Heuristik hari ini = operasi Sistem 1.

Sistem 1 (Cepat)
  • Otomatis, intuitif, tanpa effort
  • Heuristik: representativeness, availability, affect
  • Dominan untuk keputusan sehari-hari dan emosional
Sistem 2 (Lambat)
  • Sengaja, analitis, mahal kognitif
  • Statistika, Bayesian, perhitungan
  • Jarang aktif untuk keputusan finansial rutin
Mayoritas keputusan investasi BEI dibuat dengan Sistem 1 — reaksi cepat pada berita, saran teman, atau harga bergerak. Inilah mengapa heuristik sangat penting untuk dipahami.
Bagian 1 · 1/4
Representativeness Heuristic
Diskusi: Anda melihat startup pitch “seperti Gojek awal”. Apakah pitch ini menjanjikan? Jangan terjebak representativeness — evaluasi base rate startup teknologi Indonesia yang gagal (~95%).

Definisi Representativeness Heuristic

Representativeness heuristic (Kahneman-Tversky 1974): probabilitas suatu objek/event dinilai berdasarkan seberapa mirip objek/event tersebut dengan stereotip/prototype — bukan berdasarkan base rate statistik.
Pemicu
Kemiripan permukaan dengan kasus familiar
Akibat
Mengabaikan base rate, sample size, regression to mean
Aplikasi finansial
Saham IPO “like X”; CEO “charismatic like Steve Jobs”

Klien melihat startup “seperti Tesla” → overoptimistic. Realitas: base rate startup EV ~99% gagal.

Conjunction Fallacy: Linda Problem

Kahneman-Tversky 1982: problem Linda adalah demonstrasi klasik bahwa representativeness melanggar aturan probabilitas dasar (P(A∩B) ≤ P(A)).

Problem: Linda adalah wanita 31 tahun, single, lulus filsafat, aktif isu diskriminasi. Mana lebih mungkin: (A) Linda adalah bank teller, atau (B) Linda adalah bank teller DAN aktif di gerakan feminis? Jawaban benar (A), tetapi 85% responden memilih (B) — karena B lebih “representative” dengan deskripsi.
Probabilitas matematis
P(B) ≤ P(A)
P(A∩B) selalu ≤ P(A) — aturan dasar probabilitas
Responden salah
~85%
Pilih B karena “terasa lebih mungkin” dengan deskripsi Linda
Aplikasi BEI: investor menilai saham “XYZ adalah blue chip DAN akan naik 50%” lebih mungkin daripada “XYZ akan naik 50%” sendiri — yang melanggar matematika.

Base-Rate Neglect dalam Keputusan Investasi

Investor cenderung mengabaikan base rate (frekuensi dasar) ketika diberi informasi spesifik. Akibatnya: overoptimistic pada saham dengan cerita menarik, underweight risiko umum.

KeputusanBase rate yang diabaikanAkibat
Beli IPO tech~80% IPO tech BEI di bawah harga IPO dalam 2 tahunOverpay di IPO
Beli saham gorengan~90% gorengan “collapse” setelah 6 bulanKerugian besar
Investasi startup~95% startup gagal dalam 5 tahunKonsentrasi pada 1-2 startup
Cut loss saham rugi~60% saham rugi 30%+ tidak pulih dalam 3 tahunDisposition effect
Strategi mitigasi: selalu tanyakan “berapa base rate untuk kategori ini?” sebelum evaluasi spesifik. Ini disebut “outside view” vs “inside view” (Kahneman-Lovallo 1993).
Bagian 2 · 2/4
Availability Heuristic & Media
Diskusi: Anda melihat berita besar tentang hack kripto senilai Rp 1 triliun. Apakah Anda akan menjual kripto Anda? Availability heuristic membuat kita overweight risiko yang baru-baru ini terjadi atau dipublikasi.

Availability Heuristic dalam Konteks Investasi

Tversky-Kahneman 1974: probabilitas dinilai berdasarkan kemudahan recall contoh. Berita media, pengalaman pribadi, dan recency effect memperkuat bias ini.

Sumber bias
  • Media coverage: fraud GOTO/EMTK berita besar → semua tech dianggap berisiko
  • Pengalaman pribadi: pernah rugi di saham A → semua saham sektor dianggap “gorengan”
  • Recency: 3 bulan terakhir IHSG turun → “pasar berisiko tinggi”
  • Vividness: cerita detil lebih mudah recall → overestimate
Akibat pada BEI
  • Overreact pada berita bearish; underreact pada data fundamental positif
  • Menjual di bottom (panic) dan beli di top (FOMO)
  • Mengabaikan saham “bosan” (BBRI, TLKM) padahal return konsisten
  • Terkonsentrasi pada sektor “popular” (tech 2021, nikel 2022)
Strategi: evaluasi risiko dengan data historis 10-tahun (mis. drawdown max IHSG), bukan berita 3 bulan terakhir.

Eksplorasi Interaktif: Quiz Bias Keputusan

Quiz interaktif ini menguji kecenderungan bias kognitif Anda dalam keputusan finansial — representativeness, availability, loss aversion, overconfidence, dan anchoring.

Anchoring: Target Price Analis

Anchoring: manusia cenderung melekat pada angka awal (anchor) bahkan jika jelas acak. Dalam finansial, harga beli, harga historis, dan target price menjadi anchor yang mengaburkan penilaian.

Eksperimen klasik
  • Tversky-Kahneman 1974: spin wheel acak (1-100), lalu tanya “% negara Afrika di PBB?”
  • Anchor 10 → rata-rata jawaban 25%; anchor 65 → jawaban 45%
  • Anchor jelas acak masih memengaruhi judgment!
Aplikasi BEI
  • Target price analis Rp 10.000 → investor menganggap “wajar” walau fundamental Rp 7.000
  • Harga IPO Rp 338 → anchor untuk valuation GoTo
  • Harga ATH historis Rp 9.000 → “discount” jika sekarang Rp 7.500
Mitigasi: hitung intrinsic value dari nol sebelum melihat target price atau harga historis. Bandingkan setelah independent valuation.
Bagian 3 · 3/4
Sintesis Bias & Aplikasi BEI
Diskusi: Gabungkan representativeness + availability + anchoring. Bagaimana ketiganya bekerja bersama untuk menciptakan bubble saham gorengan di BEI?

Sintesis: Anatomy Bubble Gorengan BEI

Bubble saham gorengan (MYRP 2018, MDLA 2022, dll.) bukan satu bias — melainkan interaksi tiga heuristik + loss aversion + herding.

Fase bubbleBias dominanMekanisme
1. Awal (spark)RepresentativenessInvestor lihat pola “sama dengan X yang naik” → masuk awal
2. AkselerasiAvailability + mediaBerita “siapa untung 5×” → FOMO → lebih banyak pembeli
3. PuncakAnchoringHarga ATH jadi anchor; orang pikir “discount” saat turun ringan
4. CrashLoss aversionInvestor tahan rugi; baru jual setelah turun 70%+
5. HerdingSeluruh faseValidasi sosial: “semua orang di grup juga beli”
Pelajaran: bubble tidak bisa diprediksi timing, tetapi bisa dideteksi struktur (kombinasi tiga heuristik). Sebagai analis, jangan berpartisipasi — atau jika terlanjur, exit lebih awal.

Bayesian Updating: Penangkal Bias

Bayesian updating adalah strategi mitigasi utama untuk base-rate neglect dan representativeness. Mulai dari prior (base rate), update dengan likelihood bukti baru.

P(H|E) = P(E|H) · P(H) / P(E) → posterior ∝ likelihood × prior
Aplikasi: saham IPO BEI
  • Prior P(sukses IPO tech BEI) = 20% (base rate 2 tahun)
  • Likelihood bukti: CEO mantan Gojek + funding USD 50jt
  • Posterior: prior naik ke ~35-40% (modifikasi, bukan hapus)
  • Bukan: langsung ke 80% (representativeness)
Praktik Bayesian
  • Selalu mulai dari base rate kategori
  • Identifikasi bukti spesifik (CEO, funding, tim)
  • Estimasi seberapa kuat bukti mengubah prior
  • Jangan pernah hapus base rate
Bayesian thinking adalah penangkal utama. Tidak intuitif — perlu latihan. Mulai checklist: “Base rate? Bukti spesifik? Update berapa?”

Hitung dari Nol: Update Probabilitas Startup

Skenario: Anda evaluasi startup fintech. Base rate survival 5 tahun ~5%. Startup ini punya CEO ex-Gojek senior, funding Series B USD 30 juta, regulatory license OJK lengkap. Update probabilitas dengan Bayesian.
LangkahPerhitunganNilai
1. Prior P(survive)Base rate startup fintech5%
2. Likelihood evidenceCEO ex-Gojek + USD 30jt + license~3× base rate (kuat)
3. Posterior (Bayesian)P(survive|evidence) ≈ 5% × 3 / normalization~13,6%
4. Posterior (representativeness)“Sama dengan Gojek awal” → estimate~70% (overoptimistic)
5. Selisih estimasi70% − 13,6%~56 pp — overoptimistic
6. Expected value investasi13,6% × gain 10× + 86,4% × loss 1×EV ≈ +0,5× (positif tipis)
Insight
EV ≈ +0,5×
Positif tipis — layak jika portofolio diversifikasi 20+ startup. Negatif jika konsentrasi <5 startup.
Bagian 4 · 4/4
Mitigasi & Jembatan ke P6
Diskusi: heuristik hari ini menjelaskan banyak kesalahan estimasi risiko. Pertemuan 6 akan kupas overconfidence: mengapa manusia (termasuk manajer) sistematis terlalu yakin pada judgment mereka sendiri.

Kasus BEI Integratif: BUKA IPO & Tiga Heuristik

IPO Bukalapak (BUKA) Agustus 2021 — Rp 850, melonjak ke Rp 1.850 hari pertama (+118%), lalu turun ke ~Rp 250-300 (2024). Anatomy: ketiga heuristik bekerja.

Harga IPO BUKA
Rp 850
Agustus 2021 — valuasi ~USD 15 miliar, terbesar IPO BEI saat itu
Harga 2024
~Rp 250
Penurunan ~70% dari IPO; ~85% dari ATH (dihedge)
Tiga heuristik: (1) Representativeness — “BUKA like Amazon/Shopee awal”. (2) Availability — media hype IPO terbesar 2021, semua bicara. (3) Anchoring — harga IPO Rp 850 jadi anchor; investor pikir “discount” saat turun ke Rp 700.

Checklist Mitigasi Bias Kognitif

Praktik konkret untuk mengurangi dampak heuristik pada keputusan investasi Anda dan klien.

Untuk Representativeness
Tanya: “Base rate kategori ini berapa?” Mulai dari outside view
Untuk Availability
Gunakan data 10-20 tahun, bukan recency. Hindari news-driven decision
Untuk Anchoring
Independent valuation sebelum lihat target price/konsensus
Untuk Loss Aversion
Predefined stop-loss; fresh eyes test; evaluasi jangka panjang
Untuk Overconfidence
Buat decision journal; track hit rate prediksi; cari disconfirming evidence
Untuk Herding
Evaluasi mandiri sebelum lihat konsensus; contrarian checklist
Pelajaran: tidak ada yang “selalu rasional”. Tujuan: menjadi sadar (metacognition) sehingga bisa mengaktifkan Sistem 2 untuk keputusan penting.

Regression to Mean & Sample Size

Dua aturan statistik yang sering dilanggar karena representativeness: regression to mean (pola ekstrem cenderung kembali ke rata-rata) dan sample size (sampel kecil tidak representatif).

Regression to mean
  • Saham yang +50% dalam 1 bulan cenderung mean-revert dalam 3-6 bulan
  • Manajer top-performer 1 tahun biasanya median tahun berikutnya
  • Investor melihat ekstrem → menganggap “tren” (salah)
Sample size
  • 3 menang beruntun bukan “hot hand” — kemungkinan random
  • Track record 1 tahun manajer reksa dana tidak reliable
  • Butuh minimum 5-10 tahun untuk evaluasi keahlian
Aplikasi: jangan ekstrapolasi 3 bulan performa saham/manajer ke masa depan. Uji track record minimum 5 tahun sebelum menilai keahlian.

Ringkasan Kunci Pertemuan 5

Tiga Heuristik
Representativeness · availability · anchoring (Kahneman-Tversky 1974)
Base-Rate Neglect
Akar overoptimistic pada kasus “menarik”; penangkal = Bayesian updating
Sintesis Bubble
Tiga heuristik + loss aversion + herding = anatomy bubble gorengan

Heuristik tidak bisa dihilangkan — tetapi bisa dimitigasi dengan Bayesian thinking dan checklist Sistem 2.

Persiapan P6: baca Barber-Odean (2001) “Boys Will Be Boys” tentang overtrading; bawa satu prediksi investasi Anda yang salah — kita akan analisis dengan lensa overconfidence (miscalibration, better-than-average, overtrading).