‹ Daftar slidePertemuan 11: Pengkajian Strategi, Evaluasi, dan Kontrol
RPS minggu 12 · 2x50 menit
Pengkajian Strategi, Evaluasi, dan Kontrol
Menutup Lingkaran Implementasi: Dari Eksekusi ke Keputusan Lanjut/Revisi
Pertemuan 11 · Mata Kuliah Implementasi Strategi · Program Magister Manajemen, FEB UNDIP
Bagian I
Kapan & Mengapa Strategi Perlu Dikaji Ulang
Evaluasi sebagai proses berkelanjutan, trigger event, dan empat kriteria klasik Rumelt untuk menguji validitas strategi.
Pertanyaan diskusi: di organisasi Anda, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab "mengecek" apakah strategi masih relevan — dan seberapa sering itu benar-benar terjadi?
Evaluasi Strategi: Umpan Balik Berkelanjutan, Bukan Ritual Akhir Tahun
Rumelt (1980) menegaskan evaluasi bukan tahap terpisah di akhir siklus manajemen stratejik, melainkan proses paralel yang berjalan sepanjang implementasi — baik secara informal (penilaian harian manajer) maupun formal (review terjadwal, audit stratejik).
Perbedaan kunci: evaluasi informal mendeteksi masalah lebih cepat tapi rentan bias personal; evaluasi formal lebih objektif tapi sering terlambat kalau siklusnya tahunan kaku.
Trigger Event: Kapan Evaluasi Formal Wajib Dipicu
Pemicu Internal
Kinerja menyimpang signifikan dari target (revenue, margin, pangsa pasar).
Pergantian CEO/direksi utama — pemimpin baru umumnya mengaudit ulang strategi warisan.
Merger/akuisisi besar yang menggabungkan dua portofolio strategi berbeda.
Pemicu Eksternal
Disrupsi teknologi atau pemain baru yang mengubah struktur industri.
Perubahan regulasi material (mis. kebijakan fiskal, subsidi, kepemilikan asing).
Guncangan makro (krisis, pandemi, resesi) yang mengubah asumsi permintaan.
Mini-kasus: merger Gojek–Tokopedia menjadi GoTo Group (2021) memaksa evaluasi menyeluruh atas dua strategi berbeda — on-demand services vs e-commerce — sebelum sinergi bisa dieksekusi. (ilustrasi berbasis kejadian publik, angka non-publik)
Empat Kriteria Rumelt untuk Menguji Validitas Strategi
Kriteria
Pertanyaan Kunci
Fokus Analisis
1. Consistency (Konsistensi)
Apakah tujuan & kebijakan antar-fungsi saling mendukung, tidak bertabrakan?
Koherensi internal organisasi
2. Consonance (Keselarasan)
Apakah strategi merespons tren lingkungan eksternal secara adaptif?
Apakah sumber daya finansial, SDM, dan kapabilitas cukup untuk eksekusi?
Kapasitas eksekusi riil
Keempatnya bersifat saling melengkapi — strategi bisa lolos tiga kriteria tapi gagal di satu (misalnya sangat konsisten & unggul tapi tidak feasible secara pendanaan) dan tetap harus direvisi.
Menerapkan Kriteria Rumelt: Studi Kasus Ekspansi Bank Digital
Kasus ilustratif: sebuah bank digital baru di Indonesia (mis. tipe Bank Jago/SeaBank) memutuskan strategi agresif akuisisi nasabah lewat subsidi bunga tabungan tinggi. Mari terapkan keempat kriteria secara bertahap.
Langkah Analisis
Temuan pada Kasus
Verdict
1. Cek Consistency
Target growth agresif vs kebijakan risk management konservatif — ada tarik-menarik internal.
Perlu perbaikan
2. Cek Consonance
Selaras dengan tren adopsi digital banking & preferensi generasi muda terhadap bunga tinggi.
Lolos
3. Cek Advantage
Subsidi bunga mudah ditiru pesaing — bukan keunggulan berkelanjutan, hanya taktik jangka pendek.
Lemah
4. Cek Feasibility
Membutuhkan modal besar untuk terus mensubsidi bunga sampai skala ekonomi tercapai.
Berisiko
Kesimpulan manajerial: strategi ini butuh revisi paruh-jalan — kombinasikan akuisisi nasabah dengan diferensiasi produk/layanan yang lebih sulit ditiru, bukan hanya perang bunga.
Bagian II
Sistem Kontrol Stratejik: Balanced Scorecard & Empat Tipe Kontrol
Dari metrik multidimensi ke mekanisme kontrol formal yang mendeteksi penyimpangan lebih awal.
Pertanyaan diskusi: apakah scorecard kinerja di tempat kerja Anda didominasi metrik finansial saja, atau sudah mencakup dimensi pelanggan, proses, dan pembelajaran?
Balanced Scorecard: Empat Perspektif Kontrol Stratejik
Kaplan & Norton (1996) merancang BSC agar organisasi tidak hanya mengejar laba jangka pendek, tapi memantau strategy map — rantai sebab-akibat dari pembelajaran → proses → pelanggan → finansial.
Hitung dari Nol #1: Skor Balanced Scorecard Tertimbang
Kasus: divisi ritel sebuah perusahaan menimbang keempat perspektif BSC berdasarkan prioritas strategis dan mengukur tingkat capaian tahun berjalan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Kontribusi Finansial (bobot 40%, capaian 90%)
40% × 90%
36,00%
2. Kontribusi Pelanggan (bobot 25%, capaian 85%)
25% × 85%
21,25%
3. Kontribusi Proses Internal (bobot 20%, capaian 75%)
kinerja tertimbang divisi ritel tahun berjalan — gap terbesar di Proses Internal (75%)
Dari Skor BSC ke Keputusan Manajerial: Cascading & Konsekuensi
Cascading ke KPI Divisi/Unit
Skor korporat dipecah menjadi KPI unit bisnis & individu, menjaga keselarasan vertikal.
Setiap unit punya target spesifik yang mendukung strategy map korporat, bukan target lokal terpisah.
Contoh: target BUMN energi memecah skor korporat menjadi KPI unit produksi, distribusi, dan pelayanan pelanggan.
Konsekuensi Manajerial
Skor rendah pada satu perspektif memicu akar masalah di rantai sebab-akibat, bukan hanya tegur unit terkait.
Insentif/bonus dikaitkan ke skor gabungan, bukan hanya metrik finansial semata.
Review kuartalan menjadi forum eskalasi bila gap berulang tiga periode berturut-turut.
Kesalahan umum di banyak perusahaan Indonesia: BSC hanya dipakai untuk pelaporan, bukan untuk memicu tindakan korektif yang nyata pada akar penyebabnya.
Empat Tipe Kontrol Stratejik (Schendel & Hofer, 1979)
Tipe Kontrol
Fungsi Utama
Contoh Penerapan
1. Premise Control
Memvalidasi asumsi dasar strategi masih berlaku (ekonomi, regulasi, tren pasar).
Cek ulang asumsi harga komoditas dalam rencana ekspansi tambang.
2. Implementation Control
Memantau milestone eksekusi terhadap rencana & anggaran.
Review kemajuan proyek transformasi digital tiap kuartal.
3. Strategic Surveillance
Pemindaian lingkungan luas untuk sinyal ancaman/peluang tak terduga.
Pemantauan berkelanjutan atas pemain disruptif baru di industri.
4. Special Alert Control
Respons cepat terhadap kejadian mendadak & kritis.
Tim krisis diaktifkan saat terjadi kegagalan produk massal.
Keempatnya berjalan simultan, bukan berurutan — organisasi matang punya mekanisme untuk semua tipe kontrol ini berjalan paralel sepanjang tahun, bukan hanya saat audit tahunan.
Implementation Control dalam Praktik: Milestone Review
Mini-kasus ilustratif: program transformasi layanan digital sebuah bank menargetkan 100 cabang beralih sistem baru dalam setahun. Pada review Q2, realisasi baru 55 cabang — gap 12% dari target linier — memicu koreksi jadwal rollout di Q3.
Implementation control efektif kalau milestone diukur cukup sering untuk koreksi dini, tidak menunggu sampai akhir tahun saat kerugian sudah menumpuk.
Hitung dari Nol #2: Analisis Varians Stratejik
Kasus: target pertumbuhan pendapatan divisi tahun berjalan 15% dari basis Rp 400 miliar. Realisasi akhir tahun Rp 418 miliar. Ambang toleransi manajemen ±5%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Target pendapatan
Rp 400 M × (1 + 15%)
Rp 460 M
2. Varians absolut
Rp 418 M − Rp 460 M
−Rp 42 M
3. Varians persentase
−42 ÷ 460 × 100%
−9,13%
4. Bandingkan dengan ambang toleransi
|−9,13%| vs 5%
Melampaui ambang
Kesimpulan
−9,13%
gap melampaui ambang toleransi ±5% — strategic review wajib dipicu, bukan sekadar dicatat
Coba Sendiri: Hitung Varians Stratejik terhadap Ambang Toleransi
Ubah target pertumbuhan, realisasi, dan ambang toleransi manajemen, lalu amati kapan sistem menyatakan strategic review wajib dipicu.
Bagian III
Dari Evaluasi ke Keputusan: Revisi, Pertahankan, atau Hentikan?
Sinyal peringatan dini, perangkap kognitif dalam pengambilan keputusan, dan peran governance dalam oversight strategi.
Pertanyaan diskusi: pernahkah Anda melihat organisasi tetap "bertahan" pada strategi yang jelas gagal, hanya karena sudah terlanjur banyak berinvestasi?
Sinyal Peringatan Dini Kegagalan Strategi
Kerangka bertahap untuk mengenali kegagalan strategi sebelum berdampak fatal secara finansial.
Tahap
Sinyal yang Muncul
Respons yang Tepat
Tahap 1 — Dini
Target operasional meleset ringan berulang kali (2–3 periode).
Investigasi akar masalah, belum perlu revisi total.
Tahap 2 — Menengah
Pangsa pasar tergerus, turnover talenta kunci meningkat.
Arus kas operasi negatif berkelanjutan, kepercayaan investor menurun.
Revisi strategi menyeluruh atau opsi divestasi/penghentian.
Kesalahan paling mahal: menunggu sampai Tahap 3 untuk bertindak, padahal sinyal Tahap 1 dan 2 sudah cukup jelas terlihat dalam data operasional rutin.
Studi Kasus: Revisi Strategi vs Bertahan pada Jalur Semula
Kasus ilustratif berbasis pola nyata restrukturisasi ritel Indonesia (mis. tipe Matahari Department Store): tekanan e-commerce menggerus penjualan toko fisik selama beberapa tahun berturut-turut.
Opsi A — Bertahan (Stay the Course)
Asumsi: penurunan bersifat siklikal, akan pulih setelah daya beli membaik.
Risiko: kehilangan momentum digital sementara pesaing bergerak lebih cepat.
Opsi B — Revisi Strategi
Investasi omnichannel, rasionalisasi jumlah toko fisik yang kurang produktif.
Risiko: biaya transformasi besar & butuh waktu membangun kapabilitas digital baru.
Keputusan manajerial yang tepat menggunakan data varians multi-periode (bukan satu kuartal) untuk membedakan penurunan siklikal vs struktural sebelum memilih opsi A atau B.
Perangkap Kognitif dalam Evaluasi Strategi
Escalation of Commitment
Terus mendanai proyek gagal karena sudah banyak berinvestasi (sunk cost fallacy).
Contoh pola: maskapai penerbangan yang terus disuntik dana meski model bisnisnya sudah tidak feasible bertahun-tahun.
Groupthink & Confirmation Bias
Tim eksekutif menghindari data yang bertentangan dengan strategi pilihan pimpinan.
Konsensus semu terbentuk karena tidak ada yang berani jadi devil's advocate.
Mitigasi praktis: libatkan pihak independen (komite strategi, auditor internal, bahkan konsultan luar) yang tidak punya kepentingan pribadi pada kelangsungan strategi yang sedang dievaluasi.
Peran Governance: Komite Strategi & Audit Internal Stratejik
Komite Strategi (Dewan Komisaris)
Mengawasi kesesuaian strategi dengan risk appetite & kepentingan pemegang saham.
Menantang asumsi manajemen secara independen, bukan hanya menyetujui rencana yang diajukan.
Audit Internal Stratejik
Memverifikasi data kinerja yang dilaporkan manajemen sebelum sampai ke direksi/komisaris.
Mengaudit proses implementation control — apakah milestone benar-benar direview sesuai jadwal.
Perusahaan terbuka Indonesia (mis. bank & BUMN Tbk) umumnya sudah mewajibkan komite strategi di tingkat dewan komisaris sebagai bagian dari tata kelola korporat (good corporate governance).
Sintesis: Evaluasi & Kontrol sebagai Jantung Siklus Implementasi
Rangkaian pertemuan ini menutup fase implementasi: Rumelt (validitas strategi) → Balanced Scorecard (pengukuran multidimensi) → empat tipe kontrol (deteksi dini) → keputusan revisi/bertahan (governance).
Yang Sudah Anda Kuasai
Menguji validitas strategi dengan 4 kriteria Rumelt.
Persiapan Pertemuan 12: Studi Kasus Evaluasi Fungsional
Instruksi tugas untuk pertemuan berikutnya — bawa hasil analisis Anda ke kelas untuk didiskusikan.
Tugas Individu/Kelompok
Pilih satu perusahaan publik Indonesia yang pernah mengalami penurunan kinerja signifikan (min. 2 tahun berturut-turut).
Terapkan 4 kriteria Rumelt pada strategi perusahaan tersebut berdasarkan laporan tahunan & berita publik.
Susun rekomendasi: revisi strategi, bertahan, atau opsi lain — dengan justifikasi data varians kinerja.
Siapkan presentasi 5 menit untuk sesi diskusi kelas pada Pertemuan 12.
Gunakan hanya data publik (laporan tahunan, keterbukaan informasi BEI, berita kredibel) — jangan gunakan data internal/rahasia dari tempat kerja Anda tanpa izin.