‹ Daftar slidePertemuan 2: Kontrol Stratejik dan Tata Kelola: Kontrol Informasional vs Keperilakuan
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Kontrol Stratejik dan Tata Kelola: Kontrol Informasional vs Keperilakuan
Implementasi Strategi · Magister Manajemen FEB UNDIP
Bagaimana organisasi memastikan strategi tetap berjalan sesuai rencana — dan kapan mengendalikan hasil (informasional) lebih efektif daripada mengendalikan orang (keperilakuan).
Menerapkan kontrol informasional (hasil) vs keperilakuan (perilaku/budaya)
Memetakan struktur tata kelola korporat Indonesia (RUPS-Komisaris-Direksi)
Menilai kombinasi kontrol yang tepat untuk kasus riil
Bagian 1
Mengapa Kontrol Stratejik?
Diskusi kelas: di organisasi Anda, siapa yang pertama kali tahu ketika sebuah strategi mulai meleset dari rencana — dan dari mana mereka tahu?
Kontrol Stratejik sebagai Jembatan Formulasi–Implementasi
Definisi kerja
Kontrol stratejik = proses memantau asumsi, tindakan, dan hasil implementasi agar penyimpangan dari strategi terdeteksi cukup dini untuk dikoreksi — bukan sekadar mengukur hasil akhir tahun berjalan.
Berbeda dari kontrol operasional harian (fokus efisiensi jangka pendek)
Menutup putaran umpan balik ke fase formulasi (Goold & Quinn, 1990)
Menjawab pertanyaan manajerial: "apakah asumsi strategi kita masih berlaku?"
Implikasi bagi manajer S2
Anda tidak lagi cuma pelaksana KPI — Anda perancang sistem pemantauan
Kontrol yang terlambat = biaya kegagalan strategi membesar eksponensial
Kontrol yang terlalu ketat = mematikan inisiatif & respons cepat tim lapangan
Trade-off ini yang akan kita bedah sepanjang pertemuan hari ini
Empat Jenis Kontrol Stratejik Klasik
Jenis Kontrol
Fokus Pemantauan
Contoh Pemicu Tindakan
Kontrol premis
Validitas asumsi dasar strategi (makro, industri)
Rf SUN 10-tahun naik tajam → revisi asumsi biaya modal
Kontrol implementasi
Kemajuan milestone & alokasi sumberdaya rencana
Peluncuran produk molor 2 kuartal → eskalasi ke direksi
Pengawasan stratejik
Sinyal lingkungan luar yang tak terduga sejak awal
Regulasi OJK baru → tinjau ulang lini bisnis fintech
Kontrol siaga khusus
Kejadian mendadak berdampak besar (krisis)
Kebocoran data nasabah → aktivasi tim krisis 24 jam
Kerangka: Schreyögg & Steinmann (1987) — empat jenis ini saling melengkapi, bukan alternatif; organisasi matang menjalankan keempatnya secara paralel dengan pemilik proses berbeda.
Mini-Kasus: GoTo Pasca-Merger — Kontrol Mana yang Diprioritaskan?
Situasi (ilustrasi): Pasca merger Gojek-Tokopedia menjadi GoTo, manajemen menghadapi tekanan investor untuk profitabilitas sambil menjaga kecepatan inovasi dua budaya organisasi yang berbeda.
Sebagai direksi, Anda harus memutuskan
Perketat kontrol implementasi milestone integrasi sistem — atau
Prioritaskan kontrol keperilakuan (budaya, insentif tim gabungan)
Alokasikan komite mana yang mengawasi masing-masing risiko
Pertanyaan pengambilan keputusan
Mana risiko lebih mahal jika terlambat terdeteksi: sistem atau budaya?
Bagaimana investor publik (pemegang saham BEI) membaca sinyal kontrol Anda?
Siapa pemilik proses untuk tiap jenis kontrol pada slide sebelumnya?
Bagian 2
Kontrol Informasional vs Keperilakuan
Diskusi kelas: pernahkah Anda melihat tim yang secara angka terlihat "sehat" di dashboard, tetapi bermasalah serius dari sisi perilaku atau budaya kerja? Apa yang gagal dideteksi?
Kontrol Informasional: Mengendalikan lewat Hasil & Data
Karakteristik
Fokus pada output terukur (Merchant & Van der Stede, 2017: results controls)
Membutuhkan indikator yang jelas, terukur, dan dapat diatribusikan
Contoh: KPI penjualan, dashboard NPL bank, target DSCR proyek
Setara "diagnostic control system" dalam Levers of Control (Simons, 1995)
Kapan efektif — kapan gagal
Efektif saat hasil mudah diukur & hubungan sebab-akibat jelas
Gagal saat metrik mendorong gaming (misal target closing agresif → mis-selling)
Gagal saat lag data terlalu panjang untuk krisis cepat
Butuh pelengkap: kontrol keperilakuan pada slide berikut
Kontrol Keperilakuan: Mengendalikan lewat Orang & Budaya
Karakteristik
Fokus pada proses & norma (Merchant & Van der Stede: action & cultural controls)
Belief systems & boundary systems (Simons, 1995) — nilai inti & batas yang dilarang
Contoh: kode etik, budaya kerja, seleksi & sosialisasi karyawan
Ouchi (1979): "clan control" — efektif saat hasil sulit diukur langsung
Kapan efektif — kapan gagal
Efektif saat tugas kompleks, hasil baru terlihat jangka panjang
Efektif untuk mencegah risiko yang sulit diukur (etika, reputasi)
Gagal jika budaya tidak dijaga konsisten oleh pemimpin puncak
Lambat mendeteksi penyimpangan bila tak dilengkapi data
Simons’ Levers of Control: Merangkai Keduanya
Poin kunci (Simons, 1995): organisasi yang matang menjalankan keempat lever bersamaan — dua di antaranya informasional (diagnostic, sebagian interactive), dua lainnya keperilakuan (belief, boundary).
Hitung dari Nol: Indeks Balanced Scorecard Tertimbang
Kaplan & Norton (1996) — BSC adalah instrumen kontrol informasional multi-perspektif. Ilustrasi: skor pencapaian per perspektif dibobot sesuai prioritas stratejik perusahaan tahun berjalan.
Coba Sendiri: Susun Peta Strategi BSC dengan Bobot Anda Sendiri
Ubah bobot tiap perspektif dan skor pencapaiannya, lalu amati bagaimana indeks BSC total dan sinyal kesehatan strategi berubah.
BSC sebagai Kontrol Informasional Multi-Perspektif
Empat perspektif BSC
Finansial — ROE, margin, pertumbuhan pendapatan
Pelanggan — retensi, NPS, pangsa pasar
Proses Internal — waktu siklus, cacat produksi
Pembelajaran & Pertumbuhan — kapabilitas SDM, sistem informasi
Batas BSC sebagai kontrol tunggal
Tetap kontrol informasional — tak menangkap budaya/etika langsung
Bobot antar-perspektif bersifat pilihan manajerial, bukan formula baku
Perlu dilengkapi kontrol keperilakuan untuk risiko non-finansial
Efektif sebagai bahasa bersama direksi – komisaris – unit bisnis
Bagian 3
Tata Kelola: Merangkai Kontrol dalam Struktur
Diskusi kelas: menurut Anda, mengapa Indonesia mewajibkan struktur dua tingkat (Dewan Komisaris terpisah dari Direksi) alih-alih satu dewan gabungan seperti di AS?
Struktur Tata Kelola Dua-Tingkat di Indonesia
Dasar hukum: UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (organ RUPS-Komisaris-Direksi); POJK 55/POJK.04/2015 mewajibkan Komite Audit bagi emiten & perusahaan publik di BEI.
Mini-Kasus: Kegagalan Tata Kelola — Pelajaran dari Jiwasraya
Situasi (ringkasan publik, angka pendukung ilustrasi): PT Asuransi Jiwasraya mengalami gagal bayar polis besar setelah investasi berisiko tinggi pada saham dan reksa dana tidak likuid, yang belakangan terungkap tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan yang diterima organ pengawas.
Kegagalan kontrol informasional
Valuasi aset investasi tidak mencerminkan risiko riil
Boundary systems lemah — batas risiko investasi dilanggar berulang
Tekanan target imbal hasil polis mendorong perilaku spekulatif
Hitung dari Nol: Indeks Kontrol Tata Kelola Tertimbang
Ilustrasi audit internal: skor kematangan kontrol informasional dan keperilakuan digabung dengan bobot sesuai tingkat pengawasan regulasi sektor jasa keuangan.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Skor Kontrol Informasional tertimbang (bobot 55%)
55% × 68
37,4
Skor Kontrol Keperilakuan tertimbang (bobot 45%)
45% × 84
37,8
Indeks Kontrol Tata Kelola
37,4 + 37,8
75,2
Kategori Kematangan
75,2
Zona 70–85 = "Perlu Perbaikan Bertahap" (di bawah 70 = rawan seperti pola Jiwasraya; di atas 85 = matang)
Kontrol Keperilakuan Lanjutan: Budaya, Insentif, Rentang Kendali
Tiga pengungkit keperilakuan praktis
Seleksi & sosialisasi — rekrut nilai, bukan hanya kompetensi teknis
Desain insentif — selaraskan reward dengan perilaku jangka panjang
Rentang kendali — span of control sempit = pengawasan langsung intensif