stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Kontrol Stratejik dan Tata Kelola: Kontrol Informasional vs Keperilakuan
RPS minggu 2 · 2x50 menit

Kontrol Stratejik dan Tata Kelola: Kontrol Informasional vs Keperilakuan

Implementasi Strategi · Magister Manajemen FEB UNDIP

Bagaimana organisasi memastikan strategi tetap berjalan sesuai rencana — dan kapan mengendalikan hasil (informasional) lebih efektif daripada mengendalikan orang (keperilakuan).

Peta & Tujuan Pertemuan 2

Posisi dalam alur RPS
  • P1 — kesenjangan pengetahuan-tindakan & hambatan implementasi
  • P2 (hari ini) — kontrol stratejik & tata kelola
  • P3 — desain struktur organisasi selaras strategi
  • P4–P5 — isu operasional & diagnosis kesenjangan implementasi
Sub-CPMK minggu ini
  • Membedakan empat jenis kontrol stratejik klasik
  • Menerapkan kontrol informasional (hasil) vs keperilakuan (perilaku/budaya)
  • Memetakan struktur tata kelola korporat Indonesia (RUPS-Komisaris-Direksi)
  • Menilai kombinasi kontrol yang tepat untuk kasus riil
Bagian 1
Mengapa Kontrol Stratejik?

Diskusi kelas: di organisasi Anda, siapa yang pertama kali tahu ketika sebuah strategi mulai meleset dari rencana — dan dari mana mereka tahu?

Kontrol Stratejik sebagai Jembatan Formulasi–Implementasi

Definisi kerja

Kontrol stratejik = proses memantau asumsi, tindakan, dan hasil implementasi agar penyimpangan dari strategi terdeteksi cukup dini untuk dikoreksi — bukan sekadar mengukur hasil akhir tahun berjalan.

  • Berbeda dari kontrol operasional harian (fokus efisiensi jangka pendek)
  • Menutup putaran umpan balik ke fase formulasi (Goold & Quinn, 1990)
  • Menjawab pertanyaan manajerial: "apakah asumsi strategi kita masih berlaku?"
Implikasi bagi manajer S2
  • Anda tidak lagi cuma pelaksana KPI — Anda perancang sistem pemantauan
  • Kontrol yang terlambat = biaya kegagalan strategi membesar eksponensial
  • Kontrol yang terlalu ketat = mematikan inisiatif & respons cepat tim lapangan
  • Trade-off ini yang akan kita bedah sepanjang pertemuan hari ini

Empat Jenis Kontrol Stratejik Klasik

Jenis KontrolFokus PemantauanContoh Pemicu Tindakan
Kontrol premisValiditas asumsi dasar strategi (makro, industri)Rf SUN 10-tahun naik tajam → revisi asumsi biaya modal
Kontrol implementasiKemajuan milestone & alokasi sumberdaya rencanaPeluncuran produk molor 2 kuartal → eskalasi ke direksi
Pengawasan stratejikSinyal lingkungan luar yang tak terduga sejak awalRegulasi OJK baru → tinjau ulang lini bisnis fintech
Kontrol siaga khususKejadian mendadak berdampak besar (krisis)Kebocoran data nasabah → aktivasi tim krisis 24 jam
Kerangka: Schreyögg & Steinmann (1987) — empat jenis ini saling melengkapi, bukan alternatif; organisasi matang menjalankan keempatnya secara paralel dengan pemilik proses berbeda.

Mini-Kasus: GoTo Pasca-Merger — Kontrol Mana yang Diprioritaskan?

Situasi (ilustrasi): Pasca merger Gojek-Tokopedia menjadi GoTo, manajemen menghadapi tekanan investor untuk profitabilitas sambil menjaga kecepatan inovasi dua budaya organisasi yang berbeda.
Sebagai direksi, Anda harus memutuskan
  • Perketat kontrol implementasi milestone integrasi sistem — atau
  • Prioritaskan kontrol keperilakuan (budaya, insentif tim gabungan)
  • Alokasikan komite mana yang mengawasi masing-masing risiko
Pertanyaan pengambilan keputusan
  • Mana risiko lebih mahal jika terlambat terdeteksi: sistem atau budaya?
  • Bagaimana investor publik (pemegang saham BEI) membaca sinyal kontrol Anda?
  • Siapa pemilik proses untuk tiap jenis kontrol pada slide sebelumnya?
Bagian 2
Kontrol Informasional vs Keperilakuan

Diskusi kelas: pernahkah Anda melihat tim yang secara angka terlihat "sehat" di dashboard, tetapi bermasalah serius dari sisi perilaku atau budaya kerja? Apa yang gagal dideteksi?

Kontrol Informasional: Mengendalikan lewat Hasil & Data

Karakteristik
  • Fokus pada output terukur (Merchant & Van der Stede, 2017: results controls)
  • Membutuhkan indikator yang jelas, terukur, dan dapat diatribusikan
  • Contoh: KPI penjualan, dashboard NPL bank, target DSCR proyek
  • Setara "diagnostic control system" dalam Levers of Control (Simons, 1995)
Kapan efektif — kapan gagal
  • Efektif saat hasil mudah diukur & hubungan sebab-akibat jelas
  • Gagal saat metrik mendorong gaming (misal target closing agresif → mis-selling)
  • Gagal saat lag data terlalu panjang untuk krisis cepat
  • Butuh pelengkap: kontrol keperilakuan pada slide berikut

Kontrol Keperilakuan: Mengendalikan lewat Orang & Budaya

Karakteristik
  • Fokus pada proses & norma (Merchant & Van der Stede: action & cultural controls)
  • Belief systems & boundary systems (Simons, 1995) — nilai inti & batas yang dilarang
  • Contoh: kode etik, budaya kerja, seleksi & sosialisasi karyawan
  • Ouchi (1979): "clan control" — efektif saat hasil sulit diukur langsung
Kapan efektif — kapan gagal
  • Efektif saat tugas kompleks, hasil baru terlihat jangka panjang
  • Efektif untuk mencegah risiko yang sulit diukur (etika, reputasi)
  • Gagal jika budaya tidak dijaga konsisten oleh pemimpin puncak
  • Lambat mendeteksi penyimpangan bila tak dilengkapi data

Simons’ Levers of Control: Merangkai Keduanya

STRATEGIBelief SystemsNilai inti & misi(keperilakuan)Boundary SystemsBatas yang dilarang(keperilakuan)Diagnostic ControlKPI & target terukur(informasional)Interactive ControlDialog rutin isu strategis(keduanya)
Poin kunci (Simons, 1995): organisasi yang matang menjalankan keempat lever bersamaan — dua di antaranya informasional (diagnostic, sebagian interactive), dua lainnya keperilakuan (belief, boundary).

Hitung dari Nol: Indeks Balanced Scorecard Tertimbang

Kaplan & Norton (1996) — BSC adalah instrumen kontrol informasional multi-perspektif. Ilustrasi: skor pencapaian per perspektif dibobot sesuai prioritas stratejik perusahaan tahun berjalan.

LangkahPerhitunganNilai
Skor Finansial tertimbang (bobot 30%)30% × 8024,0
Skor Pelanggan tertimbang (bobot 25%)25% × 7218,0
Skor Proses Internal tertimbang (bobot 25%)25% × 8822,0
Skor Pembelajaran & Pertumbuhan tertimbang (bobot 20%)20% × 6513,0
Indeks BSC Total
77,0
24,0 + 18,0 + 22,0 + 13,0 = 77,0 dari skala 100

Coba Sendiri: Susun Peta Strategi BSC dengan Bobot Anda Sendiri

Ubah bobot tiap perspektif dan skor pencapaiannya, lalu amati bagaimana indeks BSC total dan sinyal kesehatan strategi berubah.

BSC sebagai Kontrol Informasional Multi-Perspektif

Empat perspektif BSC
  • Finansial — ROE, margin, pertumbuhan pendapatan
  • Pelanggan — retensi, NPS, pangsa pasar
  • Proses Internal — waktu siklus, cacat produksi
  • Pembelajaran & Pertumbuhan — kapabilitas SDM, sistem informasi
Batas BSC sebagai kontrol tunggal
  • Tetap kontrol informasional — tak menangkap budaya/etika langsung
  • Bobot antar-perspektif bersifat pilihan manajerial, bukan formula baku
  • Perlu dilengkapi kontrol keperilakuan untuk risiko non-finansial
  • Efektif sebagai bahasa bersama direksi – komisaris – unit bisnis
Bagian 3
Tata Kelola: Merangkai Kontrol dalam Struktur

Diskusi kelas: menurut Anda, mengapa Indonesia mewajibkan struktur dua tingkat (Dewan Komisaris terpisah dari Direksi) alih-alih satu dewan gabungan seperti di AS?

Struktur Tata Kelola Dua-Tingkat di Indonesia

RUPSDewan KomisarisPengawasan & nasihatDireksiEksekusi & operasionalKomite AuditDiketuai komisaris independen
Dasar hukum: UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (organ RUPS-Komisaris-Direksi); POJK 55/POJK.04/2015 mewajibkan Komite Audit bagi emiten & perusahaan publik di BEI.

Mini-Kasus: Kegagalan Tata Kelola — Pelajaran dari Jiwasraya

Situasi (ringkasan publik, angka pendukung ilustrasi): PT Asuransi Jiwasraya mengalami gagal bayar polis besar setelah investasi berisiko tinggi pada saham dan reksa dana tidak likuid, yang belakangan terungkap tidak sepenuhnya tercermin dalam laporan yang diterima organ pengawas.
Kegagalan kontrol informasional
  • Valuasi aset investasi tidak mencerminkan risiko riil
  • Laporan keuangan lambat menangkap tekanan likuiditas
Kegagalan kontrol keperilakuan
  • Boundary systems lemah — batas risiko investasi dilanggar berulang
  • Tekanan target imbal hasil polis mendorong perilaku spekulatif

Hitung dari Nol: Indeks Kontrol Tata Kelola Tertimbang

Ilustrasi audit internal: skor kematangan kontrol informasional dan keperilakuan digabung dengan bobot sesuai tingkat pengawasan regulasi sektor jasa keuangan.

LangkahPerhitunganNilai
Skor Kontrol Informasional tertimbang (bobot 55%)55% × 6837,4
Skor Kontrol Keperilakuan tertimbang (bobot 45%)45% × 8437,8
Indeks Kontrol Tata Kelola37,4 + 37,875,2
Kategori Kematangan
75,2
Zona 70–85 = "Perlu Perbaikan Bertahap" (di bawah 70 = rawan seperti pola Jiwasraya; di atas 85 = matang)

Kontrol Keperilakuan Lanjutan: Budaya, Insentif, Rentang Kendali

Tiga pengungkit keperilakuan praktis
  • Seleksi & sosialisasi — rekrut nilai, bukan hanya kompetensi teknis
  • Desain insentif — selaraskan reward dengan perilaku jangka panjang
  • Rentang kendali — span of control sempit = pengawasan langsung intensif
Risiko desain yang keliru
  • Insentif jangka pendek murni → mendorong perilaku oportunistik
  • Rentang kendali terlalu lebar → pengawasan perilaku melemah
  • Budaya kuat tanpa mekanisme speak-up → penyimpangan tersembunyi

Matriks Trade-off: Kapan Memilih Kontrol Mana

Kondisi TugasKontrol Dominan DisarankanAlasan Manajerial
Hasil mudah diukur, hubungan sebab-akibat jelasInformasional (results control)Biaya pengukuran rendah, sinyal cepat & objektif
Tugas kompleks, hasil baru terlihat jangka panjangKeperilakuan (action/cultural control)Metrik hasil bisa menyesatkan sebelum dampak nyata
Risiko reputasi/etika tinggi (jasa keuangan)Kombinasi berbobot lebih besar ke informasional + boundary ketatRegulasi menuntut jejak audit, tapi boundary cegah pelanggaran
Organisasi tumbuh cepat, sistem informasi belum matangKeperilakuan sementara, informasional dibangun bertahapKepercayaan & budaya menutup celah sistem yang belum siap

Latihan Kelas: Rancang Kombinasi Kontrol

Instruksi (15 menit, kelompok 3–4 orang): Pilih satu organisasi nyata tempat salah satu anggota kelompok bekerja atau berpengalaman.
Langkah kerja kelompok
  • Identifikasi 1 keputusan stratejik yang sedang/pernah diimplementasikan
  • Klasifikasikan menggunakan matriks trade-off slide sebelumnya
  • Rancang 2 kontrol informasional + 2 kontrol keperilakuan konkret
  • Tentukan organ tata kelola pemilik masing-masing kontrol
Format presentasi singkat (2 menit/kelompok)
  • Konteks organisasi & keputusan stratejik (1 kalimat)
  • 4 kontrol yang dirancang & alasannya
  • 1 risiko utama jika kombinasi kontrol ini salah

Ringkasan Pertemuan 2 & Jembatan ke Pertemuan 3

Yang telah kita bahas
  • Empat jenis kontrol stratejik klasik (premis, implementasi, pengawasan, siaga)
  • Kontrol informasional (hasil/data) vs keperilakuan (orang/budaya)
  • Levers of Control (Simons) & BSC sebagai instrumen informasional
  • Struktur tata kelola dua-tingkat Indonesia & pelajaran Jiwasraya
Pertemuan 3: Desain Struktur Organisasi
  • Struktur tradisional vs lintas-batas vs ambidextrous
  • Bagaimana struktur menentukan siapa menjalankan kontrol yang kita bahas hari ini
  • Baca sebelum kelas: kasus struktur organisasi 1 perusahaan pilihan Anda