RPS minggu 4 · 2x50 menit · Konsentrasi Risiko
Penentuan Suku Bunga & Strategi Pricing Kredit Ekonomi Manajerial Lembaga Keuangan — Magister Manajemen FEB UNDIP Hari ini kita masuk ke keputusan paling frequent yang diambil manajer bank: menentukan suku bunga kredit. Anda semua sudah paham konsep dasar pricing dari S1, jadi kita langsung ke kerangka Cost-Plus Pricing yang dipakai praktik perbankan, dilengkapi dengan elastisitas dan risk-based pricing yang membedakan bank modern dari bank tradisional. Sepanjang sesi kita akan banyak menyentuh pricing KMK, KTA, KUR subsidi, dan bagaimana margin dibentuk dari cost of funds, biaya operasional, expected loss, dan profit margin. Bawa satu contoh pricing kredit di institusi Anda untuk dianalisis di diskusi. Sub-CPMK 4 & Indikator Capaian Sub-CPMK 4: merumuskan strategi penentuan suku bunga kredit berdasarkan biaya, risiko, dan kondisi pasar. Empat indikator yang harus dikuasai.
Kerangka Cost-Plus Pricing: 5 komponen bunga kredit Cost of funds, biaya operasional, expected loss, profit margin Elastisitas permintaan kredit & implikasi pricing Risk-based pricing: PD/LGD/EAD ke spread Prime rate, benchmark BI7DRR, spread sektoral Kasus: pricing KTA konsumer vs KMK korporasi vs KUR subsidi Kuis 10 menit di awal: CR4, HHI, model oligopoli (Cournot vs Bertrand) dari P3.
Setelah kuis singkat, kita akan masuk ke empat indikator pricing. Yang pertama adalah kerangka Cost-Plus Pricing yang merupakan backbone pricing bank di Indonesia — lima komponen yang menjelaskan mengapa bunga kredit 12 persen padahal cost of funds hanya 4 persen. Yang kedua mendalami elastisitas permintaan kredit yang menentukan apakah bank bisa pass-through cost ke debitur atau harus serap sendiri. Yang ketiga risk-based pricing yang merupakan best practice bank modern — pricing disesuaikan dengan PD atau probability of default debitur. Yang keempat kasus konkret pricing tiga produk berbeda: KTA konsumer, KMK korporasi, dan KUR subsidi. Empat indikator ini membekali Anda untuk menganalisis pricing kredit di institusi mana pun. Mengapa Bunga Kredit ≠ Cost of Funds? Selisih antara bunga kredit ~12% dan cost of funds ~4% bukan keuntungan murni bank — di dalamnya ada biaya, risiko, dan margin.
Bunga KMK Korporasi
~9-11%
Spread ~5-7% di atas BI7DRR (data OJK ~2024)
Bunga KTA Konsumer
~14-24%
Spread lebih besar — kompensasi PD konsumer lebih tinggi
Selisih bunga kredit dengan cost of funds bukan murni profit — di dalamnya ada beban biaya operasional, expected loss, pajak, dan margin wajar.
Pertanyaan ini sering muncul di diskusi publik: mengapa bunga kredit 12 persen padahal bunga deposito hanya 3 persen, apakah bank mencari untung berlebihan? Jawabannya ada di kerangka Cost-Plus Pricing yang akan kita dalami. Selisih 9 persen itu tidak masuk kantong bank seluruhnya — harus dibagi untuk biaya operasional BOPO yang di Indonesia masih tinggi 70-80 persen, lalu expected loss dari kredit bermasalah, lalu pajak PPh Badan 22 persen, dan akhirnya margin yang masuk ke pemegang saham. KTA konsumer 14-24 persen jauh lebih tinggi dari KMK korporasi 9-11 persen karena PD debitur konsumer lebih tinggi — spread ekstra adalah kompensasi risiko. Inilah mengapa kita harus bedah komponen pricing untuk memahami mengapa margin berbeda antar produk dan antar bank. Bagian 1 · 1/4
Kerangka Cost-Plus Pricing
Diskusi kelas: di institusi Anda, apakah pricing KMK menggunakan formula cost-plus, atau lebih berbasis competitor pricing? Apa kelebihan & kekurangan masing-masing?
Blok pertama membahas kerangka Cost-Plus Pricing yang merupakan backbone pricing perbankan Indonesia. Pertanyaan diskusi tadi penting karena banyak bank menggunakan cost-plus dan competitor pricing secara hibrida — cost-plus sebagai floor, competitor sebagai ceiling. Diskusi ini akan kita buka di akhir blok bersama-sama. Lima Komponen Cost-Plus Pricing Setiap bunga kredit dapat didekomposisi menjadi lima komponen yang harus tertutup.
$r_{\text{kredit}} = \text{CoF} + s_{\text{oper}} + \text{EL} + s_{\text{profit}} + s_{\text{risiko}}$
Komponen Range Tipikal Penjelasan 1. Cost of Funds (CoF) ~2-4% Biaya dana bank — DPK, obligasi, equity 2. Spread Operasional ~2-3% BOPO dibagi aset produktif; gaji, IT, cabang 3. Expected Loss (EL) ~0,5-3% PD × LGD × EAD — provisioning 4. Spread Profit (pre-tax) ~1-2% Target return on equity & modal 5. Spread Risiko Tambahan ~0,5-2% Buffer cyclical, konsentrasi sektor
Total Tipikal
~9-14%
Untuk KMK korporasi; KTA konsumer bisa lebih tinggi karena EL & spread risiko lebih besar
Lima komponen ini adalah dekomposisi standar pricing kredit bank. Cost of funds 2-4 persen adalah biaya dana yang harus dibayar bank ke deposan dan pemegang obligasi. Spread operasional 2-3 persen adalah BOPO dibagi aset produktif — termasuk gaji karyawan, IT, sewa cabang, dan overhead. Expected loss 0,5-3 persen adalah PD kali LGD kali EAD — dana provisioning yang dialokasikan untuk kredit bermasalah yang diharapkan terjadi. Spread profit 1-2 persen adalah return yang ditargetkan untuk pemegang saham. Spread risiko tambahan 0,5-2 persen adalah buffer untuk cyclical risk dan konsentrasi sektor. Total 9-14 persen untuk KMK korporasi adalah range yang konsisten dengan praktik Indonesia. Memahami dekomposisi ini krusial karena jika satu komponen bergerak, manajer harus adjust pricing untuk menjaga margin. Hitung dari Nol: Cost-Plus Pricing KMK UMKM Skenario: Bank XYZ menyalurkan KMK ke UMKM. Cost of funds 5%, BOPO 75% (di atas industri 70%), PD UMKM 4%, LGD 60%, EAD = plafon. Spread profit target 1,5%, buffer risiko sektoral 1%. Hitung bunga optimal.
Langkah Perhitungan Nilai 1. CoF (input) 5,0% 2. Spread Oper (BOPO/aset prod.) Asumsi aset prod 80% aset; 75% × 0,80 6,0% × faktor = ~3,0% 3. EL (PD × LGD × EAD ÷ EAD) 4% × 60% 2,4% 4. Spread Profit (target ROE) 1,5% 5. Buffer Risiko (input) 1,0% 6. Bunga KMK UMKM 5 + 3 + 2,4 + 1,5 + 1 ~12,9% 7. Bunga pasca-pajak (implisit) (margin pre-tax / (1−22%)) × asumsi ~ (analisis sensitivity)
Bunga Optimal
~12,9%
Sekitar 13% — kompetitif untuk KMK UMKM; jika pasar menawarkan 11%, bank harus turunkan EL atau komponen lain
Hitungan ini menunjukkan bagaimana lima komponen Cost-Plus Pricing bekerja bersama. Untuk KMK UMKM dengan cost of funds 5 persen, BOPO 75 persen yang relatif tinggi, PD 4 persen, dan LGD 60 persen, EL menjadi 2,4 persen — komponen terbesar kedua setelah CoF. Spread profit 1,5 persen dan buffer risiko 1 persen memberi total bunga optimal sekitar 12,9 persen atau dibulatkan 13 persen. Implikasi manajerial: jika bank ingin menurunkan bunga ke 11 persen untuk kompetitif dengan pasar, dia harus menurunkan salah satu komponen — bisa melalui penurunan BOPO via efisiensi operasional, atau penurunan EL via scoring yang lebih baik, atau menerima profit margin lebih tipis. Inilah trade-off yang harus diputuskan manajer: kompetitif di harga vs profit vs risk taking. Sebagai manajer, Anda harus tahu komponen mana yang paling bisa dioptimalkan tanpa mengorbankan stabilitas. Coba Sendiri: Cost-Plus Pricing 5 Komponen Geser kelima komponen cost-plus pricing dan amati bagaimana bunga final berubah — identifikasi driver dominan untuk tiap segmen.
Widget ini mengubah hitungan cost-plus di atas menjadi eksplorasi interaktif. Mahasiswa dapat memanipulasi tiap komponen dan melihat bunga final serta driver dominan bergeser — misalnya untuk KTA konsumtif premi risiko dominan, sedangkan untuk KUR subsidi cost of funds dominan. Benchmark KUR 6 persen, KMK 10 persen, dan KTA 18 persen membantu menempatkan hasil dalam konteks pasar. Eksperimen ini menanamkan intuisi pricing power dan komponen mana yang paling efektif dioptimalkan per segmen. Elastisitas Permintaan Kredit & Pricing Power Elastisitas permintaan menentukan apakah bank bisa pass-through cost ke debitur atau harus serap sendiri — prinsip pricing power.
Kredit esensial: KPR, working capital korporasi besar Bank bisa pass-through kenaikan CoF ke debitur Margin relatif stabil saat BI7DRR naik Kredit konsumer discretionary: KTA, multifinance Bank serap sebagian kenaikan CoF; margin tertekan Volume bergerak signifikan saat harga naik $E_d = \frac{\%\Delta Q}{\%\Delta P} \quad;\quad \text{Profit Max: } MR = MC \;\Rightarrow\; P\!\left(1 - \tfrac{1}{|E_d|}\right) = MC$
Eksplorasi interaktif: Elastisitas Permintaan dan PD/LGD/EAD & RAROC .
Elastisitas permintaan adalah konsep kunci yang menentukan pricing power bank. Untuk kredit esensial seperti KPR dan working capital korporasi besar, elastisitas rendah — debitur tetap butuh kredit meski suku bunga naik, sehingga bank bisa pass-through kenaikan cost of funds ke debitur tanpa kehilangan volume banyak. Untuk kredit konsumer discretionary seperti KTA dan multifinance, elastisitas tinggi — debitur sensitif terhadap suku bunga, sehingga jika bank pass-through penuh, volume turun signifikan. Akibatnya bank harus serap sebagian kenaikan cost of funds sendiri, dan margin tertekan. Rumus profit maximization P(1 − 1/|Ed|) = MC menunjukkan bahwa makin in-elastis permintaan, makin tinggi markup di atas MC yang bisa ditahan bank. Implikasi: bank diversified portfolio bisa menyeimbangkan segmen elastis dan in-elastis untuk menjaga margin saat suku bunga bergerak. Coba Sendiri: Elastisitas Permintaan & Total Revenue Geser elastisitas dan amati bagaimana kenaikan harga memengaruhi total revenue — dasar pricing power bank di segmen elastis versus in-elastis.
Widget ini mengonkretkan konsep elastisitas yang baru saja dijelaskan. Mahasiswa dapat melihat bagaimana di zona elastis, kenaikan harga justru menurunkan total revenue — itulah mengapa bank konsumer tidak berani pass-through penuh kenaikan BI7DRR ke KTA. Sebaliknya di zona in-elastis (KPR), kenaikan harga menaikkan revenue. Pemahaman ini adalah kunci keputusan repricing ALCO: segmen mana yang bisa dikenakan kenaikan bunga tanpa kehilangan volume. Bagian 2 · 2/4
Risk-Based Pricing
Diskusi kelas: apakah risk-based pricing adil? Debitur high-risk membayar lebih — apakah ini diskriminasi atau efisiensi pasar?
Blok kedua masuk ke best practice bank modern: risk-based pricing. Pertanyaan diskusi tadi memantik perdebatan etis dan ekonomi. Dari sudut ekonomi, risk-based pricing adalah efisiensi pasar — debitur high-risk membayar lebih karena biaya expected loss lebih tinggi, ini menghindari cross-subsidy yang distorsif. Dari sudut etis, ini bisa dianggap diskriminasi terhadap kelompok vulnerabel. Diskusi ini akan kita buka di akhir blok bersama-sama. Hitung dari Nol: Risk-Based Pricing — KTA Skenario: Bank XYZ menawarkan KTA Rp 30 jt, tenor 3 tahun, biaya operasional 3% aset. Cost of funds 5%, target profit 2%, buffer 1%. Dua segmen: (A) Low-risk PD 2%, LGD 50%; (B) High-risk PD 6%, LGD 60%. Hitung spread berbeda.
$\text{EL} = \text{PD} \times \text{LGD} \times \text{EAD} \quad;\quad s_{\text{risk}} = \text{EL} + s_{\text{buffer}}$
Langkah Segmen A (low-risk) Segmen B (high-risk) 1. CoF 5,0% 5,0% 2. Spread Oper 3,0% 3,0% 3. EL (PD×LGD) 2%×50% = 1,0% 6%×60% = 3,6% 4. Spread Profit 2,0% 2,0% 5. Buffer Risiko 1,0% 1,0% 6. Bunga optimal 12,0% 14,6% 7. Selisih — +2,6% (kompensasi risiko)
Insight
+2,6%
Risk premium ekstra untuk high-risk — adil secara ekonomi, TAPI debitur high-risk cenderung in-elastis → margin bank sebenarnya lebih besar dari semestinya
Hitungan ini menunjukkan bagaimana risk-based pricing bekerja di praktik. Dengan komponen yang sama kecuali PD dan LGD, segmen low-risk dapat bunga 12 persen, high-risk 14,6 persen — selisih 2,6 persen adalah risk premium yang legitimate. Tapi perhatikan ironi ekonomi: debitur high-risk sering kali in-elastis karena alternatif dana terbatas, sehingga bank sebenarnya bisa menahan margin lebih besar dari semestinya. Implikasi manajerial dan etis: risk-based pricing adalah efisiensi pasar, tapi harus diawasi agar tidak menjadi pemerasan kelompok vulnerabel. Bank modern yang baik menerapkan risk-based pricing dengan batas reasonable dan menjelaskan transparan kepada debitur mengapa mereka dapat rate tertentu. Regulator Indonesia melalui POJK konsumer banking juga menetapkan batas maksimum suku bunga untuk produk tertentu seperti KTA dan kartu kredit untuk melindungi konsumer. Coba Sendiri: Komponen Risiko Kredit PD-LGD-EAD & RAROC Hitung sendiri expected loss dari PD, LGD, dan EAD untuk dua segmen, lalu lihat bagaimana RAROC membandingkan profitabilitas per unit modal berisiko.
Widget ini memperluas hitungan risk-based pricing di atas menjadi eksplorasi penuh komponen risiko kredit. Mahasiswa mengubah PD, LGD, dan EAD untuk dua segmen dan melihat expected loss serta RAROC masing-masing. Inilah dasar risk-based pricing yang adil secara ekonomi — bunga dibedakan sesuai EL. Eksperimen ini mempersiapkan kerangka RAROC yang akan diulas mendalam di P10 profitabilitas. Prime Rate, Benchmark & Spread Sektoral Bank menetapkan prime rate sebagai anchor untuk pricing, dengan spread sektoral sebagai adjustment untuk profil risiko.
Base rate = CoF + biaya oper + profit margin inti Bank umum menerbitkan base rate bulanan (transparansi OJK) Spread di atas base rate untuk risk premium Pertanian, perdagangan: spread tinggi (PD lebih tinggi) Manufaktur eksportir: spread sedang Consumer finance: spread sangat tinggi (cyclical) BI menetapkan BI7DRR sebagai benchmark; SBN 10-thn sebagai risk-free anchor; bank menambah spread sesuai profil.
Sistem base rate yang dipublikasikan bank bulanan adalah inisiatif transparansi OJK. Base rate terdiri dari cost of funds, biaya operasional, dan profit margin inti — ini adalah anchor untuk debitur kelas investment grade. Di atas base rate, bank menambahkan spread sektoral sebagai risk premium untuk profil risiko spesifik. Misalnya pertanian dan perdagangan punya spread lebih tinggi karena PD historis lebih tinggi akibat risiko cuaca dan siklus ekonomi. Manufaktur eksportir punya spread sedang karena revenue dalam USD memberikan hedge. Consumer finance termasuk KTA dan kartu kredit punya spread paling tinggi karena PD konsumer sangat cyclical dan sensitif terhadap kondisi makro. Benchmark tertinggi adalah BI7DRR yang ditetapkan BI, dan SBN 10-thn sebagai risk-free anchor untuk pricing jangka panjang seperti KPR. Coba Sendiri: Spread Intermediasi & NIM per Segmen Bandingkan spread bunga beberapa segmen produk untuk memahami bagaimana base rate dan spread sektoral menyusun NIM akhir bank.
Widget ini mengilustrasikan bagaimana spread sektoral yang baru saja dijelaskan menyusun NIM bank. Mahasiswa melihat bahwa segmen consumer finance menyumbang spread tertinggi tapi juga risiko cyclical tertinggi — sesuai diskusi tabel di atas. Latihan ini menanamkan intuisi bahwa optimasi pricing bank adalah portofolio: mencampur segmen spread tinggi dengan spread rendah untuk menyeimbangkan profitabilitas dan risiko. Bagian 3 · 3/4
Studi Kasus: Pricing Tiga Produk
Diskusi kelas: bandingkan pricing KTA konsumer, KMK korporasi, dan KUR subsidi. Mana yang paling efisien dari sudut pandang ekonomi? Mana yang paling beresiko?
Blok ketiga membahas kasus pricing tiga produk yang akan menggabungkan semua konsep hari ini. Pertanyaan diskusi tadi memantik perbandingan menyeluruh: efisiensi vs risiko antar produk. KTA konsumer high-margin high-risk, KMK korporasi moderate-moderate, KUR subsidi low-margin tapi mencapai tujuan sosial. Diskusi ini akan kita buka di akhir blok. Kasus: Pricing Tiga Produk Bank XYZ Perbandingan pricing tiga produk bank besar Indonesia — menggambarkan trade-off margin, risiko, dan tujuan sosial.
Dimensi KTA Konsumer KMK Korporasi KUR Subsidi Bunga efektif ~18-24% ~9-11% ~6% (subsidi) Plafon Rp 30-200 jt Rp 5-500 M Maks Rp 100 jt PD historis ~5-8% ~1-2% ~3-4% LGD ~60-70% (tidak ada agunan) ~30-40% (agunan) ~50% EL (PD×LGD) ~3-5,6% ~0,3-0,8% ~1,5-2% Margin setelah EL ~12-18% (tebal) ~7-10% (moderat) ~3% (tipis, ditutup subsidi) Elastisitas Sedang (sensitif) Rendah (esensial) Tinggi (UMKM sensitif)
KTA paling profit tapi paling berisiko; KMK moderat; KUR tipis tapi mencapai tujuan sosial — trade-off klasik ekonomi manajerial.
Tabel perbandingan ini menggabungkan semua konsep hari ini. KTA konsumer dengan bunga 18-24 persen punya margin tebal 12-18 persen setelah EL, tapi ini kompensasi untuk PD dan LGD yang tinggi — tanpa agunan, LGD KTA bisa 60-70 persen. KMK korporasi dengan agunan dan PD rendah punya margin moderat 7-10 persen. KUR subsidi dengan bunga 6 persen sebenarnya tidak ekonomis untuk bank secara komersial — margin tipis 3 persen, tapi pemerintah menutup selisih melalui subsidi bunga. Implikasi manajerial: bank diversified portfolio tiga produk seperti ini mengoptimalkan trade-off antara profit (KTA), stabilitas (KMK), dan tujuan sosial (KUR). Manajer bank yang baik tahu kapan harus fokus di produk mana berdasarkan siklus ekonomi dan strategi bank secara keseluruhan. Walkthrough: Pricing di Siklus Bisnis Pricing bank harus adaptif terhadap siklus bisnis — strategi berbeda di ekspansi vs resesi.
Fase Siklus Kebijakan Pricing Implikasi Margin Ekspansi (GDP > 5%) Naikkan bunga kredit perlahan, ekspansi ke segmen higher-risk Margin lebar; PD rendah Puncak Tahan harga, ketatkan scoring; kurangi segmen cyclical Margin stabil; PD mulai naik Kontraksi/Resesi Naikkan spread risk premium; kurangi volume cyclical Margin tertekan; PD naik tajam Recovery Turunkan rate untuk capture demand; long-tail produk Margin pulih perlahan
Insight
Counter-cyclical Spread
Bank manajerial baik memperketat pricing di puncak (bukan ekspansi agresif) — disiplin counter-cyclical mencegah NPL meledak di resesi
Empat fase siklus bisnis ini membutuhkan kebijakan pricing yang berbeda. Di ekspansi GDP di atas 5 persen, bank bisa menaikkan bunga perlahan dan ekspansi ke segmen higher-risk karena PD historis rendah dan margin lebar. Di puncak, bank harus mulai ketatkan scoring dan kurangi eksposur cyclical meski godaan ekspansi besar — ini disiplin counter-cyclical yang membedakan bank manajerial baik dari yang buruk. Di kontraksi atau resesi, PD naik tajam, sehingga bank harus naikkan spread risk premium dan kurangi volume segmen cyclical seperti konsumer discretionary. Di recovery, bank bisa turunkan rate untuk capture demand dan menumbuhkan volume. Bank yang gagal menerapkan disiplin counter-cyclical akan terjebak ekspansi agresif di puncak dan menghadapi NPL meledak di resesi — fenomena yang terjadi di banyak bank Indonesia pasca-krisis 2008 dan pandemi 2020. Implikasi Pajak & Regulasi pada Pricing Pricing bank harus mempertimbangkan dua pajak utama dan constraint regulasi.
PPh Badan 22% — atas laba bank; mempengaruhi spread profit pre-taxPPN 11% — atas fee-based (transfer, administrasi); bukan atas bungaPPh Final 20% — atas bunga deposito; mempengaruhi cost of fundsPOJK 06/2024 — batas maksimum suku bunga konsumer (KTA, kartu kredit)BMPK — tidak langsung memengaruhi harga tapi volumeTransparansi pricing — base rate harus dipublikasiPPh 22% adalah constraint langsung — untuk dapat margin after-tax 1%, bank butuh pre-tax 1/0,78 = 1,28%.
Pajak dan regulasi adalah constraint penting yang harus dipertimbangkan dalam pricing. PPh Badan 22 persen adalah pajak utama atas laba bank — jika bank menargetkan margin after-tax 1 persen, dia harus dapat margin pre-tax 1,28 persen sebelum pajak. PPN 11 persen berlaku atas fee-based seperti transfer dan administrasi, bukan atas bunga kredit. PPh Final 20 persen atas bunga deposito mempengaruhi cost of funds karena deposan memerlukan bunga after-tax tertentu. Regulasi POJK konsumer banking menetapkan batas maksimum suku bunga untuk produk konsumer seperti KTA dan kartu kredit — batas ini melindungi konsumer dari predatory pricing. BMPK tidak langsung memengaruhi harga tapi membatasi volume per debitur. Transparansi pricing melalui publikasi base rate adalah inisiatif OJK untuk meningkatkan kompetisi dan proteksi konsumer. Manajer bank harus memahami semua constraint ini untuk pricing yang compliant dan optimal. Bagian 4 · 4/4
Kesimpulan & Persiapan P5
Diskusi kelas: dari semua kerangka hari ini, satu hal apa yang akan Anda terapkan untuk mengevaluasi pricing di institusi Anda?
Blok penutup membantu Anda merangkum dan mempersiapkan P5. Pertanyaan diskusi tadi memantik refleksi aplikatif — kalau Anda tidak bisa menjawab satu hal konkret yang akan diterapkan, materi belum benar-benar terserap. Beberapa kemungkinan jawaban: dekomposisi pricing KMK ke lima komponen, evaluasi risk-based pricing vs flat pricing di segmen tertentu, atau analisis counter-cyclical readiness di siklus saat ini. Ringkasan Pertemuan 4 + Persiapan P5 Pesan 1
Cost-Plus Pricing = 5 komponen: CoF + Oper + EL + Profit + Buffer
Pesan 2
Elastisitas menentukan pricing power — in-elastis = pass-through, elastis = serap sendiri
Pesan 3
Risk-based pricing = best practice; pricing harus adaptif terhadap siklus bisnis
PPh 22% adalah pajak utama atas laba bank; PPN 11% atas fee-based.
Persiapan P5: baca Koch-MacDonald (2014) Bab 13 struktur biaya bank; baca laporan tahunan bank Anda, identifikasi struktur biaya. Kuis 10 menit di awal P5 — cakupan 5 komponen Cost-Plus Pricing + elastisitas.
Baca juga: Elastisitas (dasar pricing power) dan Analisis Kredit (5C & risk-based pricing).
Sebagai penutup, tiga pesan kunci hari ini. Pertama, Cost-Plus Pricing dengan lima komponen — CoF, biaya operasional, expected loss, profit, dan buffer risiko — adalah backbone pricing bank. Memahami dekomposisi ini krusial untuk menganalisis margin dan menentukan strategi pricing. Kedua, elastisitas permintaan menentukan pricing power: di segmen in-elastis seperti KPR dan working capital, bank bisa pass-through kenaikan cost; di segmen elastis seperti KTA, bank harus serap sendiri dan margin tertekan. Ketiga, risk-based pricing adalah best practice bank modern — pricing disesuaikan dengan PD debitur, dan harus adaptif terhadap siklus bisnis. PPh Badan 22 persen adalah pajak utama yang mempengaruhi spread profit, sementara PPN 11 persen berlaku atas fee-based. Sampai jumpa di P5 di mana kita akan mendalami struktur biaya bank dan skala ekonomi. Daftar Pustaka & Regulasi Koch, T. W., & MacDonald, S. S. (2014). Bank Management . Cengage. Bab 12-13. Rose, P. S., & Hudgins, S. C. (2010). Bank Management . McGraw-Hill. Bab 12. Sinkey, J. F. (2002). Commercial Bank Financial Management . (Risk-based pricing) POJK 06/2024 — Batas Maksimum Suku Bunga Konsumer POJK 11/2016 — Manajemen Risiko (PD, LGD, EAD) Surat Edaran BI — Penetapan prime lending rate OJK — Publikasi base rate bank (bulanan) Daftar pustaka ini saya pilih agar Anda punya rujukan teoretis dan regulasi Indonesia. Koch-MacDonald dan Rose-Hudgins adalah dua textbook klasik pricing perbankan yang banyak dirujuk. Sinkey memberikan perspektif risk-based pricing yang lebih teknis. Untuk Indonesia, POJK 06/2024 mengatur batas maksimum suku bunga konsumer yang melindungi konsumer dari predatory pricing. POJK 11/2016 mengatur manajemen risiko dengan PD, LGD, dan EAD yang menjadi input risk-based pricing. Surat Edaran BI mengatur transparansi prime lending rate, dan OJK setiap bulan mempublikasi base rate semua bank untuk transparansi dan kompetisi. Sampai jumpa minggu depan di P5.