‹ Daftar slidePertemuan 6: Pembentukan sikap konsumen dan perubahannya
RPS minggu 6 · 2x50 menit
Pembentukan Sikap Konsumen dan Perubahannya
Dari Model Sikap ke Keputusan Manajerial Merek
Analisis Perilaku Konsumen · Magister Manajemen FEB UNDIP · Pertemuan 6
Bagian 1 — Model Struktur Sikap
Dari Sikap ke Keputusan Strategis
Diskusi kelas: bagaimana model sikap membantu Anda memprediksi—bukan sekadar menjelaskan—perilaku pembelian konsumen?
Struktur Tiga Komponen Sikap: Peta Manajerial
Bagi profesional, tiga komponen ini bukan taksonomi akademik — ini adalah titik intervensi yang berbeda dalam strategi merek.
Implikasi manajerial: riset pasar yang hanya mengukur brand liking (afektif) tanpa mengukur purchase intent (konatif) berisiko salah memprediksi penjualan — dua komponen ini bisa bergerak berlawanan arah.
Multiattribute Attitude Model (Fishbein, 1963)
Model ini mengubah sikap dari konsep kualitatif menjadi skor yang bisa dihitung dan dibandingkan antar-merek untuk keputusan positioning.
A₀ = Σ (bᵢ × eᵢ)
bᵢ = kekuatan keyakinan (belief) bahwa merek memiliki atribut i · eᵢ = evaluasi/kepentingan atribut i bagi konsumen
Langkah
Perhitungan
Nilai
Atribut: Harga terjangkau (e=4)
Somethinc 5×4 vs SK-II 1×4
20 vs 4
Atribut: Kualitas kandungan aktif (e=5)
Somethinc 3×5 vs SK-II 5×5
15 vs 25
Atribut: Ketersediaan di marketplace (e=2)
Somethinc 5×2 vs SK-II 3×2
10 vs 6
Total A₀ (skor sikap)
20+15+10 vs 4+25+6
45 vs 35
Kesimpulan Keputusan
A₀(Somethinc)=45 > A₀(SK-II)=35
Meski kalah di persepsi kualitas, Somethinc unggul skor sikap total karena harga & ketersediaan berbobot besar bagi segmen ini — strategi komunikasi sebaiknya perkuat "value for money", bukan bersaing head-to-head di klaim kualitas premium.
Ubah skor belief dan bobot kepentingan tiap atribut untuk dua merek, lalu amati bagaimana skor sikap total A₀ berubah dan merek mana yang unggul.
Theory of Reasoned Action (Fishbein & Ajzen, 1975)
TRA (Teori Tindakan Beralasan) menambahkan faktor sosial yang sering diabaikan model atribut murni: norma subjektif.
Jalur 1 — Sikap terhadap Perilaku
A₀ dari model Fishbein sebelumnya
"Saya percaya QRIS praktis dan aman"
Bobot personal murni
Jalur 2 — Norma Subjektif
Persepsi tekanan sosial: apa kata orang penting
"Pelanggan saya mengeluh kalau saya belum terima QRIS"
Motivation to comply — seberapa penting menuruti
Behavioral Intention (BI) = w₁(Sikap) + w₂(Norma Subjektif) → keduanya menentukan niat, bukan sikap saja. Bagi manajer, ini berarti kampanye edukasi produk sering perlu ditambah bukti sosial (testimoni, endorsement komunitas), bukan hanya klaim fitur.
Theory of Planned Behavior — Kasus Adopsi QRIS UMKM
Ajzen (1991) menambahkan Perceived Behavioral Control (PBC) — persepsi kemudahan/kesulitan bertindak — krusial untuk perilaku yang butuh kemampuan atau sumber daya.
Sikap
Pemilik warung yakin QRIS mempercepat transaksi & kurangi uang palsu
Norma Subjektif
Asosiasi pedagang pasar & pelanggan muda mendorong pemakaian
PBC
Merasa gaptek, khawatir biaya admin, sinyal internet tidak stabil
Keputusan manajerial Bank Indonesia/penyedia QRIS: kampanye edukasi saja tidak cukup jika PBC rendah — perlu pendampingan teknis (mengurangi hambatan kontrol) di samping komunikasi sikap dan norma sosial.
Empat Strategi Mengubah Sikap (Kerangka Fishbein)
Karena A₀ = Σ(bᵢ × eᵢ), ada persis empat cara matematis untuk menaikkan skor sikap sebuah merek.
Strategi
Mekanisme
Contoh Keputusan Merek
1. Ubah keyakinan (bᵢ)
Naikkan bᵢ pada atribut yang sudah dianggap penting
Kampanye klaim "teruji BPOM & halal" pada skincare lokal
2. Ubah bobot kepentingan (eᵢ)
Geser eᵢ agar atribut kekuatan merek jadi lebih penting
Reposisi Aqua/Danone menonjolkan "sumber mata air terlindungi" di atas sekadar harga
3. Tambah atribut baru
Perkenalkan atribut yang belum jadi pertimbangan konsumen
Gojek memperkenalkan "jejak karbon lebih rendah" sebagai atribut baru
4. Ubah merek ideal
Geser persepsi tentang atribut "ideal" di kategori
Kampanye edukasi kategori: redefinisi "kopi berkualitas" oleh Kopi Kenangan
Elaboration Likelihood Model (Petty & Cacioppo, 1986)
ELM (Model Kemungkinan Elaborasi) menjelaskan dua rute berbeda perubahan sikap tergantung motivasi & kemampuan konsumen memproses pesan.
Bagian 2 — Aplikasi Rute Persuasi
Kapan Rute Sentral, Kapan Periferal?
Diskusi kelas: bagaimana tim media Anda memutuskan alokasi anggaran antara konten singkat viral dan ulasan mendalam?
Kasus: Alokasi Anggaran Iklan Digital E-commerce
Keputusan manajerial: sebuah merek fesyen lokal (ilustrasi, komposit praktik di industri fesyen digital Indonesia) membagi anggaran promosi Rp2 miliar per kuartal.
Opsi A — TikTok Shop (Periferal)
Reach cepat, cocok soft-launch produk baru
Sikap terbentuk dangkal, rentan tergerus tren berikutnya
Cocok untuk kategori keterlibatan rendah (aksesori, fast fashion)
Opsi B — Ulasan Panjang YouTube (Sentral)
Butuh audiens dengan motivasi tinggi (mis. calon pembeli produk investasi seperti tas kulit)
Sikap yang terbentuk lebih tahan uji banding kompetitor
Biaya per-impresi lebih mahal, jangkauan lebih sempit
Keputusan optimal bukan salah satu, melainkan portofolio bertingkat: rute periferal untuk membangun awareness di corong atas, rute sentral untuk menutup keputusan pembelian produk bernilai tinggi di corong bawah.
Kredibilitas Sumber Pesan: Keputusan Memilih Duta Merek
Efektivitas rute periferal sangat bergantung pada source credibility — keahlian (expertise) dan daya tarik (attractiveness) sumber pesan.
Expertise
Dokter kulit untuk klaim medis skincare — kredibel untuk klaim fungsional
Trustworthiness
Konsumen biasa/UGC dianggap lebih jujur dibanding selebriti berbayar
Attractiveness
Idol K-pop/aktor untuk produk gaya hidup — efektif tapi rentan skandal
Trade-off manajerial: duta merek berdaya tarik tinggi mempercepat rute periferal, tapi menciptakan ketergantungan reputasi merek pada reputasi individu — risiko yang terwujud pada slide berikutnya.
Balance Theory (Heider, 1958) — Manajemen Krisis Duta Merek
Teori keseimbangan menjelaskan mengapa hubungan tak seimbang antara Konsumen–Selebriti–Merek memaksa salah satu sikap berubah.
Ketika hubungan O–X berubah negatif (skandal), sistem P–O–X jadi tidak seimbang. Konsumen akan me-restorasi keseimbangan dengan salah satu dari dua jalan: menurunkan sikap ke Merek X, atau menurunkan sikap ke figur O — di sinilah keputusan manajerial krisis (putus kontrak cepat vs bertahan) menentukan arah mana yang terjadi.
Cognitive Dissonance Theory (Festinger, 1957)
Disonansi kognitif — ketegangan psikologis pasca-keputusan ketika ada alternatif menarik yang ditolak — adalah peluang manajerial, bukan hanya masalah psikologi konsumen.
Garansi & kebijakan retur yang jelas (Tokopedia, Blibli)
Program onboarding aktif agar manfaat segera dirasakan
Keputusan manajerial: mengurangi disonansi pasca-beli bukan sekadar layanan pelanggan — ini investasi langsung ke retensi & sikap merek jangka panjang, seringkali lebih murah dari biaya akuisisi pelanggan baru.
Hitung dari Nol: Indeks Sikap Merek Pasca-Krisis
Tim riset pasar melacak Brand Attitude Index (BAI) tertimbang dari survei tracking (ilustrasi, n=200 responden, skala 1-5) setelah insiden duta merek.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Baseline indeks pra-insiden (ilustrasi)
—
3,80
Dimensi Trust (bobot 40%)
2,8 × 0,40
1,12
Dimensi Liking (bobot 35%)
3,1 × 0,35
1,09
Dimensi Purchase Intent (bobot 25%)
3,4 × 0,25
0,85
Total BAI Pasca-Insiden
1,12 + 1,09 + 0,85
3,06
Sinyal Manajerial
Turun 0,74 poin (~19%)
Penurunan (3,80 → 3,06) / 3,80 ≈ 19% dari baseline mengindikasikan perlu intervensi PR & pesan re-atribusi krisis dalam 2 minggu sebelum penurunan mengeras menjadi sikap permanen.
Self-Perception Theory & Foot-in-the-Door
Bem (1972): pada keterlibatan rendah, konsumen sering menyimpulkan sikapnya sendiri dari perilaku yang sudah dilakukan — bukan sebaliknya.
Mekanisme
Permintaan kecil disetujui dulu (uji coba gratis 7 hari)
Konsumen menyimpulkan: "saya pasti menyukai ini"
Permintaan lebih besar (langganan berbayar) lebih mudah disetujui
Aplikasi Digital di Indonesia
Free trial Netflix/Spotify sebelum penagihan otomatis
Sample gratis skincare travel-size di marketplace
Freemium app produktivitas dengan batas fitur
Keputusan manajerial: strategi ini efektif menaikkan konversi, tapi berisiko etis dan reputasi jika transisi ke berbayar tidak transparan — pertimbangkan trade-off jangka pendek (konversi) vs jangka panjang (kepercayaan merek).
Bagian 3 — Sintesis & Pengukuran
Bagaimana Atribusi Krisis Mengubah Sikap Merek?
Diskusi kelas: kerangka mana (Fishbein, ELM, Balance Theory, Dissonance) paling relevan untuk kasus krisis merek yang pernah Anda amati?
Studi Kasus: Diagnosis Krisis Sikap Merek Kecantikan Lokal
Kasus ilustratif (komposit dari pola berulang di industri kecantikan digital Indonesia): sebuah merek skincare lokal mengalami penurunan BAI 19% setelah duta mereknya tersandung isu publik, dan penjualan marketplace turun ~12% (ilustrasi) dalam sebulan.
Langkah Analisis
Pertanyaan Panduan
Output yang Diharapkan
1. Identifikasi komponen sikap terdampak
Kognitif, afektif, atau konatif yang paling turun?
Tabel skor 3 komponen sebelum/sesudah
2. Diagnosis via Balance Theory
Bagaimana hubungan P–O–X berubah?
Diagram segitiga + rekomendasi arah restorasi
3. Pilih strategi perubahan sikap (Fishbein)
Ubah belief, bobot, atribut baru, atau ideal?
Rekomendasi 1 strategi utama + justifikasi
4. Rancang pesan & rute (ELM)
Butuh rute sentral atau periferal untuk pemulihan?
Draft konsep pesan & kanal media
5. Ukur keberhasilan
Target BAI & jangka waktu evaluasi?
Angka target & tanggal checkpoint
Instruksi tugas kelompok: kerjakan 5 langkah ini untuk kasus di atas (atau kasus nyata dari industri Anda dengan data disamarkan), kumpulkan dalam bentuk memo 1 halaman untuk direksi sebelum pertemuan berikutnya.
Proxy konatif (willingness to recommend), bukan pengganti BAI penuh
Sentiment Analysis Media Sosial
Sinyal dini pergeseran afektif sebelum tampak di survei formal
Kesalahan umum: mengandalkan NPS saja sebagai "kesehatan merek". NPS mengukur intensi merekomendasikan, bukan struktur keyakinan yang mendasarinya — dua merek bisa punya NPS sama tapi rentan risiko sikap yang sangat berbeda.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 7
Yang Sudah Kita Kuasai
Model atribut Fishbein sebagai alat skor & komparasi merek
TRA/TPB memasukkan norma sosial & kontrol perilaku
ELM menentukan rute pesan sesuai keterlibatan konsumen
Balance Theory & Dissonance sebagai lensa manajemen krisis
Menuju Pertemuan 7
Sikap yang sudah terbentuk → bagaimana diterjemahkan jadi keputusan pembelian aktual?
Model pengambilan keputusan individu (rutin, terbatas, ekstensif)
Bawa hasil memo studi kasus kelompok untuk didiskusikan singkat
Poin kunci untuk dibawa pulang: sikap adalah konstruk yang bisa dihitung, diprediksi, dan diintervensi secara terukur — bukan sekadar opini konsumen yang tidak bisa dikelola secara strategis.