‹ Daftar slidePertemuan 2: Kebutuhan konsumen, motivasi, dan tujuan
MAGISTER MANAJEMEN · ANALISIS PERILAKU KONSUMEN
Analisis Perilaku Konsumen
Pertemuan 2: Kebutuhan Konsumen, Motivasi, dan Tujuan
Dari dorongan tak terpenuhi menuju keputusan manajerial: bagaimana kebutuhan, motivasi, dan tujuan konsumen membentuk pilihan segmentasi, positioning, dan desain insentif pemasaran.
RPS minggu 2 · 2×50 menit
Bagian 1 dari 3
Fondasi Kebutuhan & Motivasi
Pertanyaan diskusi: mengapa dua konsumen dengan kebutuhan yang identik bisa mengambil keputusan pembelian yang sangat berbeda?
Tujuan & Posisi dalam Peta Mata Kuliah
Pertemuan 1 membangun gambaran umum perilaku konsumen; pertemuan 2 ini adalah lapisan motor penggerak di balik setiap keputusan pembelian — sebelum kita masuk ke persepsi (P3) dan proses belajar (P4).
SUB-CPMK MINGGU 2
C2 → C4
Menjelaskan & menganalisis
Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan kebutuhan-motivasi-tujuan dan menganalisis implikasinya bagi keputusan segmentasi, positioning, dan desain insentif.
FOKUS TERAPAN
Keputusan
Bukan definisi
Setiap teori langsung dikaitkan dengan satu keputusan manajerial: target segmen mana, pesan apa, insentif seberapa besar.
Model Proses: Kebutuhan → Motivasi → Tujuan
Motivasi adalah tenaga penggerak (drive) yang muncul dari ketegangan akibat kebutuhan tak terpenuhi, mengarahkan perilaku menuju tujuan, lalu dievaluasi lewat kepuasan yang memutar ulang siklus.
Implikasi manajerial: memutus siklus ini di titik dorongan (lewat pesan yang memperbesar ketegangan) seringkali lebih efektif daripada memperbaiki tahap tujuan semata.
Hierarki Maslow: dari Piramida ke Keputusan Premiumisasi
Untuk audiens Anda, piramida kebutuhan (Maslow, 1943) bukan hal baru — yang lebih penting adalah bagaimana pergeseran kebutuhan dominan memicu keputusan premiumisasi dan repositioning merek.
MINI-KASUS: KOPI LOKAL PREMIUM
Fase awal: kebutuhan fisiologis & harga (kopi murah, cepat)
Fase pertumbuhan: kebutuhan sosial (tempat nongkrong, "citra kekinian")
Fase saat ini: kebutuhan penghargaan – esteem (edisi terbatas, kolaborasi desainer)
KEPUTUSAN MANAJERIAL
Kapan Naik Kelas?
Ketika riset menunjukkan kebutuhan dominan segmen inti telah bergeser dari fungsional ke esteem, itulah sinyal untuk meluncurkan lini premium – bukan sekadar menaikkan harga tanpa mengubah proposisi nilai.
Coba Sendiri: Geser Segmen di Piramida Maslow
Klik tiap tingkat kebutuhan dan geser skenario segmen untuk melihat kapan sinyal premiumisasi layak dibaca sebagai keputusan, bukan sekadar tren.
Teori Kebutuhan yang Dipelajari (McClelland, 1961)
Tiga kebutuhan sekunder ini tidak bersaing hierarkis seperti Maslow, tetapi hidup berdampingan dengan bobot berbeda pada tiap individu – sangat berguna untuk segmentasi psikografis.
nACH
Achievement
Dorongan mencapai standar unggul. Pesan: "jadi versi terbaik dirimu".
Dorongan diterima kelompok. Pesan: kebersamaan, komunitas, berbagi.
Mini-kasus: kampanye GoTo/Gojek yang menekankan "makin cepat, makin untung" menyasar nAch pada segmen mitra pengemudi; program komunitas GoFood Partner menyasar nAff.
Regulatory Focus: Promotion vs. Prevention (Higgins, 1997)
Konsumen memiliki orientasi motivasi berbeda saat mengejar tujuan: promotion focus mengejar gain dan aspirasi, prevention focus menghindari loss dan risiko.
PROMOTION FOCUS
Fokus pada gain, aspirasi, pertumbuhan
Framing pesan: "raih lebih banyak", "wujudkan impian"
Contoh: iklan skincare "kulit glowing maksimal"
PREVENTION FOCUS
Fokus pada keamanan, kewajiban, penghindaran risiko
Framing pesan: "lindungi", "jangan sampai rugi"
Contoh: iklan asuransi jiwa & proteksi kesehatan
Kesalahan umum: memakai framing gain untuk kategori proteksi (asuransi, keamanan data) – riset menunjukkan framing loss-avoidance lebih efektif pada kategori berorientasi risiko.
Involvement Theory & FCB Grid
Tingkat keterlibatan (involvement) konsumen menentukan seberapa dalam pemrosesan informasi – FCB Grid (Foote, Cone & Belding) memetakan keterlibatan tinggi/rendah silang rasional/emosional.
Kuadran
Karakteristik
Implikasi Strategi
Tinggi – Rasional
Mobil, rumah, asuransi
Informasi detail, brosur, uji coba
Tinggi – Emosional
Perhiasan, liburan mewah
Citra, storytelling, endorsement
Rendah – Rasional
Deterjen, sabun, sembako
Pengulangan, kebiasaan, harga
Rendah – Emosional
Rokok, minuman ringan
Kepuasan sesaat, ketersediaan luas
Hitung dari Nol: Skor Kebutuhan Tertimbang untuk Prioritas Segmen
Keputusan: mana segmen yang diprioritaskan untuk peluncuran lini produk baru – Profesional Muda Urban atau Keluarga Muda?
4. Skor intensitas kebutuhan – Keluarga Muda (survei Likert 1–5, n=180)
Rata-rata jawaban survei
3,6
5. Bobot ukuran pasar – Keluarga Muda
Pangsa dari total prospek
0,45 (45%)
6. Skor tertimbang Keluarga Muda
3,6 × 0,45
1,62
KEPUTUSAN
Keluarga Muda
Skor 1,62 > 1,47
Bagian 2 dari 3
Mengukur & Mengelola Motivasi
Pertanyaan diskusi: bagaimana Anda mengukur sesuatu yang tidak bisa ditanyakan langsung kepada konsumen – motivasi bawah sadar mereka?
Konflik Motivasi sebagai Hambatan Keputusan
Tiga pola klasik konflik motivasi (tradisi Lewin/Festinger) menjelaskan mengapa konsumen menunda atau membatalkan keputusan meski kebutuhan sudah jelas.
APPROACH–APPROACH
Dua Hal Menarik
Memilih antara dua opsi sama-sama menarik. Contoh: KPR rumah baru vs renovasi rumah lama.
APPROACH–AVOIDANCE
Manis & Pahit
Satu produk punya daya tarik sekaligus konsekuensi negatif. Contoh: kartu kredit – kemudahan vs risiko utang.
AVOIDANCE–AVOIDANCE
Dua Hal Buruk
Memilih opsi yang sama-sama tidak diinginkan. Contoh: bayar denda pajak vs proses banding yang rumit.
Keputusan manajerial: produk keuangan (kartu kredit, leasing, KPR) hampir selalu berada di kuadran approach-avoidance – strategi komunikasi terbaik meredakan ketakutan (avoidance) tanpa meredam daya tarik (approach).
Teknik laddering (Gutman, 1982; Reynolds & Gutman, 1988) menaiki tangga wawancara dari atribut produk menuju nilai personal terdalam – mengungkap motivasi yang tak terungkap lewat survei tertutup.
WALKTHROUGH 1 – PRODUK TABUNGAN DIGITAL
Atribut: "bunga lebih tinggi dari bank konvensional"
Konsekuensi fungsional: "uang saya bertumbuh lebih cepat"
Konsekuensi psikologis: "saya merasa lebih cerdas secara finansial"
Nilai personal: "kemandirian & keamanan masa depan"
WALKTHROUGH 2 – MOBIL LISTRIK
Atribut: "tanpa emisi & biaya isi daya rendah"
Konsekuensi fungsional: "biaya operasional per bulan turun signifikan"
Konsekuensi psikologis: "saya merasa bertanggung jawab pada lingkungan"
Nilai personal: "identitas diri sebagai warga progresif"
Hitung dari Nol: Indeks Motivasi untuk Alokasi Anggaran Kampanye
Keputusan: anggaran kampanye terbatas untuk satu konsep – Diskon 20% (Konsep A) atau Edisi Terbatas (Konsep B)?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Drive Konsep A – Diskon 20% (skala survei 1–10)
Kekuatan dorongan dari riset
6
2. Nilai insentif Konsep A (rasio manfaat/biaya persepsian)
Dari riset persepsi konsumen
0,70
3. Jangkauan efektif Konsep A
500 ribu orang ÷ 100
5,0
4. Indeks motivasi Konsep A
6 × 0,70 × 5,0
21,0
5. Drive Konsep B – Edisi Terbatas (skala survei 1–10)
Kekuatan dorongan dari riset
8
6. Nilai insentif Konsep B (rasio manfaat/biaya persepsian)
Dari riset persepsi konsumen
0,55
7. Jangkauan efektif Konsep B
300 ribu orang ÷ 100
3,0
8. Indeks motivasi Konsep B
8 × 0,55 × 3,0
13,2
KEPUTUSAN ANGGARAN
Konsep A
Indeks 21,0 > 13,2 – jangkauan mengalahkan kekuatan dorongan per individu
Self-Determination Theory pada Program Loyalti & Gamifikasi
Deci & Ryan (1985) menyatakan motivasi intrinsik tumbuh dari tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, keterhubungan – kerangka ini kini banyak dipakai merancang program loyalti berbasis gamifikasi.
OTONOMI
Pilihan Bebas
Konsumen memilih sendiri reward atau misi. Contoh: tukar poin fleksibel di aplikasi e-wallet.
KOMPETENSI
Rasa Mahir
Level/badge yang menunjukkan progres. Contoh: tingkatan member (silver/gold/platinum).
KETERHUBUNGAN
Rasa Terhubung
Fitur sosial & komunitas. Contoh: leaderboard, referral, komunitas pengguna.
Keputusan manajerial: program loyalti bank digital yang hanya menawarkan cashback (insentif ekstrinsik) cenderung mudah ditiru pesaing – menambahkan elemen otonomi/kompetensi/keterhubungan membangun motivasi intrinsik yang lebih sulit direplikasi.
Bagian 3 dari 3
Dari Tujuan Konsumen ke Keputusan Strategis
Pertanyaan diskusi: bagaimana tujuan (goal) yang ditetapkan konsumen memengaruhi standar kepuasan yang mereka gunakan untuk menilai produk Anda?
Goal-Setting Theory & Standar Evaluasi Kepuasan
Locke & Latham (1990): tujuan yang spesifik dan menantang menghasilkan kinerja/perilaku lebih tinggi daripada tujuan samar – prinsip ini berlaku juga saat konsumen menetapkan tujuan penggunaan produk.
TUJUAN SAMAR
"Saya ingin menabung lebih banyak"
Standar evaluasi tidak jelas
Mudah puas dengan hasil minimal → loyalitas rapuh
TUJUAN SPESIFIK & MENANTANG
"Saya ingin menabung Rp 2 juta/bulan selama 12 bulan"
Standar evaluasi jelas & terukur
Kepuasan tinggi jika tercapai → loyalitas kuat, testimoni aktif
Keputusan manajerial: fitur "target menabung" pada aplikasi perbankan digital bukan sekadar gimmick UX – ia secara aktif membantu konsumen menetapkan tujuan spesifik, yang menurut goal-setting theory meningkatkan komitmen dan kepuasan pasca-pemakaian.
Kerangka Rubrik: Menganalisis Kasus Motivasi Konsumen
Gunakan lima langkah ini untuk membedah kasus apa pun yang melibatkan kebutuhan, motivasi, dan tujuan konsumen secara sistematis.
Langkah
Pertanyaan Analisis
Fokus Teori
1
Kebutuhan dasar apa yang mendasari perilaku dalam kasus ini?
Maslow / McClelland
2
Apakah motivasi dominan bersifat promotion-focused atau prevention-focused?
Regulatory Focus
3
Tujuan konkret apa yang ingin dicapai konsumen dari produk/jasa ini?
Goal-Setting
4
Adakah konflik motivasi yang menghambat keputusan pembelian?
Motivational Conflict
5
Apa implikasi strategi (positioning, insentif, pesan) dari jawaban langkah 1–4?
Rekomendasi Manajerial
Rubrik ini akan Anda pakai langsung pada studi kasus berikutnya dan pada tugas kelompok akhir semester.
Studi Kasus Terintegrasi: Repositioning Merek Kosmetik Lokal
Ilustrasi – sebuah merek kosmetik lokal mengalami stagnasi penjualan di segmen usia 25–35 tahun. Riset motivasi (laddering) menunjukkan kebutuhan dominan telah bergeser dari "harga terjangkau" menjadi "validasi identitas profesional".
TEMUAN RISET (ILUSTRASI)
Skor kebutuhan esteem naik dari 3,1 → 4,3 (skala 5) dalam 18 bulan
Fokus regulasi bergeser ke promotion (aspirasi karier)
Konflik approach-avoidance: ingin tampil profesional vs takut dianggap "boros"
TUGAS DISKUSI KELOMPOK (15 MENIT)
Terapkan rubrik 5 langkah pada slide sebelumnya untuk kasus ini
Kaitan langsung: kebutuhan hari ini → menentukan stimulus apa yang diperhatikan besok
TUGAS INDIVIDU
1 Kasus Nyata
Identifikasi 1 kampanye pemasaran Indonesia (produk/jasa apa pun) dan analisis menggunakan rubrik 5 langkah. Kumpulkan sebelum pertemuan 3, maksimal 1 halaman.