‹ Daftar slidePertemuan 7: Dari Analisis ke Rekomendasi: mengevaluasi opsi, trade-off, dan menyusun rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti
RPS minggu 7 · 2x50 menit
Dari Analisis ke Rekomendasi
Mengevaluasi opsi, trade-off, dan menyusun rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti
Analisis Kasus Bisnis dan Presentasi · Magister Manajemen FEB UNDIP
Bagian 1
Dari Diagnosis ke Ruang Opsi
Pertanyaan diskusi: kapan sebuah tim analis berhenti mencari opsi dan mulai memutuskan — dan apa risiko berhenti terlalu cepat atau terlalu lama?
Dari piramida ke titik keputusan
Yang sudah Anda kuasai
Struktur piramida: rekomendasi → alasan → bukti (Minto, 1987)
Diagnosis kasus via SWOT, Five Forces, value chain
Kelayakan finansial sebagai salah satu lensa bukti
Celah yang sering luput
Rekomendasi tunggal ditulis sebelum opsi lain dipertimbangkan
Trade-off disebut, tapi tidak pernah diukur secara eksplisit
"Actionable" berhenti di slogan, bukan langkah dengan pemilik dan tenggat
Minggu ini adalah jembatan: dari bukti yang sudah Anda kumpulkan, menuju keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan di depan panel — persis seperti presentasi tahap 1 Anda minggu depan.
Mengapa evaluasi opsi itu genting
Rekomendasi tanpa opsi pembanding adalah opini yang dibungkus data, bukan hasil analisis. Panel pengambil keputusan — direksi, investor, komite kredit — akan selalu bertanya: "opsi apa saja yang dipertimbangkan, dan mengapa yang lain ditolak?"
Menguji ketahanan argumen terhadap kritik (stress-test)
Menunjukkan due diligence, bukan sekadar keyakinan
Membangun kepercayaan panel pada proses berpikir Anda, bukan hanya kesimpulan
Bounded rationality (Simon, 1957)
Manajer tidak pernah punya informasi sempurna atau waktu tak terbatas — keputusan yang baik bukan yang "optimal absolut", melainkan yang cukup baik (satisficing) berdasarkan opsi yang layak dievaluasi dalam waktu dan sumber daya yang tersedia.
Men-generate ruang opsi yang MECE
Sebelum mengevaluasi, pastikan opsi yang diperbandingkan benar-benar mutually exclusive, collectively exhaustive (MECE) — bukan satu opsi "baik" versus satu opsi jerami (straw man) yang sengaja dibuat lemah.
Uji 1
Apakah opsi-opsi ini benar-benar berbeda secara strategis, bukan variasi kecil dari hal yang sama?
Uji 2
Apakah ada opsi status quo ("tidak bertindak") sebagai baseline pembanding yang jujur?
Uji 3
Apakah 3–4 opsi cukup — terlalu sedikit terlihat bias, terlalu banyak membingungkan panel?
Opsi jarang bisa dibandingkan pada satu dimensi saja. Kerangka weighted scoring model memaksa tim eksplisit soal bobot prioritas — dan itu sendiri adalah keputusan strategis yang harus dipertanggungjawabkan ke panel.
Kriteria umum
Potensi imbal hasil (ROI/NPV)
Risiko implementasi & eksekusi
Waktu ke pasar / kecepatan dampak
Kebutuhan modal & sumber daya
Kesesuaian dengan strategi & kapabilitas inti
Peringatan metodologis: bobot kriteria yang dipilih tim sendiri sering mencerminkan bias terhadap opsi favorit. Uji dengan cara membalik bobot secara ekstrem — apakah peringkat opsi berubah drastis? Jika ya, keputusan Anda rapuh (sensitif terhadap asumsi bobot).
Hitung dari Nol: Weighted Scoring Model
Ilustrasi: tim mengevaluasi Opsi A — Ekspansi ke Marketplace untuk sebuah UMKM binaan, skor tiap kriteria 1–5 dikalikan bobotnya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Potensi ROI (bobot 30%)
skor 4 × 30%
1,20
2. Risiko implementasi (bobot 25%)
skor 3 × 25%
0,75
3. Waktu ke pasar (bobot 20%)
skor 5 × 20%
1,00
4. Kebutuhan modal (bobot 15%)
skor 3 × 15%
0,45
5. Kesesuaian strategi (bobot 10%)
skor 4 × 10%
0,40
Total skor tertimbang
1,20+0,75+1,00+0,45+0,40
3,80
Skor Opsi A (dari skala 5,00)
3,80
Bandingkan skor total ini dengan Opsi B dan Opsi C menggunakan bobot yang sama (ilustrasi)
Coba Sendiri: Bandingkan Opsi dengan Weighted Scoring
Atur bobot tiap kriteria dan skor untuk beberapa opsi sekaligus, lalu amati opsi mana yang unggul secara tertimbang.
Trade-off: tidak ada opsi tanpa harga
Setiap opsi unggul di satu dimensi dan lemah di dimensi lain. Tugas analis bukan mencari opsi "sempurna" — yang tidak ada — melainkan membuat trade-off eksplisit agar panel sadar apa yang dikorbankan.
Trade-off klasik dalam kasus bisnis
Kecepatan eksekusi vs kualitas/ketelitian implementasi
Imbal hasil tinggi vs eksposur risiko lebih besar
Kontrol penuh (organik) vs jangkauan cepat (kemitraan/akuisisi)
Biaya modal awal rendah vs biaya operasional jangka panjang
Kesalahan umum: menyembunyikan trade-off agar rekomendasi terlihat "tanpa cela". Panel yang berpengalaman justru curiga pada rekomendasi tanpa kelemahan yang diakui — itu tanda analisis belum jujur.
Mini-kasus: Garuda Indonesia, 2021–2022
Garuda menghadapi beban utang >USD 9 miliar dan armada yang tidak efisien. Manajemen harus memilih di antara opsi restrukturisasi yang masing-masing punya konsekuensi berbeda bagi kreditor, karyawan, dan reputasi negara.
Opsi
Keunggulan
Trade-off / risiko
PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)
Kerangka hukum jelas, tekanan waktu mendorong kesepakatan
Risiko reputasi & sinyal ke pasar modal
Negosiasi bilateral lessor
Fleksibel per kontrak, hubungan jangka panjang terjaga
Lambat, hasil tidak seragam antar-kreditor
Suntikan modal negara (PMN) + restrukturisasi armada
Menjamin kelangsungan operasi nasional
Beban fiskal publik, isu tata kelola BUMN
Garuda akhirnya menempuh kombinasi PKPU dan negosiasi lessor — menunjukkan bahwa rekomendasi terbaik sering berupa kombinasi opsi, bukan pilihan tunggal biner.
Bagian 2
Dari Opsi ke Rekomendasi yang Actionable
Pertanyaan diskusi: apa yang membedakan rekomendasi yang "terdengar bagus" di slide dari rekomendasi yang benar-benar bisa dieksekusi Senin pagi?
Kerangka rekomendasi actionable
Rekomendasi yang baik menjawab lima pertanyaan panel sekaligus — bukan hanya "apa", tapi juga "siapa, kapan, dengan sumber daya apa, dan bagaimana kita tahu berhasil".
Lima elemen wajib
Apa — tindakan spesifik, bukan arah umum
Siapa — pemilik/penanggung jawab eksekusi
Kapan — milestone & tenggat, bukan "segera"
Sumber daya — anggaran, tim, izin yang dibutuhkan
Ukuran keberhasilan — KPI yang bisa diverifikasi
Bandingkan: "Perusahaan harus memperkuat presence digital" (tidak actionable) versus "Tim pemasaran meluncurkan kanal marketplace dalam 90 hari dengan anggaran Rp 500 juta (ilustrasi), target 5% kontribusi penjualan di kuartal pertama" (actionable).
Hitung dari Nol: Expected Value untuk memilih opsi
Ilustrasi: kelompok membandingkan Opsi Akuisisi (berisiko, dua skenario) dengan Opsi Ekspansi Organik (nilai pasti, ilustrasi Rp 15 M) menggunakan expected value (EV).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai skenario sukses × peluang
Rp 45 M × 60%
Rp 27,0 M
2. Nilai skenario gagal × peluang
−Rp 10 M × 40%
−Rp 4,0 M
3. Expected Value Opsi Akuisisi
27,0 + (−4,0)
Rp 23,0 M
4. EV Opsi Ekspansi Organik (diketahui pasti)
—
Rp 15,0 M
5. Selisih EV (keunggulan Akuisisi)
23,0 − 15,0
Rp 8,0 M
EV Opsi Akuisisi (ilustrasi)
Rp 23 M
Unggul Rp 8 M dari opsi organik — tapi ingat: EV mengabaikan toleransi risiko pengambil keputusan
Mengelola risiko dalam rekomendasi
Rekomendasi yang matang tidak berhenti di "opsi terbaik" — ia menyertakan rencana mitigasi untuk risiko utama yang sudah teridentifikasi selama evaluasi opsi.
Kerangka mitigasi ringkas
Identifikasi 2–3 risiko terbesar (bukan daftar panjang generik)
Tetapkan pemicu (trigger) yang menandakan risiko mulai terjadi
Siapkan rencana kontinjensi — "jika X terjadi, kami akan Y"
Tentukan siapa yang memantau dan kapan dievaluasi ulang
Panel akan sering bertanya: "apa yang membuat rekomendasi ini gagal, dan bagaimana Anda akan tahu lebih awal?" Kelompok yang sudah menyiapkan jawaban ini terlihat jauh lebih siap dibanding yang hanya membahas skenario sukses.
Menyajikan rekomendasi ke panel pengambil keputusan
Pola penyajian yang efektif
Nyatakan rekomendasi di depan (top-down, gaya piramida)
Tunjukkan singkat opsi lain yang dipertimbangkan & mengapa ditolak
Sajikan trade-off yang diakui secara terbuka
Tutup dengan langkah eksekusi konkret & ukuran keberhasilan
Satu rekomendasi vs beberapa opsi berjenjang
Untuk keputusan berisiko tinggi atau politis, pertimbangkan menyajikan rekomendasi utama + 1 opsi cadangan dengan syarat pemicu peralihan — ini menunjukkan fleksibilitas tanpa terlihat ragu-ragu.
Kesalahan umum dalam evaluasi opsi
Jebakan kognitif
Confirmation bias — mencari bukti yang mendukung opsi favorit sejak awal
Anchoring — terpaku pada angka pertama yang muncul di diskusi tim
Analysis paralysis — terus menambah opsi/kriteria hingga tenggat terlewati
False precision — angka desimal presisi tapi asumsi dasarnya rapuh
Cara termudah mendeteksi bias tim sendiri: minta satu anggota berperan sebagai devil's advocate yang tugasnya khusus menyerang opsi favorit sebelum presentasi final.
Ringkasan alur: analisis → opsi → rekomendasi
Langkah 1
1Bangun ruang opsi yang MECE, sertakan status quo sebagai baseline
Langkah 2
2Evaluasi dengan kriteria terbobot & uji sensitivitas bobot
Langkah 3
3Nyatakan trade-off & risiko secara jujur, lalu susun rencana aksi actionable
Kerangka ini adalah tulang punggung presentasi tahap 1 Anda minggu depan — latih dengan kasus kelompok Anda sendiri sebelum sesi latihan.
Bagian 3
Latihan Terapan
Pertanyaan diskusi: dari kasus kelompok Anda, opsi mana yang paling sulit Anda tolak — dan apa yang membuatnya tergoda meski bukan pilihan terbaik?
Latihan kelompok: uji ruang opsi Anda
Instruksi (25 menit, kerja kelompok kasus masing-masing)
Tuliskan 3–4 opsi MECE untuk kasus kelompok Anda, termasuk opsi status quo
Skor tiap opsi 1–5 per kriteria, hitung skor tertimbang seperti contoh weighted scoring tadi
Identifikasi 2 trade-off terbesar dari opsi yang unggul — tuliskan secara eksplisit, jangan disembunyikan
Tunjuk satu anggota sebagai devil's advocate untuk menguji opsi terpilih sebelum sesi berakhir
Dosen akan berkeliling per kelompok — siapkan pertanyaan spesifik tentang bobot kriteria atau trade-off yang masih terasa rapuh.
Menuju Evaluasi Tengah Semester: Presentasi Tahap 1
Yang harus dibawa minggu depan
Ruang opsi MECE (3–4 opsi + status quo) dengan skor evaluasi tertimbang
Trade-off & risiko utama dinyatakan eksplisit, bukan disembunyikan
Satu rekomendasi actionable: apa, siapa, kapan, sumber daya, ukuran keberhasilan
Kesiapan menjawab "opsi apa yang Anda tolak, dan mengapa?"
Format: presentasi individu tahap 1 — setiap mahasiswa menyampaikan versi ringkas argumen kelompok dengan sudut pandang analitis pribadi. Durasi & rubrik penilaian akan dibagikan terpisah oleh dosen.
Penutup: dari analisis ke keberanian memutuskan
Kerangka evaluasi opsi bukan untuk menghilangkan ketidakpastian — ia untuk membuat ketidakpastian itu terlihat, terukur, dan dipertanggungjawabkan di depan orang yang harus memutuskan.
Ingat
Opsi MECE + status quo sebagai baseline pembanding yang jujur
Ingat
Bobot kriteria adalah keputusan strategis tersembunyi — uji sensitivitasnya
Ingat
Rekomendasi tanpa pemilik, tenggat, dan ukuran keberhasilan bukan rekomendasi