SWOT, Five Forces/value chain, kelayakan finansial
Sub-CPMK minggu ini: mahasiswa mampu mendiagnosis kasus secara sistematis sebelum menerapkan kerangka analitis apa pun — diagnosis yang keliru membuat kerangka sekuat apa pun menghasilkan rekomendasi yang salah sasaran.
Mengapa Riset-Diagnosis Penting bagi Pengambil Keputusan
Kasus bisnis = simulasi managerial judgment under incomplete information (Ellet, 2007).
Analis Amatir
Menerima narasi kasus apa adanya
Langsung lompat ke kerangka favorit (SWOT dulu)
Simpulan penulis kasus dianggap fakta
Manajer Berpengalaman (Anda)
Menguji setiap klaim: siapa sumbernya, kapan, terverifikasi?
Diagnosis dulu, kerangka menyusul sesuai kebutuhan
Memisahkan opini stakeholder dari kondisi objektif
Risiko riil: rekomendasi yang dibangun di atas asumsi yang keliru dianggap fakta — persis pola kegagalan due diligence M&A yang berujung impairment tahun berikutnya.
Anatomi Kasus: Empat Lapis Bukti
Empat lapis ini sejalan dengan struktur eksibit standar kasus HBS/Ivey — kebiasaan memetakan keempatnya di awal membuat riset kasus jauh lebih cepat dan tidak terjebak detail yang tidak relevan.
Kerangka Membaca Kritis: Tiga Lintasan (3-Pass Reading)
Uji tiap klaim: fakta, asumsi, atau simpulan penulis?
Tabel F-A-S siap dipakai (lihat Bagian 2)
Aturan praktis: jangan pernah mulai menyusun rekomendasi sebelum lintasan ke-3 selesai — ini pembeda utama analisis matang vs analisis terburu-buru di bawah tekanan waktu presentasi.
Ilustrasi — skenario disederhanakan untuk latihan diagnosis, angka bersifat indikatif.
Skim
Isu: sinergi merger e-commerce & ride-hailing
Protagonis: komite integrasi GoTo
Deep Read & Verifikasi
Klaim "sinergi biaya ~Rp2 T" — dari slide manajemen, belum diaudit
Data pangsa pasar dari laporan pihak ketiga — lebih dapat diverifikasi
Keputusan manajerial di sini: apakah target sinergi layak dijadikan dasar valuasi, atau perlu didiskon karena sumbernya belum independen — ini persis jenis judgment yang akan Anda praktikkan di evaluasi tengah semester.
Jebakan Kognitif Riset Kasus
Bias Konfirmasi
Mencari bukti yang mendukung hipotesis awal, mengabaikan yang berlawanan (Nickerson, 1998)
Anchoring & Availability
Angka pertama yang dibaca (mis. valuasi awal) jadi jangkar keputusan berikutnya (Tversky & Kahneman, 1974)
Mitigasi praktis: tulis hipotesis masalah sebelum membaca eksibit angka, lalu cek apakah data justru menantang hipotesis Anda — bukan sekadar mengonfirmasinya.
Bagian 2 dari 3
Fakta, Asumsi, Simpulan
Diskusi kelas: dalam laporan keuangan sebuah kasus, mana yang benar-benar fakta teraudit, dan mana proyeksi manajemen yang dibingkai seolah fakta?
Mengapa Manajer Sering Tertukar F-A-S
Konsekuensi Keliru
Asumsi diperlakukan sebagai fakta → keputusan investasi berbasis harapan, bukan bukti
Simpulan penulis laporan diterima tanpa diuji ulang → groupthink di ruang rapat
Akar Masalah
Tekanan waktu mendorong pembaca melompat ke simpulan (Ladder of Inference — Argyris, 1970)
Bahasa laporan sering mengaburkan sumber klaim ("diperkirakan", "diyakini")
Pertanyaan diagnostik cepat: "Bisakah klaim ini diverifikasi independen dari sumber lain?" Kalau tidak, itu asumsi — bukan fakta, sekuat apa pun bahasanya.
Kerangka F-A-S: Definisi Operasional & Ladder of Inference
Fakta
Terverifikasi ≥ 1 sumber independen, bisa diaudit balik ke eksibit
Asumsi
Inferensi wajar dari fakta, tapi belum terbukti — harus diberi label eksplisit
Simpulan
Argumen penulis/manajemen yang menggabungkan fakta+asumsi menuju rekomendasi
Coba Sendiri: Naiki Ladder of Inference Selangkah demi Selangkah
Masukkan data mentah, tandai mana yang fakta terverifikasi, mana asumsi berlabel, lalu lihat bagaimana simpulan terbentuk.
Rubrik Audit Fakta-Asumsi-Simpulan (5 Langkah)
Langkah
Pertanyaan Kunci
Hasil
1. Ekstrak klaim
Kutip persis kalimat/angka dari teks kasus
Daftar klaim mentah
2. Telusuri sumber
Siapa yang menyatakan — manajemen, auditor, analis luar?
Label sumber per klaim
3. Uji verifikasi
Bisa dicek silang ke eksibit/sumber independen lain?
"Restrukturisasi akan membuat maskapai kembali profitabel tahun ke-3"
Klasifikasi F-A-S
Fakta: angka kewajiban — tercatat resmi di dokumen pengadilan niaga
Asumsi kritis: profitabilitas tahun ke-3 — bergantung pemulihan traffic penumpang & harga avtur
Keputusan manajerial: kreditur menyetujui restrukturisasi bukan karena simpulan "akan profitabel" itu fakta, tapi karena asumsi di baliknya dinilai cukup masuk akal dibanding alternatif likuidasi.
Menandai & Menstres-Uji Asumsi Kritis
Kriteria Asumsi "Kritis"
Rekomendasi berubah drastis bila asumsi ini salah
Tingkat ketidakpastian tinggi (proyeksi jangka panjang, perilaku pasar)
Sumbernya pihak berkepentingan langsung (manajemen, penjual)
Teknik Stress-Test Cepat
Uji skenario: apa jika asumsi ini 30% lebih pesimistis?
Cari data pembanding sektor/industri sejenis
Tanyakan: siapa yang paling diuntungkan bila asumsi ini dipercaya?
Ini bukan pemodelan sensitivitas finansial penuh (dibahas Minggu 4) — cukup uji kualitatif "masuk akal atau tidak" sebelum melangkah ke perumusan masalah.
Latihan Kelas: Audit F-A-S Cepat
Instruksi (10 menit, kerja berpasangan):
Dosen membagikan kutipan pendek dari kasus minggu ini (2–3 paragraf)
Identifikasi minimal 3 klaim, klasifikasikan F / A / S memakai rubrik 5 langkah
Tandai 1 asumsi paling kritis & jelaskan mengapa
2 pasangan akan diminta memaparkan hasil ke kelas (random call)
Tujuan: membentuk refleks memilah F-A-S dalam hitungan menit — kecepatan ini yang akan diuji saat presentasi individu tahap 1.
Bagian 3 dari 3
Merumuskan Masalah Inti
Diskusi kelas: gejala (symptom) apa yang paling sering disalahartikan sebagai masalah inti dalam rapat strategis Anda?
Symptom vs Root Cause: Five Whys & Problem Tree
Jebakan umum: berhenti di "Why 2" karena jawabannya sudah terasa memuaskan secara politis (mis. menyalahkan "kondisi pasar") — padahal belum actionable.
Kriteria Problem Statement yang Baik
Kriteria
Uji Cepat
Contoh Buruk → Baik
Spesifik
Menyebut objek, bukan area umum
"Masalah pemasaran" → "Tingkat konversi iklan digital turun 40%"
Berorientasi keputusan
Mengarah ke pilihan tindakan, bukan sekadar deskripsi
"Pasar melemah" → "Apakah perlu reposisi harga atau produk?"
Terbatas (bounded)
Bisa dijawab dalam cakupan wewenang protagonis
"Ekonomi Indonesia lemah" → "Strategi harga divisi X di kuartal ini"
Dapat ditindaklanjuti
Ada ruang solusi realistis, bukan takdir eksternal
"Pesaing terlalu kuat" → "Diferensiasi apa yang bisa dibangun 12 bulan ke depan?"
Problem statement yang baik = kalimat tanya tunggal yang, bila dijawab, langsung mengarahkan rekomendasi Anda pada evaluasi tengah semester.
Mini-Kasus: Merumuskan Masalah Inti — Restrukturisasi Utang Sritex
Ilustrasi — disederhanakan dari kasus pailit tekstil 2024–2025, angka indikatif untuk latihan.
Gejala Teramati
Order ekspor turun tajam beberapa tahun terakhir
Beban bunga utang membengkak, arus kas operasional negatif
Setelah Five Whys
Why 1–2: permintaan global melemah, kompetisi harga Bangladesh/Vietnam
Why 4–5: struktur biaya & leverage tidak fleksibel merespons siklus permintaan
Problem statement bounded & actionable: "Bagaimana menstrukturkan ulang beban utang & kapasitas produksi agar perusahaan bertahan pada skenario permintaan konservatif?" — bukan sekadar "industri tekstil sedang lesu".
Sintesis Pertemuan 2 & Jembatan ke Pertemuan 3
Baca Kritis
Skim → deep read → verifikasi (3-pass)
Pilah F-A-S
Rubrik 5 langkah, tandai asumsi kritis
Masalah Inti
Five Whys → problem statement bounded & actionable
Minggu depan: problem statement yang sudah Anda rumuskan menjadi input langsung untuk kerangka SWOT dan Five Forces/value chain — bawa hasil latihan hari ini.
Persiapan: baca kasus yang ditugaskan sebelum pertemuan 3, terapkan 3-pass reading & rubrik F-A-S secara mandiri, datang dengan draf problem statement.