stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Riset dan Diagnosis Kasus: membaca kasus secara kritis, memisahkan fakta-asumsi-simpulan, merumuskan masalah inti
RPS minggu 2 · 2x50 menit

Riset dan Diagnosis Kasus

Membaca kasus secara kritis, memisahkan fakta-asumsi-simpulan, merumuskan masalah inti

Analisis Kasus Bisnis dan Presentasi · Magister Manajemen FEB UNDIP

Bagian 1 dari 3
Membaca Kasus Secara Kritis

Diskusi kelas: bagaimana Anda tahu kapan sebuah kasus sengaja menyembunyikan data — dan kapan itu justru bagian dari ujiannya?

Posisi Pertemuan Ini dalam Alur Semester

Fondasi analisis (Minggu 1–4) → menyusun argumen → mengemas & menyampaikan → praktik puncak.

Minggu 1
  • Anatomi kasus & kerangka umum
Minggu 2 — hari ini
  • Riset-diagnosis: baca kritis, F-A-S, masalah inti
Minggu 3–4
  • SWOT, Five Forces/value chain, kelayakan finansial
Sub-CPMK minggu ini: mahasiswa mampu mendiagnosis kasus secara sistematis sebelum menerapkan kerangka analitis apa pun — diagnosis yang keliru membuat kerangka sekuat apa pun menghasilkan rekomendasi yang salah sasaran.

Mengapa Riset-Diagnosis Penting bagi Pengambil Keputusan

Kasus bisnis = simulasi managerial judgment under incomplete information (Ellet, 2007).

Analis Amatir
  • Menerima narasi kasus apa adanya
  • Langsung lompat ke kerangka favorit (SWOT dulu)
  • Simpulan penulis kasus dianggap fakta
Manajer Berpengalaman (Anda)
  • Menguji setiap klaim: siapa sumbernya, kapan, terverifikasi?
  • Diagnosis dulu, kerangka menyusul sesuai kebutuhan
  • Memisahkan opini stakeholder dari kondisi objektif
Risiko riil: rekomendasi yang dibangun di atas asumsi yang keliru dianggap fakta — persis pola kegagalan due diligence M&A yang berujung impairment tahun berikutnya.

Anatomi Kasus: Empat Lapis Bukti

ProtagonisSiapa pengambil keputusan & kepentingannya?Titik KeputusanPilihan apa yang harus diambil, kapan?Data PendukungAngka, kutipan, eksibit — terverifikasi?Kendala/KonteksRegulasi, sumber daya, tenggatDiagnosis dibangun dari EMPAT lapis ini secara bersamaanLewatkan satu lapis → masalah inti mudah salah rumus
Empat lapis ini sejalan dengan struktur eksibit standar kasus HBS/Ivey — kebiasaan memetakan keempatnya di awal membuat riset kasus jauh lebih cepat dan tidak terjebak detail yang tidak relevan.

Kerangka Membaca Kritis: Tiga Lintasan (3-Pass Reading)

LangkahApa yang DilakukanOutput
1. Skim (5–7 menit)Baca judul, sub-judul, eksibit, paragraf pembuka/penutupPeta kasar isu & siapa protagonisnya
2. Deep readBaca penuh, tandai angka kunci & kutipan stakeholderDaftar bukti mentah bertanda halaman/eksibit
3. Verify & klasifikasiUji tiap klaim: fakta, asumsi, atau simpulan penulis?Tabel F-A-S siap dipakai (lihat Bagian 2)
Aturan praktis: jangan pernah mulai menyusun rekomendasi sebelum lintasan ke-3 selesai — ini pembeda utama analisis matang vs analisis terburu-buru di bawah tekanan waktu presentasi.

Mini-Kasus: Membaca Kritis Akuisisi Tokopedia–GoTo

Ilustrasi — skenario disederhanakan untuk latihan diagnosis, angka bersifat indikatif.

Skim
  • Isu: sinergi merger e-commerce & ride-hailing
  • Protagonis: komite integrasi GoTo
Deep Read & Verifikasi
  • Klaim "sinergi biaya ~Rp2 T" — dari slide manajemen, belum diaudit
  • Data pangsa pasar dari laporan pihak ketiga — lebih dapat diverifikasi
Keputusan manajerial di sini: apakah target sinergi layak dijadikan dasar valuasi, atau perlu didiskon karena sumbernya belum independen — ini persis jenis judgment yang akan Anda praktikkan di evaluasi tengah semester.

Jebakan Kognitif Riset Kasus

Bias Konfirmasi
  • Mencari bukti yang mendukung hipotesis awal, mengabaikan yang berlawanan (Nickerson, 1998)
Anchoring & Availability
  • Angka pertama yang dibaca (mis. valuasi awal) jadi jangkar keputusan berikutnya (Tversky & Kahneman, 1974)
Mitigasi praktis: tulis hipotesis masalah sebelum membaca eksibit angka, lalu cek apakah data justru menantang hipotesis Anda — bukan sekadar mengonfirmasinya.
Bagian 2 dari 3
Fakta, Asumsi, Simpulan

Diskusi kelas: dalam laporan keuangan sebuah kasus, mana yang benar-benar fakta teraudit, dan mana proyeksi manajemen yang dibingkai seolah fakta?

Mengapa Manajer Sering Tertukar F-A-S

Konsekuensi Keliru
  • Asumsi diperlakukan sebagai fakta → keputusan investasi berbasis harapan, bukan bukti
  • Simpulan penulis laporan diterima tanpa diuji ulang → groupthink di ruang rapat
Akar Masalah
  • Tekanan waktu mendorong pembaca melompat ke simpulan (Ladder of Inference — Argyris, 1970)
  • Bahasa laporan sering mengaburkan sumber klaim ("diperkirakan", "diyakini")
Pertanyaan diagnostik cepat: "Bisakah klaim ini diverifikasi independen dari sumber lain?" Kalau tidak, itu asumsi — bukan fakta, sekuat apa pun bahasanya.

Kerangka F-A-S: Definisi Operasional & Ladder of Inference

SIMPULANASUMSI (inferensi berlabel)FAKTA (dapat diverifikasi)DATA MENTAH (eksibit)
Fakta
Terverifikasi ≥ 1 sumber independen, bisa diaudit balik ke eksibit
Asumsi
Inferensi wajar dari fakta, tapi belum terbukti — harus diberi label eksplisit
Simpulan
Argumen penulis/manajemen yang menggabungkan fakta+asumsi menuju rekomendasi

Coba Sendiri: Naiki Ladder of Inference Selangkah demi Selangkah

Masukkan data mentah, tandai mana yang fakta terverifikasi, mana asumsi berlabel, lalu lihat bagaimana simpulan terbentuk.

Rubrik Audit Fakta-Asumsi-Simpulan (5 Langkah)

LangkahPertanyaan KunciHasil
1. Ekstrak klaimKutip persis kalimat/angka dari teks kasusDaftar klaim mentah
2. Telusuri sumberSiapa yang menyatakan — manajemen, auditor, analis luar?Label sumber per klaim
3. Uji verifikasiBisa dicek silang ke eksibit/sumber independen lain?Fakta vs tak-terverifikasi
4. KlasifikasiTak-terverifikasi → asumsi eksplisit; gabungan klaim → simpulanTabel F / A / S final
5. Tandai kritisAsumsi mana yang paling menentukan rekomendasi bila salah?Daftar asumsi kritis (lihat slide berikut)
Rubrik ini digunakan pada SETIAP kasus sepanjang semester — jadikan template kerja pribadi Anda, termasuk untuk evaluasi tengah semester.

Mini-Kasus: Audit F-A-S pada Restrukturisasi Garuda Indonesia

Ilustrasi — disederhanakan dari proses PKPU 2021–2022, angka indikatif untuk latihan.

Klaim dalam Kasus
  • "Total kewajiban terverifikasi kreditur ~Rp110 T" (dokumen PKPU)
  • "Restrukturisasi akan membuat maskapai kembali profitabel tahun ke-3"
Klasifikasi F-A-S
  • Fakta: angka kewajiban — tercatat resmi di dokumen pengadilan niaga
  • Asumsi kritis: profitabilitas tahun ke-3 — bergantung pemulihan traffic penumpang & harga avtur
Keputusan manajerial: kreditur menyetujui restrukturisasi bukan karena simpulan "akan profitabel" itu fakta, tapi karena asumsi di baliknya dinilai cukup masuk akal dibanding alternatif likuidasi.

Menandai & Menstres-Uji Asumsi Kritis

Kriteria Asumsi "Kritis"
  • Rekomendasi berubah drastis bila asumsi ini salah
  • Tingkat ketidakpastian tinggi (proyeksi jangka panjang, perilaku pasar)
  • Sumbernya pihak berkepentingan langsung (manajemen, penjual)
Teknik Stress-Test Cepat
  • Uji skenario: apa jika asumsi ini 30% lebih pesimistis?
  • Cari data pembanding sektor/industri sejenis
  • Tanyakan: siapa yang paling diuntungkan bila asumsi ini dipercaya?
Ini bukan pemodelan sensitivitas finansial penuh (dibahas Minggu 4) — cukup uji kualitatif "masuk akal atau tidak" sebelum melangkah ke perumusan masalah.

Latihan Kelas: Audit F-A-S Cepat

Instruksi (10 menit, kerja berpasangan):
  • Dosen membagikan kutipan pendek dari kasus minggu ini (2–3 paragraf)
  • Identifikasi minimal 3 klaim, klasifikasikan F / A / S memakai rubrik 5 langkah
  • Tandai 1 asumsi paling kritis & jelaskan mengapa
  • 2 pasangan akan diminta memaparkan hasil ke kelas (random call)
Tujuan: membentuk refleks memilah F-A-S dalam hitungan menit — kecepatan ini yang akan diuji saat presentasi individu tahap 1.
Bagian 3 dari 3
Merumuskan Masalah Inti

Diskusi kelas: gejala (symptom) apa yang paling sering disalahartikan sebagai masalah inti dalam rapat strategis Anda?

Symptom vs Root Cause: Five Whys & Problem Tree

Gejala teramatiMengapa? (1)Mengapa? (2–4)Akar Masalah (Why 5)Ohno (Toyota Production System, 1988): berhenti saat penyebab sudah dapat DITINDAKLANJUTI, bukan sekadar dalam
Jebakan umum: berhenti di "Why 2" karena jawabannya sudah terasa memuaskan secara politis (mis. menyalahkan "kondisi pasar") — padahal belum actionable.

Kriteria Problem Statement yang Baik

KriteriaUji CepatContoh Buruk → Baik
SpesifikMenyebut objek, bukan area umum"Masalah pemasaran" → "Tingkat konversi iklan digital turun 40%"
Berorientasi keputusanMengarah ke pilihan tindakan, bukan sekadar deskripsi"Pasar melemah" → "Apakah perlu reposisi harga atau produk?"
Terbatas (bounded)Bisa dijawab dalam cakupan wewenang protagonis"Ekonomi Indonesia lemah" → "Strategi harga divisi X di kuartal ini"
Dapat ditindaklanjutiAda ruang solusi realistis, bukan takdir eksternal"Pesaing terlalu kuat" → "Diferensiasi apa yang bisa dibangun 12 bulan ke depan?"
Problem statement yang baik = kalimat tanya tunggal yang, bila dijawab, langsung mengarahkan rekomendasi Anda pada evaluasi tengah semester.

Mini-Kasus: Merumuskan Masalah Inti — Restrukturisasi Utang Sritex

Ilustrasi — disederhanakan dari kasus pailit tekstil 2024–2025, angka indikatif untuk latihan.

Gejala Teramati
  • Order ekspor turun tajam beberapa tahun terakhir
  • Beban bunga utang membengkak, arus kas operasional negatif
Setelah Five Whys
  • Why 1–2: permintaan global melemah, kompetisi harga Bangladesh/Vietnam
  • Why 4–5: struktur biaya & leverage tidak fleksibel merespons siklus permintaan
Problem statement bounded & actionable: "Bagaimana menstrukturkan ulang beban utang & kapasitas produksi agar perusahaan bertahan pada skenario permintaan konservatif?" — bukan sekadar "industri tekstil sedang lesu".

Sintesis Pertemuan 2 & Jembatan ke Pertemuan 3

Baca Kritis
Skim → deep read → verifikasi (3-pass)
Pilah F-A-S
Rubrik 5 langkah, tandai asumsi kritis
Masalah Inti
Five Whys → problem statement bounded & actionable
Minggu depan: problem statement yang sudah Anda rumuskan menjadi input langsung untuk kerangka SWOT dan Five Forces/value chain — bawa hasil latihan hari ini.
Persiapan: baca kasus yang ditugaskan sebelum pertemuan 3, terapkan 3-pass reading & rubrik F-A-S secara mandiri, datang dengan draf problem statement.