stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-08
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 8: Akuntansi Permodalan Bank
RPS minggu 8 · 2x50 menit

Akuntansi Permodalan Bank

Modal Inti · Modal Pelengkap · CAR · ATMR — Magister Manajemen FEB UNDIP

Peta Pembelajaran Hari Ini

Sub-CPMK 8: menjelaskan struktur akuntansi permodalan lembaga keuangan.

Jam ke-1
  • Struktur modal bank: modal inti (Tier 1) vs modal pelengkap (Tier 2)
  • Komponen modal inti: modal disetor, agio, laba ditahan
  • Komponen modal pelengkap: pinjaman subordinasi, revaluasi aset
Jam ke-2
  • CAR (Capital Adequacy Ratio): rumus & interpretasi
  • ATMR (Aset Tertimbang Menurut Risiko) per kategori aset
  • Hitung dari nol: CAR bank dengan portofolio kredit beragam

Mengapa Modal Bank Diatur Ketat

Modal adalah bantalan terakhir bank atas kerugian — fondasi kepercayaan publik.

CAR Minimum OJK
8%
Sesuai standar Basel III + buffer konservasi 2,5% + buffer D-SIB (sistemik) untuk bank besar.
Tier 1 Minimum
6%
Dari total 8%, minimal 6% harus modal inti (Tier 1). Tier 2 hanya boleh menambah 2 pp.
Implikasi: dengan CAR 8% dan aset tertimbang 100 (risiko penuh), bank butuh modal Rp 8. Modal kecil = bank fragile terhadap kerugian. Inilah mengapa CAR dijaga ketat.

Tiga Lapis Modal Bank

Tiga lapis modal bank sesuai Basel III yang masing-masing punya karakteristik berbeda.

Lapis ModalKomponen UtamaKarakteristik
Common Equity Tier 1 (CET1)Modal disetor, agio, laba ditahan, DICEquity penuh — paling tangguh menyerap kerugian
Additional Tier 1 (AT1)Saham preferen, instrumen modal inovatifPerpetual, kupon dapat dibatalkan
Tier 2Pinjaman subordinasi, revaluasi aset, provisi umumTenor >5 tahun, menyerap kerugian saat likuidasi
Total modal = CET1 + AT1 + Tier 2. Tier 1 = CET1 + AT1. AT1 & Tier 2 ada limit maksimum dalam total modal.
BLOK 1

Komponen Modal Inti (Tier 1)

Pertanyaan diskusi: Mengapa laba ditahan lebih disukai sebagai modal inti dibandingkan penerbitan saham baru?

Detail Komponen Modal Inti

Empat komponen utama CET1 yang membentuk modal inti terkuat bank.

Modal Disetor
  • Nominal saham yang diterbitkan
  • Penerimaan kas dari pemegang saham
  • Komponen paling permanen — tidak dapat ditarik
Agio Saham
  • Selisih harga terbit di atas nominal
  • Contoh: saham nominal Rp 100 diterbitkan Rp 500 → agio Rp 400
  • Komponen permanen modal
Laba Ditahan
  • Akumulasi laba bersih yang tidak dibagi
  • Sumber modal organik — tanpa biaya eksternal
  • Paling fleksibel: dapat dipakai dividen atau reinvestasi
Dana Inti (DIC)
  • Sesuai formula OJK POJK permodalan

Modal Pelengkap (Tier 2)

Tier 2 adalah modal pelengkap yang menyerap kerugian saat likuidasi, kurang tangguh dari Tier 1.

Komponen Tier 2
  • Pinjaman Subordinasi: utang tenor >5 thn, subordinat ke nasabah bank
  • Revaluasi Aset Tetap: kenaikan nilai aset tetap (45% dari surplus)
  • Provisi Umum: cadangan umum untuk kerugian (1-2% aset)
  • Hybrid Instruments: obligasi konversi tertentu
Tier 2 ada limit: maksimum 100% dari Tier 1. Tier 2 tidak boleh dominan dalam struktur modal bank. Tier 2 menyerap kerugian saat bank gagal, bukan saat operasi normal.

Hitung dari Nol: Komposisi Modal Bank

Mini-kasus: Bank Mandiri dengan struktur modal berikut (ilustrasi publikasi OJK).

Total Modal
Komponen ModalNilai (Rp T)Tier
Modal disetor + agioRp 80 TCET1
Laba ditahanRp 150 TCET1
DIC (selisih lain)Rp 5 TCET1
Total CET1235 T
Pinjaman subordinasiRp 20 TTier 2
Provisi umumRp 5 TTier 2
Rp 260 T
Insight
~90% Tier 1
Tier 1 (CET1) dominan ~Rp 235 T atau ~90% total modal. Tier 2 hanya ~Rp 25 T atau ~10%. Struktur sehat — Tier 1 dominan menunjukkan kualitas modal tinggi. Verifikasi ke laporan publikasi OJK.
BLOK 2

ATMR & CAR

Pertanyaan diskusi: Mengapa kredit mikro memerlukan bobot risiko ATMR lebih tinggi dari kredit korporasi besar?

ATMR per Kategori Aset

Setiap kategori aset punya bobot risiko ATMR berbeda — semakin tinggi risiko, semakin tinggi modal yang dibutuhkan.

Kategori AsetBobot ATMRContoh
Kas & penempatan BI0%Kas, giro di BI
Claim pemerintah RI0-20%SBN, SPN
Klaim bank lain (<3 bulan)20%Call money
Klaim bank lain (>3 bulan)50%Penempatan tenor panjang
Kredit beragun rumah (LTV <80%)50%KPR primary residence
Kredit korporasi100%Kredit kerja api, working capital
Kredit ritel/mikro100-150%KMR, KUMKM
Aset tetap & investasi saham100-150%Gedung, penyertaan
Implikasi: bank dengan portofolio SBN besar (bobot rendah) lebih efisien modal dibanding bank dengan portofolio mikro (bobot tinggi). Verifikasi bobot terbaru ke POJK permodalan OJK.

Hitung dari Nol: ATMR & CAR Bank

Mini-kasus: bank dengan struktur aset beragam. Hitung ATMR & CAR.

KategoriSaldo (Rp T)BobotATMR (Rp T)
Kas & penempatan BI500%0
SBN15020%30
Kredit korporasi300100%300
Kredit ritel/mikro200100%200
Aset tetap50100%50
Total Aset750580
CAR dengan Modal Rp 60 T
CAR = 60/580 = 10,3%
CAR 10,3% di atas minimum OJK 8%. Tier 1 efektif ~9% — sehat. Verifikasi ke laporan publikasi OJK.

CAR & Buffer Basel III

Selain CAR minimum 8%, bank sistemik wajib memenuhi buffer tambahan Basel III.

Capital Conservation Buffer
+2,5%
Wajib semua bank. Total CAR minimum jadi 10,5%. Di bawah ini → pembatasan distribusi.
Countercyclical Buffer
0-2,5%
Dapat diaktifkan saat kredit tumbuh terlalu cepat. Buffer procyclical — hanya saat overheating.
D-SIB Buffer
+1-3,5%
Untuk bank sistemik (Mandiri, BCA, BRI). Total CAR bisa 13-15% untuk bank D-SIB Tier 1.
BLOK 3

Strategi Manajemen Modal

Pertanyaan diskusi: Bagaimana CFO bank menyeimbangkan pertumbuhan bisnis, dividend payout, dan kepatuhan CAR?

Empat Sumber Modal Tambahan

Empat sumber modal tambahan yang bisa dimanfaatkan bank saat perlu menaikkan CAR.

1. Retensi laba organik. Paling murah — laba ditahan tanpa biaya transaksi. Bank BCA gunakan dominan.

2. Penerbitan saham baru. Right issue, private placement. Mengencerkan ROE pemegang saham eksisting.

3. Pinjaman subordinasi baru. Utang subordinat tenor >5 thn. Menambah Tier 2 dengan biaya bunga.

4. AT1 instruments. Perpetual bonds, contingent convertibles. Cost lebih tinggi tapi fleksibel.

Mini-Kasus: CAR 3 Bank Indonesia

Perbandingan CAR 3 bank besar Indonesia (ilustrasi publikasi OJK).

BankTotal ModalATMRCARStatus
BCA~Rp 160 T~Rp 1.050 T~15,2%Well-capitalized
Mandiri~Rp 260 T~Rp 1.700 T~15,3%Well-capitalized
BRI~Rp 220 T~Rp 1.700 T~12,9%Well-capitalized
Insight
BRI CAR lebih rendah
BRI CAR ~12,9% lebih rendah dari BCA/Mandiri (~15%) karena portofolio mikro bobot risiko ATMR tinggi. Bukan indikasi bank lebih buruk — profil bisnis berbeda. Verifikasi ke laporan publikasi OJK.

Pengungkapan Modal Wajib

Bank wajib mengungkapkan struktur modal & CAR setiap kuartal untuk transparansi.

Pengungkapan Wajib
  • Saldo CET1, AT1, Tier 2, dan total modal per kuartal
  • ATMR per kategori aset (kredit, SBN, antar bank)
  • CAR Tier 1, CAR total, leverage ratio Basel III
  • Liquidity Coverage Ratio (LCR) & Net Stable Funding Ratio (NSFR)
  • Buffer konservasi & D-SIB yang dipenuhi

Audit Prosedur Modal Bank

Auditor mengaudit struktur modal bank dengan tiga lapis pengujian.

Lapis 1
Eksistensi
Verifikasi eksistensi modal disetor, agio, laba ditahan via dokumen pendukung.
Lapis 2
Klasifikasi
Uji klasifikasi Tier 1 vs Tier 2 sesuai POJK permodalan terbaru.
Lapis 3
Calculation
Rekalkulasi ATMR & CAR per kategori aset, uji kepatuhan buffer Basel III.

Rangkuman: 5 Poin Kunci Hari Ini

1. Tiga lapis modal. CET1 (modal inti terkuat), AT1 (perpetual), Tier 2 (subordinasi).

2. CAR minimum 8%. Dengan buffer Basel III, total bisa 10,5-15% untuk bank sistemik.

3. ATMR per kategori. Bobot 0% (kas) hingga 150% (mikro) menentukan kebutuhan modal.

4. Profil bisnis beda CAR. Bank mikro CAR lebih rendah dari bank korporasi (bukan inferior).

5. Retensi laba sumber utama. Modal organik tanpa biaya transaksi — pilihan utama bank Indonesia.

Penutup & Persiapan P9

Persiapan P9 (minggu depan):

  • Baca laporan keuangan bank pilihan Anda secara lengkap
  • Pelajari rasio NIM, BOPO, NPL, LDR, CAR sebagai paket analisis
  • Tandai RGEC (Risk profile, Good corporate governance, Earnings, Capital) sebagai kerangka

Tugas mini: Hitung CAR satu bank & bandingkan dengan minimum Basel III.