Giro · Tabungan · Deposito — CASA — Magister Manajemen FEB UNDIP
Peta Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK 5: menjelaskan pencatatan akuntansi atas sumber dana pihak ketiga bank.
Jam ke-1
Tiga jenis DPK: giro (non-bunga), tabungan (bunga rendah), deposito (bunga tinggi)
CASA Ratio sebagai indikator efisiensi pendanaan
Pengakuan kewajiban DPK & perlindungan LPS
Jam ke-2
Pencatatan akrual vs kas untuk beban bunga deposito
Mini-kasus: struktur pendanaan BCA vs Mandiri vs BRI
Hitung dari nol: dampak CASA pada NIM & beban bunga
Mengapa DPK Penting bagi Bank
DPK adalah sumber dana dominan bank Indonesia — sekitar 75-80% total sumber dana.
DPK Perbankan Indonesia
~Rp 8.500 T
data Statistik Perbankan Indonesia OJK (di-hedge)
CASA Ratio Bank Indonesia
~25-30%
rasio giro+tabungan terhadap total DPK (variasi besar antar bank)
DPK menjadi kewajiban terbesar bank dan menentukan struktur biaya pendanaan. Bank dengan CASA tinggi (BCA ~70%) punya cost of funds sangat rendah, mendukung NIM sehat.
Tiga Jenis DPK
Tiga jenis DPK dengan karakteristik berbeda dalam likuiditas, biaya, dan behavior nasabah.
Jenis DPK
Karakteristik
Suku Bunga Tipikal
Behavior
Giro (Current Account)
Non-bunga, cek/BG, untuk bisnis
0%
Sangat likuid, volatile
Tabungan (Savings)
Bunga rendah, ATM, untuk individu
0,25-1%/thn
Sticky, likuid
Deposito Berjangka
Bunga tinggi, tenor 1-24 bulan, untuk investasi
3-5%/thn
Stable hingga jatuh tempo
Komposisi tiga jenis DPK menentukan cost of funds bank. Giro + tabungan = CASA (cheap source). Deposito = expensive source.
BLOK 1
Pengakuan Kewajiban DPK
Pertanyaan diskusi: Kapan sebuah setoran nasabah diakui sebagai kewajiban bank? Apa bedanya dengan utang biasa?
Jurnal Pengakuan DPK
Pengakuan DPK dengan jurnal standar yang sama untuk semua jenis.
Saat Setoran Diterima
Dr. Kas / Penempatan pada BI
Cr. Giro Nasabah (untuk giro)
Cr. Tabungan Nasabah (untuk tabungan)
Cr. Deposito Berjangka (untuk deposito)
Untuk deposito: bunga akrual diakui setiap bulan sebagai beban, meskipun baru dibayar saat jatuh tempo. Dr. Beban Bunga Deposito | Cr. Bunga Akrual Deposito (utang akrual).
Perlindungan LPS untuk Nasabah
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin DPK nasabah hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank.
Cakupan LPS
Maksimal Rp 2 miliar per nasabah per bank
Mencakup giro, tabungan, deposito, valas tertentu
Syarat: bunga ≤ tingkat penjaminan LPS, tidak berbuat curang
LPS bertindak sebagai insurer dana nasabah bank gagal
Konsekuensi Akuntansi
Bank membayar premi kontijensi ke LPS
Premi diakui sebagai beban operasi
DPK tetap dicatat sebagai kewajiban penuh
LPS menggantikan kewajiban saat bank likuidasi
GWM (Giro Wajib Minimum)
Bank wajib menahan sebagian DPK sebagai GWM di Bank Indonesia untuk kontrol likuiditas.
GWM = DPK × ~9% (rasio dapat berubah kebijakan BI)
Fungsi GWM
Kontrol likuiditas sistemik — bank tidak bisa menyalurkan semua DPK
Instrumen kebijakan moneter BI (mengubah rasio → mengubah likuiditas)
Digabung dengan rasio lain (LDR, ALM) untuk monitoring profil likuiditas bank
GWM sekunder: tambahan untuk bank tertentu
GWM ~9% (verifikasi ke BI terbaru). Bank gagal memenuhi GWM dikenakan sanksi denda & pengawasan ketat.
BLOK 2
CASA Ratio & Cost of Funds
Pertanyaan diskusi: Mengapa bank dengan CASA Ratio tinggi seperti BCA punya NIM lebih stabil daripada bank dengan CASA rendah?
CASA Ratio & Implikasinya
CASA Ratio = (Giro + Tabungan) ÷ Total DPK. Higher is cheaper.
BCA
~70%
CASA tertinggi di bank umum Indonesia — basis nasabah payroll & transaksi kuat.
Mandiri
~40-45%
Lebih beragam, korporasi & wholesale. CASA moderat dengan deposito signifikan.
BRI
~55-60%
Tabungan mikro dominan. CASA tinggi karena nasabah ritel menyimpan untuk transaksi harian.
Verifikasi CASA Ratio aktual ke laporan publikasi OJK terbaru. Trend CASA juga penting — bank yang kehilangan CASA akan tertekan margin-nya.
Hitung dari Nol: Dampak CASA pada Beban Bunga
Mini-kasus: dua bank dengan DPK Rp 1.000 T, komposisi berbeda. Hitung beban bunga & cost of funds.
Komponen
Bank A (BCA-like)
Bank B (CASA rendah)
Giro (0%)
Rp 200 T × 0% = 0
Rp 100 T × 0% = 0
Tabungan (0,75%)
Rp 500 T × 0,75% = 3,75 T
Rp 200 T × 0,75% = 1,5 T
Deposito (4,5%)
Rp 300 T × 4,5% = 13,5 T
Rp 700 T × 4,5% = 31,5 T
Total DPK
Rp 1.000 T
Rp 1.000 T
Total Beban Bunga
Rp 17,25 T
Rp 33 T
Cost of Funds
17,25/1.000 = ~1,73%
33/1.000 = ~3,30%
Insight
Δ ~157 basis points
Bank A (CASA 70%) punya cost of funds ~1,73%, Bank B (CASA 30%) ~3,30%. Selisih ~157 bps. Bank A bisa terima spread tipis untuk profitabilitas sama — competitive advantage fundamental.
Pencatatan Akrual Bunga Deposito
Bunga deposito harus diakui secara akrual tiap bulan, meskipun dibayar saat jatuh tempo.
Beban Bunga Akrual = Principal Deposito × Bunga Tahunan × (1/12)
Jurnal Bulanan Deposito 12 Bulan
Setiap bulan: Dr. Beban Bunga Deposito | Cr. Utang Bunga Akrual
Pada bulan jatuh tempo: Cr. Kas (principal + total bunga akrual)
Dr. Deposito Berjangka (principal)
Dr. Utang Bunga Akrual (akumulasi bunga 12 bulan)
Pencatatan akrual memastikan beban diakui di periode yang sesuai dengan pendapatan bunga yang dihasilkan dari dana tersebut — matching principle.
Hitung dari Nol: Akrual Deposito Bulanan
Mini-kasus: deposito Rp 100 juta, bunga 5%/thn, tenor 6 bulan. Hitung akrual bulanan & total bunga.
Bulan
Beban Akrual Bulanan
Akumulasi Utang Akrual
1
100 jt × 5% × 1/12 = Rp 416.667
Rp 416.667
2
Rp 416.667
Rp 833.334
3
Rp 416.667
Rp 1.250.001
4
Rp 416.667
Rp 1.666.668
5
Rp 416.667
Rp 2.083.335
6 (jatuh tempo)
Rp 416.667
Rp 2.500.002 (dibayar penuh)
Insight
Rp 2,5 juta
Total bunga 6 bulan = Rp 100 juta × 5% × 6/12 = Rp 2,5 juta. Setara dengan bunga kontraktual. Akrual memastikan beban dialokasikan rata ke 6 bulan, bukan diakui sekaligus di bulan ke-6.
BLOK 3
Trend & Risiko Pendanaan
Pertanyaan diskusi: Apa risiko bank yang mengalami penurunan CASA Ratio dalam beberapa kuartal berturut-turut? Bagaimana respons manajerial?
Tiga Risiko Pendanaan DPK
Tiga risiko utama yang harus dikelola Manajemen Likuiditas bank.
1. Liquidity risk (bank run). Penarikan masal DPK yang bisa memicu krisis likuiditas — kasus Century 2008.
2. Funding cost risk. Kenaikan suku bunga pasar menaikkan beban deposito, menekan NIM.
3. Behavioral shift. Migrasi nasabah dari tabungan ke reksadana/fintech menurunkan CASA.
4. Concentration risk. Ketergantungan pada sedikit depositor korporat besar yang bisa menarik serentak.
Mini-Kasus: Struktur DPK 3 Bank (Ringkas)
Perbandingan struktur DPK BCA, Mandiri, BRI (ilustrasi berdasarkan publikasi OJK).
Bank
Giro
Tabungan
Deposito
CASA Ratio
BCA
~25%
~45%
~30%
~70%
Mandiri
~15%
~30%
~55%
~45%
BRI
~10%
~50%
~40%
~60%
Insight
BCA lead CASA
BCA unggul di CASA karena basis payroll & transaksi kuat. Mandiri lebih beragam dengan deposito korporasi. BRI kuat di tabungan mikro. Verifikasi ke laporan publikasi OJK terbaru.
Rangkuman: 5 Poin Kunci Hari Ini
1. Tiga jenis DPK. Giro (non-bunga), tabungan (rendah), deposito (tinggi).
2. CASA = sumber murah. Giro + tabungan menentukan cost of funds bank.
3. Akrual untuk deposito. Beban bunga diakui bulanan meski dibayar jatuh tempo.
4. LPS jamin Rp 2 M. DPK per nasabar per bank dijamin, dengan syarat.
5. GWM ~9% DPK. Bank wajib setor ke BI untuk kontrol likuiditas.
Penutup & Persiapan P6
Persiapan P6 (minggu depan):
Baca catatan pendapatan bunga bank pilihan Anda
Pelajari metode effective interest rate (EIR) untuk pengakuan bunga
Tandai konsep NIM (Net Interest Margin) sebagai indikator profitabilitas
Tugas mini: Hitung CASA Ratio satu bank & estimasi cost of funds-nya.