‹ Daftar slidePertemuan 3: Mengidentifikasi Masalah & Tujuan Penelitian (Kriteria SMART)
Prodi Bisnis Digital · FEB UNDIP
Metodologi Penelitian Bisnis
Pertemuan 3: Mengidentifikasi Masalah & Tujuan Penelitian (Kriteria SMART)
Dari fenomena bisnis yang membingungkan menjadi rumusan masalah yang bisa diteliti — dan tujuan penelitian yang tajam, terukur, dan bisa dicapai.
RPS minggu 3 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Dari Fenomena ke Masalah Penelitian
Mengapa tidak semua hal yang menarik perhatian kita otomatis layak diteliti — dan bagaimana menyaringnya.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:
Kemampuan 1
Identifikasi
Mengenali sumber masalah penelitian dari fenomena bisnis digital, gap literatur, dan pengalaman praktis di lapangan.
Kemampuan 2
Rumuskan
Menulis rumusan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian yang jelas dan bisa dijawab lewat data.
Kemampuan 3
Terapkan SMART
Menyusun tujuan penelitian yang Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.
Kemampuan 4
Evaluasi
Menilai apakah rumusan masalah dan tujuan penelitian orang lain sudah memenuhi kriteria kelayakan riset.
Mengapa Bagian Ini Sering Jadi Titik Gagal Proposal?
Dosen pembimbing paling sering menyuruh mahasiswa "revisi total" justru di bab rumusan masalah dan tujuan penelitian — bukan di metode statistiknya.
Gejala umum: masalah penelitian ditulis sebagai judul berita, bukan kesenjangan yang bisa diuji — misalnya "GoTo merugi terus, kenapa ya?" tanpa arah variabel yang jelas.
Dampaknya kalau benar: seluruh bab metode, kuesioner, dan analisis data mengalir otomatis karena arah penelitian sudah presisi sejak awal.
Dengan kata lain, masalah dan tujuan penelitian adalah kompas seluruh proposal Anda — kalau kompasnya salah arah, semua bab berikutnya ikut melenceng.
Dari Mana Masalah Penelitian Bisa Berasal?
Fenomena Bisnis
Tren industri: e-commerce, fintech, UMKM digital
Kejadian nyata: penurunan pengguna aplikasi, keluhan pelanggan
Data publik: laporan BPS, laporan tahunan perusahaan Tbk (terbuka/listed di bursa)
Gap Literatur
Temuan penelitian yang saling bertentangan
Konteks belum diuji di Indonesia
Variabel baru yang belum dikaitkan
Pengalaman Praktis
Pengalaman magang/kerja di startup
Diskusi dengan praktisi bisnis digital
Observasi langsung di lapangan
Sub-CPMK minggu ini akan fokus mengolah sumber pertama — fenomena bisnis — karena paling dekat dengan pengalaman mahasiswa Bisnis Digital.
Fenomena Bukan Otomatis Masalah Penelitian
Fenomena (Belum Layak)
"Banyak UMKM merasa penjualannya tidak naik meski sudah pakai media sosial."
Sifatnya masih berupa pengamatan umum, belum ada arah variabel yang jelas.
Masalah Penelitian (Layak)
"Apakah intensitas penggunaan Instagram Business berpengaruh terhadap volume penjualan UMKM kuliner di Kota Semarang?"
Sudah ada variabel, objek, dan konteks yang jelas untuk diuji.
Uji cepat: masalah penelitian yang baik harus bisa dijawab dengan mengumpulkan dan menganalisis data — bukan hanya dijawab dengan opini atau perdebatan.
Coba Sendiri: Fenomena atau Masalah Penelitian?
Masukkan kalimat fenomena/gap Anda, geser kelengkapan unsurnya, dan lihat kapan ia "naik kelas" jadi masalah penelitian yang layak.
Struktur Latar Belakang Masalah: Corong Menyempit
Latar belakang masalah yang baik mengalir dari isu luas ke rumusan masalah yang spesifik — seperti corong.
Setiap lapisan corong menjawab satu pertanyaan: mengapa isu ini penting (makro), siapa/apa objeknya (spesifik), dan apa yang belum terjawab (kesenjangan).
Menulis Rumusan Masalah sebagai Pertanyaan Penelitian
Apakah / Bagaimana / Sejauh mana [variabel X] berpengaruh terhadap [variabel Y] pada [objek/konteks]?
Ciri Rumusan Masalah yang Baik
Berbentuk kalimat tanya, bukan pernyataan
Memuat variabel yang jelas dan bisa diukur
Menyebut konteks/objek penelitian secara spesifik
Contoh Terapan
"Bagaimana pengaruh kualitas layanan aplikasi terhadap loyalitas pengguna GoFood di kalangan mahasiswa?"
"Sejauh mana literasi digital memengaruhi keputusan UMKM bermigrasi ke marketplace?"
Bagian 2 dari 3
Merumuskan Tujuan Penelitian dengan Kriteria SMART
Mengubah niat riset yang samar menjadi tujuan yang bisa dievaluasi keberhasilannya.
Apa Itu Tujuan Penelitian, dan Bedanya dengan Rumusan Masalah?
Rumusan masalah berbentuk pertanyaan; tujuan penelitian adalah jawaban terhadap arah pertanyaan itu, ditulis sebagai pernyataan tindakan.
Rumusan Masalah
Bentuk Tanya
"Apakah kualitas layanan berpengaruh terhadap loyalitas pengguna GoFood?"
Tujuan Penelitian
Bentuk Pernyataan
"Menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas pengguna GoFood."
Kata kerja yang biasa dipakai: menganalisis, mengidentifikasi, mengukur, membandingkan, menguji — bukan kata kerja yang sulit diverifikasi seperti "memahami" secara umum.
Kriteria SMART untuk Tujuan Penelitian
S — Specific
Tujuan menyebut variabel dan objek secara spesifik, bukan umum.
M — Measurable
Hasil penelitian bisa diukur lewat data atau indikator yang jelas.
A — Achievable
Bisa dicapai dengan sumber daya, waktu, dan akses data mahasiswa.
R — Relevant
Relevan dengan bidang studi Bisnis Digital dan kebutuhan praktis/akademik.
T — Time-bound
Bisa diselesaikan dalam batas waktu satu semester penyusunan skripsi.
Hitung dari Nol: Mengubah Tujuan Samar Menjadi SMART
Kasus: mahasiswa Bisnis Digital ingin meneliti "pengaruh media sosial terhadap penjualan UMKM kuliner".
Langkah
Tindakan Penajaman
Hasil pada Tujuan
1. Specific
Ganti "media sosial" (umum) → sebut platform & indikator tertentu
"Instagram Business" & "frekuensi posting"
2. Measurable
Ganti "penjualan" (umum) → sebut satuan ukur yang bisa dihitung
"volume transaksi per bulan (Rp)"
3. Achievable
Batasi populasi sesuai kapasitas riset mahasiswa
"UMKM kuliner terdaftar di Kota Semarang"
4. Relevant
Kaitkan dengan isu nyata prodi Bisnis Digital
"strategi pemasaran digital UMKM"
5. Time-bound
Tetapkan periode data & batas waktu riset
"data Januari–Juni 2026, 1 semester"
Tujuan Penelitian Final (SMART)
"Menganalisis pengaruh frekuensi posting Instagram Business terhadap volume transaksi bulanan UMKM kuliner terdaftar di Kota Semarang periode Januari–Juni 2026."
Hitung dari Nol: Menilai Skor SMART Sebuah Tujuan Penelitian
Kasus: draf tujuan mahasiswa — "Mengetahui dampak GoTo terhadap ekonomi digital Indonesia."
Kriteria SMART
Pemeriksaan pada Draf
Skor (Lulus/Gagal)
Specific
Variabel "dampak" & "ekonomi digital" masih sangat umum, tanpa indikator
Gagal
Measurable
Tidak ada satuan ukur yang disebut (misal: nilai transaksi, jumlah UMKM terdampak)
Gagal
Achievable
Skala "Indonesia" terlalu besar untuk riset skripsi S1
Gagal
Relevant
Topik e-commerce & ekonomi digital relevan dengan prodi
Lulus
Time-bound
Tidak ada periode data yang disebut
Gagal
Skor Total
1 / 5
Draf ini perlu direvisi total sebelum diajukan ke dosen pembimbing — hanya kriteria Relevant yang terpenuhi.
Coba Sendiri: Uji Skor SMART Tujuan Penelitian Anda
Ketik draf tujuan penelitian Anda sendiri, lalu geser tiap kriteria S-M-A-R-T untuk melihat skor kelayakannya berubah langsung.
Kesalahan Umum saat Merumuskan Masalah & Tujuan
Terlalu luas: "Pengaruh digitalisasi terhadap bisnis di Indonesia" — tidak ada objek dan indikator spesifik.
Tujuan ≠ rumusan masalah: menulis tujuan yang tidak sinkron dengan pertanyaan di rumusan masalah.
Kata kerja kabur: "memahami", "mendalami" tanpa penjelasan bagaimana cara mengukurnya.
Tidak realistis: populasi/skala terlalu besar untuk kapasitas riset satu semester.
Tujuan Umum vs Tujuan Khusus
Tujuan Umum
Satu kalimat payung yang menggambarkan arah besar penelitian.
"Menganalisis pengaruh literasi digital terhadap kinerja UMKM di Semarang."
Tujuan Khusus
Rincian operasional dari tujuan umum, biasanya 2-3 poin.
Mengidentifikasi tingkat literasi digital pelaku UMKM
Mengukur kinerja penjualan UMKM sebelum & sesudah digitalisasi
Menganalisis besaran pengaruh keduanya secara statistik
Tujuan khusus adalah "peta jalan" yang langsung memandu struktur bab hasil penelitian Anda nanti — tiap poin biasanya menjadi satu sub-bab pembahasan.
Rangkaian Konsisten: Latar Belakang → Rumusan → Tujuan → Judul
Keempat elemen ini harus memakai variabel dan objek yang persis sama — jika judul menyebut "UMKM kuliner Semarang", rumusan masalah dan tujuan tidak boleh tiba-tiba membahas objek lain.
Bagian 3 dari 3
Studi Kasus & Latihan Kelas
Menerapkan semua yang telah dipelajari pada kasus bisnis digital Indonesia yang nyata.
Studi Kasus: Dari Fenomena ke Proposal Layak
Fenomena Awal
Seorang mahasiswa membaca laporan bahwa transaksi UMKM di Jawa Tengah lewat marketplace tumbuh, namun banyak UMKM mengeluh sulit bersaing dengan penjual dari luar daerah yang harganya lebih murah.
Rumusan Masalah
"Bagaimana pengaruh strategi diferensiasi produk terhadap daya saing harga UMKM kuliner di marketplace Shopee?"
Tujuan Penelitian (SMART)
"Menganalisis pengaruh strategi diferensiasi produk terhadap daya saing harga UMKM kuliner Jawa Tengah di Shopee periode 2026."
Latihan Kelas: Giliran Anda
Instruksi: Berpasangan dengan teman sebangku, pilih satu fenomena bisnis digital yang Anda amati sendiri (aplikasi, marketplace, media sosial, startup lokal). Tuliskan di kertas: (1) fenomena awal, (2) rumusan masalah berbentuk kalimat tanya, (3) tujuan penelitian yang sudah dicek terhadap kelima kriteria SMART. Waktu: 12 menit, lalu 3 pasangan akan diminta membacakan hasilnya di depan kelas.
Contoh Pemicu Ide
Ojek online, aplikasi belanja, dompet digital, live shopping TikTok, UMKM di kampung Anda.
Checklist SMART
S: variabel jelas? M: bisa diukur? A: realistis 1 semester? R: relevan Bisnis Digital? T: ada periode data?
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Poin Kunci Hari Ini
Fenomena harus disaring dulu lewat corong latar belakang sebelum jadi masalah penelitian
Rumusan masalah = kalimat tanya; tujuan penelitian = pernyataan tindakan
Tujuan penelitian wajib lulus 5 kriteria SMART
Variabel & objek harus konsisten dari latar belakang sampai judul
Tugas & Persiapan P4
Tugas: finalisasi 1 rumusan masalah + tujuan SMART dari latihan kelas hari ini, kumpulkan sebelum pertemuan berikutnya.
P4: Teknik Tinjauan Pustaka & Identifikasi Gap Penelitian — bawa rumusan masalah Anda untuk dicarikan literaturnya.