Memilih "peta jalan" riset yang tepat sebelum mengumpulkan data satu pun.
RPS minggu 6 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Mengapa Desain Penelitian Penting?
Posisi desain penelitian dalam alur riset bisnis, dan akibat memilih desain yang salah.
Di Mana Posisi Desain Penelitian?
Desain penelitian adalah rencana menyeluruh untuk menjawab rumusan masalah — jembatan antara teori/hipotesis dan pengumpulan data di lapangan.
Salah pilih desain di tahap ini — misalnya memakai kuesioner tertutup padahal fenomena masih belum dipahami — membuat seluruh tahap sesudahnya (metode, instrumen, proposal) ikut keliru arah.
Tiga Pertanyaan, Tiga Desain
Jenis pertanyaan riset Anda menentukan desain yang tepat. Ketiganya bisa berjenjang dalam satu proyek riset.
Eksploratif
"Apa sebenarnya masalahnya?"
Dipakai saat fenomena masih kabur/baru. Tujuan: memahami, bukan mengukur presisi.
Deskriptif
"Seberapa banyak/sering?"
Memotret karakteristik populasi/fenomena secara sistematis dan terukur.
Kausal
"Apakah X menyebabkan Y?"
Menguji hubungan sebab-akibat antar-variabel, biasanya lewat eksperimen.
Contoh berjenjang: eksploratif dulu untuk memahami "mengapa pengguna GoPay churn", lalu deskriptif mengukur "berapa persen yang churn per segmen usia", baru kausal menguji "apakah cashback baru menurunkan churn".
Desain Eksploratif: Memahami yang Belum Jelas
Eksploratif = riset awal untuk merumuskan masalah lebih tajam, bukan untuk menguji atau menggeneralisasi.
Kapan Dipakai
Fenomena bisnis baru/belum banyak diteliti
Variabel penelitian belum jelas terdefinisi
Butuh insight (pemahaman awal) sebelum menyusun hipotesis
Sampel kecil, tidak untuk generalisasi ke populasi
Contoh Kasus
Startup lokal Warung Pintar ingin tahu mengapa sebagian mitra warung menolak memakai aplikasi digitalnya — belum ada teori/data yang menjelaskan, sehingga tim riset melakukan wawancara mendalam ke 12 pemilik warung sebelum menyusun kuesioner besar.
Teknik Riset Eksploratif
Tinjauan Pustaka & Data Sekunder
Membaca riset terdahulu, laporan industri (mis. laporan tahunan OJK, riset APJII) untuk memetakan apa yang sudah diketahui.
Wawancara Pakar (Expert Interview)
Berdiskusi dengan praktisi berpengalaman, misalnya manajer cabang bank atau pemilik UMKM senior.
Focus Group Discussion (FGD)
Diskusi terpandu 6–10 orang untuk menggali persepsi bersama tentang suatu isu.
Studi Kasus (Case Study)
Menelaah satu/beberapa kasus secara mendalam, mis. kegagalan satu cabang Indomaret tertentu.
Hati-hati: hasil eksploratif bersifat tentatif (sementara) dan tidak boleh dijadikan kesimpulan akhir laporan skripsi — ia hanya pijakan untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji lebih lanjut.
Desain Deskriptif: Memotret Fakta Secara Sistematis
Deskriptif = mengukur dan menggambarkan karakteristik variabel/populasi secara akurat — siapa, apa, kapan, di mana, berapa banyak.
Ciri Utama
Variabel sudah jelas dan terdefinisi sebelum riset dimulai
Sampel besar & representatif agar bisa digeneralisasi
Biasanya pakai kuesioner terstruktur/survei
Tidak menguji sebab-akibat, hanya melaporkan "apa adanya"
Contoh Kasus
Riset Bank Indonesia tentang "proporsi UMKM di Jawa Tengah yang sudah menggunakan QRIS" — menghitung persentase, bukan menguji mengapa sebagian belum memakainya.
Deskriptif: Cross-Sectional vs Longitudinal, dan Hitung Ukuran Sampel
Dua jenis waktu pengamatan: cross-sectional (potret satu waktu) vs longitudinal (diamati berkala). Berikut contoh menghitung ukuran sampel minimum riset deskriptif memakai rumus Slovin.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Populasi (N) — UMKM binaan Dinas Koperasi Kota Semarang
diketahui dari data dinas
N = 400
2. Margin error (e) yang ditoleransi
ditetapkan peneliti
e = 5% = 0,05
3. Kuadratkan margin error
0,05 × 0,05
e² = 0,0025
4. Kalikan dengan populasi
400 × 0,0025
N·e² = 1
5. Tambahkan 1
1 + 1
1 + N·e² = 2
6. Bagi populasi dengan hasil langkah 5
400 ÷ 2
n = 200
Ukuran Sampel Minimum
n = 200 responden
Bagian 2 dari 3
Desain Kausal: Membuktikan Sebab-Akibat
Desain paling ketat syaratnya, karena mengklaim satu variabel benar-benar menyebabkan perubahan pada variabel lain.
Kausal: Tiga Syarat Sebelum Klaim "X Menyebabkan Y"
Menurut logika kausalitas klasik dalam metodologi riset, sebuah hubungan baru layak disebut sebab-akibat jika memenuhi ketiganya:
1. Kovariasi
X dan Y harus berubah bersama secara konsisten — saat X naik, Y ikut berubah secara sistematis.
2. Urutan Waktu
Penyebab (X) harus terjadi lebih dulu daripada akibat (Y), bukan sebaliknya atau bersamaan tanpa jelas urutannya.
3. Eliminasi Sebab Lain
Penjelasan alternatif (variabel pengganggu/confounding) harus disingkirkan lewat kontrol riset.
Korelasi (dua hal terjadi bersamaan) bukan bukti kausalitas. Contoh klasik: penjualan payung dan jumlah kecelakaan motor sama-sama naik saat musim hujan — bukan berarti payung menyebabkan kecelakaan; keduanya disebabkan hujan (variabel pengganggu).
Eksperimen Murni vs Kuasi-Eksperimen, dan Hitung Efek Kausal
Eksperimen Murni (True Experiment)
Subjek dibagi acak (random assignment) ke kelompok perlakuan & kontrol — standar emas untuk klaim kausal kuat, tapi sulit dilakukan di konteks bisnis nyata.
Kuasi-Eksperimen
Tanpa random assignment penuh (mis. bandingkan toko yang sudah ada), lebih praktis untuk riset bisnis lapangan meski kontrolnya lebih lemah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Penjualan rata-rata sebelum promo (toko batik UMKM Semarang)
data 1 bulan sebelum
Rp10.000.000
2. Penjualan rata-rata sesudah promo diskon 20%
data 1 bulan sesudah
Rp13.000.000
3. Kenaikan penjualan toko yang dipromo
(13jt − 10jt) ÷ 10jt × 100
30%
4. Kenaikan toko kontrol (tanpa promo, faktor musiman)
data toko pembanding
5%
5. Efek bersih promo (net effect)
30% − 5%
25%
Efek Kausal Bersih Promo
~25%
Coba Sendiri: Hitung Efek Kausal Bersih Promo Anda
Ubah angka penjualan toko yang dipromo dan toko kontrol, lalu amati bagaimana efek bersih terkoreksi dari faktor musiman.
Membandingkan Tiga Desain Secara Berdampingan
Eksploratif
Sampel: kecil Fleksibilitas: tinggi Generalisasi: tidak Tujuan: memahami
Deskriptif
Sampel: besar Fleksibilitas: rendah Generalisasi: ya Tujuan: memotret
Kausal
Sampel: terkontrol Fleksibilitas: rendah Generalisasi: terbatas Tujuan: membuktikan sebab-akibat
Ingat: ketiganya bukan "tingkatan mutu" riset, melainkan alat yang berbeda untuk tujuan berbeda. Riset kausal tidak otomatis "lebih baik" dari deskriptif — tergantung pertanyaan risetnya.
Studi Kasus: Toko Online "Sayurbox" Memilih Desain
Sayurbox, platform belanja sayur online, mengalami penurunan repeat order pelanggan baru. Ikuti bagaimana tim riset mereka menaikkan bertahap dari eksploratif ke kausal.
Tahap 1 — Eksploratif
Tim mewawancarai 10 pelanggan yang berhenti order untuk menggali alasan mentah. Ditemukan dugaan awal: harga terasa mahal & jadwal pengiriman tidak fleksibel.
Tahap 2 — Deskriptif
Survei ke 350 pelanggan (representatif) mengukur: 62% menyebut harga, 41% menyebut jadwal pengiriman sebagai alasan utama berhenti order.
Tahap 3 — Kausal
Eksperimen: kelompok A dapat slot pengiriman fleksibel baru, kelompok B tidak (kontrol). Repeat order kelompok A naik signifikan — barulah disimpulkan jadwal pengiriman menyebabkan perbedaan repeat order.
Cara Cepat Memilih Desain yang Tepat
Latihan mental cepat: setiap kali membaca rumusan masalah skripsi (Anda sendiri atau teman), coba jawab dua pertanyaan di diagram ini terlebih dulu sebelum menentukan metode pengumpulan data.
Bagian 3 dari 3
Kesalahan Umum & Menerapkan di Proposal Anda
Menutup pertemuan dengan jebakan yang sering terjadi, latihan kelas, dan ringkasan siap pakai.
Kesalahan Umum yang Harus Anda Hindari
Menyebut riset "kausal" padahal desainnya deskriptif — misalnya menulis "pengaruh X terhadap Y" dari data survei satu waktu tanpa kelompok kontrol/urutan waktu yang jelas.
Memakai kuesioner tertutup untuk masalah yang belum jelas — hasilnya bias karena pilihan jawaban sudah ditentukan peneliti, bukan digali dari lapangan.
Sampel eksploratif kecil (10–15 orang) tapi diklaim mewakili populasi dalam kesimpulan — tidak valid secara statistik.
Mengabaikan kelompok kontrol dalam klaim kausal, sehingga tidak bisa menyingkirkan variabel pengganggu (syarat ketiga kausalitas).
Latihan Kelas: Klasifikasikan Desainnya
Kerjakan berpasangan (5 menit). Untuk tiap skenario, tentukan: Eksploratif, Deskriptif, atau Kausal? Siapkan alasannya.
No
Skenario
Desain Anda?
1
Mengukur persentase karyawan Bank Mandiri yang puas dengan sistem kerja hibrida
…
2
Menguji apakah pelatihan onboarding baru menurunkan turnover karyawan dalam 3 bulan pertama
…
3
Menggali mengapa sebagian mahasiswa enggan memakai aplikasi kampus MyUndip
…
4
Membandingkan penjualan cabang GoFood yang memakai fitur baru vs yang belum
…
Kumpulkan jawaban lewat forum diskusi kelas; kita bahas bersama 5 menit terakhir sesi ini.
Cheat Sheet: Ringkasan Tiga Desain Penelitian
Dimensi
Eksploratif
Deskriptif
Kausal
Tujuan
Memahami masalah
Memotret kondisi
Membuktikan sebab-akibat
Rumusan masalah
Belum jelas
Sudah jelas & spesifik
Sudah jelas + hipotesis kausal
Sampel
Kecil, tidak acak
Besar, representatif
Terkontrol (perlakuan & kontrol)
Teknik umum
Wawancara, FGD, studi kasus
Survei/kuesioner terstruktur
Eksperimen/kuasi-eksperimen
Generalisasi hasil
Tidak
Ya (ke populasi)
Terbatas pada kondisi eksperimen
Rangkuman: Apa yang Sudah Anda Kuasai
Sub-CPMK Minggu 6
Mahasiswa mampu membedakan dan memilih desain penelitian eksploratif, deskriptif, dan kausal sesuai rumusan masalah riset bisnis.
Capaian Konkret Hari Ini
Memahami 3 jenis pertanyaan riset & desainnya
Menghitung ukuran sampel (Slovin) & efek kausal bersih
Mengenali 3 syarat kausalitas & jebakan korelasi
Bab Metodologi proposal Anda (tugas akhir semester) harus secara eksplisit menyatakan desain yang dipilih dan alasannya — bukan sekadar menyebut nama desainnya.
Menuju Pertemuan Berikutnya
Pertemuan 7 — Metode Kualitatif: Wawancara & FGD
Sesuai RPS, pertemuan berikutnya mendalami teknik wawancara, focus group discussion, dan analisis tematik — kelanjutan langsung dari desain eksploratif yang sudah Anda pelajari hari ini.
Tugas Sebelum Pertemuan Berikutnya
Tentukan desain penelitian untuk topik proposal Anda sendiri