‹ Daftar slidePertemuan 5: Keputusan Membuat vs Membeli Teknologi (Make-or-Buy)
RPS minggu 5 · 2x50 menit
Keputusan Membuat vs Membeli Teknologi
(Make-or-Buy): Lisensi, Akuisisi, Kolaborasi R&D
Manajemen Teknologi · Pertemuan 5 · Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1
Kerangka Keputusan Make-or-Buy
Dari roadmap ke eksekusi: kapan perusahaan sebaiknya membangun sendiri, dan kapan sebaiknya membeli dari luar?
Dari Roadmap ke Pertanyaan "Bagaimana Memperolehnya"
Rekap Pertemuan 4
Technology roadmap = peta yang menyelaraskan pilihan teknologi dengan tujuan strategis bisnis dalam jangka waktu tertentu.
Roadmap menjawab teknologi apa yang dibutuhkan dan kapan dibutuhkan.
Roadmap belum menjawab pertanyaan bagaimana teknologi itu diperoleh.
Pertanyaan Pertemuan 5
Apakah perusahaan membangun sendiri (make) kapabilitas teknologi tersebut?
Atau membeli (buy) dari pihak luar—lewat lisensi, akuisisi, atau kolaborasi R&D?
Keputusan ini menentukan biaya, kecepatan, risiko, dan kendali perusahaan atas teknologi.
Analogi sederhana: roadmap adalah "peta rute perjalanan", sedangkan make-or-buy adalah keputusan "apakah Anda mengendarai mobil sendiri, menyewa taksi (lisensi), membeli mobil bekas orang lain (akuisisi), atau berbagi tumpangan (kolaborasi R&D)" untuk sampai ke tujuan yang sama.
Definisi: Make vs Buy
Make (Membuat Sendiri)
Perusahaan mengembangkan teknologi secara internal memakai sumber daya, tim R&D, dan fasilitas sendiri. Kendali penuh, tetapi butuh waktu, biaya, dan risiko kegagalan yang perusahaan tanggung sendiri.
Buy (Membeli dari Luar)
Perusahaan memperoleh teknologi dari pihak eksternal—lewat lisensi (menyewa hak pakai), akuisisi (membeli perusahaan pemilik teknologi), atau kolaborasi R&D (berbagi biaya dan risiko riset).
Istilah kunci: lisensi = izin resmi memakai kekayaan intelektual pihak lain dengan imbalan biaya; akuisisi = pembelian kepemilikan perusahaan lain beserta aset teknologinya; kolaborasi R&D = kerja sama riset bersama mitra untuk berbagi biaya, risiko, dan hasil.
Kerangka Keputusan: Tiga Kriteria Utama
Ketiga kriteria ini dinilai bersama-sama, bukan sendiri-sendiri—teknologi bisa saja penting secara strategis tetapi kesenjangan kapabilitasnya sangat besar dan waktunya mendesak, sehingga jalan tengah seperti kolaborasi R&D atau akuisisi menjadi pilihan paling masuk akal.
Hitung dari Nol: Biaya Membangun vs Membeli Lisensi
Kasus: perusahaan ritel butuh sistem rekomendasi produk berbasis AI. Bandingkan total biaya tahun pertama antara membangun tim internal (Build) vs membeli lisensi vendor (Buy).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Gaji tim developer in-house setahun
5 orang x Rp25 juta x 12 bulan
Rp1.500.000.000
2. Biaya infrastruktur & tools in-house
tetap per tahun
Rp300.000.000
3. Total biaya opsi Build
Rp1.500.000.000 + Rp300.000.000
Rp1.800.000.000
4. Biaya lisensi vendor setahun
paket lisensi tahunan
Rp600.000.000
5. Biaya implementasi & integrasi
biaya sekali bayar (one-time)
Rp150.000.000
6. Total biaya opsi Buy
Rp600.000.000 + Rp150.000.000
Rp750.000.000
7. Selisih penghematan Buy vs Build
Rp1.800.000.000 − Rp750.000.000
Rp1.050.000.000
8. Persentase penghematan
Rp1.050.000.000 / Rp1.800.000.000 x 100
~58%
Kesimpulan Tahun Pertama
~58%
Opsi Buy (lisensi) lebih hemat dibanding Build pada tahun pertama
Bagian 2
Opsi "Membeli": Lisensi & Akuisisi
Dua jalur paling umum ketika perusahaan memutuskan tidak membangun teknologi sendiri.
Lisensi Teknologi: Menyewa Hak Pakai
Apa Itu Lisensi
Perjanjian di mana pemilik teknologi (licensor) memberi izin pemakaian kepada pihak lain (licensee) dengan imbalan biaya.
Perusahaan tidak memiliki teknologinya, hanya hak pakai sesuai kesepakatan.
Umum dipakai untuk paten, perangkat lunak, merek dagang, dan formula produk.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan: lebih cepat, risiko riset ditanggung licensor, biaya awal lebih rendah.
Contoh: rumah sakit Indonesia melisensi sistem rekam medis elektronik dari vendor asing.
Jenis Lisensi: Eksklusif vs Non-Eksklusif
Contoh nyata: produsen minuman ringan lokal yang melisensi non-eksklusif teknologi pengemasan aseptik dari vendor Eropa akan bersaing dengan produsen lain yang melisensi teknologi sama; sebaliknya, lisensi eksklusif untuk wilayah Indonesia memberi keunggulan sementara sampai kontrak berakhir.
Hitung dari Nol: Kalkulasi Biaya Royalti Lisensi
Kasus: perusahaan melisensi teknologi baterai dari vendor asing dengan skema royalti 5% dari pendapatan produk yang memakai teknologi tersebut, plus biaya awal (upfront fee).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Pendapatan produk tahun-1
diketahui dari proyeksi penjualan
Rp2.000.000.000
2. Royalti tahun-1 (5%)
Rp2.000.000.000 x 5%
Rp100.000.000
3. Biaya awal lisensi (upfront fee)
dibayar sekali di awal kontrak
Rp250.000.000
4. Total biaya lisensi tahun-1
Rp100.000.000 + Rp250.000.000
Rp350.000.000
5. Pendapatan produk tahun-2
naik seiring skala produksi
Rp3.500.000.000
6. Royalti tahun-2 (5%)
Rp3.500.000.000 x 5%
Rp175.000.000
7. Total biaya lisensi 2 tahun
Rp350.000.000 + Rp175.000.000
Rp525.000.000
8. Rasio biaya lisensi thd total pendapatan 2 tahun
Rp525.000.000 / Rp5.500.000.000 x 100
~9,5%
Rasio Efektif Biaya Lisensi
~9,5%
Dari total pendapatan produk selama 2 tahun pertama
Akuisisi Teknologi: Membeli Kepemilikan
Apa Itu Akuisisi Teknologi
Perusahaan membeli kepemilikan perusahaan lain (biasanya startup) untuk mendapatkan teknologi, talenta, dan asetnya sekaligus.
Berbeda dari lisensi: perusahaan memiliki penuh teknologi tersebut, bukan sekadar menyewa hak pakai.
Sering disebut acqui-hire ketika tujuan utamanya adalah merekrut talenta tim, bukan produknya.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan: kendali penuh, akses cepat ke kapabilitas dan talenta matang, tidak ada ketergantungan lisensi berulang.
Kekurangan: biaya di muka sangat besar, risiko kegagalan integrasi budaya organisasi, proses due diligence yang panjang.
Contoh: GoTo mengakuisisi beberapa startup teknologi finansial untuk memperkuat kapabilitas pembayaran digital.
Walkthrough: Proses Akuisisi Teknologi Langkah demi Langkah
Tahapan Umum Akuisisi
1Identifikasi target — perusahaan mencari startup atau perusahaan kecil dengan kapabilitas teknologi yang sesuai kebutuhan roadmap.
2Due diligence — pemeriksaan menyeluruh atas aset, kekayaan intelektual, tim, dan risiko hukum target sebelum transaksi disepakati.
3Negosiasi & valuasi — kedua pihak menyepakati harga akuisisi, biasanya berdasarkan potensi teknologi dan talenta, bukan hanya laba saat ini.
4Integrasi pasca-akuisisi — tahap tersulit: menyatukan tim, sistem, dan budaya kerja target ke dalam organisasi pengakuisisi.
5Realisasi nilai — teknologi mulai dipakai untuk mendukung produk/layanan utama perusahaan pengakuisisi secara penuh.
Riset industri konsisten menunjukkan bahwa tahap 4 (integrasi) adalah penyebab paling umum kegagalan akuisisi teknologi—bukan harga yang dibayar, melainkan gesekan budaya dan kehilangan talenta kunci pasca-akuisisi.
Bagian 3
Kolaborasi R&D & Memilih Mode yang Tepat
Jalur ketiga yang berbagi biaya dan risiko, serta bagaimana memutuskan mode mana yang paling sesuai.
Kolaborasi R&D: Berbagi Biaya dan Risiko Riset
Bentuk-Bentuk Kolaborasi
Aliansi strategis — dua perusahaan atau lebih bekerja sama riset tanpa membentuk entitas baru.
Joint venture (usaha patungan) — membentuk perusahaan baru bersama untuk mengembangkan teknologi tertentu.
Konsorsium riset — beberapa perusahaan dan/atau universitas berbagi biaya riset jangka panjang.
Kelebihan & Kekurangan
Kelebihan: biaya dan risiko riset dibagi bersama mitra, akses ke keahlian yang saling melengkapi.
Kekurangan: risiko kebocoran kekayaan intelektual ke mitra, kompleksitas mengelola hubungan antarorganisasi.
Contoh: kolaborasi Telkomsel dengan universitas dan startup dalam pengembangan teknologi 5G di Indonesia.
Matriks Pemilihan Mode Perolehan Teknologi
Studi Kasus: Transformasi Teknologi GoTo
Ringkasan Kasus
GoTo (gabungan Gojek dan Tokopedia) menghadapi kebutuhan memperkuat kapabilitas teknologi pembayaran digital dan logistik secara cepat.
Untuk teknologi inti seperti algoritma pencocokan pengemudi-penumpang, GoTo memilih make — dibangun dan terus disempurnakan tim internal.
Untuk memperluas kapabilitas pembayaran secara cepat, GoTo melakukan akuisisi beberapa startup teknologi finansial kecil.
Untuk teknologi pendukung yang sifatnya lebih umum (misalnya sebagian infrastruktur cloud), GoTo memakai lisensi dari penyedia layanan cloud global.
Pelajaran utama: perusahaan besar jarang memakai satu mode saja — mereka mengombinasikan make, buy (lisensi), dan akuisisi sesuai kepentingan strategis tiap komponen teknologi.
Risiko di Balik Setiap Mode Perolehan
Lisensi
Risiko ketergantungan vendor (vendor lock-in) — sulit dan mahal berpindah ke solusi lain setelah terikat kontrak jangka panjang.
Akuisisi
Risiko kegagalan integrasi budaya — talenta kunci target keluar, sinergi yang dijanjikan tidak pernah terwujud.
Kolaborasi R&D
Risiko kebocoran kekayaan intelektual — mitra riset bisa menjadi kompetitor setelah mempelajari rahasia teknologi Anda.
Tidak ada mode yang bebas risiko — tugas manajer teknologi bukan mencari mode "paling aman", melainkan memilih mode yang risikonya paling sesuai dengan kapasitas perusahaan untuk mengelolanya.
Checklist Keputusan Make-or-Buy
Sebelum Memutuskan, Tanyakan
Apakah teknologi ini sumber keunggulan bersaing inti perusahaan? Jika ya, pertimbangkan make.
Seberapa besar kesenjangan antara kapabilitas internal saat ini dengan yang dibutuhkan?
Seberapa mendesak waktu yang tersedia untuk memiliki teknologi ini siap pakai?
Berapa total biaya tiap opsi dalam horizon 3–5 tahun, bukan hanya tahun pertama?
Risiko mana (lock-in vendor, integrasi budaya, kebocoran IP) yang paling mampu dikelola organisasi kita?
Latihan Kelas: Analisis Kasus Make-or-Buy
Instruksi Tugas
Bentuk kelompok 3–4 orang. Pilih salah satu perusahaan Indonesia (BUMN, swasta nasional, atau startup) yang Anda kenal. Identifikasi satu kebutuhan teknologi baru yang relevan bagi perusahaan tersebut (misalnya sistem AI, teknologi ramah lingkungan, atau platform digital baru), lalu:
Nilai kebutuhan tersebut memakai tiga kriteria (kepentingan strategis, kesenjangan kapabilitas, urgensi waktu).
Tentukan rekomendasi mode perolehan (make/lisensi/akuisisi/kolaborasi R&D) dengan justifikasi memakai matriks pemilihan.
Sebutkan satu risiko utama dari mode yang Anda pilih dan cara memitigasinya.
Waktu diskusi kelompok: 15 menit. Presentasi singkat 2 menit per kelompok pada 20 menit terakhir sesi.
Ringkasan Pertemuan 5
Yang Sudah Anda Pelajari
Kerangka keputusan make-or-buy: kepentingan strategis, kesenjangan kapabilitas, urgensi waktu.
Tiga jalur "buy": lisensi (sewa hak pakai), akuisisi (beli kepemilikan), kolaborasi R&D (berbagi risiko).
Cara menghitung total biaya Build vs Buy dan biaya royalti lisensi secara konkret.
Menuju Pertemuan 6
Setelah teknologi diperoleh (dibangun/dibeli), bagaimana perusahaan mengelola fungsi R&D-nya?
Pertemuan 6 membahas organisasi fungsi R&D dan manajemen portofolio proyek inovasi.