stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-06
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 6: Evaluasi Program Pembelajaran & Pengembangan
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Manajemen Sumber Daya Manusia II

Pertemuan 6: Evaluasi Program Pembelajaran & Pengembangan

Perusahaan menghabiskan miliaran rupiah untuk training tiap tahun — tapi bagaimana kita membuktikan bahwa uang itu benar-benar kembali dalam bentuk kinerja yang lebih baik?

RPS MINGGU 6 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Mengapa Evaluasi Pembelajaran Penting
Dari pelatihan sebagai "kegiatan rutin" menuju pelatihan sebagai investasi yang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:

TUJUAN 1
Posisi Evaluasi
Menjelaskan letak evaluasi dalam siklus pembelajaran & pengembangan (L&D), dari analisis kebutuhan sampai umpan balik.
TUJUAN 2
Model Kirkpatrick
Menguraikan empat level evaluasi Kirkpatrick: Reaction, Learning, Behavior, dan Results — dengan contoh nyata Indonesia.
TUJUAN 3
Hitung ROI Training
Menghitung Return on Investment (ROI) pelatihan dan learning gain dari data pre-test/post-test secara langkah demi langkah.
TUJUAN 4
Tantangan Praktik
Mengidentifikasi kendala nyata implementasi evaluasi L&D di perusahaan Indonesia, termasuk UMKM dengan sumber daya terbatas.

Evaluasi dalam Siklus Pembelajaran & Pengembangan

Evaluasi bukan langkah terakhir yang berdiri sendiri — ia menutup lingkaran L&D (Learning & Development) dan memberi umpan balik ke tahap paling awal.

1. TNAAnalisis Kebutuhan2. DesainKurikulum & Metode3. PelaksanaanTraining Berjalan4. EvaluasiFokus Hari IniUmpan balik ke TNA periode berikutnya

Glosarium: TNA (Training Needs Analysis) = proses mengidentifikasi kesenjangan kompetensi sebelum program dirancang.

Model Evaluasi Kirkpatrick: Empat Level

Dikembangkan oleh Donald Kirkpatrick (1959), model ini tetap menjadi standar industri paling banyak dipakai untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan hingga hari ini.

4. Results3. Behavior2. Learning1. ReactionSulit diukur,dampak besarMudah diukur,dampak kecil

Level 1 — Reaction: Apakah Pesertanya Suka?

APA YANG DIUKUR
  • Kepuasan peserta terhadap materi, fasilitator, fasilitas
  • Relevansi materi dengan pekerjaan sehari-hari
  • Diukur segera setelah training selesai (happy sheet)
CONTOH INDONESIA
  • Survei kepuasan digital via Google Form setelah training
  • Skala Likert 1-5 di akhir workshop sales BCA
  • Kelemahan: reaksi positif ≠ pasti belajar sesuatu
Jebakan umum: banyak perusahaan berhenti di Level 1 saja — padahal skor kepuasan tinggi tidak menjamin kompetensi meningkat.

Level 2 — Learning: Apakah Ada yang Dipelajari?

APA YANG DIUKUR
  • Peningkatan pengetahuan, keterampilan, atau sikap
  • Dibandingkan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test)
  • Bisa berupa tes tertulis, ujian praktik, atau simulasi
CONTOH INDONESIA
  • Tes produk sebelum & sesudah training sales Tokopedia
  • Ujian sertifikasi K3 di pabrik manufaktur
  • Role-play penanganan komplain untuk staf customer service
Level ini menjadi dasar perhitungan "learning gain" yang akan kita hitung dari nol pada slide 18.

Level 3 — Behavior: Apakah Perilaku Kerja Berubah?

APA YANG DIUKUR
  • Penerapan hasil training di tempat kerja nyata
  • Diukur 3-6 bulan setelah training, bukan langsung
  • Metode: observasi atasan, umpan balik 360 derajat
CONTOH INDONESIA
  • Supervisor menilai apakah teller BCA benar-benar menerapkan SOP baru
  • Penilaian rekan kerja untuk soft skill kepemimpinan
  • Tantangan: perilaku bisa gagal berubah karena budaya kerja lama
Ini level yang paling sering gagal: peserta lulus tes (Level 2) tapi kembali ke kebiasaan lama karena atasan atau sistem kerja tidak mendukung perubahan.

Level 4 — Results: Apakah Bisnis Terdampak?

APA YANG DIUKUR
  • Dampak ke KPI bisnis: penjualan, produktivitas, retensi
  • Paling relevan bagi direksi & pemegang saham
  • Paling sulit diukur — banyak faktor lain ikut memengaruhi
CONTOH INDONESIA
  • Kenaikan penjualan setelah pelatihan sales Astra
  • Turunnya tingkat kecelakaan kerja pasca-training K3 pabrik
  • Penurunan turnover pegawai setelah program leadership
Level 4 inilah dasar perhitungan ROI Training yang akan kita bahas di Bagian 2 — mengubah dampak bisnis menjadi angka rupiah.
Bagian 2 dari 3
ROI Pelatihan & Efektivitas Biaya
Mengubah "dampak bisnis" pada Level 4 Kirkpatrick menjadi angka rupiah yang bisa dipertanggungjawabkan ke direksi.

Rumus ROI Pelatihan (Model Phillips)

Jack Phillips menambahkan Level 5: ROI sebagai pelengkap Level 4 Kirkpatrick — mengubah manfaat bisnis menjadi persentase pengembalian investasi.

ROI (%) = (Manfaat Bersih Program ÷ Biaya Program) × 100%
MANFAAT BERSIH (NET BENEFIT)

Total manfaat program (mis. kenaikan laba) dikurangi biaya program itu sendiri, setelah diisolasi dari faktor lain.

ISOLASI PENGARUH TRAINING

Karena banyak faktor memengaruhi hasil bisnis, tim HR memakai estimasi persentase (mis. dari survei manajer) untuk memisahkan kontribusi training dari faktor lain.

Hitung dari Nol #1 — ROI Program Training Sales

Kasus: PT Maju Bersama melatih 50 tenaga sales selama satu minggu. Setelah training, tim HR mengukur dampaknya terhadap penjualan.

LangkahPerhitunganNilai
1. Kenaikan laba kotor tercatat pasca-trainingdata penjualan 3 bulan setelah trainingRp600.000.000
2. Isolasi pengaruh training (estimasi manajer: 70%)Rp600.000.000 × 70%Rp420.000.000
3. Biaya total program (fasilitator, materi, akomodasi)diketahui dari anggaranRp150.000.000
4. Manfaat bersih programRp420.000.000 − Rp150.000.000Rp270.000.000
5. ROI Training(Rp270.000.000 ÷ Rp150.000.000) × 100%180%
HASIL AKHIR
180%
Tiap Rp1 yang diinvestasikan menghasilkan Rp1,80 manfaat bersih

Coba Sendiri: Hitung ROI Program Pelatihan Anda

Geser kenaikan laba, persentase isolasi pengaruh training, dan biaya program, lalu amati bagaimana ROI berubah.

Kirkpatrick vs. Phillips: Melengkapi, Bukan Mengganti

AspekKirkpatrick (4 Level)Phillips (+Level 5)
Fokus utamaReaksi, belajar, perilaku, hasil bisnisMenambahkan konversi hasil bisnis ke rupiah
Output akhirDeskriptif (naik/turun, ya/tidak)Angka ROI persentase, bisa dibandingkan lintas program
Kapan dipakaiSemua jenis training, termasuk soft skillProgram besar & mahal yang butuh justifikasi anggaran
TantanganLevel 3 & 4 sulit diukur objektifButuh isolasi pengaruh — rawan bias estimasi
Praktik terbaik: pakai Kirkpatrick untuk semua program, tambahkan perhitungan ROI Phillips khusus untuk program besar & berbiaya tinggi.

Metode Pengumpulan Data Evaluasi

SURVEI & KUESIONER
  • Level 1 (kepuasan)
  • Google Form, Typeform
  • Skala Likert 1-5
TES & ASESMEN
  • Level 2 (pembelajaran)
  • Pre-test/post-test
  • Ujian praktik, simulasi
OBSERVASI & DATA KPI
  • Level 3-4 (perilaku & hasil)
  • Penilaian atasan, 360°
  • Data penjualan, produktivitas
Kombinasikan ketiganya: satu metode saja hanya menangkap sebagian dari gambaran efektivitas program.

Studi Kasus: Evaluasi Program Customer Service Tokopedia

LANGKAH PERANCANGAN EVALUASI
  • Langkah 1 — Tentukan tujuan bisnis: menurunkan keluhan pelanggan yang tidak terselesaikan dalam 24 jam.
  • Langkah 2 — Rancang alat ukur per level: survei kepuasan (L1), tes penanganan kasus (L2), observasi supervisor (L3), data resolusi keluhan (L4).
  • Langkah 3 — Kumpulkan data baseline sebelum training agar ada pembanding "sebelum vs sesudah".
  • Langkah 4 — Jalankan training & ukur tiap level bertahap — L1-L2 langsung, L3-L4 setelah 3 bulan.
  • Langkah 5 — Laporkan ke manajemen dalam bentuk dashboard yang menghubungkan training dengan penurunan keluhan aktual.
Bagian 3 dari 3
Tantangan & Praktik di Indonesia
Teori evaluasi terlihat rapi di atas kertas — bagaimana kenyataannya di lapangan, termasuk di UMKM dengan sumber daya terbatas?

Tantangan Implementasi Evaluasi L&D di Indonesia

Keterbatasan anggaran & SDM. UMKM dan perusahaan kecil sering tak punya tim HR khusus untuk merancang instrumen evaluasi Level 3-4 yang butuh waktu berbulan-bulan.
Budaya "training = liburan kantor". Sebagian pegawai menganggap pelatihan sebagai jeda dari rutinitas, bukan investasi kompetensi — memengaruhi validitas data Level 1.
Sulit mengisolasi pengaruh training. Kenaikan penjualan bisa disebabkan musim, promosi, atau kondisi ekonomi — bukan murni hasil pelatihan.
Data KPI tidak terintegrasi. Sistem HR dan sistem penjualan/operasional sering terpisah, sehingga menghubungkan training dengan hasil bisnis butuh kerja manual ekstra.

Hitung dari Nol #2 — Learning Gain & Biaya per Peserta

Kasus yang sama: PT Maju Bersama menguji pengetahuan produk 50 sales sebelum & sesudah training (skala 0-100).

LangkahPerhitunganNilai
1. Skor rata-rata pre-testrata-rata 50 peserta55
2. Skor rata-rata post-testrata-rata 50 peserta78
3. Kenaikan skor (Learning Gain)78 − 5523 poin
4. Persentase kenaikan(23 ÷ 55) × 100%~41,8%
5. Biaya per peserta (cost per trainee)Rp150.000.000 ÷ 50 pesertaRp3.000.000
LEARNING GAIN
~41,8%
Kenaikan skor pengetahuan produk
COST PER TRAINEE
Rp3 jt
Biaya pelatihan per pegawai

Latihan Kelas: Hitung Sendiri

INSTRUKSI DISKUSI KELOMPOK (15 MENIT)

PT Nusantara Ritel melatih 40 kasir dengan biaya total Rp80.000.000. Skor rata-rata pre-test 60, post-test 82. Estimasi kenaikan omzet akibat training (setelah isolasi pengaruh) adalah Rp180.000.000.

  • Hitung Learning Gain (poin & persentase)
  • Hitung Cost per Trainee
  • Hitung ROI Training program ini
  • Diskusikan: apakah ROI ini cukup meyakinkan direksi untuk melanjutkan program serupa tahun depan?
Kerjakan berkelompok 3-4 orang, gunakan rumus yang sama seperti slide 12 dan 18. Kita bahas jawabannya bersama setelah waktu habis.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 7

CHEAT SHEET HARI INI
  • Level 1-4 Kirkpatrick: Reaction → Learning → Behavior → Results
  • ROI Training: (Manfaat Bersih ÷ Biaya Program) × 100%
  • Learning Gain: Skor Post-test − Skor Pre-test
  • Cost per Trainee: Biaya Total ÷ Jumlah Peserta
MINGGU DEPAN
Pertemuan 7
Kita beralih ke sisi hubungan industrial: penanganan keluhan pekerja & pemenuhan hak normatif. Bawa contoh kasus keluhan kerja dari lingkungan Anda (magang/kerja part-time) untuk didiskusikan.

📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.