stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-05
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 5: Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran & Pengembangan (Training and Development)
Program Studi Manajemen • FEB

Manajemen Sumber Daya Manusia II

Pertemuan 5 — Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran & Pengembangan (Training and Development)

Dari analisis kebutuhan pelatihan sampai evaluasi hasil — bagaimana organisasi merancang, melaksanakan, dan mengukur program pembelajaran & pengembangan pegawai secara operasional.

RPS MINGGU 5 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Merancang Kebutuhan Pembelajaran
Konsep dasar training and development, siklus L&D, dan cara mengidentifikasi kesenjangan kompetensi.

Training and Development: Definisi & Ruang Lingkup

TRAINING (PELATIHAN)
  • Fokus pada peningkatan keterampilan spesifik untuk pekerjaan saat ini.
  • Jangka pendek, hasil ingin segera terlihat di pekerjaan.
  • Contoh: pelatihan kasir menggunakan mesin EDC baru di Indomaret.
DEVELOPMENT (PENGEMBANGAN)
  • Fokus pada kesiapan karier jangka panjang, bukan hanya tugas saat ini.
  • Jangka panjang, mempersiapkan peran masa depan (mis. jenjang manajerial).
  • Contoh: program Management Trainee Astra untuk calon pemimpin masa depan.
Istilah payungnya adalah Learning & Development (L&D) — mencakup training, development, sekaligus pembelajaran informal (mentoring, coaching, on-the-job learning).

Siklus Pembelajaran & Pengembangan (L&D Cycle)

Lima tahap berurutan dan berulang — bukan kegiatan sekali jadi.

AnalisisKebutuhan (TNA)DesainTujuan & MetodePengembanganMateri & MediaPelaksanaanDeliveryEvaluasiHasil & Dampakhasil evaluasi menjadi input analisis kebutuhan berikutnya

Training Needs Analysis (TNA): Tiga Level Analisis

LEVEL ORGANISASI
Organizational Analysis
Menelaah tujuan strategis perusahaan — misalnya Bank Mandiri butuh pelatihan literasi digital menyeluruh untuk mendukung transformasi digital banking.
LEVEL TUGAS
Task Analysis
Menelaah standar kompetensi tiap pekerjaan — keterampilan apa yang dibutuhkan seorang relationship officer agar bekerja optimal.
LEVEL INDIVIDU
Person Analysis
Menelaah kinerja pegawai secara individual — siapa yang skornya di bawah standar dan butuh pelatihan tertentu.
Kesalahan umum: langsung merancang pelatihan tanpa TNA — hasilnya program "sekadar ada", tidak menyasar masalah nyata di lapangan.

Hitung dari Nol: Kesenjangan Kompetensi (Training Gap)

Kasus: tim customer service sebuah bank harus mencapai skor kompetensi minimal 80 dari hasil assessment center.

LangkahPerhitunganNilai
Standar kompetensi minimal (target)80 poin
Skor kompetensi aktual (rata-rata tim)62 poin
Kesenjangan (gap) kompetensi80 − 6218 poin
Kenaikan skor per sesi pelatihan (asumsi)6 poin/sesi
Jumlah sesi pelatihan dibutuhkan18 ÷ 63 sesi
Total jam pelatihan (4 jam/sesi)3 × 4 jam12 jam
KEBUTUHAN PELATIHAN
12 jam/karyawan
Barulah setelah itu, jadwal dan anggaran pelatihan bisa disusun secara realistis.

Menyusun Tujuan Pembelajaran (Learning Objectives)

Tujuan pelatihan harus dirumuskan SMART agar bisa dievaluasi di akhir.

KRITERIA SMART
  • Specific — keterampilan yang jelas, bukan umum.
  • Measurable — ada indikator terukur.
  • Achievable — realistis dicapai peserta.
  • Relevant — sesuai kebutuhan pekerjaan.
  • Time-bound — ada batas waktu pencapaian.
CONTOH PENERAPAN

"Setelah 3 sesi pelatihan (12 jam), peserta customer service mampu menyelesaikan keluhan nasabah dalam waktu ≤ 5 menit dengan skor kepuasan ≥ 80, dalam 1 bulan sejak pelatihan selesai."

Metode Pelatihan: On-the-Job vs Off-the-Job

AspekOn-the-Job TrainingOff-the-Job Training
LokasiLangsung di tempat kerjaDi luar tempat kerja (kelas, hotel, online)
BiayaRelatif rendahRelatif lebih tinggi (venue, trainer, modul)
ContohCoaching, mentoring, job rotationWorkshop, seminar, e-learning
KelebihanLangsung relevan, minim gangguan operasionalFokus penuh, tanpa distraksi pekerjaan harian
KekuranganRawan diinterupsi tugas harianButuh waktu transfer ke pekerjaan nyata
Bagian 2 dari 3
Pelaksanaan (Delivery)
Merancang program, memilih trainer, menghitung biaya, dan menghadapi tantangan lapangan.

Desain Program Pelatihan: Komponen Kunci

MATERI
Kurikulum
Disusun berdasarkan tujuan SMART & hasil TNA — bukan sekadar materi generik dari internet.
METODE
Cara Penyampaian
Ceramah, simulasi, studi kasus, role-play — disesuaikan gaya belajar peserta dewasa.
MEDIA
Alat Bantu
Modul cetak, slide, video, LMS (Learning Management System) seperti yang dipakai BCA Learning Institute.
JADWAL
Waktu & Durasi
Disesuaikan beban kerja peserta agar tidak mengganggu operasional harian unit kerja.

Peran Pelatih: Trainer Internal vs Eksternal

TRAINER INTERNAL
  • Karyawan senior/atasan langsung yang ditugaskan melatih.
  • Biaya lebih rendah, memahami konteks perusahaan secara mendalam.
  • Contoh: supervisor toko melatih kasir baru Alfamart.
TRAINER EKSTERNAL / VENDOR
  • Konsultan atau lembaga pelatihan profesional dari luar.
  • Biaya lebih tinggi, tapi membawa perspektif & keahlian khusus.
  • Contoh: lembaga sertifikasi K3 untuk pelatihan keselamatan kerja pabrik.
Keputusan internal vs eksternal bergantung pada: ketersediaan keahlian internal, urgensi, dan anggaran — sering kali perusahaan menggabungkan keduanya (blended approach).

Studi Kasus: Unit L&D di Perusahaan Indonesia

PERBANKAN
BCA Learning Institute
Unit pelatihan khusus BCA dengan kurikulum berjenjang untuk teller, customer service, hingga jalur kepemimpinan — memakai LMS digital & simulasi branch.
OTOMOTIF
Astra Management Development Institute
Program Management Trainee multi-tahun untuk menyiapkan calon pemimpin lintas anak perusahaan grup Astra.
Pola umum: perusahaan besar Indonesia membentuk unit L&D mandiri (bukan sekadar bagian kecil HRD) karena skala kebutuhan pelatihan yang besar & berkelanjutan.

Hitung dari Nol: Biaya Pelatihan per Karyawan

Kasus: perusahaan ritel mengadakan pelatihan customer service 2 hari untuk 50 karyawan.

LangkahPerhitunganNilai
Biaya trainer eksternal (flat)Rp 15.000.000
Biaya modul & materi pelatihanRp 3.000.000
Biaya venue & konsumsi (2 hari)Rp 2.000.000
Total biaya pelatihan15jt + 3jt + 2jtRp 20.000.000
Jumlah peserta pelatihan50 karyawan
Biaya per karyawan (cost per trainee)Rp 20.000.000 ÷ 50Rp 400.000
COST PER TRAINEE
Rp 400.000
Angka ini yang dibandingkan dengan anggaran L&D per kepala saat menyusun proposal tahunan.

Format Pelaksanaan: Klasikal, E-learning, Blended

FormatKarakteristikContoh Penerapan
Klasikal (tatap muka)Interaksi langsung, cocok materi kompleks/soft skillWorkshop kepemimpinan Astra
E-learningFleksibel waktu & lokasi, biaya per peserta rendahModul kepatuhan & produk BCA via LMS
Blended LearningKombinasi online (teori) + tatap muka (praktik/simulasi)Onboarding teller bank besar
Tren pasca-pandemi: mayoritas perusahaan Indonesia beralih ke blended learning — efisien biaya tanpa kehilangan sesi praktik penting.

Tantangan Pelaksanaan Pelatihan di Lapangan

TANTANGAN 1
JADWAL BENTROK
Peserta ditarik kembali ke pekerjaan operasional di tengah sesi — umum terjadi di ritel & layanan pelanggan.
TANTANGAN 2
ANGGARAN TERBATAS
Cost per trainee harus ditekan tanpa mengorbankan kualitas — sering diatasi lewat e-learning atau trainer internal.
TANTANGAN 3
RESISTENSI PESERTA
Karyawan senior merasa "sudah cukup berpengalaman" sehingga kurang termotivasi mengikuti pelatihan baru.
TANTANGAN 4
TRANSFER LEMAH
Materi pelatihan tidak diterapkan kembali di tempat kerja — butuh dukungan atasan langsung pasca-pelatihan.
Bagian 3 dari 3
Evaluasi Pembelajaran & Pengembangan
Mengukur apakah pelatihan benar-benar berhasil — dari reaksi peserta sampai dampak bisnis.

Model Evaluasi Kirkpatrick: 4 Level

Level 1 — Reaksi (Reaction)Apakah peserta puas dengan pelatihan? (survei kepuasan)Level 2 — Pembelajaran (Learning)Apakah pengetahuan/keterampilan bertambah? (tes sebelum-sesudah)Level 3 — Perilaku (Behavior)Apakah perilaku kerja berubah nyata? (observasi 1–3 bulan pasca)Level 4 — Hasil (Results)Apakah berdampak ke hasil bisnis? (produktivitas, penjualan, ROI)

Level 4: Menghitung Return on Training Investment

Melanjutkan kasus pelatihan customer service (biaya Rp 20.000.000) — misal nilai manfaat terukur dari peningkatan penjualan pasca-pelatihan adalah Rp 30.000.000.

ROI Pelatihan = (Manfaat − Biaya) ÷ Biaya × 100%
LangkahPerhitunganNilai
Manfaat terukur (kenaikan penjualan)Rp 30.000.000
Biaya pelatihan (dari Hitung dari Nol 2)Rp 20.000.000
Selisih manfaat – biaya30jt − 20jtRp 10.000.000
ROI pelatihan10jt ÷ 20jt × 100%50%

Latihan: Rancang TNA & Rencana Evaluasi

Kerjakan berkelompok (3–4 orang), 15 menit. Kasus: sebuah UMKM ritel di Semarang punya 20 pegawai kasir dengan keluhan pelanggan meningkat.

LANGKAH 1
TNA
Tentukan level analisis mana yang relevan & asumsikan skor gap kompetensinya.
LANGKAH 2
Desain
Pilih metode, format (klasikal/e-learning/blended), dan trainer internal/eksternal.
LANGKAH 3
Evaluasi
Tentukan indikator tiap level Kirkpatrick yang akan diukur setelah pelatihan.
Dua kelompok akan diminta presentasi singkat (2 menit) — kelas lain boleh menguji apakah rencana TNA → evaluasi sudah konsisten.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya

CHEAT SHEET — SIKLUS L&D
TahapInti
TNA3 level (organisasi, tugas, individu) — hitung gap kompetensi
DesainTujuan SMART, metode on/off-the-job, materi & media
PelaksanaanTrainer internal/eksternal, format klasikal/e-learning/blended, hitung cost per trainee
EvaluasiKirkpatrick 4 level: reaksi, pembelajaran, perilaku, hasil (ROI)
MINGGU DEPAN (P6)
Melanjutkan ke sisi hubungan industrial: penanganan keluhan pekerja & pemenuhan hak normatif.
TUGAS
RENCANA TNA
Selesaikan rencana TNA & evaluasi kelompok Anda menjadi satu lembar penuh sebelum pertemuan berikutnya.

📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.