‹ Daftar slidePertemuan 12: Simulasi dalam Pengambilan Keputusan
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Sains
Pertemuan 12 — Simulasi dalam Pengambilan Keputusan
Ketika dunia nyata terlalu kompleks untuk rumus tertutup: prinsip Monte Carlo (metode simulasi menggunakan angka acak untuk mengestimasi distribusi output), simulasi antrian manual, dan cara membaca distribusi output untuk keputusan bisnis yang lebih kuat.
RPS MINGGU 13 • SUB-CPMK 7 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengerjakan Simulasi dalam Pengambilan Keputusan (Sub-CPMK 7). Secara rinci:
Capaian 1 — Konsep
Membedakan jenis simulasi (diskret vs kontinu, Monte Carlo vs antrian) dan memahami peran angka acak dalam mapping distribusi probabilitas.
Capaian 2 — Prosedur
Melakukan 5 langkah simulasi Monte Carlo — dari definisi model hingga analisis output distribusi.
Capaian 3 — Hitung
Membangun tabel simulasi antrian manual 10+ pelanggan dan menghitung Wq (waktu tunggu rata-rata) serta Lq (panjang antrean rata-rata); jalankan simulasi investasi Monte Carlo sederhana.
Capaian 4 — Evaluasi
Menilai keandalan simulasi menggunakan MAE (mean absolute error), RMSE (root mean square error), standar deviasi antar-run, validasi & verifikasi model.
Mengapa Simulasi? Ketika Rumus Analitik Tidak Cukup
Model Analitik (M/M/1, LP)
Cepat, solusi eksak, asumsi ketat: distribusi Poisson, waktu layanan eksponensial, satu jalur, antrian tak terbatas. Cocok untuk steady-state sederhana.
Kondisi Nyata
Kedatangan pelanggan bervariasi per jam. Waktu layanan berbeda tiap staf. Ada batas kapasitas parkir, server bisa down, waktu layanan tidak eksponensial. Model analitik gagal.
Simulasi menggantikan asumsi ketat dengan distribusi empiris (distribusi probabilitas yang dibangun dari data observasi nyata, bukan asumsi teori) — dan mencoba ribuan skenario untuk memperkirakan distribusi output, bukan satu angka tunggal.
Contoh riil — Bank BRI Unit Tembalang: jam 08–10 WIB, kedatangan nasabah tidak seragam, ada 2 teller, rata-rata layanan variatif. Berapa teller minimum agar Wq < 5 menit pada hari Senin? → Simulasi menjawabnya dengan distribusi, bukan satu angka.
Bagian 1 dari 4
Konsep & Taksonomi Simulasi
Jenis-jenis simulasi, peran angka acak, dan cara memetakan distribusi probabilitas ke angka acak.
DiskretKontinuMonte Carlo
Jenis Simulasi — Diskret vs Kontinu
Simulasi Diskret (DES)
DES (discrete-event simulation) — Perubahan state sistem terjadi pada titik waktu terpisah (events). Jam simulasi melompat dari event ke event. Contoh: kedatangan pelanggan (event), selesainya layanan (event). → Antrian, manufaktur, logistik.
Simulasi Kontinu
Perubahan state sistem berjalan menerus mengikuti persamaan diferensial. Contoh: model populasi bakteri, debit aliran sungai, dinamika harga saham (GBM — geometric Brownian motion, model pergerakan harga aset kontinu). → Rekayasa, epidemiologi, finansial lanjut.
MK ini fokus ke diskret (DES) karena paling relevan untuk masalah operasi bisnis dan antrean. Monte Carlo bisa diskret atau kontinu tergantung variabel yang disimulasi.
Dimensi
Diskret
Kontinu
Jam simulasi
melompat (event-driven)
berjalan terus (time-step)
Contoh
antrian bank BRI
dinamika harga saham IDX
Alat umum
tabel angka acak, Arena
persamaan diferensial, Python SciPy
Simulasi Monte Carlo — Gagasan Inti
Monte Carlo = teknik menggunakan angka acak untuk mencuplik nilai dari distribusi probabilitas dan menjalankan model berkali-kali guna mengestimasi distribusi output.
Pilar 1
①
Distribusi Input
Tentukan ketidakpastian dengan distribusi probabilitas (empiris atau teoritik).
Pilar 2
②
Pencuplikan Acak
Pencuplikan (sampling) = pengambilan nilai acak dari distribusi. Hasilkan angka acak [0,1] → petakan ke nilai variabel input via CDF.
Pilar 3
③
Repetisi
Repetisi (replication) = satu kali menjalankan simulasi dari awal. Ulangi N kali besar; output = distribusi, bukan satu titik.
Nama "Monte Carlo" berasal dari kasino di Monaco. Dikembangkan di Los Alamos akhir 1940-an untuk difusi neutron (Proyek Manhattan). Gagasan inti: Stanislaw Ulam; algoritma komputasi: John von Neumann; nama "Monte Carlo": Nicholas Metropolis.
Angka Acak (Random Numbers) — Jantung Simulasi
Angka acak dalam simulasi adalah angka pseudo-random (angka yang dihasilkan algoritma deterministik tetapi tampak acak secara statistik) — bukan benar-benar acak. Yang penting: lolos uji statistik keseragaman & kebebasan.
Tabel Angka Acak 2-digit (40 angka latihan) — baca kiri ke kanan, baris demi baris
Di komputer: =RAND() Excel, random.uniform(0,1) Python — angka pseudo-random sudah diuji kualitasnya. Di simulasi manual: gunakan tabel angka acak dari lampiran buku teks.Seed (nilai awal penentu rangkaian pseudo-random) — seed sama menghasilkan rangkaian sama, berguna untuk replikasi.
Mapping: Distribusi Probabilitas → Angka Acak
Teknik kunci: CDF (cumulative distribution function — fungsi distribusi kumulatif, nilai P(X ≤ x) untuk setiap x) dipakai untuk memetakan angka acak [00–99] ke nilai variabel.
Interval Kedatangan (menit)
Probabilitas
CDF (kumulatif)
Angka Acak 2-digit
1
0,25
0,25
00–24
2
0,40
0,65
25–64
3
0,20
0,85
65–84
4
0,15
1,00
85–99
Contoh: angka acak = 39 → jatuh di rentang 25–64 → interval kedatangan = 2 menit.
Rentang angka acak proporsional terhadap probabilitas: P=0,25 → 25 angka (00–24); P=0,40 → 40 angka (25–64). Teknik ini disebut metode inverse transform.
Coba Sendiri: Jalankan Simulasi Monte Carlo Berulang
Tarik angka acak berulang kali memakai metode inverse transform, lalu amati bagaimana histogram output terbentuk semakin rapat mengikuti distribusi teoretis seiring bertambahnya jumlah run.
Bagian 2 dari 4
Lima Langkah Prosedur Simulasi
Dari definisi model hingga analisis output — kerangka sistematis yang berlaku untuk Monte Carlo maupun simulasi antrian.
5 Langkah Universal
Lima Langkah Prosedur Simulasi
1
Definisi Model — Identifikasi sistem, batas model, variabel input (acak & deterministik), variabel output, logika proses.
2
Distribusi Input — Kumpulkan data historis → fit distribusi (empiris, normal, Poisson, eksponensial) → validasi dengan uji goodness-of-fit (uji statistik apakah data cocok distribusi teoritis).
3
Generate Angka Acak — Hasilkan angka acak → petakan ke nilai variabel input via CDF (inverse transform).
4
Run Iterasi — Jalankan satu "siklus" simulasi (satu hari, satu jam, satu run). Catat output. Ulangi N kali.
5
Analisis Output — Hitung statistik output (mean, std dev, CI 95%), visualisasi distribusi, uji sensitivitas, buat rekomendasi.
Jangan lewatkan Langkah 2 — distribusi input yang salah lebih merusak hasil daripada jumlah iterasi yang sedikit. "GIGO" (garbage in, garbage out — output simulasi hanya sebaik kualitas input).
Distribusi Input — Teoritik vs Empiris
Distribusi Teoritik
Pakai ketika data sedikit atau ada teori kuat. Contoh: kedatangan → Poisson (λ = rata-rata kejadian/periode, diskret); waktu layanan → Eksponensial (μ, kontinu); return investasi → Normal (μ, σ); return saham → Log-normal (tidak bisa negatif).
Distribusi Empiris
Pakai ketika data historis cukup dan tidak ada distribusi teoritik yang pas. Bangun tabel frekuensi relatif → CDF → mapping angka acak. Lebih akurat untuk sistem unik. Waspadai fat-tailed (berekor tebal) pada return saham IDX saat krisis.
Variabel
Distribusi Umum
Jumlah kedatangan/periode
Poisson
Waktu antar-kedatangan
Eksponensial
Waktu layanan
Eksponensial / Gamma
Return aset keuangan (BBCA/TLKM)
Normal / Log-normal
Permintaan produk
Normal (simetris) atau Empiris
Bagian 3 dari 4
Simulasi Antrian Manual & Keuangan
Hitung dari Nol: tabel simulasi 10 pelanggan (antrian), dan Monte Carlo investasi 15 tahun dengan 4 opsi.
Hasil Skenario A: Total waktu tunggu = 7 mnt → Wq = 7/10 = 0,70 mnt (hanya 10 pelanggan, belum konvergen)
Skenario B — Perbandingan M/M/1 Stabil (λ=0,40/mnt, μ=0,50/mnt, ρ=0,80)
Metrik
M/M/1 Analitik
Simulasi 10 Pelanggan (ilustrasi)
Lq (pelanggan)
3,20
~1,5–4,0
Wq (menit)
8,0
~5–12 (tergantung seed)
L (pelanggan)
4,0
~2–5
W (menit)
10,0
~7–14
Konvergensi: dengan 1.000 pelanggan, Wq simulasi mendekati nilai analitik 8,0 mnt dan Lq mendekati 3,20 pelanggan. Skenario A dan B menggunakan parameter berbeda — keduanya bukan simulasi yang sama.
Hitung dari Nol — HDN-2: Monte Carlo Investasi 15 Tahun
Modal awal Rp 100 juta; 4 opsi investasi; prosedur per run: tarik rt ~ N(μ,σ) via =NORM.INV(RAND();μ;σ) → Vt = Vt-1 × (1+rt); ulangi t=1..15; catat V15. Semua angka return = ilustrasi pedagogis.
Opsi
μ (return rata-rata)
σ (std dev)
Expected V15
Std Dev V15
P(Rugi)
Deposito BRI
~5,0%
~0,5%
Rp 207,9 jt
Rp 5,5 jt
~0%
Obligasi Negara (ORI/SBR)
~6,5%
~1,5%
Rp 258,7 jt
Rp 34,2 jt
~0%
Index Fund IDX30
~10,0%
~15,0%
Rp 418,0 jt
Rp 218,5 jt
~14,5%
Saham Individual (BBCA)
~12,0%
~22,0%
Rp 536,0 jt
Rp 408,0 jt
~24,8%
Profil risiko moderat → pilih Obligasi Negara (ORI/SBR). ORI (Obligasi Ritel Indonesia — surat berharga negara berbunga tetap) / SBR (Savings Bond Ritel — kupon mengambang). Expected value tertinggi di antara opsi P(Rugi) ≈ 0%. IDX30 = indeks 30 saham terliquid di BEI. BBCA = PT Bank Central Asia Tbk. Cek kupon ORI/SBR aktual di djppr.kemenkeu.go.id.
Studi Kasus: Investor Ritel Memilih Portofolio
Seorang dosen muda di Semarang (usia 30) punya Rp 50 juta untuk investasi jangka panjang. OJK mewajibkan profil risiko terlebih dahulu. Hasilnya: moderat.
Opsi Konservatif — ORI025
Kupon ~6,45%/tahun (ilustrasi), tenor 3 tahun, minimal Rp 1 juta, dijamin pemerintah. Monte Carlo: P(Rugi) ≈ 0%, V3th ≈ Rp 60 jt, volatilitas rendah. Dijual via BCA, BRI, Mandiri, Bibit, Bareksa.
Opsi Moderat — Campuran
60% ORI + 40% reksa dana index IDX30 (reksa dana index = reksa dana yang mengikuti komposisi indeks pasar, biaya rendah). Monte Carlo: Expected V3th ≈ Rp 62 jt, Std Dev ≈ Rp 8 jt, P(Rugi) ≈ 3%.
Simulasi menunjukkan mencampurkan 40% index fund menambah ~3% pada nilai harapan akhir 3 tahun (dari Rp 60 jt ke Rp 62 jt), dengan konsekuensi kemungkinan rugi naik dari ~0% ke ~3%. Angka "3%" pertama = selisih nilai akhir; angka "3%" kedua = probabilitas kerugian — dua hal berbeda. Keputusan akhir tergantung toleransi risiko investor.
Simulasi Kapasitas Produksi — PT Astra International (Ilustrasi)
PT Astra menghadapi permintaan kendaraan yang berfluktuasi. Berapa kapasitas produksi optimal untuk meminimalkan stockout (kekurangan stok) + overstock (kelebihan stok)?
Permintaan bulanan: N(μ=25.000 unit, σ=4.000 unit). Biaya stockout: Rp 15 jt/unit. Biaya overstock: Rp 3 jt/unit.
Kapasitas
Biaya Rata-rata/Bulan
Std Dev Biaya
23.000 unit
Rp 68 M
Rp 15 M
25.000 unit
Rp 41 M
Rp 12 M
26.000 unit (optimal)
Rp 38 M
Rp 11 M
28.000 unit
Rp 45 M
Rp 10 M
Kapasitas 26.000 unit meminimalkan biaya total (output simulasi 1.000 bulan). Di bawahnya, biaya stockout mendominasi; di atasnya, overstock boros. Simulasi menemukan titik optimal yang tidak bisa dihitung analitik karena distribusi tidak simetris.
Simulasi Kebijakan Maintenance: Preventive vs Corrective
Pabrik mie instan di Semarang punya 5 mesin. Manajer harus memilih: preventive maintenance / PM (perawatan terjadwal sebelum mesin rusak) atau corrective maintenance / CM (perbaikan setelah rusak).
Parameter: waktu antar-kerusakan Weibull(α=200 jam, β=2) (distribusi Weibull = waktu-ke-kerusakan, fleksibel — memodel "wear-out failure"). Biaya CM = Rp 60 jt/insiden. Biaya PM tiap 150 jam = Rp 18 jt.
Kebijakan
Biaya Rata-rata/Mesin/2.000 jam
Availability
Corrective only
~Rp 260 jt
~82%
PM tiap 150 jam (optimal)
~Rp 180 jt
~93%
PM tiap 100 jam
~Rp 195 jt
~95%
PM tiap 150 jam dominan: biaya lebih rendah 31% dari corrective saja, availability (persentase waktu sistem beroperasi normal) naik dari 82% ke 93%. PM terlalu sering (100 jam) malah boros karena PM-cost melebihi penghematan.
yi = nilai aktual/benchmark (mis. Wq analitik); ŷi = nilai prediksi simulasi
Contoh Hitung — 4 Run Wq vs Benchmark = 8,0 mnt
Langkah
Perhitungan
Nilai
Run 1: Wq=5,5
Error = 8,0−5,5 = 2,5; |Error|=2,5; Error²=6,25
|e|=2,5
Run 2: Wq=9,2
Error = 8,0−9,2 = −1,2; |Error|=1,2; Error²=1,44
|e|=1,2
Run 3: Wq=7,1
Error = 8,0−7,1 = 0,9; |Error|=0,9; Error²=0,81
|e|=0,9
Run 4: Wq=11,0
Error = 8,0−11,0 = −3,0; |Error|=3,0; Error²=9,00
|e|=3,0
MAE
(2,5+1,2+0,9+3,0)/4 = 7,6/4
1,90 mnt
RMSE
√[(6,25+1,44+0,81+9,00)/4] = √(4,375)
2,09 mnt
Std Dev antar-run yang menurun seiring bertambahnya N adalah sinyal konvergensi (kondisi estimasi mendekati nilai teoritis). Jika Std Dev sudah stabil, tambah iterasi tidak lagi meningkatkan presisi secara berarti.
Berapa Iterasi yang Cukup? (Scalability)
Tidak ada jawaban tunggal — tergantung variabilitas sistem dan presisi yang dibutuhkan. Panduan praktis:
1
Rule of thumb awal: mulai dengan N = 1.000 run. Cek apakah mean output stabil saat dinaikkan ke 10.000.
2
Uji konvergensi: plot running mean (rata-rata kumulatif output) vs N. Jika kurva "flat" → cukup.
3
Half-width CI: CI 95% = x̄ ± 1,96 × (σ/√N). Jika half-width (std error = σ/√N) < 5% dari mean → presisi memadai.
4
Scalability indicator: keputusan high-stakes (infrastruktur, finansial besar) → N ≥ 10.000. Eksplorasi awal: N = 100–500 sudah memberi gambaran.
N iterasi
Std Error (σ=10)
CI 95% Half-width
10
3,16
±6,19
100
1,00
±1,96
1.000
0,32
±0,62
10.000
0,10
±0,20
Validasi & Verifikasi — Dua Cek Berbeda
Verifikasi — "Apakah model dibangun dengan benar?"
Cek logika & kode model. Pastikan model melakukan apa yang dimaksudkan. Alat: trace (menelusuri satu run step-by-step), unit test, debugging. "Bangun model dengan benar."
Validasi — "Apakah model yang benar?"
Cek apakah output model sesuai realitas. Bandingkan output simulasi dengan data historis aktual atau hasil observasi lapangan. Libatkan subject matter expert (pakar domain). "Bangun model yang benar."
Checklist Validasi Praktis
☐ Output simulasi kondisi deterministik = solusi analitik?
☐ Mean dan variance output mendekati data historis?
☐ Sensitivitas output terhadap perubahan parameter sesuai logika (makin ramai → Wq makin panjang)?
Model yang terverifikasi tapi tidak tervalidasi = simulasi yang benar secara teknis tapi tidak merepresentasikan dunia nyata. Kedua cek ini wajib dilakukan sebelum melaporkan hasil.
Output Distribution & Confidence Interval
Simulasi menghasilkan distribusi output, bukan angka tunggal. Cara mengkomunikasikannya: histogram + confidence interval.
CI 95% = x̄ ± 1,96 × (s / √N)
x̄ = mean output; s = std dev output; N = jumlah run
Contoh Hitung — Simulasi 1.000 Run Wq Antrian Bank
Langkah
Perhitungan
Nilai
Input
x̄ = 4,3 mnt; s = 1,8 mnt; N = 1.000
—
Std Error
s/√N = 1,8/√1.000 = 1,8/31,62
0,0569
Half-width
1,96 × 0,0569
0,11 mnt
CI 95%
4,3 ± 0,11
[4,19; 4,41] mnt
Cara melaporkan ke manajemen: "Berdasarkan 1.000 skenario simulasi, waktu tunggu pelanggan rata-rata diperkirakan 4,3 menit dengan CI 95% [4,19; 4,41] menit. Terdapat ~15% skenario di mana waktu tunggu melebihi 8 menit." Laporkan mean + CI + percentile (P80/P95 — nilai di mana 80%/95% observasi berada di bawahnya), bukan hanya mean.
Simulasi Risiko Banjir — Perencanaan Infrastruktur Semarang
Kota Semarang menghadapi risiko rob (banjir air laut akibat pasang surut dan penurunan muka tanah) dan banjir hujan tahunan yang berdampak pada bisnis, logistik, dan nilai properti.
Input: distribusi curah hujan harian (BMKG 10 tahun), kapasitas drainase eksisting, laju land subsidence (penurunan permukaan tanah akibat ekstraksi air tanah) ~5–15 cm/tahun di Semarang Utara. Skenario: baseline (tanpa intervensi) vs investasi Banjir Kanal Barat + rumah pompa + normalisasi sungai.
Skenario
Expected Loss/Tahun
P(Loss > Rp 500 M)
Baseline (tanpa intervensi)
~Rp 780 M
~42%
Investasi infrastruktur
~Rp 280 M
~8%
Simulasi memberikan nilai ekonomi investasi infrastruktur: pengurangan expected loss Rp 500 M/tahun. Ini bisa dijadikan dasar analisis cost-benefit KPBU (Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha — skema pembiayaan infrastruktur publik) atau APBD Kota Semarang.
Coba Sendiri: Teknik Pelengkap — Rantai Markov untuk Pertanyaan Jangka Panjang
Simulasi Monte Carlo menjawab "seperti apa distribusi hasilnya?" dengan mencoba ribuan skenario. Untuk pertanyaan jangka panjang/steady-state yang polanya berupa perpindahan antar-status berulang (mis. pelanggan berpindah merek tiap periode), Rantai Markov kadang bisa menjawabnya langsung secara analitik tanpa perlu simulasi. Ubah probabilitas perpindahan pangsa pasar dan amati bagaimana sistem mengarah ke satu titik keseimbangan (steady state).
Ringkasan — Kapan dan Bagaimana Memakai Simulasi
Dimensi
Ringkasan
Kapan pakai
Model analitik gagal; asumsi dilanggar; perlu distribusi output, bukan angka tunggal
Jenis utama
Diskret (antrian, manufaktur) • Kontinu (finansial, ekologi) • Monte Carlo (sampling)
Distribusi empiris → CDF → rentang angka acak proporsional
Akurasi
MAE, RMSE (vs benchmark) • Std Dev antar-run (konvergensi)
Output
Laporkan: mean + CI 95% + P80/P95, bukan hanya mean
V&V
Verifikasi = model benar? • Validasi = model representasi nyata?
Iterasi
Mulai 1.000; cek konvergensi; N ≥ 10.000 untuk keputusan besar
Simulasi = tiruan, bukan prediksi pasti. Komunikasikan uncertainty secara eksplisit — itu yang membedakan praktisi kompeten dari pemula.
Persiapan & Penutup
Latihan Mandiri
Bangun tabel simulasi antrian 20 pelanggan menggunakan angka acak dari Lampiran A (distribusi berbeda dari HDN-1).
Di Excel: buat 100 run Monte Carlo return saham N(8%, 20%) selama 5 tahun dengan modal Rp 50 juta — plot histogram V5.
Persiapan Pertemuan 13
Pertemuan 13 = UAS / Studi Kasus Terpadu. Review: LP (P2–3), transportasi (P4–5), keputusan (P6), antrean (P10–11), simulasi (P12). Bawa kalkulator. Pahami tabel distribusi & mapping angka acak.
Takeaway utama hari ini: Simulasi adalah tiruan probabilistik — ia memberikan distribusi kemungkinan, bukan kepastian. Komunikasikan uncertainty-nya secara eksplisit, dan selalu validasi model Anda terhadap data nyata.