Mengapa loket BPJS selalu ramai? Berapa agen call center yang perlu direkrut? Jawabannya ada di matematika antrean — dan hari ini kita kuasai dari nol.
RPS MINGGU 12 • SUB-CPMK 7 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu (Sub-CPMK 7):
CAPAIAN 1
$\lambda \mu \rho$
Mengidentifikasi laju kedatangan $(\lambda)$, laju layanan $(\mu)$, dan utilisasi $(\rho)$ dari deskripsi masalah nyata, dengan nilai benar dan satuan tepat.
CAPAIAN 2
M/M/1
Menghitung $L, Lq, W, Wq, P_{0}$ dengan model M/M/1, memeriksa syarat stabilitas $\rho$ < 1, tanpa kesalahan aritmetika.
CAPAIAN 3
M/M/c
Menerapkan Erlang C untuk model M/M/c dan menentukan jumlah server minimum untuk mencapai target Wq tertentu.
CAPAIAN 4
TC(c)
Menganalisis trade-off biaya server vs biaya menunggu untuk keputusan kapasitas operasional berbasis SLA.
Dua latihan hitung-dari-nol hari ini — siapkan kalkulator.
Mengapa Antrean Itu Mahal?
Antrean bukan sekadar ketidaknyamanan — ia punya nilai ekonomi nyata.
Biaya Menunggu (terlalu sedikit server)
Produktivitas pelanggan hilang
Abandonment rate meningkat — pelanggan pergi sebelum dilayani
Kepuasan & loyalitas turun; risiko churn jangka panjang
Survei BPJS 2023: 34% peserta sebut waktu tunggu sebagai keluhan utama di FKTP
Biaya Berlebih (terlalu banyak server)
Gaji petugas saat idle (menganggur) — membayar kapasitas yang tidak terpakai
Ruang fisik & infrastruktur terbuang
Investasi pelatihan tidak ter-amortisasi
Perbankan Indonesia: nasabah meninggalkan antrean setelah rata-rata 8–12 menit menunggu
Pertanyaan kelas: Mana yang lebih mahal — terlalu sedikit server, atau terlalu banyak? Teori Antrean memberi kita titik manis (optimal point) antara kedua ekstrem ini.
BAGIAN 1
Anatomi Sistem Antrean & Notasi Kendall
Komponen, asumsi, dan cara membaca "bahasa" sistem antrean
Komponen Sistem Antrean
Setiap sistem antrean terdiri dari empat komponen utama:
1 Populasi Sumber (calling population)
Kumpulan entitas yang berpotensi datang — peserta BPJS, penelepon call center, kendaraan di gerbang tol Semarang.
2 Proses Kedatangan
Diukur dengan $\lambda$ (lambda) — laju kedatangan; satuan: pelanggan/jam. Dalam model M, mengikuti distribusi Poisson.
3 Antrean (queue)
Tempat menunggu; aturan urutan paling umum: FCFS — siapa datang pertama, dilayani pertama.
4 Mekanisme Layanan
Diukur dengan $\mu$ (mu) — laju layanan per server; c = jumlah server. Dalam model M, waktu layanan ~ Eksponensial.
Notasi Kendall: A/B/c/K/N/D
Notasi Kendall merangkum sistem antrean dalam 6 karakter: A/B/c/K/N/D
Posisi
Simbol
Artinya
Contoh Nilai
A
Distribusi kedatangan
M (Markov/Poisson), G (General), D (Deterministik)
M
B
Distribusi waktu layanan
M (Eksponensial), G (General), D (Deterministik)
M, G
c
Jumlah server
Bilangan bulat ≥ 1
1, 2, 5
K
Kapasitas sistem
∞ (tak terbatas, default)
∞
N
Ukuran populasi
∞ (default)
∞
D
Disiplin antrean
FCFS (default), LCFS, SIRO
FCFS
M/M/1 = 1 server, Poisson, Eksponensial — model hari ini
M/M/5 = 5 agen call center paralel berbagi satu antrean
M/G/1 = layanan tidak harus Eksponensial (kasir bervariasi)
Distribusi Kedatangan & Layanan
Model M/M/* bergantung pada dua distribusi probabilitas kunci:
Rata-rata $= $\lambda t$$; waktu antar-kedatangan ~ Eksponensial$(\lambda)$
Cocok: telepon masuk, kendaraan di gerbang tol Krapyak, pasien Puskesmas
e ≈ 2,718 (bilangan Euler); $k!$ = faktorial — rumus tak perlu dihafal, yang penting intuisinya
Eksponensial — Waktu Layanan $(\mu)$
$$P(S > t) = e^{-\mu t}$$
Rata-rata waktu layanan = $1/\mu$; sifat tanpa memori (memoryless)
Cocok: petugas loket tunggal, kasir ATM, agen call center
Semakin besar t, semakin kecil peluang masih menunggu
Syarat stabilitas sistem: $\lambda$ < $c \times \mu$ | Laju kedatangan harus lebih kecil dari total kapasitas layanan — jika tidak, antrean tumbuh tanpa batas.
Parameter Dasar: $\lambda, \mu, \rho$
Tiga parameter mendefinisikan beban sistem:
$\lambda$ = laju kedatangan (pelanggan / jam) $\mu$ = laju layanan (pelanggan / jam per server) $\rho$ $= \lambda/ (c \times \mu)$ [traffic intensity / utilisasi server]
Untuk $M/M/1 (c = 1): \rho = \lambda/\mu$
$\rho$
Arti Utilisasi
Kondisi Antrean
0,50
Server sibuk 50% waktu
Antrean pendek; nyaman
0,80
Server sibuk 80% waktu
Antrean mulai terasa
0,95
Server hampir penuh
Antrean bisa sangat panjang
≥ 1,00
TIDAK STABIL
Antrean tumbuh tak terbatas
SYARAT STABILITAS: $\rho$ < 1 WAJIB dipenuhi sebelum menggunakan rumus M/M/1 atau M/M/c. Ini langkah pertama yang tidak boleh dilewati.
BAGIAN 2
Model M/M/1: Satu Server
Lima ukuran kinerja dan cara membacanya untuk keputusan manajerial
Lima Rumus M/M/1
Dengan syarat $\rho = \lambda/\mu$ < 1 (satu server, c = 1):
$P_0$ $= 1 - \rho$ [probabilitas sistem kosong] $P_n$ $= \rho^{n} (1-\rho)$ [probabilitas tepat n pelanggan] $L$ $= \rho/ (1-\rho)$ [rata-rata dalam sistem (antre + dilayani)] $L_q$ $= \rho^2 / (1-\rho)$ [rata-rata dalam antrean] $W$ $= 1 / (\mu-\lambda)$ [rata-rata waktu dalam sistem] $W_q$ $= \lambda/ [\mu(\mu-\lambda)]$ [rata-rata waktu menunggu]
Little's Law (berlaku universal): $L = \lambda \times W$ | $L_q = \lambda \times W_q$ — menghubungkan ukuran jumlah dengan ukuran waktu.
Hitung dari Nol 1 — Loket BPJS Puskesmas (M/M/1)
Setup: 1 loket BPJS Puskesmas Semarang Barat. Peserta datang rata-rata 10 orang/jam $(\lambda = 10)$. Petugas melayani rata-rata 12 orang/jam $(\mu = 12)$.
Interpretasi: $C(c, \lambda/\mu)$ = P(pelanggan harus menunggu). Untuk c=1: $C(1, \lambda/\mu) = \rho$ (kembali ke M/M/1 ✓). Gunakan spreadsheet untuk c ≥ 3 agar terhindar kesalahan aritmetika.
Rumus Lq, Wq, L, W untuk M/M/c
Setelah $C(c, \lambda/\mu)$ dihitung, ukuran kinerja diperoleh secara berurutan:
Lq $= C(c, \lambda/\mu) \times \rho/ (1-\rho)$ [rata-rata dalam antrean] Wq $= Lq / \lambda$ [rata-rata waktu menunggu] W $= Wq + 1/\mu$ [total waktu dalam sistem] L $= \lambda \times W$ (Little's Law) [total dalam sistem]
Catatan penting: • Rata-rata waktu layanan per pelanggan $= 1/\mu$ (konstan, tidak bergantung c) • W = Wq + waktu dilayani; selisihnya selalu $1/\mu$ • Untuk $c=1: C(1,\lambda/\mu) = \rho \to Lq = \rho^{2}/(1-\rho) -$ sama persis dengan M/M/1 ✓ • Semakin besar $c, C(c,\lambda/\mu)$ makin kecil $\to Lq$ dan Wq makin kecil
Hitung dari Nol 2 — Call Center Telkomsel: Berapa Agen? (M/M/c)
Perbandingan kinerja sistem untuk c = 4 sampai $c = 7 (\lambda = 60, \mu = 15)$:
c
$\rho$
$C(c, \lambda/\mu)$
Lq
Wq (menit)
Status SLA (≤ 2 mnt)
4
1,000
—
∞
∞
❌ TIDAK STABIL
5
0,800
0,5547
2,219
2,22
❌ Belum terpenuhi
6
0,667
0,2847
0,569
0,57
✅ Terpenuhi
7
0,571
0,1351
0,180
0,18
✅ Berlebihan (biaya naik)
Tiga pengamatan kunci: 1. c minimum untuk stabil = 5 (karena $\lambda/\mu = 4$; butuh c > 4). 2. c minimum untuk SLA Wq ≤ 2 mnt = 6. 3. Dari c=6 ke c=7: Wq turun $0,57 \to 0,18$ mnt — diminishing returns sudah terasa; setiap agen tambahan memberikan manfaat yang semakin kecil.
Coba Sendiri: Geser Jumlah Server, Bandingkan Wq M/M/1 dan M/M/c
Atur laju kedatangan, laju layanan, dan jumlah server secara bersamaan — amati kapan menambah satu server mulai memberi pengembalian yang menurun.
Service Level Agreement (SLA) & Target Wq
SLA = komitmen formal tentang tingkat layanan yang dijamin kepada pelanggan.
Industri
SLA Antrean Umum
Dasar
BPJS Kesehatan (FKTP)
≤ 15 menit waktu tunggu
Panduan BPJS 2022
Perbankan (teller)
≤ 10 menit
Standar OJK & SOP bank
Call center telekomunikasi
≤ 20 detik (80% panggilan)
Regulasi BRTI / SLA industri
Gerbang tol (non-e-toll)
≤ 4 detik per transaksi
Standar Jasa Marga
Rata-rata vs Persentil: Wq dari M/M/c adalah rata-rata. SLA call center "80% panggilan dijawab dalam 20 detik" adalah berbasis persentil — lebih ketat, karena ada pelanggan yang bisa menunggu jauh di atas rata-rata. Untuk analisis SLA berbasis persentil, diperlukan distribusi Erlang atau simulasi Monte Carlo.
Pertanyaan praktis sebelum merancang kapasitas: "SLA kita berbasis rata-rata atau persentil?" — jawabannya menentukan konservatisme model yang Anda bangun.
Model M/G/1 — Layanan Tidak Eksponensial
Jika waktu layanan tidak Eksponensial, gunakan M/G/1 (distribusi General).
Formula Pollaczek–Khinchine (P-K):
$Lq = \rho^{2} (1 + Cv^{2}) / [2(1-\rho)]$ $Cv = \sigma/E[S] =$ koefisien variasi waktu layanan $(\sigma =$ standar deviasi; E[S] = rata-rata)
Cv = 0
½ M/M/1
Layanan deterministik — semua pelanggan persis sama lama. Lq = ½ dari M/M/1 — "free lunch"!
Cv = 1
=M/M/1
Distribusi Eksponensial — rumus kembali ke M/M/1 persis ✓
Cv > 1
> M/M/1
Layanan sangat bervariasi — Lq lebih besar. Contoh: agen call center dengan kompleksitas bervariasi.
BAGIAN 4
Analisis Manajerial
SLA, bottleneck, queue abandonment, trade-off biaya, dan strategi perbaikan
Studi Kasus: Bottleneck di Gerbang Tol Semarang
Gerbang Tol Krapyak, Semarang (Jasa Marga) — ilustrasi berdasarkan karakteristik umum gerbang tol Jawa Tengah.
Parameter
E-toll (normal)
Gardu manual
$\lambda$ (puncak)
720 kend/jam
720 kend/jam
$\mu$ per gardu
900 kend/jam (~4 dtk)
60 kend/jam (~1 mnt)
c aktif
4 gardu
4 gardu
$\rho$
0,200 ✓ stabil
3,000 ❌ kolaps!
Jika e-toll bermasalah $\to$ manual: c=4 menghasilkan $\rho = 3,0 \to$ antrean mengular tanpa batas. Butuh $c \geq$ 13 gardu manual agar sistem stabil (ρ < 1)!
Pelajaran: $\mu e-$toll $= 15\times \mu$ manual. Gangguan minor (1 mesin error, 1 kendaraan tanpa saldo) dapat memicu antrean eksponensial. Redundansi dan rencana kontingensi adalah wajib.
Queue Abandonment — Pelanggan yang Pergi
Queue abandonment terjadi ketika pelanggan tidak sabar dan pergi sebelum dilayani.
Dua Jenis Abandonment
Balking — pelanggan melihat antrean panjang saat datang $\to$ memutuskan tidak bergabung
Reneging — pelanggan sudah bergabung antrean $\to$ tidak sabar $\to$ pergi sebelum dilayani
Dampak Bisnis
Pendapatan hilang langsung (transaksi tidak terjadi)
Churn jangka panjang — pelanggan tidak kembali
Bias pengukuran: Wq "terlihat" lebih pendek karena yang tidak sabar sudah pergi lebih dulu!
Call center: abandonment rate ~5–15% saat peak hour (ilustrasi industri telekomunikasi Indonesia)
Perhatian: Model M/M/1 dan M/M/c standar tidak memodelkan abandonment. Untuk sistem dengan abandonment, diperlukan model M/M/c+K (kapasitas terbatas) atau simulasi. ARPU (Average Revenue Per User) dipakai untuk mengestimasi nilai yang hilang per panggilan yang ditinggalkan.
Coba Sendiri: Antrean Mempool — Tip Mempengaruhi Posisi
Sistem antrean di blockchain mirip call center, tetapi posisi ditentukan tip (fee) — eksplorasi bagaimana prioritas non-FIFO memengaruhi waktu tunggu efektif.
Trade-off: Biaya Server vs Biaya Menunggu
Tujuan optimasi: minimumkan Total Cost = biaya server + biaya menunggu.
TC(c) = c × Cs + Lq × Cw Cs = biaya per server/jam (gaji, listrik, fasilitas) | Cw = biaya menunggu per pelanggan/jam (nilai waktu, risiko churn)
c
Lq
Biaya Server (c × Rp 50.000)
Biaya Menunggu (Lq × Rp 100.000)
TC/jam
5
2,219
Rp 250.000
Rp 221.900
Rp 471.900
6
0,569
Rp 300.000
Rp 56.900
Rp 356.900 ✅ minimum
7
0,180
Rp 350.000
Rp 18.000
Rp 368.000
Optimal: c = 6 (TC minimum = Rp 356.900/jam). Dari c=5 ke c=6: biaya server naik Rp 50.000 tapi biaya menunggu turun Rp 165.000 — net saving Rp 115.000/jam. Dari c=6 ke c=7: penghematan hanya Rp 38.900 tapi biaya server naik Rp 50.000 — tidak efisien.
Coba Sendiri: Distribusi Kedatangan Tidak Selalu Eksponensial
Asumsi M/M/1 adalah kedatangan eksponensial — jalankan Monte Carlo pada distribusi permintaan realistis untuk melihat Wq aktual bisa menyimpang dari rumus teoretis.
Enam Cara Memperbaiki Sistem Antrean
Menambah server bukan satu-satunya solusi. Enam strategi perbaikan:
STRATEGI 1
+c
Tambah server — paling langsung; meningkatkan kapasitas total $c\times\mu$; biaya naik linear.
STRATEGI 2
$+\mu$
Naikkan $\mu$ — percepat layanan via SOP, teknologi, pelatihan; mengurangi Wq tanpa staf baru.
Pertemuan berikutnya (RPS Minggu 13): Simulasi Monte Carlo — ketika model analitik tidak cukup. | Tugas: Latihan soal B1–B3 di bahan ajar sebelum Minggu 13.