stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-07
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 7: Analisis Risiko Operasional dan Sumber Daya Manusia
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP

Manajemen Risiko

Pertemuan 7 — Analisis Risiko Operasional dan Sumber Daya Manusia

Dari mana risiko operasional dan risiko SDM muncul, bagaimana mengukurnya dengan angka, dan bagaimana perusahaan Indonesia mengendalikannya.

RPS MINGGU 7 • DURASI 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Risiko Operasional — Sumber & Kategori
Mengenali dari mana risiko operasional lahir: proses, orang, sistem, dan kejadian eksternal.

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan sumber-sumber risiko produksi/operasi dan SDM serta mengukur besarannya. Secara rinci:

CAPAIAN 1
SUMBER
Mengidentifikasi sumber risiko operasional (proses, orang, sistem, eksternal) dan risiko SDM (turnover, kompetensi, fraud, K3, suksesi).
CAPAIAN 2
PENGUKURAN
Menghitung Expected Loss, pendekatan Basic Indicator Approach, dan tingkat turnover karyawan.
CAPAIAN 3
INDIKATOR
Menjelaskan fungsi Key Risk Indicator (KRI) dan RCSA sebagai alat deteksi dini.
CAPAIAN 4
MITIGASI
Merumuskan langkah pengendalian risiko operasional dan SDM yang relevan bagi organisasi bisnis digital.

Apa itu Risiko Operasional?

Menurut kerangka Basel II (standar perbankan internasional yang juga dipakai luas di industri non-bank), risiko operasional adalah:

"Risiko kerugian yang timbul dari proses internal yang gagal atau tidak memadai, manusia, sistem, atau dari kejadian eksternal."
Definisi ini sengaja mengecualikan risiko strategis (salah pilih arah bisnis) dan risiko reputasi murni — keduanya dibahas di kategori risiko lain dalam ERM. Risiko operasional fokus pada kegagalan eksekusi sehari-hari.

Contoh sehari-hari: aplikasi mobile banking error saat jam sibuk, karyawan gudang salah input stok, atau kebakaran gudang UMKM di Tanah Abang.

Empat Sumber Risiko Operasional

Empat kata kunci dari definisi Basel II menjadi empat kategori sumber risiko yang harus dipetakan organisasi.

1 · Proses Internal
  • Prosedur kerja tidak jelas atau tidak diikuti
  • Kesalahan input data, dokumen tak lengkap
  • Kontrol internal lemah (tanpa verifikasi ganda)
2 · Manusia (People)
  • Human error, kelelahan, kurang pelatihan
  • Fraud internal (penggelapan, kolusi)
  • Turnover tinggi → hilang keahlian kunci
3 · Sistem & Teknologi
  • Server down, bug aplikasi, serangan siber
  • Kegagalan integrasi sistem lama-baru
4 · Kejadian Eksternal
  • Bencana alam (gempa, banjir), pandemi
  • Regulasi baru, gangguan pemasok pihak ketiga

Tujuh Kategori Kejadian Risiko Operasional

Basel II memecah risiko operasional menjadi 7 event type agar bank dan perusahaan bisa mencatat kerugian secara konsisten dan bisa dibandingkan.

No.Kategori KejadianContoh
1Fraud InternalKaryawan menggelapkan dana kas kecil
2Fraud EksternalSkimming kartu ATM, phishing nasabah
3Praktik KetenagakerjaanTuntutan PHK tidak sesuai UU Ketenagakerjaan
4Klien, Produk & Praktik BisnisMis-selling produk investasi ke nasabah
5Kerusakan Aset FisikKebakaran gudang, banjir kantor cabang
6Gangguan Bisnis & SistemServer down saat jam transaksi puncak
7Eksekusi & Manajemen ProsesSalah input jumlah transfer antarbank

Risiko Operasional dalam Praktik di Indonesia

Tiga contoh nyata yang menunjukkan bagaimana risiko operasional bisa berdampak besar meski terlihat "teknis".

KASUS SISTEM
Gangguan Layanan
Gangguan sistem perbankan nasional pernah membuat transaksi transfer & mobile banking tertunda berjam-jam — nasabah tidak bisa bertransaksi, kepercayaan publik tergerus.
KASUS FRAUD
Penggelapan
Kasus fraud oleh oknum pegawai koperasi/BPR — dana nasabah dialihkan tanpa otorisasi karena kontrol verifikasi ganda tidak berjalan.
KASUS EKSTERNAL
Bencana Alam
Gempa & banjir di berbagai daerah menghentikan operasi toko/gudang UMKM selama berhari-hari — kerugian pendapatan + biaya perbaikan.
Pola umum: kerugian operasional jarang berdiri sendiri — gangguan sistem memicu keluhan pelanggan, yang lalu menjadi risiko reputasi.

Hitung dari Nol: Expected Loss Risiko Operasional

Sebuah bank mencatat data historis gangguan sistem ATM selama 12 bulan terakhir untuk menghitung Expected Loss (EL) — kerugian rata-rata yang diperkirakan terjadi per tahun.

EL = Frequency × Severity
LangkahPerhitunganNilai
1. Frekuensi kejadian per tahunData historis 12 bulan terakhir5 kali
2. Severity rata-rata per kejadianTotal kerugian ÷ jumlah kejadianRp40.000.000
3. Expected Loss (EL) per tahun5 × Rp40.000.000Rp200.000.000
EXPECTED LOSS PER TAHUN
Rp200 juta
Dana cadangan minimal yang perlu disisihkan bank
Bagian 2 dari 3
Mengukur Risiko Operasional
Dari Expected Loss menuju pendekatan formal industri: Basic Indicator Approach dan indikator deteksi dini.

Tiga Pendekatan Pengukuran Risiko Operasional

Regulator perbankan (termasuk OJK di Indonesia) mengizinkan tiga tingkat pendekatan, dari yang paling sederhana sampai paling canggih.

Basic Indicator Approach
  • Modal = 15% × rata-rata gross income 3 tahun
  • Paling sederhana, cocok bank/perusahaan kecil
Standardized Approach
  • Gross income dipecah per lini bisnis
  • Persentase (12–18%) berbeda tiap lini
Advanced Measurement (AMA)
  • Model statistik internal (data kerugian sendiri)
  • Paling akurat, butuh data historis panjang
Semakin canggih pendekatannya, semakin akurat estimasi modalnya — tetapi semakin banyak data dan sistem yang dibutuhkan.

Hitung dari Nol: Capital Charge (Basic Indicator Approach)

Sebuah bank ingin menghitung berapa modal yang wajib disisihkan untuk menutup risiko operasional, menggunakan α (alpha) = 15% sesuai standar Basel.

Capital Charge = α × Rata-rata Gross Income (3 tahun)
LangkahPerhitunganNilai
1. Gross income 2023 + 2024 + 2025Rp800M + Rp900M + Rp1.000M (miliar)Rp2.700 miliar
2. Rata-rata gross income 3 tahunRp2.700 miliar ÷ 3Rp900 miliar
3. Capital charge15% × Rp900 miliarRp135 miliar
CAPITAL CHARGE BIA
Rp135 M
Modal minimal yang wajib disisihkan bank

Coba Sendiri: Hitung Capital Charge dengan Basic Indicator Approach

Ubah rata-rata gross income tiga tahun terakhir dan lihat bagaimana capital charge berubah mengikuti alpha 15%.

Key Risk Indicator (KRI): Sistem Peringatan Dini

KRI adalah metrik terukur yang dipantau rutin untuk mendeteksi risiko operasional sebelum menjadi kerugian nyata — seperti lampu indikator di dashboard mobil.

Contoh KRI Sistem/Proses
  • Jumlah downtime sistem per bulan
  • Jumlah komplain nasabah per minggu
  • Persentase transaksi gagal/error
Contoh KRI Manusia
  • Tingkat turnover karyawan kunci
  • Jumlah pelanggaran SOP tercatat
  • Persentase karyawan lembur berlebihan
KRI efektif memiliki ambang batas (threshold) — misalnya "jika komplain > 50/minggu, eskalasi ke manajemen".

Risk Control Self-Assessment (RCSA)

RCSA adalah proses di mana tim/unit kerja menilai sendiri seberapa efektif kontrol internal mereka terhadap risiko operasional — dilakukan berkala, bukan sekali jalan.

Empat Langkah RCSA Bertahap
  • Langkah 1 — Identifikasi: tim mendaftar risiko operasional yang relevan dengan unit kerjanya (misalnya tim finance mendaftar risiko salah input jurnal).
  • Langkah 2 — Nilai kontrol saat ini: tim menilai apakah kontrol yang ada (misal verifikasi dua orang) sudah memadai atau masih ada celah.
  • Langkah 3 — Beri skor risiko residual: setelah kontrol diperhitungkan, berapa besar risiko yang masih tersisa (rendah/sedang/tinggi)?
  • Langkah 4 — Rencana perbaikan: untuk risiko residual sedang/tinggi, tim menyusun tindakan perbaikan dengan target waktu.
Bagian 3 dari 3
Risiko Sumber Daya Manusia (SDM)
Manusia adalah aset sekaligus sumber risiko — dari turnover, kompetensi, hingga fraud internal.

Apa itu Risiko SDM & Sumbernya?

Risiko SDM adalah potensi kerugian yang timbul dari ketidakpastian terkait tenaga kerja perusahaan — dari yang mereka lakukan, ketahui, maupun ketidaktersediaan mereka.

DIMENSI KUANTITAS
Ketersediaan
Risiko kehilangan orang: turnover tinggi, kesulitan rekrutmen, ketergantungan pada satu orang kunci (key person risk).
DIMENSI KUALITAS
Kompetensi
Risiko kesenjangan keahlian (skill gap), kesalahan kerja akibat kurang pelatihan, integritas (fraud, kolusi).
Contoh nyata: startup teknologi Indonesia yang tumbuh cepat sering menghadapi risiko SDM ganda — sulit merekrut talenta digital dan rawan kehilangan mereka ke kompetitor dengan gaji lebih tinggi.

Lima Jenis Risiko SDM yang Perlu Dipantau

1 · TURNOVER
Kehilangan Talenta
Biaya rekrutmen ulang, hilang keahlian, gangguan proyek berjalan.
2 · SKILL GAP
Kesenjangan Kompetensi
Karyawan tidak siap hadapi teknologi/proses baru → kesalahan kerja meningkat.
3 · FRAUD INTERNAL
Integritas
Penggelapan, kolusi, penyalahgunaan wewenang oleh karyawan.
4 · K3 (KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA)
Kecelakaan Kerja
Cedera, kelelahan berlebih, dampak ke produktivitas & potensi tuntutan hukum sesuai UU Ketenagakerjaan.
5 · SUKSESI
Kekosongan Kepemimpinan
Tidak ada rencana pengganti untuk posisi kunci → kevakuman saat pemimpin keluar/pensiun.

Hitung dari Nol: Tingkat & Biaya Turnover Karyawan

Sebuah startup digital mencatat jumlah karyawan awal tahun 240 orang, akhir tahun 200 orang, dengan 30 orang keluar sepanjang tahun.

Turnover Rate = Jumlah Keluar ÷ Rata-rata Karyawan × 100%
LangkahPerhitunganNilai
1. Rata-rata jumlah karyawan(240 + 200) ÷ 2220 orang
2. Tingkat turnover30 ÷ 220 × 100%~13,6%
3. Biaya penggantian per karyawan (rekrutmen + pelatihan)Estimasi HR internalRp45.000.000
4. Total biaya turnover setahun30 × Rp45.000.000Rp1.350.000.000
TURNOVER RATE & TOTAL BIAYA
~13,6% • Rp1,35 M
Biaya tersembunyi yang sering tidak dilaporkan sebagai risiko

Coba Sendiri: Hitung Ulang Turnover Rate dan Biayanya

Ubah jumlah karyawan awal, akhir, dan yang keluar, lalu lihat bagaimana turnover rate dan estimasi biayanya berubah.

Mitigasi: Mengendalikan Risiko Operasional & SDM

Setelah risiko diidentifikasi dan diukur, langkah selanjutnya adalah mengendalikannya sesuai empat strategi umum manajemen risiko.

Untuk Risiko Operasional
  • Kontrol internal berlapis (verifikasi ganda, segregation of duties)
  • Redundansi sistem (server cadangan, disaster recovery plan)
  • Asuransi properti/gangguan bisnis (business interruption insurance)
Untuk Risiko SDM
  • Program retensi (jenjang karir, kompensasi kompetitif)
  • Pelatihan berkelanjutan & sertifikasi kompetensi
  • Rencana suksesi tertulis untuk posisi kunci
Prinsip dasar tetap sama seperti pertemuan sebelumnya: avoid, reduce, transfer, retain — pilih strategi sesuai besar-kecilnya risiko dan biaya penanganannya.

Latihan Kelas: Studi Kasus Mini

Kasus

Sebuah e-commerce menengah mengalami 8 kali gangguan sistem checkout dalam setahun, dengan kerugian rata-rata Rp25 juta per kejadian (kompensasi voucher + kehilangan transaksi). Di sisi SDM, dari 150 karyawan awal tahun, 130 di akhir tahun, dengan 25 orang keluar sepanjang tahun.

PERTANYAAN 1
Hitung Expected Loss risiko operasional sistem checkout tahun ini.
PERTANYAAN 2
Hitung tingkat turnover karyawan tahun ini. Apakah termasuk tinggi untuk industri digital?
Diskusikan berpasangan (5 menit), lalu 2 pasangan akan diminta memaparkan hasil dan alasannya di depan kelas.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya

KonsepInti
Risiko OperasionalMuncul dari proses, manusia, sistem, kejadian eksternal (Basel II)
PengukuranExpected Loss = Frequency × Severity; BIA = 15% × rata-rata gross income
KRI & RCSADeteksi dini otomatis (KRI) vs. penilaian mandiri berkala (RCSA)
Risiko SDMTurnover, skill gap, fraud internal, K3, suksesi
Pertemuan Berikutnya (Minggu 9)

Analisis Risiko Pemasaran — sumber risiko strategi pemasaran & cara mengukur/mengevaluasi besarannya.

TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 9
Baca & Catat
Catat 1 contoh risiko operasional/SDM dari tempat kerja/organisasi yang Anda kenal, lengkap sumber & estimasi kerugiannya.