‹ Daftar slidePertemuan 6: Teknik Analisis Risiko (VAR, Monte Carlo, Metode Historis & Analitik)
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP
Manajemen Risiko
Pertemuan 6 — Teknik Analisis Risiko (VAR, Monte Carlo, Metode Historis & Analitik)
Dari daftar risiko yang sudah diidentifikasi ke angka: mengukur seberapa besar kemungkinan dan dampak kerugian dengan empat pendekatan analisis risiko.
RPS MINGGU 6 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu:
Konsep
4
Metode analisis risiko
Menjelaskan jenis, keunggulan, dan kelemahan metode Value at Risk (VAR), metode historis, metode analitik, dan simulasi Monte Carlo.
Praktik
Hitung
Dari nol, langkah demi langkah
Menghitung VAR dengan pendekatan analitik dan historis, serta menggunakan skala probabilitas expert judgement untuk risiko kualitatif.
Ini adalah sub-CPMK minggu 6: "menghitung dan menganalisis risiko menggunakan VAR, metode historis, metode analitik, dan simulasi Monte Carlo dengan skala probabilitas expert judgement."
Mengapa Sekadar "Daftar Risiko" Tidak Cukup?
Minggu lalu Anda menyusun risk register — daftar risiko hasil identifikasi. Tapi daftar itu belum menjawab pertanyaan yang paling penting bagi manajer.
Pertanyaan 1
Seberapa besar?
Kalau risiko terjadi, berapa rupiah kerugiannya?
Pertanyaan 2
Seberapa sering?
Berapa besar peluang risiko itu benar-benar terjadi?
Pertanyaan 3
Mana dulu?
Risiko mana yang harus ditangani lebih dulu dengan anggaran terbatas?
Tanpa angka, semua risiko terlihat "penting" — dan manajer tidak bisa memprioritaskan.
Bagian 1 dari 4
Peta Empat Metode Analisis Risiko
Sebelum menghitung, kita kenali dulu perbedaan filosofi tiap metode — supaya Anda tahu kapan pakai yang mana.
Value at Risk (VAR): Definisi
Value at Risk (VAR) = estimasi kerugian maksimum yang mungkin dialami dalam periode waktu tertentu, pada tingkat keyakinan (confidence level) tertentu, dalam kondisi pasar normal.
VAR = kerugian maks. | periode waktu, tingkat keyakinan
Contoh Kalimat VAR
"VAR portofolio saham BBCA senilai Rp1 miliar adalah Rp50 juta untuk periode 1 hari dengan tingkat keyakinan 95%."
Artinya: ada peluang 95% kerugian besok TIDAK akan melebihi Rp50 juta — dan peluang 5% kerugian justru lebih besar dari itu.
Tiga Cara Menghitung VAR
VAR adalah output, bukan metode tunggal. Ada tiga pendekatan untuk sampai ke angka VAR:
1. Metode Historis
Melihat langsung data return masa lalu, mengurutkannya, lalu mengambil persentil terburuk. Tidak mengasumsikan bentuk distribusi tertentu.
2. Metode Analitik
Mengasumsikan return mengikuti distribusi normal, lalu memakai rumus statistik (rata-rata, standar deviasi, dan nilai z).
3. Simulasi Monte Carlo
Membangkitkan ribuan skenario acak berdasarkan model statistik, lalu melihat sebaran hasilnya secara komputasi.
Keunggulan & Kelemahan Tiap Metode
Metode
Keunggulan
Kelemahan
Historis
Tidak perlu asumsi distribusi; mudah dipahami
Butuh data historis panjang & berkualitas; masa lalu belum tentu terulang
Analitik
Cepat dihitung; hanya butuh rata-rata & std. deviasi
Asumsi distribusi normal sering meleset (fenomena fat tail)
Monte Carlo
Fleksibel untuk portofolio kompleks & non-linear
Butuh daya komputasi besar & keahlian pemodelan
Expert Judgement
Bisa dipakai saat data historis tidak ada/tak relevan
Subjektif, rawan bias penilai
Skala Probabilitas Expert Judgement
Untuk risiko tanpa data numerik memadai, analis memakai skala kualitatif terstruktur — bukan sekadar tebakan bebas.
Skala
Deskripsi Probabilitas
Rentang (per tahun)
1 — Sangat Jarang
Hampir tidak mungkin terjadi
< 5%
2 — Jarang
Bisa terjadi, tapi tidak diperkirakan
5% – 25%
3 — Mungkin
Ada kemungkinan wajar akan terjadi
25% – 50%
4 — Sering
Diperkirakan akan terjadi
50% – 75%
5 — Hampir Pasti
Diyakini akan terjadi
> 75%
Skala ini kemudian dikombinasikan dengan skala dampak (1–5) untuk membentuk matriks risiko yang akan Anda dalami lebih rinci di Pertemuan 12 (Evaluasi Risiko).
Bagian 2 dari 4
Menghitung VAR — Metode Historis
Kita mulai dari yang paling intuitif: melihat langsung sebaran kerugian masa lalu.
Data Return Harian: Ilustrasi Saham "ABCD"
Misalkan Anda punya 20 hari data return harian saham ABCD (dalam %), dan ingin menghitung VAR 1 hari dengan tingkat keyakinan 95%.
Nilai portofolio Anda: Rp200 juta. Kita akan pakai data ini di slide berikutnya untuk hitung VAR historis.
Hitung dari Nol: VAR Metode Historis
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Tentukan persentil terburuk
(1 − 95%) × 20 observasi
5% × 20 = urutan ke-1
2. Ambil return pada urutan ke-1 (terburuk)
Data terkecil dari 20 observasi
−4,8%
3. Konversi ke rupiah kerugian
4,8% × Rp200.000.000
Rp9.600.000
4. Simpulkan VAR
VAR 1 hari, keyakinan 95%
≈ Rp9,6 juta
VAR Historis (1 hari, 95%)
Rp9,6 juta
dari portofolio Rp200 juta
Bagian 3 dari 4
Menghitung VAR — Metode Analitik
Kali ini kita pakai rumus statistik: rata-rata, standar deviasi, dan nilai z distribusi normal.
Dasar Metode Analitik: Distribusi Normal & Nilai Z
Metode analitik mengasumsikan return mengikuti distribusi normal (kurva lonceng). VAR dihitung dari rata-rata (μ), standar deviasi (σ), dan nilai z sesuai tingkat keyakinan.
VAR = (z × σ − μ) × Nilai Portofolio
Untuk keyakinan 95%, nilai z = 1,645. Untuk keyakinan 99%, nilai z = 2,326. (Nilai baku tabel distribusi normal.)
Coba Sendiri: Geser Nilai Z dan Amati Area di Bawah Kurva
Ubah tingkat keyakinan untuk melihat bagaimana nilai z dan area ekor kurva normal berubah mengikuti.
Hitung dari Nol: VAR Metode Analitik
Portofolio saham Rp200 juta. Dari data historis: rata-rata return harian μ = 0,2%, standar deviasi σ = 2%. Keyakinan 95% → z = 1,645.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Hitung z × σ
1,645 × 2%
3,29%
2. Kurangi rata-rata μ
3,29% − 0,2%
3,09%
3. Konversi ke rupiah
3,09% × Rp200.000.000
Rp6.180.000
4. Simpulkan VAR analitik
VAR 1 hari, keyakinan 95%
≈ Rp6,18 juta
VAR Analitik (1 hari, 95%)
Rp6,18 juta
vs. VAR historis Rp9,6 juta
Kenapa Hasilnya Berbeda?
VAR Historis
Rp9,6 jt
Diambil langsung dari kejadian nyata terburuk di data — menangkap "ekor tebal" (fat tail) apa adanya.
VAR Analitik
Rp6,18 jt
Dihitung dari rumus distribusi normal — mengasumsikan kejadian ekstrem lebih jarang daripada kenyataan.
Selisih ini nyata secara praktik: bank yang hanya mengandalkan VAR analitik pernah meremehkan risiko saat krisis keuangan global 2008 — kerugian aktual jauh melampaui VAR yang diprediksi.
Bagian 4 dari 4
Simulasi Monte Carlo
Ketika rumus sederhana tidak cukup: membangkitkan ribuan skenario acak untuk melihat sebaran risiko.
Bagaimana Simulasi Monte Carlo Bekerja?
Alih-alih satu rumus, komputer mengulang proses ini ribuan kali (mis. 10.000 iterasi):
Hasil akhir Monte Carlo untuk contoh portofolio Rp200 juta kita: VAR ≈ Rp8,9 juta — lebih dekat ke hasil historis karena turut menangkap kemungkinan ekstrem lewat banyaknya iterasi.
Coba Sendiri: Bandingkan Tiga Metode VAR Berdampingan
Ubah tingkat keyakinan dan data portofolio, lalu bandingkan hasil VAR dari metode historis, analitik, dan Monte Carlo secara berdampingan.
Memilih Metode: Kapan Pakai yang Mana?
Situasi
Metode yang Disarankan
Data historis panjang & andal tersedia
Historis (atau bandingkan dengan Analitik)
Butuh hasil cepat, portofolio sederhana
Analitik
Portofolio kompleks (opsi, derivatif, banyak aset)
Monte Carlo
Risiko baru, tanpa data historis relevan
Expert Judgement (skala probabilitas 1–5)
Praktik terbaik (best practice) di industri: gunakan lebih dari satu metode lalu bandingkan — bukan mengandalkan satu angka VAR saja.
Latihan Kelas: Hitung VAR Historis Anda Sendiri
Instruksi
Portofolio reksa dana Anda senilai Rp150 juta.
Anda punya 20 data return harian; return terburuk urutan ke-1 (5% terburuk) adalah −3,6%.
Hitung VAR historis 1 hari dengan keyakinan 95% — tuliskan langkah dan hasil akhirnya.
Diskusikan dengan teman sebangku: apakah hasil ini masuk akal dibanding kondisi pasar riil?