Dari 5C dan rating agency hingga Altman Z-Score dan RAROC — alat lengkap untuk menilai siapa yang layak dipercaya pinjamannya.
RPS MINGGU 11 • Sub-CPMK9 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis risiko kredit (Sub-CPMK9). Secara rinci:
Capaian 1 — Konsep
Menjelaskan empat sumber risiko kredit: default (gagal bayar — ketidakmampuan debitur memenuhi kewajiban), concentration, counterparty, dan settlement — serta membedakan satu sama lain.
Capaian 2 — Kualitatif
Menerapkan kerangka 5C dan 7P untuk penilaian kelayakan kredit; membaca skala rating AAA–D dari lembaga pemeringkat dan Pefindo.
Capaian 3 — Z-Score
Menghitung Altman Z-Score dari lima rasio keuangan dan mengklasifikasikan perusahaan ke zona aman, grey, atau distress.
Capaian 4 — RAROC
Menghitung EL (Expected Loss — kerugian rata-rata yang diperkirakan) dan RAROC dari data pinjaman serta menginterpretasikan hasilnya.
Kredit Macet Bisa Mengguncang Sistem Keuangan
Risiko kredit bukan hanya masalah bank — ia bisa merembet ke seluruh ekonomi.
KASUS GLOBAL — Krisis Subprime 2008: Bank-bank AS memberikan kredit perumahan tanpa analisis kredit yang memadai ("NINJA Loans": No Income, No Job, No Assets). Ketika debitur gagal bayar massal, nilai aset berbasis kredit kolaps, memicu krisis keuangan global terburuk sejak 1929.
KASUS INDONESIA — NPL Perbankan: Rasio NPL (Non-Performing Loan — kredit bermasalah, kolektabilitas 3–5) perbankan nasional pernah melonjak hingga ~50% pada krisis 1997–1998, memaksa Pemerintah menyuntikkan dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) senilai ratusan triliun rupiah.
Kondisi terkini: Per Maret 2024, NPL bruto perbankan Indonesia ~2,3% (OJK) — terkendali, tapi pemantauan tetap kritis.
Bagian 1 dari 4
Konsep & Sumber Risiko Kredit
Definisi, ruang lingkup, dan empat sumber risiko yang perlu dibedakan sebelum mulai menganalisis.
DefaultConcentrationCounterpartySettlement
Risiko Kredit: Definisi & Ruang Lingkup
Definisi Sempit (Perbankan)
Risiko bahwa debitur (pihak yang menerima pinjaman) gagal memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan/atau bunga kepada kreditur (bank/pemberi pinjaman) sesuai perjanjian kredit.
Definisi Luas (Korporasi)
Risiko bahwa pihak lawan (counterparty) dalam transaksi apa pun — kredit dagang (trade credit — piutang dari penjualan tidak tunai), derivatif, obligasi, sewa — gagal menunaikan kewajibannya.
Siapa yang menanggung risiko kredit? Tidak hanya bank — perusahaan biasa pun terekspos: piutang usaha yang tak tertagih, obligasi korporasi yang default, kontrak derivatif yang counterparty-nya bangkrut.
Sumber Risiko Kredit (1/2) — Default & Concentration
Risiko kredit bukan satu hal tunggal — ada empat sumber berbeda. Kita mulai dari dua yang paling intuitif.
1 • Default Risk
Debitur tidak mampu atau tidak mau memenuhi kewajiban — pokok dan/atau bunga. Sumber paling klasik. Diukur dengan PD (Probability of Default) — kemungkinan debitur gagal bayar dalam satu tahun.
2 • Concentration Risk
Portofolio kredit (kumpulan seluruh pinjaman yang diberikan) terlalu terkonsentrasi pada satu debitur, sektor, atau wilayah. Jika segmen itu kolaps, kerugian berlipat ganda serentak.
Analogi dua bank: Bank A meminjamkan ke 100 debitur berbeda; Bank B meminjamkan ke 10 debitur di satu sektor saja. Kalau sektor itu kolaps, Bank B menanggung kerugian jauh lebih besar — itulah concentration risk.
Sumber Risiko Kredit (2/2) — Counterparty & Settlement
Dua sumber terakhir berbeda dari default biasa: kegagalan terjadi dalam mekanisme transaksi antara dua pihak. Derivatif = kontrak keuangan yang nilainya bergantung pada harga aset lain (bunga, valas, saham).
3 • Counterparty Risk
Pihak lawan dalam kontrak keuangan gagal saat nilainya sudah berubah. Berbeda dari default biasa: eksposur tidak tetap, bergerak setiap hari. Contoh: interest rate swap (tukar-menukar pembayaran bunga) antara Bank A dan Bank B — Bank B bangkrut di tengah kontrak.
4 • Settlement Risk
Salah satu pihak sudah mengirimkan uang/aset, pihak lain belum menunaikan kewajiban balik pada settlement date. Kasus Herstatt Bank (Jerman, 1974): menerima mark Jerman, lalu ditutup regulator sebelum membayar dolar baliknya.
Perbedaan kunci: Counterparty risk berlangsung sepanjang masa kontrak (berhari/berbulan/bertahun); Settlement risk berlangsung hanya sesaat saat transaksi diselesaikan — tetapi nilainya bisa sangat besar.
Bagian 2 dari 4
Penilaian Kualitatif: 5C, 7P & Rating
Sebelum ada angka, analis kredit menelaah karakter, kapasitas, modal, agunan, dan kondisi. Lalu validasi dengan rating agency.
5C7PRating
Analisis 5C — Kerangka Kualitatif Standar
Dimensi
Bahasa Indonesia
Pertanyaan Kunci
Character
Karakter / integritas
Apakah debitur punya track record jujur dan disiplin membayar? Cek SLIK OJK (pengganti BI Checking sejak 2018).
Capacity
Kapasitas membayar
Apakah arus kas usaha cukup menutup cicilan? Lihat rasio DSCR (Debt Service Coverage Ratio — arus kas operasional ÷ total pembayaran pokok+bunga; DSCR >1,2 umumnya aman).
Capital
Modal sendiri
Seberapa besar pemilik ikut menanggung risiko? Rasio ekuitas terhadap total aset.
Collateral
Agunan / jaminan
Jika default, aset apa yang bisa disita? Nilai likuidasi agunan vs nilai pinjaman (LTV — loan-to-value).
Condition
Kondisi ekonomi & industri
Bagaimana prospek industri debitur? Siklus ekonomi saat ini mendukung atau menekan usaha?
Urutan 5C bukan kebetulan:Character dinilai lebih dulu karena debitur yang tidak jujur bisa memanipulasi angka Capacity, Capital, bahkan Collateral.
Analisis 7P — Perluasan Praktik Perbankan
7P mengembangkan 5C dengan menambahkan dimensi Purpose (tujuan kredit) dan Payment (sumber pelunasan). Banyak dipakai di perbankan Indonesia.
Tujuan penggunaan kredit — apakah sesuai bisnis inti debitur?
4
Prospect
Prospek usaha dan industri ke depan (≈ Condition)
5
Payment
Sumber dan kemampuan pelunasan — cash flow, aset yang dijual, atau pihak ketiga
6
Profitability
Apakah kredit menguntungkan bagi bank setelah risiko dihitung?
7
Protection
Agunan, asuransi kredit, garansi perusahaan induk (≈ Collateral perluasan)
Dimensi terpenting yang membedakan 7P dari 5C:Purpose — kredit untuk modal kerja (dana operasional sehari-hari) berbeda risikonya dari kredit untuk investasi spekulatif.
Rating Kredit Perusahaan: Cara Membaca Skala AAA–D
Lembaga rating (credit rating agency) memberikan nilai atas kemampuan dan kemauan emiten membayar utang. Skala universal:
Kategori
Rating
Makna
Investment Grade (layak investasi)
AAA
Sangat kuat, risiko sangat rendah
AA
Sangat kuat, risiko sangat rendah (sedikit di bawah AAA)
A
Kuat, agak rentan terhadap kondisi buruk
BBB
Memadai, lebih rentan — batas bawah investment grade
Non-Investment Grade (spekulatif / junk bond)
BB
Spekulatif — ada elemen risiko signifikan
B
Spekulatif tinggi
CCC/CC/C
Rentan sangat tinggi — mendekati default
D
Default — sudah gagal bayar
Penting: Penambahan tanda + dan − (mis. A+, A−) menunjukkan posisi relatif. Rating bisa berubah (upgrade/downgrade) sesuai kondisi keuangan emiten. Investment grade (BBB ke atas) = dana pensiun dan asuransi diizinkan membelinya.
Pefindo: Lembaga Rating Utama Indonesia
Profil Pefindo
Berdiri 1994, diawasi OJK. Skala: idAAA hingga idD (prefix "id" = Indonesia, tidak setara langsung dengan AAA global). Cakupan: obligasi korporasi, reksa dana (wadah investasi kolektif), sukuk (obligasi berbasis prinsip syariah). Metodologi: analisis bisnis + analisis keuangan (rasio likuiditas, leverage, profitabilitas, arus kas).
Contoh Rating Riil
PLN: idAAA (sangat kuat, didukung pemerintah) Indofood (INDF): idAA (sangat kuat, diversifikasi) Mayora Indah (MYOR): idA (kuat, brand consumer goods) Verifikasi ke pefindo.com — rating bisa berubah.
Cara baca laporan Pefindo — 4 komponen: (1) Simbol rating; (2) Outlook (Stable/Positive/Negative — sinyal arah perubahan rating 1–2 tahun ke depan); (3) Analisis naratif industri; (4) Analisis rasio keuangan.
Kolektabilitas Kredit: Sistem Penilaian OJK (POJK 40/2019)
OJK mewajibkan bank mengklasifikasikan setiap kredit ke dalam lima tingkat kolektabilitas berdasarkan ketepatan pembayaran dan kondisi usaha debitur.
Kol.
Nama
Keterlambatan
1
Lancar
0 hari
2
Dalam Perhatian Khusus (DPK)
1 – 90 hari
3
Kurang Lancar
91 – 120 hari
4
Diragukan
121 – 180 hari
5
Macet
>180 hari
NPL = Kolektabilitas 3 + 4 + 5. Kredit macet (Kol 5) = bank wajib mencadangkan (CKPN — Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) — beban berat bagi modal bank.
Persentase PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) 1%/5%/15%/50%/100% adalah rezim lama sebelum 2020. Sejak PSAK 71, cadangan dihitung dengan model ECL (Expected Credit Loss) berbasis skenario forward-looking.
Mitigasi Risiko Kredit: Empat Cara Utama
Setelah risiko diidentifikasi dan diukur, langkah selanjutnya adalah mitigasi — tindakan aktif untuk mengurangi kerugian jika terjadi default.
1 • Agunan (Collateral)
Debitur menyerahkan aset berharga (tanah, bangunan, kendaraan) sebagai jaminan. Jika default, kreditur menjual agunan untuk menutup kerugian. Efek: menurunkan LGD (Loss Given Default).
2 • Asuransi Kredit
Kreditur membeli polis asuransi kredit — jika debitur gagal bayar, perusahaan asuransi menanggung sebagian kerugian. Cocok untuk kredit UKM atau konsumer yang agunannya terbatas.
3 • Diversifikasi Portofolio
Hindari concentration risk dengan menyebarkan kredit ke berbagai debitur, sektor, dan wilayah. Solusi paling dasar: jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.
4 • Restrukturisasi Kredit
Jika debitur bermasalah tetapi masih berpotensi pulih — jadwal ulang pembayaran, turunkan bunga, atau konversi sebagian utang ke ekuitas. Lebih baik diselamatkan daripada langsung dieksekusi.
Alur siklus: Identifikasi sumber risiko → Pengukuran (Z-Score, EL, RAROC) → Mitigasi (empat cara di atas) → Monitoring berkelanjutan.
Bagian 3 dari 4
Model Kuantitatif: Z-Score, RAROC & Credit Spread
Dari intuisi kualitatif ke angka — model statistik dan aktuaria yang mengkonversi data keuangan menjadi sinyal risiko terukur.
Z-ScoreRAROCCredit Spread
Altman Z-Score (1968): Detektor Distress Keuangan
Edward Altman (1968) menggunakan analisis diskriminan (teknik statistik untuk mengklasifikasikan observasi ke dalam kelompok berdasarkan kombinasi variabel prediktor) untuk menemukan kombinasi linear lima rasio keuangan yang paling membedakan perusahaan sehat dari perusahaan yang akan bangkrut.
Bobot terbesar: X&sub3; (koef. 3,3) — EBIT/TA paling diskriminatif. EBIT = Earnings Before Interest and Taxes (Laba Sebelum Bunga dan Pajak).
Hitung dari Nol — HDN-1: Altman Z-Score PT Maju Mundur Tbk
Data keuangan (juta Rp): Aset Lancar 800, Liabilitas Lancar 300, Total Aset 2.000, Laba Ditahan 200, EBIT 300, Market Cap 400, Total Utang (Liabilitas Lancar 300 + Utang Jangka Panjang 500) = 800, Penjualan 2.400. Catatan: Total Utang 800 ≠ Liabilitas Lancar 300 — Total Utang mencakup seluruh kewajiban.
Z = 2,435 → GREY ZONE (1,81 – 2,99). Perusahaan ini dalam kondisi rentan; perlu pemantauan intensif. Bukan pasti bangkrut, tapi bukan aman.
Tiga Zona Z-Score & Keterbatasan Model
Zona Aman
Z > 2,99
Perusahaan secara finansial relatif sehat. Akurasi klasifikasi ~95% pada 1 tahun sebelum kebangkrutan; turun ke ~72% pada 2 tahun sebelumnya.
Zona Abu-Abu (Grey Zone)
1,81–2,99
Sinyal tidak jelas. Butuh analisis kualitatif tambahan. Kemungkinan bangkrut tidak dapat dikesampingkan.
Zona Distress
Z < 1,81
Sinyal kuat keuangan bermasalah. Risiko kredit sangat tinggi. Perlu kajian mendalam dan mitigasi segera.
Keterbatasan — baca sebelum gunakan: (1) Dikalibrasi data AS 1946–1965 — akurasi menurun untuk perusahaan non-AS. (2) X&sub4; butuh data harga saham — tidak bisa dipakai untuk perusahaan privat tanpa modifikasi (pakai Z'). (3) Akuntansi manipulatif bisa mendistorsi semua rasio. (4) Perlu dikombinasikan dengan analisis kualitatif 5C/7P.
Keluarga Z-Score: Kenapa Ada Tiga Versi?
Z-Score asli (1968) dirancang khusus untuk perusahaan manufaktur publik Amerika. Altman mengembangkan dua varian — koefisiennya dikalibrasi ulang sepenuhnya.
Z (1968) — Manufaktur Publik
Untuk perusahaan terdaftar di bursa, sektor manufaktur. Lima variabel (X&sub1;–X&sub5;). X&sub4; menggunakan Market Capitalization. Zona: Aman >2,99 · Grey 1,81–2,99 · Distress <1,81.
Z' (1983) — Perusahaan Privat
X&sub4; diganti dengan Book Equity / Book Debt (nilai buku ekuitas = total ekuitas menurut neraca, tidak butuh harga saham). Koefisien dikalibrasi ulang. Zona: Aman >2,90 · Grey 1,23–2,90 · Distress <1,23.
Z'' (1993) — Non-Manufaktur & Berkembang
Variabel X&sub5; (perputaran aset) dihilangkan. Empat koefisien dikalibrasi ulang. Paling relevan untuk perusahaan Indonesia non-manufaktur. Zona: Aman >2,60 · Grey 1,10–2,60 · Distress <1,10.
Untuk analisis perusahaan Indonesia yang tidak terdaftar di bursa atau bukan manufaktur, gunakan Z' atau Z'' — jangan pakai Z original. Rumus lengkap Z'' ada di slide berikutnya.
Z'' (EM-Score) — Rumus Lengkap dengan Konstanta
Model Z'' (Emerging Market Score) dirancang untuk perusahaan non-manufaktur dan negara berkembang. Perhatikan konstanta 3,25 yang membuat batas zona kompatibel dengan skala Z original.
Konstanta 3,25 sengaja ada. Tanpa konstanta, hasil Z'' akan bergeser ~3,25 poin ke bawah dan klasifikasi zona akan salah. X&sub4; di Z'' menggunakan Book Equity (nilai buku ekuitas = total ekuitas menurut neraca), bukan Market Capitalization.
Coba Sendiri: Geser Rasio Keuangan, Amati Zona Z-Score
Ubah lima rasio keuangan penyusun Z-Score, lalu amati bagaimana skor bergerak antara zona aman, abu-abu, dan distress.
Tiga Komponen Risiko Kredit: PD, LGD, EAD
Basel II/III dan praktik manajemen risiko modern memandang risiko kredit lewat tiga variabel fundamental. Ketiganya harus diketahui sebelum menghitung RAROC.
PD — Probability of Default
PD
Kemungkinan Gagal Bayar
Kemungkinan debitur gagal bayar dalam satu tahun ke depan. Contoh: PD = 2% artinya dari 100 debitur serupa, ~2 akan default tahun depan. Diestimasi dari data historis, model scoring, atau rating.
LGD — Loss Given Default
LGD
Kerugian Saat Default
Persentase dari nilai eksposur yang hilang jika default terjadi (setelah agunan dilikuidasi). Contoh: LGD = 60% artinya jika default, bank merugi 60% dari outstanding (saldo pokok yang belum dilunasi).
EAD — Exposure at Default
EAD
Nilai Eksposur Saat Default
Nilai eksposur total pada saat default terjadi. Untuk pinjaman biasa = outstanding. Untuk fasilitas revolving (kartu kredit, kredit modal kerja), bisa lebih dari yang sudah ditarik.
Hubungan: EL = PD × LGD × EAD — inilah rumus inti kerugian kredit yang diperkirakan.
Expected Loss (EL) dan RAROC
Dua rumus ini mengubah keputusan kredit dari "apakah debitur bisa bayar?" menjadi "apakah kredit ini menguntungkan bank setelah risiko diperhitungkan?"
EL = PD × LGD × EAD
EL = kerugian rata-rata yang diharapkan dari kredit ini dalam satu periode. EL harus di-price ke dalam spread bunga kredit — ini "biaya risiko" yang harus ditanggung.
RAROC = (Pendapatan − Biaya − EL) ÷ EC
Pendapatan = EAD × spread bunga • Biaya = biaya operasional • EC = Economic Capital (modal yang disiapkan untuk menanggung kerugian tak terduga / unexpected loss)
Interpretasi RAROC: Bila RAROC > hurdle rate (tingkat imbal hasil minimum yang ditetapkan manajemen, mis. 12%), kredit ini menciptakan nilai bagi bank. Bila RAROC < hurdle rate, kredit ini menghancurkan nilai meskipun mungkin tidak rugi secara nominal.
Ubah probability of default, loss given default, dan exposure at default, lalu amati bagaimana Expected Loss dan RAROC berubah.
Hitung dari Nol — HDN-2: EL dan RAROC Pinjaman Korporasi
Data: Pinjaman korporasi EAD = Rp 10 Miliar, spread bunga 3%, biaya operasional 0,5%, PD = 2%, LGD = 60%, Economic Capital (EC) = Rp 800 juta. Hurdle rate bank = 12%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Pendapatan
EAD × spread = Rp 10 M × 3%
Rp 300 juta
2. Biaya
EAD × biaya = Rp 10 M × 0,5%
Rp 50 juta
3. EL
PD × LGD × EAD = 2% × 60% × Rp 10 M = 1,2% × Rp 10 M
Rp 120 juta
4. Net Income
300 − 50 − 120
Rp 130 juta
5. RAROC
Rp 130 juta ÷ Rp 800 juta
16,25%
RAROC = 16,25%. Karena 16,25% > hurdle rate 12%, kredit ini layak diberikan — menciptakan nilai bagi pemegang saham bank.
Term Structure of Credit Spread
Credit spread = selisih imbal hasil obligasi korporasi dengan obligasi pemerintah risk-free tenor sama. Spread mencerminkan kompensasi risiko kredit yang diminta pasar.
Konsep Dasar
Jika SUN (Surat Utang Negara — obligasi pemerintah Indonesia, acuan risk-free domestik) 5 tahun yield 6,8%, dan obligasi PT X 5 tahun yield 9,3% → Credit Spread = 9,3% − 6,8% = 2,5%. Semakin tinggi risiko kredit emiten, semakin lebar spread.
Term Structure
Spread tidak sama untuk semua tenor. Emiten berisiko tinggi menghadapi spread yang melebar seiring jangka waktu lebih panjang (kurva spread menaik), karena ketidakpastian kumulatif bertambah.
Credit Transition Matrix — Peta Migrasi Rating
Transition matrix menunjukkan probabilitas peralihan rating suatu emiten dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dasar portofolio kredit dan pricing produk derivatif kredit (CDS).
Rating Awal ↓ / Akhir →
AAA
AA
A
BBB
BB
B
D
AAA
92
6
1,5
0,4
0,1
0,0
0,0
A
0,0
2
91
5
1
0,5
0,5
BB
0,0
0,0
0,5
5
82
8
4,5
Angka ilustrasi — tabel dipersingkat (3 baris dari 7 rating). Probabilitas dalam %. Sumber: adaptasi S&P Annual Transition Study.
Baca baris BB: ada 4,5% probabilitas default dalam setahun — angka ini adalah PD dalam rumus EL kita. Diagonal utama (AAA→AAA = 92%, A→A = 91%, BB→BB = 82%) menunjukkan probabilitas emiten tetap di rating yang sama.
Studi Kasus Indonesia: Jiwasraya — Risiko Kredit Tersembunyi
Kasus Jiwasraya adalah salah satu kasus kegagalan manajemen risiko kredit dan investasi terbesar dalam sejarah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Indonesia.
2002–2018: PT Asuransi Jiwasraya menjual produk asuransi jiwa (JS Saving Plan) dengan janji imbal hasil sangat tinggi (~9–13%), jauh di atas pasar. Dana nasabah diinvestasikan ke saham-saham berisiko tinggi dan reksa dana bermasalah tanpa analisis risiko kredit dan pasar yang memadai.
2019: Jiwasraya gagal membayar polis jatuh tempo senilai ~Rp 12,4 triliun. Pemerintah menyelamatkan melalui restrukturisasi dan pendirian IFG Life (PT Asuransi Jiwa IFG) sebagai kendaraan penampung polis.
Pelajaran utama: Imbal hasil tidak wajar tinggi = sinyal ada risiko tersembunyi yang tidak dipricing dengan benar. Prinsip ini berlaku untuk instrumen kredit, obligasi, maupun produk asuransi.
Tiga Jebakan Umum Analisis Risiko Kredit
Jebakan 1 — Hanya Angka
⚠
Terlalu mengandalkan model kuantitatif (Z-Score, rating) tanpa analisis kualitatif. Angka bisa dimanipulasi; karakter debitur tidak terlihat di laporan keuangan.
Jebakan 2 — Hanya Agunan
⚠
Memberi kredit semata karena agunan dinilai cukup tanpa menganalisis Capacity dan Condition. Kalau debitur default massal, harga agunan justru turun — persis ketika bank perlu menjualnya.
Jebakan 3 — Abaikan Concentration
⚠
Membangun portofolio kredit yang terkonsentrasi di satu sektor/debitur demi efisiensi. Satu guncangan sektoral bisa membuat NPL meledak serentak.
Solusi: 5C + Model Kuantitatif + Diversifikasi Portofolio. Ketiganya saling melengkapi, bukan menggantikan satu sama lain.
Rangkuman: Alur Lengkap Analisis Risiko Kredit
Analisis risiko kredit bukan satu kali dilakukan saat akad kredit — ia berlanjut sepanjang tenor kredit lewat monitoring berkala.
Penutup & Persiapan Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Anda Kuasai Hari Ini
4 sumber risiko kredit: default, concentration, counterparty, settlement
Kerangka 5C dan 7P untuk penilaian kualitatif
Rating AAA–D dan sistem kolektabilitas OJK (POJK 40/2019)
Altman Z-Score: 5 rasio, rumus, tiga zona (aman/grey/distress)