‹ Daftar slidePertemuan 7: Analisis Risiko Operasional & SDM
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Resiko Bisnis
Pertemuan 7 — Analisis Risiko Operasional & SDM
Memahami dan mengukur risiko yang tersembunyi di balik proses, sistem, manusia, dan lingkungan — dua kategori risiko yang paling sering merusak perusahaan dari dalam.
RPS Minggu 7 • Sub-CPMK 6 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis risiko operasional dan SDM (Sub-CPMK 6). Secara rinci:
Capaian 1 — Sumber Operasional
Mengklasifikasikan 4 sumber risiko operasional (proses, sistem, manusia, eksternal) dengan contoh Indonesia.
Capaian 2 — Sumber SDM
Mengidentifikasi 5 sumber risiko SDM (turnover, fraud, kesalahan, absensi, produktivitas) beserta biaya dan dampaknya.
Capaian 3 — Ukur: BIA
Menghitung beban modal BIA Basel = 15% × rata-rata gross income 3 tahun. BIA = Basic Indicator Approach.
Capaian 4 — Ukur: EMV
Menghitung Expected Monetary Value (EMV — nilai harapan moneter kerugian) untuk tiga skenario probabilistik.
Ketika Sistem & Manusia Gagal: Dua Kasus Nyata Indonesia
Kasus 1 — PT Telkom Indonesia
Gangguan sistem billing (sistem penagihan pelanggan) 2018 menyebabkan kesalahan tagihan jutaan pelanggan IndiHome. Estimasi biaya perbaikan + kompensasi + reputasi: ratusan miliar rupiah. Penyebab: kegagalan sistem IT (system failure).
Kasus 2 — Startup Teknologi
Gojek & Tokopedia pada fase early-growth mengalami turnover (tingkat keluar-masuk karyawan) engineer hingga 30–40% per tahun (estimasi industri). Biaya rekrutmen + pelatihan pengganti diperkirakan 1,5–2× gaji tahunan per orang.
Kedua kasus bukan tentang pasar yang jatuh atau ekonomi yang buruk. Keduanya berasal dari dalam perusahaan — itulah risiko operasional dan SDM.
Bagian 1 dari 4
Risiko Operasional: Sumber & Kategori
Definisi, empat kategori universal, dan contoh kasus nyata di perusahaan Indonesia.
ProsesSistem/ITManusiaEksternal
Apa Itu Risiko Operasional?
"Risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau ketidakcukupan proses internal, manusia, sistem, atau dari kejadian-kejadian eksternal." — Basel Committee on Banking Supervision (2006)
✓ Termasuk: kegagalan IT, human error, fraud internal, bencana alam, regulasi baru
✗ Tidak termasuk: risiko kredit (peminjam gagal bayar) dan risiko pasar (harga bergerak)
OJK mengadopsi definisi ini dalam POJK 18/POJK.03/2016 (Peraturan OJK — regulasi yang mengikat bank di Indonesia) — berlaku untuk seluruh bank umum di Indonesia.
Empat Kategori Sumber Risiko Operasional
Sumber 1 — Proses (Process Failure)
Kegagalan atau ketidakcukupan prosedur kerja, kontrol internal, atau alur transaksi. Contoh: prosedur persetujuan kredit tidak dijalankan.
Sumber 2 — Sistem/IT (System Failure)
Gangguan atau kerusakan perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, atau sistem data. Contoh: sistem core banking (sistem pusat perbankan) down.
Sumber 3 — Manusia (Human Error)
Kesalahan, kelalaian, atau tindakan tidak jujur oleh karyawan internal. Contoh: input data transaksi salah, fraud (penipuan/kecurangan) pegawai.
Sumber 4 — Eksternal (External Event)
Kejadian di luar kendali perusahaan — bencana alam, regulasi baru, kejahatan pihak ketiga. Contoh: gempa bumi merusak kantor, peretasan dari luar.
Sumber 1 — Kegagalan Proses (Process Failure)
Terjadi ketika prosedur tidak ada, tidak lengkap, atau tidak diikuti — sehingga transaksi atau operasi berjalan tanpa kontrol yang semestinya.
Kejadian
Perusahaan / Sektor
Dampak
Prosedur pengadaan tanpa persetujuan berlapis
BUMN (umum)
Pemborosan / markup harga
Proses rekonsiliasi (pencocokan catatan) kas tidak dilakukan harian
Bank daerah
Selisih kas tidak terdeteksi berminggu-minggu
SOP verifikasi data nasabah tidak dijalankan
Fintech peer-to-peer
Pinjaman ke nasabah fiktif
Kunci identifikasi: tanyakan "Apakah ada SOP-nya?" dan "Apakah SOP itu dijalankan?" — SOP (Standard Operating Procedure) = prosedur operasi standar.
Sumber 2 — Kegagalan Sistem/IT (System Failure)
Terjadi ketika perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, atau basis data mengalami gangguan sehingga operasi terhenti atau data hilang/rusak.
Kejadian
Perusahaan
Dampak Operasional
Gangguan sistem billing tagihan
PT Telkom Indonesia
Jutaan tagihan keliru; komplain massal
Gangguan layanan mobile banking
Bank Mandiri / BCA (BBCA)
Transaksi terhenti berjam-jam; reputasi terdampak
Server payment gateway down
Midtrans/Xendit
E-commerce berhenti menerima pembayaran
Metrik standar: MTTR (Mean Time to Repair — rata-rata waktu pemulihan) dan uptime (%) sebagai ukuran ketahanan sistem. Bank besar Indonesia umumnya menargetkan uptime 99,95%+.
Sumber 3 — Kesalahan Manusia (Human Error)
Mencakup kelalaian tidak disengaja (kesalahan input, salah prosedur) maupun tindakan disengaja (fraud, penggelapan) oleh karyawan internal.
Tidak Disengaja (Unintentional)
Salah input nominal transaksi (Rp 10 juta → Rp 100 juta)
Keliru mengirim dokumen ke pihak yang salah
Lupa backup data sebelum upgrade sistem
Human error dalam konfigurasi IT
Disengaja — Fraud Internal
Pemalsuan dokumen keuangan
Penggelapan kas perusahaan
Kickback dari vendor
Manipulasi laporan keuangan
⚠ Fraud (penipuan/kecurangan oleh orang dalam) internal sering berlangsung bertahun-tahun sebelum terdeteksi — median 12 bulan (ACFE, 2022). ACFE = Association of Certified Fraud Examiners.
Sumber 4 — Kejadian Eksternal (External Event)
Kejadian di luar kendali langsung perusahaan yang mengakibatkan gangguan operasional atau kerugian finansial.
Perubahan PPh ketentuan UU HPP 2021 memaksa sistem perpajakan perusahaan diprogram ulang
Kejahatan pihak ketiga
Peretasan (hacking) nasabah BCA/BRI oleh pihak luar; penipuan social engineering
Pandemi / force majeure
COVID-19 (2020): kantor tutup, WFH mendadak, rantai pasok terputus
Meski tidak bisa dikontrol, dampaknya bisa dimitigasi dengan: BCP (Business Continuity Plan — rencana kelangsungan bisnis), asuransi, dan cadangan kapasitas.
Bagian 2 dari 4
Pengukuran Risiko Operasional
Loss Distribution Approach (LDA) dan Basic Indicator Approach (BIA) — metode hitung beban modal risiko operasional sesuai standar Basel yang diadopsi OJK.
LDABIA Basel
Dua Pendekatan Mengukur Risiko Operasional
LDA — Loss Distribution Approach
Metode: Distribusi statistik dari data historis kerugian aktual → estimasi VaR (Value-at-Risk) operasional
Kelebihan: Akurat, berbasis data riil
Siapa pakai: Bank besar (Mandiri, BCA/BBCA, BRI/BBRI) dengan database kerugian panjang
BIA — Basic Indicator Approach ★ yang kita pelajari hari ini
Metode: Beban modal = 15% × rata-rata gross income 3 tahun terakhir
Kelebihan: Sederhana, tidak butuh data historis kerugian
Siapa pakai: Bank kecil-menengah; metode minimum Basel II (diadopsi OJK)
OJK melalui POJK 18/POJK.03/2016 mengizinkan bank KBMI 1–3 menggunakan BIA. Bank KBMI 4 (modal inti > Rp 70 triliun) dituntut metode lebih canggih.
Basic Indicator Approach (BIA) — Rumus & Simbol
KBIA = α × (GI1 + GI2 + GI3) / n
Simbol
Makna
Nilai / Keterangan
KBIA
Beban modal risiko operasional (Capital charge)
Yang kita cari
α (alpha)
Koefisien Basel
15% — ditetapkan regulasi
GI1, GI2, GI3
Gross Income tahun 1, 2, 3
Definisi lengkap di slide berikut
n
Jumlah tahun dengan GI positif
Maks. 3; tahun GI negatif dikecualikan
α = 15% ditetapkan Basel Committee (BCBS 2006, par. 644); OJK mengadopsinya dalam POJK 18/POJK.03/2016. BIA = metode minimum untuk bank KBMI 1–3.
BIA — Apa yang Dimaksud Gross Income Basel?
Gross income dalam BIA bukan semua pendapatan di laporan laba rugi. Basel mendefinisikannya secara spesifik:
Gross Income (BIA) = Net Interest Income + Net Non-Interest Income
Termasuk ✓
Tidak Termasuk ✗
Pendapatan bunga bersih (NII)
Biaya operasional (overhead, gaji)
Pendapatan fee & komisi bersih
Provisi/cadangan kerugian kredit
Pendapatan trading bersih
Keuntungan/rugi penjualan aset
Pendapatan dividen
Item luar biasa (extraordinary items)
Aturan n: tahun dengan GI negatif dikecualikan dari rata-rata. Contoh: GI tahun 2 negatif → n = 2 (bukan 3).
HDN-1: Beban Modal BIA — Bank XYZ (dari Nol)
Soal: Bank XYZ memiliki data gross income tiga tahun: GI1 = Rp 800 M • GI2 = Rp 900 M • GI3 = Rp 1.000 M
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Verifikasi semua GI positif → n = 3
800 > 0, 900 > 0, 1.000 > 0
n = 3 ✓
2. Jumlahkan GI 3 tahun
Rp 800 M + Rp 900 M + Rp 1.000 M
Rp 2.700 miliar
3. Hitung rata-rata (n = 3)
Rp 2.700 M ÷ 3
Rp 900 miliar
4. Kalikan α = 15%
Rp 900 M × 15%
Rp 135 miliar
Hasil: KBIA — Beban modal risiko operasional Bank XYZ
Rp 135 miliar
Interpretasi: Bank XYZ wajib menyisihkan setidaknya Rp 135 miliar sebagai modal penyangga (capital buffer — cadangan modal untuk menyerap kerugian tak terduga) risiko operasional.
Regulasi Indonesia: OJK & POJK 18/POJK.03/2016
OJK mewajibkan seluruh bank umum menerapkan manajemen risiko operasional sesuai standar Basel II/III.
Aspek
Ketentuan
Dasar hukum
POJK 18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum
Cakupan
Seluruh bank umum (konvensional dan syariah) di Indonesia
Metode modal minimum
BIA — diizinkan untuk bank KBMI 1, 2, 3
Metode lanjutan
ASA (Alternative Standardized Approach) & AMA (Advanced Measurement Approach) diizinkan setelah persetujuan OJK
Pelaporan
Wajib melaporkan profil risiko operasional ke OJK secara berkala
KBMI (Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti) per POJK 12/POJK.03/2021: KBMI 1 < Rp 6 T • KBMI 2 = Rp 6–14 T • KBMI 3 = Rp 14–70 T • KBMI 4 > Rp 70 T.
Bagian 3 dari 4
Risiko SDM: Sumber & Pengukuran
Lima sumber risiko sumber daya manusia, biaya turnover, dan Expected Monetary Value (EMV) sebagai alat ukur kuantitatif.
TurnoverFraudAbsensiProduktivitasKesalahan
Lima Sumber Risiko Sumber Daya Manusia
Sumber 1 — Turnover
Karyawan keluar (resign, PHK, pensiun) dengan frekuensi tinggi → biaya rekrutmen, pelatihan, hilangnya produktivitas selama transisi. Turnover = tingkat keluar-masuk karyawan.
Sumber 2 — Fraud Internal
Karyawan melakukan kecurangan — penggelapan, manipulasi laporan, kickback — yang merusak keuangan dan reputasi.
Sumber 3 — Kesalahan (Human Error)
Kekeliruan tidak disengaja dalam tugas sehari-hari — salah input, miskomunikasi, keputusan keliru akibat kurang informasi.
Sumber 4 — Absensi
Ketidakhadiran tinggi karena sakit, burnout, demotivasi → kapasitas produksi berkurang, biaya lembur naik. Burnout = kelelahan kronis akibat stres kerja.
Sumber 5 — Produktivitas Rendah: Karyawan hadir tapi tidak optimal (presenteeism) — kelelahan, konflik, budaya kerja buruk, atau mismatch skill (ketidakcocokan keahlian dengan kebutuhan pekerjaan).
Biaya Turnover — Komponen yang Sering Tidak Kelihatan
Biaya nyata turnover jauh melebihi sekadar biaya iklan rekrutmen. Studi SHRM memperkirakan 1–2× gaji tahunan per karyawan yang keluar.
Komponen
Deskripsi
Sifat
Biaya separasi
Administrasi PHK, pesangon (UU Cipta Kerja No. 11/2020)
Langsung
Biaya rekrutmen
Iklan, seleksi, psikotes, wawancara
Langsung
Biaya onboarding & pelatihan
Orientasi, training, mentoring karyawan baru
Langsung
Biaya produktivitas hilang
Posisi kosong + kurva belajar pengganti (3–6 bulan)
Tidak langsung
Biaya dampak tim
Moral tim menurun, beban tambahan rekan
Tidak langsung
Biaya pengetahuan hilang
Tacit knowledge (pengetahuan implisit tidak tertulis) keluar bersama karyawan
Tidak langsung
Tingkat Turnover (%) = (Jumlah Karyawan Keluar ÷ Rata-rata Karyawan) × 100%
Fraud Internal — Risiko SDM yang Paling Destruktif
Fraud internal rata-rata menimbulkan kerugian 5% dari revenue organisasi setiap tahun (ACFE, 2022). Di Indonesia, banyak kasus fraud bank dan BUMN yang merugikan miliaran rupiah.
Elemen Fraud Triangle
Penjelasan
Mitigasi
Tekanan (Pressure)
Masalah keuangan pribadi, target tidak realistis
Employee assistance program
Kesempatan (Opportunity)
Kontrol internal lemah, tidak ada pemisahan tugas
Segregation of duties, audit
Rasionalisasi (Rationalization)
"Perusahaan tidak akan rugi", "Saya layak lebih"
Etika, budaya integritas
⚠ Fraud Triangle (Cressey, 1953): ketiga elemen ini selalu hadir dalam kasus fraud. Segregation of duties (pemisahan tugas — satu orang tidak boleh mengendalikan seluruh proses dari otorisasi hingga pencatatan) adalah mitigasi paling efektif.
Analogi: EMV bekerja seperti rata-rata ujian berbobot — probabilitas adalah bobot, dampak kerugian adalah nilainya. Skenario yang lebih mungkin terjadi berkontribusi lebih besar ke rata-rata.
HDN-2: EMV Risiko Turnover SDM — PT Maju Bersama (dari Nol)
Soal: PT Maju Bersama (perusahaan teknologi, 100 karyawan) menganalisis risiko turnover tahun ini. Tim HR membuat tiga skenario:
Skenario
Deskripsi
Probabilitas
Dampak Biaya
Prob × Dampak
Best
Turnover rendah (5 orang keluar)
0,30
Rp 250 juta
Rp 75 juta
Moderate
Turnover sedang (10 orang keluar)
0,50
Rp 500 juta
Rp 250 juta
Worst
Turnover tinggi (20 orang keluar)
0,20
Rp 1.000 juta
Rp 200 juta
TOTAL
1,00 ✓
EMV = Rp 525 juta ✓
Interpretasi: PT Maju Bersama diharapkan menanggung kerugian turnover ~Rp 525 juta tahun ini. Aturan mitigasi: bandingkan penurunan EMV yang dihasilkan program vs biaya program — bukan biaya vs EMV total. Contoh: program retensi Rp 200 juta yang menghilangkan risiko sepenuhnya → neto Rp 525 juta − Rp 200 juta = Rp 325 juta penghematan.
Anchor Indonesia: Risiko SDM di Startup Teknologi
Gojek dan Tokopedia di fase early-growth (2016–2019) adalah contoh klasik risiko SDM yang dihadapi perusahaan tumbuh cepat.
Gojek (2016–2019)
Ekspansi cepat menuntut ribuan driver dan ratusan engineer dalam waktu singkat
Turnover driver sangat tinggi akibat persaingan dengan Grab dan insentif fluktuatif (bonus/reward tidak konsisten)
Risiko SDM utama: mismatch skill teknis, engineer berkualitas langka di ekosistem Indonesia
Tokopedia (2016–2019)
Pertumbuhan tim dari ratusan ke ribuan karyawan dalam 2–3 tahun
Tantangan: mempertahankan budaya perusahaan, onboarding massal, risiko fraud internal dari karyawan baru yang belum terverifikasi
Turnover manajemen menengah tinggi — kehilangan tacit knowledge proses internal
Pelajaran: perusahaan tumbuh cepat menanggung risiko SDM yang jauh lebih tinggi dari perusahaan mapan — dan biayanya bisa mengancam profitabilitas.
Bagian 4 dari 4
Control Effectiveness & Rangkuman
Bagaimana mengukur seberapa baik kontrol risiko bekerja — dan peta konsep untuk mengkonsolidasikan seluruh materi hari ini.
Control Effectiveness Rating (CER) — Menilai Efektivitas Kontrol
Kontrol bukan hanya soal ada atau tidak ada — tetapi seberapa efektif kontrol itu mengurangi probabilitas dan/atau dampak risiko.
Rating
Skor
Deskripsi
Contoh Kontrol
Sangat Efektif
90–100%
Kontrol bekerja hampir selalu; risiko residual sangat kecil
Sistem otomasi + audit real-time
Efektif
70–89%
Kontrol bekerja dengan baik; ada celah kecil
Prosedur tertulis + audit berkala
Cukup Efektif
50–69%
Kontrol ada tapi tidak konsisten dijalankan
SOP ada tapi tidak selalu diikuti
Tidak Efektif
< 50%
Kontrol lemah; risiko residual besar
Kontrol ada di kertas, tidak di praktik
Risiko Residual = Risiko Inheren × (1 − CER)
Risiko Inheren = risiko tanpa kontrol apapun • Risiko Residual = risiko yang tersisa setelah kontrol diterapkan
Peta Konsep: Analisis Risiko Operasional & SDM
Ringkasan & Persiapan Pertemuan Depan
Yang Harus Anda Bisa Hari Ini
Sebutkan 4 sumber risiko operasional + 1 contoh Indonesia tiap sumber
Hitung beban modal BIA = 15% × rata-rata GI 3 tahun (langkah per langkah)
Sebutkan 5 sumber risiko SDM + komponen biaya turnover
Hitung EMV = Σ (probabilitas × dampak) untuk 3 skenario
Jelaskan CER dan rumus risiko residual
Persiapan Pertemuan 8 — Risiko Keuangan & Pasar
Baca: Hanafi (2014) Bab Risiko Pasar
Pelajari: konsep VaR (Value-at-Risk) secara umum
Bawa: kalkulator (pertemuan berikutnya juga kuantitatif)
Refleksi: risiko operasional (internal) vs risiko pasar (eksternal-harga)
Ingat: risiko operasional dan SDM tidak bisa "terlihat" di neraca — tapi efeknya sangat nyata di laba rugi. Itulah mengapa memahami keduanya adalah keunggulan manajer yang baik.
Latihan Mandiri & Bank Soal
Soal Pilihan Ganda — Contoh Ujian
Soal BIA: Bank ABC memiliki gross income 3 tahun: Rp 600 M, Rp 750 M, Rp 900 M. KBIA = ?
Jawaban: (600+750+900)/3 = 750 M; 750 × 15% = Rp 112,5 miliar
Soal EMV: PT Sigma: best (0,25; Rp 200 jt), moderate (0,55; Rp 400 jt), worst (0,20; Rp 800 jt). EMV = ?
Jawaban: 50 + 220 + 160 = Rp 430 juta
Pertanyaan Diskusi Kelas
Diskusi 1 (IT): Jika Anda adalah CRO PT Telkom Indonesia dan sistem billing bisa mengalami gangguan massal, langkah apa yang Anda ambil dalam 24 jam pertama?
Diskusi 2 (Fraud Triangle): Dari tiga elemen Fraud Triangle (tekanan, kesempatan, rasionalisasi), mana yang paling mudah dikendalikan perusahaan? Berikan contoh program konkret.