‹ Daftar slidePertemuan 6: Analisis Risiko: Komponen & Metode Kuantitatif (VaR, Historis, Analitik, Monte Carlo)
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Resiko Bisnis
Pertemuan 6 — Analisis Risiko: Komponen & Metode Kuantitatif
Dari intuisi kualitatif ke angka yang presisi — memahami VaR (Value at Risk — ukuran risiko kerugian maksimum pada tingkat kepercayaan tertentu dalam periode tertentu) historis, parametrik, dan Monte Carlo sebagai bahasa risiko modern.
RPS MINGGU 6 • SUB-CPMK 5 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mendeskripsikan komponen-komponen dan keterkaitannya dalam analisis risiko (Sub-CPMK 5). Secara rinci:
Capaian 1 — Tiga Jenis
Membedakan analisis risiko kualitatif (penilaian tanpa angka pasti), semi-kuantitatif (skala numerik dari kesepakatan), dan kuantitatif (data historis & model matematis) — kelebihan & kelemahan masing-masing.
Capaian 2 — Komponen
Menghitung Likelihood × Consequence = Risk Level dan memahami peran expert judgment (penilaian pakar berdasarkan pengalaman) dalam proses penilaian risiko.
Capaian 3 — VaR
Menghitung VaR historis dan VaR parametrik dari data return nyata, dalam nilai rupiah — dari nol, tanpa kesalahan aritmetika.
Capaian 4 — Metode
Menjelaskan prinsip Monte Carlo dan membandingkan ketiga metode VaR untuk memilih pendekatan yang tepat sesuai konteks.
Berapa Rupiah Kerugian yang Siap Anda Tanggung?
Sebuah pertanyaan sederhana yang butuh jawaban presisi — bukan perasaan.
Risiko Tanpa Ukuran
"Saham BBCA saya mungkin turun bulan ini." → Tidak bisa membuat keputusan: Berapa modal lindung nilai (hedging)? Berapa cadangan kas?
Risiko dengan VaR
"Portofolio Rp 1 miliar — VaR 95%, 1 hari = Rp 15 juta." → Artinya: dengan keyakinan 95%, kerugian dalam sehari tidak melebihi Rp 15 juta.
Perbankan Indonesia diwajibkan menghitung VaR oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) melalui POJK 11/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Hari ini kita belajar caranya.
Bagian 1 dari 4
Tiga Jenis Analisis Risiko
Kualitatif · Semi-Kuantitatif · Kuantitatif — ketiganya punya tempat dalam manajemen risiko yang lengkap.
KualitatifSemi-Kuant.Kuantitatif
Analisis Kualitatif: Penilaian Berbasis Pertimbangan
Metode tertua dan tetap relevan — deskripsi, wawancara, brainstorming (sesi diskusi kelompok bebas), check-list tanpa skor numerik eksplisit.
Kelebihan
Cepat, murah, tidak butuh data historis
Cocok untuk risiko baru, risiko reputasi, atau yang sulit dikuantifikasi
Memungkinkan expert judgment (penilaian pakar berdasarkan pengalaman & keahlian) yang kaya
Kelemahan
Sangat bergantung pada pengalaman dan bias analis
Sulit dibandingkan antar proyek atau divisi
Tidak memungkinkan agregasi risiko secara matematis
Contoh Indonesia: Wawancara manajemen PTPN XII mengidentifikasi risiko gagal panen karet sebagai "tinggi" berdasarkan pengalaman dua dekade — tanpa persentase probabilitas yang diukur secara statistika.
Memberikan angka pada penilaian kualitatif — tetapi angka itu berasal dari kesepakatan, bukan statistika.
Skor
Probabilitas (Likelihood)
Dampak (Consequence)
1
Sangat Jarang (<1%/tahun)
Tidak signifikan
2
Jarang (1–10%/tahun)
Minor
3
Sedang (10–50%/tahun)
Moderat
4
Sering (50–90%/tahun)
Mayor
5
Hampir Pasti (>90%/tahun)
Bencana
Matriks Risiko: Risk Level = Likelihood score × Consequence score → 1–25. Dimasukkan ke matriks warna: hijau (1–4) dapat diterima · kuning (5–12) perlu pantau · merah (15–25) mitigasi segera.
Analisis Kuantitatif: Model + Data + Statistika
Menghasilkan angka risiko dari data historis atau model matematis — bukan dari kesepakatan.
Berbasis Data Historis
Gunakan data return aktual masa lalu untuk mendistribusikan kemungkinan kerugian.
Metode: Historical Simulation (VaR Historis)
Berbasis Model Parametrik
Asumsikan distribusi return normal/Gaussian; hitung VaR dari mean (μ) dan standar deviasi (σ).
Metode: Variance-Covariance (VaR Analitik)
Berbasis Simulasi
Bangkitkan ribuan skenario acak dari model stokastik (proses yang mengandung unsur keacakan).
Metode: Monte Carlo Simulation
Ketiganya menghasilkan VaR — satu angka yang merangkum potensi kerugian pada tingkat kepercayaan tertentu.
Perbandingan: Kualitatif vs Semi-Kuantitatif vs Kuantitatif
Dimensi
Kualitatif
Semi-Kuantitatif
Kuantitatif
Data yang dibutuhkan
Narasi/wawancara
Kesepakatan tim
Data historis/statistik
Kerumitan
Rendah
Sedang
Tinggi
Presisi (ketelitian hasil)
Rendah
Menengah
Tinggi
Biaya/waktu
Cepat & murah
Sedang
Mahal & butuh waktu
Cocok untuk
Risiko baru, reputasi
Peringkat awal risiko
Risiko pasar, kredit, model
Contoh metode
Workshop/wawancara
Matriks 5×5
VaR, Monte Carlo
Dalam praktik terbaik, ketiga pendekatan dipakai bersama — kualitatif untuk identifikasi awal, semi-kuantitatif untuk peringkatan, kuantitatif untuk pengukuran presisi.
Bagian 2 dari 4
Komponen Analisis Risiko
Likelihood × Consequence = Risk Level — inti formula yang berlaku di ketiga pendekatan, dengan atau tanpa angka statistik.
Risk Level = Likelihood × Consequence
Likelihood × Consequence = Risk Level
Likelihood (L) — Kemungkinan Terjadi
Pertanyaan: Seberapa sering/besar peluang risiko ini benar-benar terjadi?
Contoh: Jika gagal bayar terjadi, kerugian Rp 5 miliar → "Mayor" → skor 4.
Risk Level = L × C → contoh: 2 × 4 = 8 (zona kuning — butuh pemantauan)
Hitung dari Nol — HDN-1: Risk Level Semi-Kuantitatif
PT Maju Bersama menghadapi tiga risiko operasional. Hitung Risk Level masing-masing dan tentukan prioritasnya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kebakaran gudang (L=1, C=5)
1 × 5
5 — Hijau/batas (dapat diterima)
Kegagalan sistem IT (L=3, C=3)
3 × 3
9 — Kuning (perlu pantau)
Fluktuasi harga bahan baku (L=4, C=2)
4 × 2
8 — Kuning (perlu pantau)
Prioritas penanganan: Kegagalan IT (9) > Fluktuasi Harga (8) > Kebakaran (5). Pelajaran: Kebakaran gudang — meskipun dampaknya bencana (C=5) — mendapat Risk Level lebih rendah karena probabilitasnya sangat jarang (L=1). Itulah mengapa kita butuh metode sistematis, bukan hanya intuisi.
Skala Probabilitas & Peran Expert Judgment
Siapa yang menentukan skor Likelihood dan Consequence? Dari mana angkanya?
Skor
Label
Rentang Probabilitas
Contoh Indonesia
1
Sangat Jarang
< 1% per tahun
Gempa berskala 8+ di Semarang
2
Jarang
1–10% per tahun
Gagal bayar supplier tunggal
3
Kadang-kadang
10–50% per tahun
Kenaikan tarif listrik industri
4
Sering
50–90% per tahun
Fluktuasi kurs USD/IDR > 2%
5
Hampir Pasti
> 90% per tahun
Inflasi positif tahun ini
Expert judgment bukan tebakan — ia adalah konsensus dari wawancara pakar, data histori, dan benchmarking industri (perbandingan dengan praktik perusahaan sejenis). Didokumentasikan secara formal, bukan lisan.
Bagian 3 dari 4
Value at Risk (VaR)
Tiga metode kuantitatif — Historis · Analitik/Parametrik · Monte Carlo — yang dipakai industri keuangan global dan diregulasi oleh OJK.
VaR(α,T) = kerugian yang hanya terlampaui dengan probabilitas (1−α) dalam horizon T
Value at Risk (VaR) — Satu Angka, Tiga Dimensi
VaR menjawab satu pertanyaan: "Paling buruk berapa rupiah kerugian kita, pada tingkat kepercayaan tertentu, dalam periode tertentu?"
Nilai Kerugian (Rp)
Berapa rupiah kerugian potensial yang diestimasi
Tingkat Kepercayaan (%)
Seberapa yakin kita angka itu tidak dilampaui (mis. 95% atau 99%)
Horizon Waktu
Untuk periode berapa lama (mis. 1 hari, 10 hari, 1 tahun)
Cara baca VaR: "VaR (95%, 1 hari) = Rp 15 juta" untuk portofolio Rp 1 miliar → dengan keyakinan 95%, kerugian dalam satu hari tidak melampaui Rp 15 juta. Kemungkinan 5% bahwa kerugian melebihi Rp 15 juta.
VaR bukan kerugian maksimum — ia adalah ambang batas yang dilanggar 5% (atau 1%) waktu. Kerugian aktual bisa jauh lebih besar saat pasar ekstrem (black swan — peristiwa ekstrem tak terprediksi, istilah Nassim Taleb).
Tingkat Kepercayaan & Horizon Waktu VaR
Dua parameter yang mendefinisikan makna VaR — berbeda sektor, berbeda standar.
Tabel z-score (Distribusi Normal)
Tingkat Kepercayaan (α)
Sisi Kiri (1−α)
z-score
Dipakai oleh
90%
10%
1,282
Manajemen internal harian
95%
5%
1,645
Standar umum industri
99%
1%
2,326
Basel II/III; IMA risiko pasar OJK
Horizon Waktu
Horizon
Dipakai oleh
1 hari
Manajemen risiko harian, trading desk
10 hari
Modal minimum Basel (IMA)
1 tahun
Stress test strategis
Semakin tinggi α → semakin besar z-score → semakin besar VaR. Semakin panjang horizon → semakin besar VaR.
Metode 1 — Historical Simulation (VaR Historis)
Biarkan data masa lalu yang berbicara — tanpa asumsi distribusi.
Kumpulkan return harian (perubahan % nilai portofolio tiap hari) selama T hari (biasanya 250–500 hari historis).
Urutkan return dari terkecil (kerugian terbesar) ke terbesar.
Tentukan posisi persentil: posisi = ⌈(1−α) × n⌉ (ceiling = pembulatan ke atas). Contoh: VaR 95%, n=20 → ⌈5%×20⌉ = ⌈1⌉ = posisi ke-1; n=250 → ⌈12,5⌉ = posisi ke-13.
Return di posisi tersebut (%) × nilai portofolio (Rp) = VaR dalam rupiah.
Kelebihan: tidak butuh asumsi distribusi normal. Kekurangan: bergantung pada periode historis; buruk untuk kejadian yang belum pernah terjadi.
Hitung dari Nol — HDN-2: VaR Historis Portofolio Rp 1 Miliar
Diberikan 20 data return harian portofolio (%). Hitung VaR 95% dalam rupiah untuk posisi Rp 1.000.000.000.
VaR 95%, 1-day = Rp 32.000.000. Dalam 95% hari perdagangan, kerugian harian tidak melebihi Rp 32 juta. Pada 5% hari sisanya, kerugian bisa melebihi angka ini. Tip ceiling: n=30 → ⌈5%×30⌉ = ⌈1,5⌉ = posisi ke-2; n=250 → ⌈12,5⌉ = posisi ke-13.
Metode 2 — Varians-Kovarians / Parametrik (Analitik)
Asumsikan return berdistribusi normal (distribusi probabilitas berbentuk kurva lonceng simetris) → cukup dua parameter: mean (μ — rata-rata) dan standar deviasi (σ — ukuran sebaran).
VaR (%) = z × σ − μ
Parameter
μ = return rata-rata harian (mean)
σ = standar deviasi return harian
z = z-score dari distribusi normal: 90% → 1,282 | 95% → 1,645 | 99% → 2,326
Konvensi Tanda & Langkah
VaR dinyatakan sebagai besaran kerugian (angka positif). Rumus z×σ − μ langsung menghasilkan angka positif.
VaR (Rp) = VaR (%) × Nilai Portofolio
Kelebihan: cepat, analitik. Kekurangan: asumsi normalitas sering dilanggar — return aset finansial punya "ekor gemuk" (fat tail — kejadian ekstrem lebih sering dari yang diprediksi distribusi normal).
Hitung dari Nol — HDN-3: VaR Parametrik Portofolio Rp 1 Miliar
Diketahui: return harian rata-rata μ = +0,05% dan standar deviasi harian σ = 1,8%. Hitung VaR 95% (z = 1,645) untuk posisi Rp 1.000.000.000.
2,911% × Rp 1.000.000.000 = 0,02911 × 1.000.000.000
Rp 29.110.000
VaR 95%, 1-day = Rp 29.110.000 (asumsi distribusi normal return harian). Bandingkan: metode historis menghasilkan Rp 32.000.000. Selisih Rp 2.890.000 (~9%) — wajar karena historis menangkap satu kejadian sangat buruk (−3,2%) yang "menekan" distribusi, sedangkan parametrik merata-ratakannya ke kurva normal.
Metode 3 — Monte Carlo: Simulasi Ribuan Skenario
Kalau sejarah tidak cukup dan asumsi normal terlalu kaku — simulasikan masa depan secara acak.
Kalibrasi model (kalibrasi = menyesuaikan parameter model dengan data historis) — tentukan μ, σ, dan distribusi return (tidak harus normal).
Bangkitkan angka acak — komputer menghasilkan 10.000–100.000 skenario return masa depan.
Hitung return portofolio untuk setiap skenario.
Urutkan hasil — dari kerugian terbesar ke terkecil.
Ambil persentil ke-(1−α) — itulah VaR Monte Carlo.
Monte Carlo tidak membutuhkan asumsi distribusi normal — bisa memodelkan opsi, obligasi terstruktur, dan portofolio kompleks yang tidak bisa dihitung secara analitik.
Memerlukan komputer dan software (Python, MATLAB, R, Bloomberg). Tidak dikerjakan manual di kuliah ini — yang dipelajari adalah prinsipnya.
Bagian 4 dari 4
Perbandingan, Aplikasi Indonesia, Rangkuman
Kapan memakai metode mana — dan bagaimana VaR dipakai bank Indonesia atas mandat OJK (Otoritas Jasa Keuangan) melalui POJK 11/2016.
HistogramKurva NormalSimulasi Acak
Coba Sendiri: Bandingkan Tiga Metode VaR
Ubah tingkat kepercayaan dan horizon waktu, lalu bandingkan hasil VaR historis, parametrik, dan Monte Carlo untuk portofolio yang sama.
VaR di Perbankan Indonesia: POJK 11/2016 & KPMM
OJK mewajibkan bank umum menghitung modal minimum (KPMM — Kewajiban Penyediaan Modal Minimum). Untuk risiko pasar, bank boleh pakai Internal Model Approach (IMA) berbasis VaR.
Regulasi Pokok
POJK No. 11/POJK.03/2016 → kerangka umum rasio modal bank terhadap ATMR (Aset Tertimbang Menurut Risiko)
Bank memenuhi syarat → boleh pakai IMA untuk market risk capital charge (MRCC)
Parameter IMA risiko pasar (dari Basel Market Risk Amendment 1996/Basel II): VaR 99%, horizon 10 hari, data historis ≥ 250 hari, multiplier 3× rata-rata VaR 60 hari
Praktik di BEI: BCA & BRI
Laporan Tahunan BCA dan BRI mencantumkan VaR risiko pasar (suku bunga, forex) dalam catatan atas laporan keuangan
Tersedia publik di IDX.co.id — Anda bisa membaca angka VaR riil bank-bank besar Indonesia
Bank kecil umumnya pakai Standardized Approach (formula standar OJK), bukan IMA
Catatan menulis tugas: Jangan tulis "POJK 11/2016 mensyaratkan VaR 99%". Yang tepat: "kerangka Basel diadopsi OJK dalam ketentuan KPMM risiko pasar mensyaratkan VaR 99%". POJK 11/2016 menetapkan kerangka KPMM umum; parameter IMA berasal dari ketentuan risiko pasar terpisah.
Perbandingan: Kapan Pakai Metode Mana?
Dimensi
Kualitatif/Semi-Kuan.
VaR Historis
VaR Parametrik
Monte Carlo
Asumsi distribusi
Tidak ada (atau skor)
Tidak perlu
Normal/Gaussian
Fleksibel (bisa non-normal)
Data yang dibutuhkan
Narasi/skor
Return historis panjang
μ dan σ saja
Model stokastik terkalibrasi
Tangkap fat tail
Tidak relevan
Baik (dari data)
Kurang (normal tipis)
Sangat baik (tgt model)
Kecepatan komputasi
Sangat cepat
Cepat
Sangat cepat
Lambat (perlu simulasi)
Portofolio kompleks (opsi)
Tidak
Terbatas
Tidak bisa
Bisa
Kapan direkomendasikan
Identifikasi awal, risiko baru
Portofolio saham/obligasi standar
Portofolio linier, laporan harian cepat
Portofolio derivatif, stress test
Praktik terbaik: jalankan VaR historis + parametrik sebagai rutin harian, tambahkan Monte Carlo untuk portofolio derivatif dan stress test periodik.
Keterbatasan VaR & Ukuran Komplementer: Expected Shortfall (ES/CVaR)
Keterbatasan VaR
Tidak memberi tahu seberapa besar kerugian di luar batas VaR (5% terburuk bisa sangat buruk).
Tidak sub-aditif — VaR gabungan dua portofolio bisa lebih besar dari jumlah VaR masing-masing (melanggar prinsip diversifikasi).
Underestimate fat tail jika pakai asumsi distribusi normal.
Expected Shortfall (ES / CVaR)
Definisi: Rata-rata kerugian di dalam ekor — "jika melewati VaR, berapa rata-rata kerugiannya?"
Formula: ES = rata-rata dari semua return yang lebih buruk dari persentil ke-(1−α)
Kelebihan: Sub-aditif (CVaR — Conditional Value at Risk, ukuran lebih konservatif), lebih menangkap risiko ekor, wajib dalam Basel III/FRTB 2019.
Basel III (FRTB — Fundamental Review of the Trading Book — 2019) menggeser standar dari VaR 99% ke Expected Shortfall 97,5% sebagai ukuran risiko utama perbankan global.
Peta Konsep: Dari Komponen ke Metode VaR
Analisis kuantitatif (VaR) adalah ujung tombak, tetapi selalu bersandar pada fondasi identifikasi kualitatif dan peringkatan semi-kuantitatif dari pertemuan sebelumnya. ERM = Enterprise Risk Management — pengelolaan risiko terpadu di seluruh organisasi.
Langkah sistematis: Cek: apakah ini data historis atau parameter μ/σ? → Pilih metode → Hitung VaR (%) → Konversi ke Rp. Jangan langsung kalikan — pastikan angka VaR (%) sudah benar dulu.
Persiapan Pertemuan 7 — Pengukuran Risiko Kredit: Baca Hanafi Bab risiko kredit; cari tahu berapa NPL (Non-Performing Loan — kredit macet, pinjaman yang gagal dibayar tepat waktu; indikator risiko kredit perbankan) BCA dan BRI dalam laporan keuangan triwulan terakhir di IDX.co.id.